
Rindu menarik hijabnya menatap wajah Khumairo yang sudah pucat dan ketakutan. Darah mengalir dihidungnya saat ini dengan pipi yang memar.”Jika dari hukum tak mampu kami lakukan. Jangan salahkan saya yang trun tangan sendiri menghukum kalian..!” Ujarnya Rindu disana dan menariknya kasar. Khumairo hanya mampu pasra akan perbautan Rindu.
“Lep-leppas..”Teriak Khumairo lirih tak mampu memberoontak seakan titik intinya dikendalikan oleh Rindu.
Bugh.. Bugh.. Uhuukkk.. uhukkk.. arah.
ia kaget ketika Rindu malah memukul wajahnya hingga giginya terasa bergemuru dan mengeluarkan darah.”Diam.. Sekali lagi beteriak ku jamin kau tak akan bisa bicara..!” Ujarnya Rindu dingin disana. Khumairo kembali memberontak meringis dan menanis.
Bugh.. Dengan kejam Rindu menendang perutnya kuat hinggga ia memuntahkan darah bercampur salivanya. Rindu mengapit pipinya dan menatapnya tajam.”Saya bisa menjadi malaikat tapi saya lebih bisa menjadi iblis. Jangan membangun macam tertidur. Kamu hanya wanita murahan yang mencari kebahagiaan. Menyedihkan bukan?”Ujarnya berbisik.
Khumairo dengan segenap rasa sakit ditubuh dan wajahnyapun mau menamparnya namun ia sudah menghindar sedari awal dan memilin tangannya.
Khumairo disana meringis berteriak namun wajahnya sakit, perutnya keram.
Krak..
Aarghhhh. Teriakan Khumairo menggema karena rasa sakit yang berkali kali lipat Rindu berikan. Rindu memituknya hingga memberi bunyi yang membuat siapapun nyilu mendengarnya. Rindu tak main-main.
Tak sampai Disana....
Krrak.. argh... ia dikagetkan ketika lututnya diinjak oleh Rindu. Hingga terpintuk diarah sebaliknya. Sakitnya baggaikan bumi hancur menumpahnya. Sangat sakit bahkan baru kali ini ia merasakannya. Ia terkulai lemas dengan kaki dan tangan yang patah, tubuhnya meremuk padam tak mampu berbuat apa selain kesadarannya mulai menghilang.
Rindu melirik Nichol yang disana mendekati Aron da menendang tepat dirahangnya. Hingga darah menghujami gigi-giginya. Bisa diperkirakan jika beberapa giginya patah dan longer. Aron lelaki pun melawan dna mulai menyerang Nichol. Namun Nichol atlit dalam urusan persilatan.
Ia menghyuindar dan melakukan kayang. lalu ia mengapp,it lehernya Aton dengan duduk dilehernya. Ia segera memituk lehernya membuat Aron berteriak dan menghempaskanya . Nichol melakukan peregangan yang kuat hinga tak terjatuh.
Bahkan ia turun mengeknakan rol depan dan kembali mendekat dan..
Bugh. Ia memukul tepat dibagian dadanya Aron dan mencengkram erat titik inti Aron. Aron meringis dan menedang wajahnya Nichol.
Nichol mengelak dan Bugh... Aron dikagetkan dikalah Nichol memukul bagian bawah ketiaknya. Seperti ada bagian yang remuk hingga nafasnya terhenti dan sesak.
Nichol disana mengibaskan tangannya dan berjalan santai. Namun ketika sudah dekat ia memutar dan..
Bugh.. Ugh. Sekali tendangan tepat dibagian rahangnya hingga Aron merasakan tubuhnya tak lagi tersangga dan terjatuh dengan keadaan yang tak elitnya. Darah keluar dari mulutnya saat ini. bahkan sekedar bertaya siapakah mereka yang menyerangnya saja mereka tak mampu.
Rindu tersenyum menatapnya. Ia disana segera memasuki mobil itu dan menaruh Khumairo, “Bawa dia kedalam dan ikat dia.. bunda ikat wanita murahan ini.”Ujarnya Rindu kepada anaknya. Nichol mengangguk dan mengikat Aron yang sudah tak sadarkan diri. Khumairo? Ia juga sudah tak sadarkan diri disana dan dibawa kedalam mobiil. Diikat oleh mereka yang sudah menyiapkannya akh ralat, bukan tali. Hanya ikat pinggang milik Rey dan juga Nichol tadi., ada juga tadi ikat yang terbuat dari tali yang mampu memutuskan tangan jika berani melawan dan ,membantah, kalian taukan itu tali apa? Ahk ralat. Benang maksudnya. Benang hitam tajam.
Rindu dan Nichol selesai melakukannya, hingga Rindu menatap Nichol dna berkata.”bawa mobilnya. Kita bawa kerumah kakeh Gio. Biar dia saja yang mengeksekusikannya. Dia pasti suka karena berani menganggu keluarga kita.”Ujarnya Rindu disana. Nichol mengangguk saja kepada Bundanya. Ia tau jika budanya itu manusia yang paling baik yang ia kenal, tapi ia tidak mau diganggu. Jikla sudah diganggu maka ia akan menjadi orang yang tak akan mundur dan tak akan mau dipatahkan. Ia tak akan dijatuhkan meski dilawan oleh ribuan orang sekalipun.
Habib? Ia yang sibuk menunggu dimobil duluan itu cukup gelisah karena yang lain tidak ada yang datang. Ia merasakan perasaan yang tidak enak tapi jika ia pergi yang menjaga semua ini siapa? Ia disana menatap jamnya berkali-kali hingga ia melihat Rian mendekat menggendong seseorang. Ada perasaan tak enak didadanya membuat ia harus berfikir positip. Namun lagu-lagi ia dipatahkand e dengan baju yang ia kenal. Itu baju Acha..!!
__ADS_1
“Acha..!!”Teeiaknya mendekat sembari berlaku. Rian dengan nafas naik turunnya. “Acha kenapa? Kenapa bisa begini?!!” Teriak Hbaib kaget dan juga nanar. Iia ingin memeluk anaknya. Matanya menatap wajak pucat Acha yang disana lalu matanya menatap kebelakang yang ternyata juga ada Arga dan penjaga laiinya. Ramai sekali. Kakinya lemas bagai menjadi jelly saat ini. Nayya juga kenapa berdarah?
Rian menghela nafas.”Minggir.”Ujar Rian dingin. Habib diam dan miggir ketika Rian menaruh anaknya kedalam mobil.
Rey segar masuk disisi kanan. Ia menaruh didalam dan Rey yang sudah siap pangkuan.”Sini letak kepalanya dipangkuan ayah.”Ujar Rey nanar.
Rian mengangguk memasuki Acha kedalam mobil dan menaruh Acha dipaha ayahnya. Dan disusul oleh Arga yang memasuki Nayya kedalam mobil satunya lagi serta memangkukanya kepalanya dipangkuan Raja.
Nayya selalu menyebut nama Acha nanar sehingga terlihat sangat menyedihkan. “Tungg-tunggu. Biar aku saja.”Ujar Habib mendekat.
“Tunggu..!” Ujar Rian membuat habib diam. Rian mendekatinya dan..
Bugh... sekali pukulan diwajah habib. Habib meringis dan memegang pipinya yang membiru. Tak sampai disana. Rian kembali memukul kepala Habib dengan keras namun Habib hanya diam merasakannya.”Kak..!!” Teriak Arga disana menahan Rian yang terlihat sangat marah.
Rian disana mengepalkan tangannya menatap Habib dengan tatapan mautnya.” Biar dia sadar, jadi ayah kok tidak becus menjaga anak dan istrinya.”Ujarnya disana lalu memilih memasuki mobil meninggalkan semua orangg.
“Bi. Ayo masuk..”Ujar Arga disana menarik abinya. Habib terdiam terpaku. Merasakan dadanya sesak ketika dikatakan oleh Rian begitu. Itu kenyataan hingga hatinya hancur saat ini. sungguh sangat hancur bagai ditusuk ribuan pisau yang mematikan. Habib memasuki mobil menatap Nayya yang terkapar pingsan menyebut nama anaknya.”Bagaimana bisa ini terjadi? Siapa yang melakukannya?”Teriak habib disana tak terima akan hal ini.
Arga menggeleng tak tau. Ia menatap ibunya lirih. Ia takut, lengan ibunya sudah mmengeluarkan banyak darah membuat ia mengusap air matanya.”Maaf mi. Arga gagal jagain umi.” Gumamnya dalam hati.
”Cepat sedikit pak..!” Teriaknya pada supir. Supir mengangguk saja dan menuju kerumah sakit saat ini.
Dilain sisi sosok Rindu dan Nichol memasuki perkarangan rumah elit dikota itu, dengan santainya mereka keluar dan memasuki perkarangan rumah keluarganya. Namun Rindu berkata.”Kenapa yah. Rasanya ada yang janggal. Bagaimana keadaan Nayya dan Acha? Apa mereka bisa melindungi mereka?”Tanya Rindu kepada anaknya,
Rindu menghela nafas nanar khawatir juga.”Sabar bund. “Ujar Nichol lembut pada ibunya.
....
Halanan macet karena hari lebaran membuat Rian dan Rey sangat nanar. Nafas Acha sama sekali tak terdeteksi dan Rey sudah berusaha sedari tadi memberi pertolongan pertama pada Acha.. air matanya bergelindangan sedari tadi.”Acha.. bangun nak.. ayah disini sayang acha.”Gumam Rey melirih. Ia menyayangi Acha bagai anaknya sendiri. Meski acha bukan anak kandungnya.
Ia dokter dan ia tau keadaan anaknya. Tubuh Acha terasa dingin membuat ia mati rasa. Rian disana tak tau harus apa. “ Cepat pak..”Teriak Rian.
Supir pun mengeleng.”Maaf pak jalan sangat padat.”Ujarnya.”Sepertinya kemacetan sangat panjang. Sebab hari ini masih hari lebaran pasti sangat ramai.”Ujarenya disana merasa bersalah.
“Acha bangun sayang.. “Ujar Rey disana menangis mengusap pipi Acha yang dingin, tangan ACha yang dingin. Bahkan wajah Acha yang membiru. Rey disana memberikan nafas bautan berkali-kali,memompa dadanua. Tak ada nafsu atau pikiran lain. Yang ia tau saat ini ia takut kehilangan Acha. Bahkan air matanya selalu bergelindangan sedari tadi.
Rian menatapnya menjadi tak tahan. Air matanyapun jatuh tak tertahan. Hingga tak ada cara lain. Ia membuka pintu dan membuka pintu belakang. Rey menatapnya kaget hingga Rian menarik ubuh Acha yang kaku.”Mau kemana?”Tanya Rey disan lirih.”Acha sudah pergi hiks hiks.”Tangisanya menjadi disana karena tak tahan.
"Jaga bicara ayah...!! "Rian tak mendengarnya. “Siniin.”Ujar Rian bergetar.
Jujur kakinya tak bertenangah dan melemah namun ia tak tau harus apa. Rey disana mencium kepala anaknya sayang memberikan Acha pada Rian. Rian menggendongnya cepat dan berlari meninggalkan mobil. Rey disana melihatnya pun keluar dan memilih pergi membawa sang anak yang sudha melemah menuju rumah sakit dengan belati.
__ADS_1
Rian disana menahan aesak didadanya matanya menatap nanar kedepan. Ada banyak yang menatapnya heran hingga berkali-kali Rian memperbaiki posisi Acha saat ini.” Acha bangun sayang. Kakak belum bicara kan sama acha. Plis bangun.”Gumamnya Rian lirih.”Bertahan yah sayang."Gumamnya menangis dijalanan.
Jalan menuju rumah sakit masih jauh. Ia tak tau dan tak mau tahu. Ia mencari motor dan segera menyewanya menuju rumah sakit terdekat. Rey? Ia ikut berlari mengejar anaknya Rian hingga ia tak tahan. Ia menangis karena mengingat anaknya kehilangan nafas. Sungguh Rey merasa gagal menjaga Acha saat ini.
Sedari kecil Acha sakit ia yang merawat ketika bayi ia kehilangan nafas Rey yang berjuang bersama Rindu karena Nayya yang tak berdaya dan pingsan seusai melahirkannya. Acha mungil yang dimasukan kedalam tabung, diberi nafas dari mulut Rey untuk menyelamatkan nya, diusap dan diusahakan. Disaat usia 2sampai 5tahun Rey selalu menemaninya tidur bergantian dengan nayya dan Rindu, sebab appa? Sebab mereka takut nayya kehilangan nafas. Karena itu sering terjadi akibat oksigen diotaknya belum pulih,. Bahkan berkali-kali mereka dijkejutkan Acha yang tak bangun dan kehilangan nafas dipagi hari. Mereka bahkan tak menyangkah ia sebesar ini.
Habib pun yang menatap Nayya dan kemacetan itu tak berdaya.. ia menarik nayya dan membawanya keluar. Namun ia segra dijulak oleh Rajja dengan kuat dan berkata kasar.”Tidak usah sok kepahlawanan sekarang. Kamu diam saja sebab kamu tidak pantas jadi seorang suami ataupun ayah..!” bentaknya disana kuat dan menganggungi Nayya menuju kesebrang. Ia tak tau rumah skait dimana, ia mengikuti Rian saja,
Habib semakin menangis dijalanan memegang dadanya yang sesak. Ia mengejar Rajja dan diikuti oleh Arga saat ini. arga sedari tadipun menangis merasa bersalah akibat tak melindungi ibu dan adiknya. Yang jika disalahkan itu seharusnya bukan abinya. Tapi dirinya yang gagal menjaga mereka. Ayahnyakan sudah ditugaskan menjaga barang-barang dimobil jadi ia tak tahu menahu tentang ini.
Dengan nafas yang tersengal-senggal Rian sampai dirumah sakit menggendong Acha nanar, “pak ongkosnya,..!!” Teriak ojek yang ia tumpangi.
Rian nanar disana tak tau harus bayar pakai apa. Ia menatap ojek itu dan berkata."Ikuti saya pak. Nanti saya bayar 5x lipat.”Ujarnya. ojek yang mendengarnyapun mengangguk dan mengikutinya.
“Suster... bantuin saya.. adik saya suster..!” Teriak Rian disana.. teriakan yang membuat beberpa suster dan perawat membawa brangkar disana. Acha ditaro keatas berangkar menuju ke UGD saat ini. "Cepat.... "Ujar dari siapa satu perawat gesit sembari melirik wajah tampan Rian.
Rian mengikuti dan juga mendorongnya nanar.,”Dok bantuin adik saya dok tolong.”Ujarnya Rian nanar disana.
“Tunggu sebentar yah kak. Kami panggil dokter sebentar.”Ujar dari suster dan diangguki Rian. Rian memilih duduk dilursi dengan dengan nanarnya. Matanya memanas dan menjatuhkan laharnya tanpa malu. Bukannya apa, tangannya bahkan gemetar karena takut kehilangan sang adik yang ia cintai.
“Yang sabar yah pak.. serahin aja sama Tuhan yah.”Ujarnya sang tukang ojek ramah. Rian disana terpaksa tersenyum sopan dan mengangguk.
tak berselang lama ia merasakan pelukan hangat yang ternyata dari ayahnya Rey. Rey memeluknya erat hingga ia tak tahan menangis. Reypun tak kalah rapuh membuat keduanya menangis.”Acha YAH..”Guma Rian lirih.
Rey mengusap tangisan anaknya. Ia kepala keluarga dan harus menguatkan anaknya. Meski ia rapuh sekalipun, jika ia lemah siapa yang membantu anak anaknya bangkit dan kuat?
”Doakan saja yah. Yang sabar.”Ujar Rey terenyum kepada anaknya.
Rian disana menatapnya nanar dan menggeleng lirih. Ia takut.”Umi Nay gimana?”Tanya Rian lirih. Ia melihat sendiri jika Uminya itu terluka.
Dan tak berselang lama Rajja membawa Nayya menuju UGD dan diikuti Arga, Habib dibelakang mereka. Segera bangkit Rey dan Rian membantu yang lain.
Nampak disana Nayya maish menggumamkan nama Acha berkalikali dan sangat lirih seperti ada trauma sendiri didadanya. Rey disana menatapnya tak tega hingga matanya menatap habib yang menangis dan juga mengusap kepala istrinya sayang.
Ada rasa kecewa didadanya Rey saat ini ketika Habib tak mampu menjaga Nayya, tapi ada lagi yang lebih membuat ia marah, yaitu nayya yang tidak mengenakan sistem yang ia beri. Nayya ceroboh? Tapi ia tau sebnarnya dalam keadaan panic mana ada yang ingatkan?
Rian mengepalkan tangan menatap habib yang cemas dan menangis. Rey menenangkan anaknya dan berkata.”Sabar. ini bukan salahnya, ini sudah jalannya kita sekarang hanya perlu berdoa saja.”Ujar Rey dengan lembut pada anaknya itu.
Rian disana mengusap dadanya sayang dan memilih duduk menatap pintu sang adik nanar. “Tapi tadi nafas Acha enggak ada yah. Apa dia baik-baik saja?”Tanya Rian lirih pada ayahnya.. ayahnya hanya diam menggeleng. Ia tak tau harus jawab apa.
Habib yang mendengarnyapun tak tahan. Ia memukul dirinya sendiri dan kepalanya ia meremas kepalanya dan terjatuh bersandar didinding. “Maafkan saya Nay. Maaf saya gagal.. maaf.”Gumamnya lirih. Semuanya hanya diam menatap kebodohan habib,. Tak ada yang menenangkannya saat ini. sebab semua orang sekarang hanya bisa menenangkan dirinya masing-masing...
__ADS_1
...Tinggalkan jejak yah... ...