
Mata yang sedari tadi tertutup itu terbuka. Sejujurnya mau tertutup atau terbuka maka itu tetap akan sama, tak akan ada perubahannya. Tak akan ada bedanya. Karena yang ada dan yang bisa ia lihat hanya kegelapan.
“Terus bagaimana ini ayah? Kita jatuh miskin dan harus bagaimana? Masa rumah ini juga harus dijual?!! Ibu enggak mau. Ibu mau terus disini ibu enggak mau keluar.. Aron dan Khumairo butuh perawatan ayah...!!! mereka butuh tempat yang layak.Khumairo butuh donor mata dan juga terapi khusus supaya bisa kembali berjalan..!” Khumairo yang tertidur disana mampu mendengarnya.
Sosok Somad yang memngusap keplanya kasar itu terdiam, iavdiam menatap sepatunya., ketika tiga hati yang lalu ia kehilangan asset perusahaanya, sekarang ia dikabarkan harus membayar kerugian-kerugian, saham-saham dan juga hutang dibank. Ia tak memiliki apapun lagi selain menjual rumah dan juga beberapa aset keluarganya. Termasuk berlian dan juga perhiasan Khumairo anaknya dan juga istrinya. “Ibu fikir ayah mau kayak gini? Enggak buk enggak. Ayah juga tidak mau begini tapi mau bagaimana lagi? memang ibu mau ayah masuk penjara? Mau jadi janda?”Tanyanya disana ikut ngegas.
Istrinya terdiam disana, sejahat-jahat apapun ia, ia tak akan mau suaminya masuk penjara. Ia tak akan mau menjadi janda membuat ia menggeleng dan berkata.” Tapi yah ibu nggak mau jatuh miskin hiks hiks.”Ia menangis mengusap kepalanya. Tiga hari yang lalu ia terlalu ia cukup dikejutkan akan kebangkrutan suaminya, ia pikir setidaknya mereka punya rumah dan modal untuk kembali berusaha tapi sekarang apa? Ia bahkan harus menjual semuanya untuk membayar hutang dan juga kerugian.
Khumairo disudut sana menitihkan air matanya. Ia meringkuk dengan mata yang terus menangis, ia hanya mampu melihat gelap dan putih ketika melihat cahaya. Ia menangis karena menyesal.. “Maafkan Mira ma.. pa hiks hiks.”Ia menangis disana yak terima, ia tau jika ini semua kesalahannya. Andai ia tak memaksakan keadaan, andai ia tak mengejar-ngejar Habib sesudah menikah pasti keadaanya tidak sekejam ini, pasti ia tidak akan buta. Tetapi penyesalan tetaplah penyesalan. Yang datang diakhir kata.
Dan sekarang ia hanya akan menikmati buah dari apa yang ia lakukan, ia akan menerima hasil dari apa yang ia tumai. Benar kata orang, jika memaksa keadaan itu sama saja memaksa kebahagiaan, yang namanya dipaksa mana ada yang bahagia? justru malah menambah masalah dan juga tuntutan.. akh Mira ingin kembali pada Tuhannya. Ia ingin kembali menangis dan juga bersujud. Ia ingin hanya mengingat nama Tuhannya saja. Tuhannya Yang sempat ia tinggalkan hanya karena cinta, cinta yangs emu dan bahkan cinta itu diciptakan oleh Tuhannya sendiri.. haha ia memang sebodoh itu, meninggalkan Tuhannya dan mengejar cinta yang Tuhannya berikan. Hello adalah orang yang sebodoh dirinya?
Tak lama setelahnya Khumairo merasa tubuhnya ditaro dikursi roda, kepalanya ditegakkan oleh seseorang dan bersuara.”Kita harus pindah sayang.. maafin kami yang gagal memberikan apa yang harusnya kalian dapatkan.. maafkan kami.”Ujarnya disana.
“Papa enggak salah. Ini salah Mira. Amdai Mira enggak egois dan juga berjuang buat dapetin yang bukan lagi milik mira. Pasti semuanya enggak kayak gini. Pasti semuanya baik-baik saja.”ingin sekali Mira berteriak begitu disana menangis dan ia merasa dekapan hangat oleh tubuh kekar. Ia menambah tangisannya hingga kencang. tapi tak bisa... ! Ia tak bisa bicara saat ini.
Bukanya cafer tapi dadanya terasa sangat sakit dan sesak. Bagaikan ada yang ingin meledak.
Ayahnya mengeleng dan mencium kepalanya lagi dan lagi.”Kamu tidak salah. Anak papa yang terbaik dan juga termanis.. jangan bersedih yah sayang.:Ujar Somad bergetar.
Khumairo disana mengangguk dan juga menangis dalam diam. Tak kuat merasakan pelukan ayahnya. Bagaimana bisa ia mengejar cinta seseorang sedangkan ada ayahnya yang selalu bisa membuat ia nayaman dan tersenyum? Kenapa ia begitu serakah dulu?
Disisi lain ada sosok Nayya yang menangis sesenggukan diatas makam ayahnya, penyesalan tiada akhir itu menamparnya berkalilipat. Andai ia tau ayahnya akan meninggalkannya maka ia tak akan mendiami ayahnya selama dua Minggu ini. ia menangis sesegukan memeluk makam ayahnya.
Disana ia ditemani oleh Vano, ibunya dan juga Arga. Rey? Ia sudah pergi entah kemana lagian ia taka da apapun disni kan? ia bukan siapa-siapa. “Hiks hika. Ayah JAHAT BANGET NINGALIN Nay tampa pamit malah nambah beban buat Nay lagi. Nay enggak mau nikah lagi yah.”Gumamnya
Nyit.. Vano merasa dadanya ditusuk jarum yang entah dari mana, yang parahnya jarum itu berjumlah banyak hingga ia terhenyak. Apakah ia beban begitu bagi Nayya? nayya yang merasa Vano menatapnya dengan tatapan tajam membuat ia bertanya.”Apa liat-liat, liat tu ayah. Dia liatin nay tajem. Masa ayah nikahin Nay sama cowok kyk gini. Hiks hiks,. Nay mau yang baik dan ramah. Muka adem, ini mukanya serem hiks hiks.”Ia menangis lagi.
Ibu Nayya disana menahan senyumnya melihat wajah Vano yang semakin flat disana. “Huaa hiks hiks ayah dia tambah dingin. Nay takut hiks hiks. Nay enggak mau nikah lagi.” Nayya kembali menangis layaknya anak kecil.
Vano disana menghela nafas mengusap pelipisnya. Ia disana ingin membantu nayya berdiri tapi tadi saja Nayya menolak, ia mau menenangkan nayya tapi ia tau jika itu bukanlah pilihan yang baik. Nayya itu ternyata keras tak sama seperti apa yang ia bayangkan sebelumnya.
“Sudah Nay jangan nangis. Kasihan ayah kamu disana pasti nangis liat kamu yang menangis kayak gini ayah kamu pasti sedih liat kamu sedih kayak gini Nay.. udah yah sayang jangan begini lagi.”ujar ibunya mengusap kepala sang anak.
Nayya melirik ibunya dan bertanya.”Emang kalo udah meninggal bisa nangis dan sedih yah bund? Kok Nay beklum dapet dalil dan ceritanya.”Ujar nayya menarik ingusnya. “Jangan ngadi-ngadi dong buk hiks hiks. Kalo beneran gitu buk. Berarti Nay harus ketawa biar ayah ketawa disana?”Tanya Nayya lagi dengan wajah polosnya.
Arga disana menahan tawanya dibuatnya. Kok bisa ibunya masih bisa bercanda. “Bunda yang serius.”Ujarnya memperingati ibunya ibunya menggeleng dan berkata.”Ini ibu juga serius nanya Arga.”Ujarnya Nayya. Arga memijit pelipisnya mendengarnya. Vano yang melirik Arga disanapun berbisik.”Sepertinya ibumu terbentur terlalu keras hingga menjadi sedikit tidak pintar.”Gumamnya membuat Arga menahan gelaknya.
“Siapa yang tidak pintar? Kamu bilang saya bodoh?”Tanya Nayya pada Vano garang dan tak terima. Vano mengeleng disana dan menjawab.”Sedikit tidak pintar bukan tidak pintar nay. BEDAKAN.”Ujarnya disana menekan kata ‘bedakannya’ pada Nayya.
nayya mendelik tak terima.”Fiks ayah Nay enggak mau sama dia hiks hiks. “Udah Umi jangan nangis terus, muka Umi tambah jelek.”Ujar Arga disana menghibur. Nayya disana tak terima dan segera mengusap air matanya memukul kepala anaknya.”Anak durhaka kamu yah bilang ibunya jelek.”Ujarnya. Arga meringis diam disana.
__ADS_1
Arga disana meringis dibuatnya. “Udah yuk Mi. pulang udah sore. Umi kan masih sakit. Enggak baik loh mi.”Ujar Arga disana menarik tubuh ringkih ibunya. Nayya disana pasrah saja dan juga segera bangkit.
Namun Vano yang melihatnya ikut membantu, sayang sekali Nayya menepisnya dan berkata.”Enggak usah. Biar Arga saja”Ujarnya disana serak dan ketus.
Vano hanya menghela nafas dan juga diam menatap Arga. Arga disana menggeleng melihat ibunya. Nayya dan Argapun pergi meninggalkan makam itu. Vano disana terdiam sebentar lalu menatap nisan itu. Nisan yang tertulis nama mertuanya..” Saya tidak janji jika begini pak.. saya tidak janji bisa membahagiakan nayya. dia bahkan tidak bisa menerima saya.”Ujarnya disana meringis dan juga menghela nafas.
Lalu setelahnya ia pergi meninggalkan makam itu mengikuti Nayya dan juga Arga dan ibunya Nayya. yah yah seorang jendral besar itu cosplay jadi sopir pribadi hari ini. ia menghantar Nayya kemana-mana. Akh ralat mungkin sekarang dan seterusnya bukan?
Ditengah-tengah perjalanan nayya menatap kedepan itu terdiam melihat sosok yang ia kenal, sosok yang duduk diatas kursi roda itu adalah sosok Khumairo bukan? Lalu matanya menatap sekitarnya. Itu ada ayah dan ibunya bukan? Kenapa mereka membawa koper? Lalu dimana Aron? Kok tidak ada disana?
Pertanyaan demi pertanyaan menggerayangi kepada Nayya menghentikan tatapannya.
Mobil yang tadinya berhenti karena lampu merah sekarang melaju. Disana ia ingin berhenti dan bertanya. Tetapi ia sadar jikapun ia menemui Khumairo pasti ia akan diusir bukan? Akh ia harus mencari tahi apa yang terjadi padanya bukan?
Disisi lain ada sosok Khumairo diam ditengah kursi rodanya didorong, ada banyak yang mengejeknya buta. Ada juga yang ibah pada mereka dan bertanya mau kemana. Khumairo merasakan sakit dipanggangnya karena terlalu lama duduk. Ingin mengeluh tapi ia harus apa? Ia tak ingin membuat orang tuanya kembali merepot. Apakah ini yang nayya dulu rasakan ketika buta? Ketika dirinya rebut Habib darinya?
Khumairo mendadak murung mengingatnya. Ternyata sesulit itu.!! Dulu Nayya hanya punya Habib untuk bergantung ditengah kegelapan nya. Sedangkan ia? Ia punya ayah dan ibu kandung. Habib? Habib hanya orang asing bagi nayya dulu tetapi harus dijadikan sandaran? Apakah sekejam dan sejahat itu dirinya kepada Nayya dulu? Kenapa ia bisa menjadi sekejam itu? Berusaha sendiri, tegar sendiri membuatnya tak tahan menangis piluh. Sungguh setelah ini ia berjanji akan memperbaiki diri dan bertaubat. Ia terlalu banyak punya kesalahan, ia sudah terlalu banyak kehilangan.
Tetapi dimana Abu? Anaknya? ia baru ingat hal itu membuat ia panic, ia ingin bertanya tapi suaranya hilang. Ingin menulis tapi matanya tak mampu menatap. Ia kosong, ia hampa. Ia ibu yang tega meninggalkan anaknya. menekan anaknya untuk dilihat dan diakui oleh Habib. Ia ibu yang tega menghancurkan sayap anaknya demi Habib lirik dan bangga. Sungguh ia ibu yang buruk.
Tak terasa pipinya dihapus air matanya oleh ayahnya.. ayahnya tersenyum masam melihat putrinya yang menangis.”Jangan menangis yah sayang. Tunggu sebentar kita cari rumah untuk kita berteduh. Maafkan ayah jika hanya beri rumah kecil untuk kalian. Asal kalian tdiak kepanasan sudah cukup bagi ayah, tapi tolong jangan menangis.” Ujar ayahnya menggeleng tak mau anaknya menangis. Namun Khumairo malah bertambah tangisannya dan dipeluk oleh ayahnya.
“Permisi pak.. ibu.. dek.. kalian mencari rumah?”Tanya seseorang dari arah lain. Ayahnya Khumairo menatapnya, ibunya juga tetapi mereka disana mengangguk menatap sosok yang mengenakan pakaian biasa saja itu tersenyum.
Sosok itu malah tersenyum dan mengangguk,”Tidak masalah, sebab kami akan pindah, jadi kalian bisa menempatinya selama dua bulan hanya bayar 300 ribu.. nanti jika kalian sudah punya uang lagi maka bayar saja Trasfer dengan saya bagaimana?”Tanyanya.”Rumah saya insyallah cukup untuk kalian kok, ada dua kamar dan ruang tamu, ada dapur dan juga WC. Hanya saja tidka terlalu besar. Cukup untuk kalian..”Ujarnya lagi.
Ayah Khumairo mengangguk nanar.”Baik-baik. Saya mau pak saya mau.”Ujarnya. sosok itupun mengangguk dan mengenalkan dirinya. Mereka pun berkenalan dan menuju rumah tersebut untuk dilihat. Rumah yang berada dikomplek, rumahnya tidak besar dan tidak kecil. Cukup untuk hidup kok, meski lantainya belum marmer dan masih semen, ada sofa yang masih lumayan, ada juga tempat tidur meski tidak seempuk biasanya. Tapi ini cukup murah jika ditengah kota begini..! “Ini serius pak hanya 3000ribu dalam dua bulan? Bapak tidak rugi?”Tanya Somad disana membulat..
Sosok itupun menggeleng dan berkata.”Sejujurnya sewanya itu 800.000 sebulan pak, tetapi anggap saja ini bantuan dari Tuhan untuk bapak. “Ujarnya. Somad disana menyendu mendengarnya.ia sudah sangat jauh dari Tuhannya tetapi Tuhannya masih ingin membantunya? Lalangkah durkhaka dan juga jaharnya dirinya pada Tuhannya. Ia malu dan ia tak menyangkah. Kenapa Tuhannya maish membantunya sedangkan ia sendiri sudah jauh bukan?
Tak lama setlahnya ia pergi meninggalkan somad yang masih diam dengan pandangan kosong. Ia menatap tangannya yang uangnya hanya tersisah dua ratus riibuh sisa penjualan rumah dan asetnya. Semua harus bayar ganti rugi dan juga hutang karyawan. Ia juga harus menanggung beban untuk anaknya Aron yang masih dirawat dirumah sakit kejiwaan membuat ia ingin meledak.
Ia lapar ia ingin makan tapi dirumah ini belum ada kompor untuk masak, ingin beli tapi ia nanti tidak akan punya uang lagi bukan? Sampai pada ketokan pintu dari luar membuat ia tertegun. “Itu siapa yah yah?”Gumam istrinya. Istrinya dan Khumairo juga sedar tadi diam tak berani mengatakan jika mereka lapar mengingat suaminya sedang kesusahan.
Somad menggeleng “Coba kamu buka.”Ujar Somad. Argi istrinyapun segera membuka pintu melihat siapa yang datang. Terpampang lah sosok yang sudah tua tersenyum ramah, ditangannya ada rantang makanan membuat ia terdiam dan tersenyum.”Ehhh assalamu’alaikum buk.. maaf saya dari tetangga sebelah hehe.. tadi baru masak tapi kebanyakan, denger dari tetangga lain kalo ada tetangga baru disini jadi saya bungkusin aja buat kalian. Mau nggak jeng?”Tanyanya.
argi disana tertegun dan terdiam melihatnya.. aromanya membuat perutnya berbunyi dan bibirnya yang kering. Ia menelan ludah mau dna tersenyum Malu.”Eh iya mbak terimakasih sudah mau repot.”Ujarnya dengan tulus pada sosok tetangga barunya.
“Tapi..”Gumam Argi dengan pelan.”Kami bahkan baru beberapa menit disini, dan saya lihat sekitar sini cukup sepi. Mbak tau dari mana kami pindah kesini?”Tanyanya aneh dan juga heran. Sebab bahkan belum sepuluh menit ia duduk bukan? Nampak sosok itu gelagapan.
”Yang punya rumah yang kasih tau iya hehe.. “Ujarnya dengan menggaruk lehernya yang terasa gatal”Iya dia.. soalnya tadi ketemu diluar.”Ujarnya menggaruk tengkuknya yang tak gatal tapi terasa menyerangnya, sungguh dingin hawanya saat ini.
__ADS_1
Argi mengangguk paham dan percaya.”Oh gitu jeng. Makasih jeng mari masuk kita belum kenalan kan?”Tanya Argi menjabat tangan mereka.”Kenalin nama saya Argi. Nama jeng siapa?”Tanyanya disana dengan santun.
Ia tersenyum dan berkata.”Nama saya Karin jeng, maaf yah enggak bisa masuk. Saya harus kembali kerumah buat ngurus suami saya. Nanti dia pulang enggak lihat saya bisa marah. bay jeng semoga betah yah. jika perlu apa-apa bilang sama saya diseberang oke.”ujarnya disana membuat sosok Argi mengangguk.
”SEKALI LAGI TERIMAKASIH YAH.”Ujarnya. sosok Karin memberi jempol dan pergi meninggalkan Argi yang berbinar masuk menemui suami dan anaknya.
“Ibu bawa makanan, dari tetangga.”Ujarnya. somad disana menatapnya dengan nanar dan juga tersenyum bersyukur, ada rasa senang didadanya saat ini melihat istrinya dengan senang membuka nampan itu dan melihat isinya membuat keduanya berbinar. Ada banyak ayam dan rendang bahkan bisa dimakan hingga besok, lalu melihat isinya wah juga banyak.. jika begini mereka bisa berhemat selama dua hari.
Somad kembali ingat dengan ucapan pemilik rumah ini jika ini adalah bantuan dari Tuhannya. Apa ini juga dari Tuhannya? Somad menahan dadanya hendak meledak, betapa malunya ia saat ini ketika meninggalkan Tuhannya tetapi Tuhannya masih mempedulikannya, ia tak berdoa tapi Tuhannya tetap memberikannya. Ia tak meminta hanya berkata dalam hati meminta pertolongan tetapi lagi dan lagi Tuhannya tanpa melihat kejahatannya segera membantunya. Ia terpukul. Ia malu dan ia tertikam. Sungguh ia tak bisa jika begini..!!
...----------------...
Disisi lain ada sosok yang bergetar melihat rumah itu, rumah yang ditempati oleh sosok ibunya dan juga keluarga ibunya, tak berselang lama sosok ibu-ibu datang dan tersenyum.”Udah kok pak.. tadi udah saya kasih.”Ujarnya pada sosok disampingnya itu.
Sosok disampingnya pun mengangguk memberikan uang lima lembar dan diterima oleh ibu-ibu itu.” Terimakasih buk Karin sudah membantu saya. Jika suatu saat nanti mereka butuh bantuan bilang kepada saya yah dan segera bantu..”Ujarnya dan diangguki oleh Karin.
”Jika begitu saya pergi yah pak terimakasih bayarannya tapi tidak usah, sebab suami saya berkerja dengan bapak saja saya sudah cukup pak..”Ujar Karin memberi uang itu lagi menolak.”Dan saya janji akan membantu mereka jika butuh sesuatu lagi nanti.”Ujarnya disana meringis,. Yah dia istri karyawan Rey
Ia kembali memberi uang itu pada ibu itu dan berkata.”Jajan untuk anak ibuk. Anggap saja begitu.”Ujarnya. Karin mendengarnya terharu karena memang bos suaminya ini terkenal sangat baik, a pun menerimanya dan memilih pergi dengan hati yang bahagia. ia ingat anaknya ingin tas baru membuat ia segera menghampiri sang anak untuk beli tas baru. Memang yah yang namanya rezeki itu tidak akan kemana-mana karena sudah diatur.
“Terimakasih yah Yah.”Gumam Abu.. yah sosok itu adalah Abu. Abu disana tersenyum manis pada Rey, ia yang meminta Rey memberikan rumah untuk orang tuanya. Ia juga yang meminta Rey untuk memberikan makanan pada orang tuanya. Ia yang meminta semuanya karena ingin orang tua dan keluarganya hidup layak. Ia tau semua tentang keluarganya dari Rey. Awalnya Ia tak mau peduli tapi ingat kata-kata Rey membuat ia meluluh.
“Ingat, bagaimanapun ia, ia tetap ibumu, melahirkan kamu. Sejahat apapun ia, ia tetap pernah berjuang akan hidupnya demi melahirkan kamu, kamu terikat dengannya hingga mati. Tugas anak laki-laki itu apa? Yakni melindungi ibunya, jika ibunya salah apakah ia boleh pergi? Maka jawabannya hanya lelaki pengecut yang akan pergi karena masalah..!! Karena hakikatnya jika ibumu salah ia tetap ibumu, bimbing ia menjadi lebih baik lagi.”Itulah yang ia ucapkan membuat Abu luluh dan ingin bertemu ibunya. Melihat keluarganya hancur semakin membuat ia sakit ia meminta Rey membantu sedikit.
“Kamu yakin tidak ingin bertemu dan juga kembali pada mereka?”Tanya Rey. Abu menatapnya sendu.”Ayah TIDAK MENGUSIRMU Boy tetapi mungkin kamu ingin kembali kepada mereka. Ayah tidak bisa memaksa. Ayah hanya ingin kamu yakin dnegan keputusan kamu.”Ujarnya disana
Abu diam disana menatap Rey. Lalu berkata.” Abu tidak bisa bersama mereka,, disini.”Ia menaruh tangan nya didadanya sendu.”Terlalu sakit sampai aku tidak lagi mampu berdiri tegap dihadapan mereka. Abu tidak bisa yah.”Ujarnya. rey disana mengusap kepala sang anak angkatnya sendu. Selian fisik yang rusak tapi juga fisikisnya. Ia memeluk Abu dan menenangkannya. Memang jika terganggu fisikis maka akan lebih sakit lagi bukan?
...----------------...
Saya tahu banyak yang tidak terima pernikahan nya, mangkanya banyak yang marah, kenapa Nayya tidak sama Habib saja si? Padahal kan Habib yang paling menderita. So saya disini mengajarkan egoisme. Memilih antara yang terbaik dan juga yang membahagiakan. Bukankah manusia memang selalu egois? Meminta yang terbaik.)
Kadang apa yang kita anggap yang terbaik belum tentu yang terbaik, yang berkorban banyak belum tentu yang mampu berada disisi kamu setiap waktu. Mempercayai kamu dan menenangkan kamu. Kepercayaan wanita itu hanya satu ketika runtuh maka tidak akan ada lagi sisanya.
Begitu juga dengan orang tua, kalian tau bagaimana seorang ayah membesarkan anaknya? tidak ada anak yang ingin anaknya terluka. Bahkan banyak ayah yang mati-matian supaya anaknya bahagia dan menikmati hidupnya. Ia akan bekerja banting tulang dan tak tidur untuk anak-anaknya. tapi ketika mendengar anaknya menangis, dikhianati bahkan hampir mati berkali-kali karena lelaki yang sama maka yang paling disakiti adalah ayahnya.
Kalian pernah dengar kisah seorang ayah yang meminum darah sang putrinya tidak karena putrinya meninggal dijalan raya?tak sanggup melihat darahnya berceceran dan juga menemuhi kepala sang anak, ia meminum darahnya. Kalian pernah dengar tidak pepatah ini? jika anak kehilangan orang tuanya maka ia akan kehilangan dunianya, dunianya akan terasa runtuh, lalu setelahnya diganti dengan rasa rindu dan juga bisa dibilas dengan waktu.
Tetapi jika orang tua yang kehilangan anak? Maka ia akan kehilangan kewarasannya. Bahkan banyak yang menggila akibatnya. Menyembuhkannya? Butuh waktu panjang. Rasa rindu? Bukan hanya sekali atau dua kali, tapi setiap nafas yang ia tarik. jadi ketika orang tua menetapkan sesuatu bukan berarti ia egois, tetapi ia hanya ingin anaknya bahagia. kecuali pilihan itu demi kepentingan dirinya sendiri.
Orang tua memang egois jika mengakut kebahagiaan anak anaknya. apalagi seorang putri yang paling dicintai oleh ayahnya...
__ADS_1
Itu saja yang disampaikan.
Maaf jika membuat kalian tidak terima dan juga kecewa. Tapi dinovel ini memang diberi kekecewaan yang banyak hoho.. silahkan hujat autor yang egois ini. aku menunggunya...!!