Istri Butaku

Istri Butaku
Pulang


__ADS_3

Sudah 1bulan Nayya dirawat dirumah sakit. Keadaannya sudah membaik, ia sudah bisa duduk meskipun belum bisa menggerakkan tangan dan kakinya yang patah. Ia selalu sholat berjamaah dengan Habib. Hanya saat sholat ia bisa dekat dengan Habib, setelahnya ia selalu bersama orang tuannya.


Saat ini Nayya baru saja sudah makan, ia disupi oleh Bundannya dengan telaten. Sedangkan Habib berada dibelakang bundanya Nayya, ia tak berani untuk memaksakan kehendaknya. sampai suara dari pintu mengejutkan mereka.


“Assalamu’alaikum Nayya...” Ucap Wanita paru baya berbaju putih masuk dengan wajah cerah.


“Wa’alaikum salam. ini suara dokter Lena ya?” Tanya Nayya semangat.


“Udah kenal aja Nayya.” Jawab Dokter Lena sambil tersenyum. “Nay udah makannya?” Tanyanya. Ia menatap bundannya Nayya masih memegang mangkok berisi setengah bubur.


“Udah kok dok.”


“Tapi Nay, bubur kamu belum habis loo.” Sahut Bunda Nayya.


“Tapi Nay sudah kenyang bun. Nanti Nay muntah...”Jawab Nayya lemah. Jujur saja, ia sudah tak sanggup memakan bubur tanpa rasa itu. Sama sekali ia tak pernah memakan apapun selain itu. Untunglah Habib sering membawa bubur yang lebih enak setiap 3hari sekali. Ayah Nayya melarang jika setiap hari, takut tidak baik untuk kesehatan Nayya.


“Nggak apa kok bun. Yang penting Nayyanya sudah makan.” Sahut dokter Lena. Ia paham akan perasaan Nayya, siapa yang tidak akan muak coba, jika setiap hari makan tanpa rasa seperti ini. “dokter ada kabar baik buat Nayya...” Lanjutnya semangat.


Habib menyingkir supaya dokter Lena bisa mendekat. Ia memilih berdiri disisi lain ranjang untuk mndengar kabar bahagia tersebut.


“Apa dok?” Tanya Nayya cepat.


“Kamu sudah bisa pulang siang ini. keadaan kamu sudah sangat baik, hanya menunggu tangan dan kaki kamu pulih.” Jawabnya semangat. Ia mendekat “Tapi sekarang dokter lepasin dulu infus kamu dan perbannya ya. Dokter ganti dengan yang baru dulu. Kamu akan kesini selama 1minggu sekali untuk mengganti perban baru hingga tangan dan kaki kami pulih.”Lanjutnya.


Senyum Nayya mengembang. Yang dipikannya, ia sangat bersyukur. Itu artinya, ia tak menemukan bubur lagi, tak suntuk dan bosan lagi. Tapi senyumnya menghilang saat mengingat jika matanya tak dapat melihat. “Makasih dok.” Ucapnya sebisa mungkin tersenyum tulus.


Begitu juga keluarga dan suami Nayya. Senyum mereka mengembang menunjukan bahwa mereka sangat bahagia.


Dokter Lena pun melakukan tugasnnya. Sedangkan Habib dan lainnya menunggu diluar. Saat selesai dokter Lena pun keluar untuk menemui keluarga Nayya. Sedangkan Nayya ditinggal sendirian. Ia terlelap dalam alam mimpi yang bisa membuatnya melihat indahnya alam lain.


“Sudah selesai pak, buk. Kalian bisa masuk.” Ucap dokter Lena kepada orang tua Nayya dan suaminya.


“Dok. Putri saya benar-benar bisa pulang?” Tannya ayah Nayya.


“Iya pak. Selamat ya.”

__ADS_1


Ayah Nayya menatap dokter Lena lekat. “Saya sebelumnya mau bertannya dok. Dokter yang mengambil tindakan cepat saat Nayya dulu itu siapa ya dok? Apa saya boleh bertemu dengan beliau? Saya mau mengucapkan terimakasih dok.” Ucapnya.


Setelah Nayya melakukan oprasi dokter itu tidak pernah muncul lagi, karena Nayya meminta dokter yang merawatnya harus perempuan, karena ia tak ingin disentu pria, meskipun itu dokter.


Dokter Lenapun tersnyum tipis. “Mungkin maksud bapak dokter Fajar. Maaf pak, beliau sedang berada diluar kota saat ini. karena memang ada tugas seminar disana yang harus ia ikuti.”


“Jika begitu, saya akan berkunjung lagi nanti kesini untuk berterimakasih kepadanya. Salam kami kepada dia ya dok. Dan saya juga sangat berterimakasih karena dokter sudah mengobati dan merawat putri saya.”


“Sama-sama pak. Ini sudah menjadi tanggung jawab kami. Jika begitu saya permisi ya pak. Assalamu’alaikum.” Ucap dokter Lena, ia tersenyum sekilas dan meninggalkan keluarga Nayya.


“Bun, ayo kita siapkan barang-barang Nayya untuk pulang.” Ucap Ayah Nayya semangat.


“Iya. Ayo Ya.” Jawab Bunda Nayya semangat. Merekapun masuk kedalam kamar Nayya untuk membereskan semua peralatan Nayya.


Habib menatap mereka dengan diam lalu melangkah masuk mengikuti langkah mereka. “Pak, bu...” panggilnya.


“Hn...” Jawab Ayah Nayya acuh.


“Nayya akan pulang kerumah saya kan?. Saya yang akan merawat dia kan?” Tanyanya ragu.


Ayah Nayya menatap Habib. “Tentu tidak. Nanti jika kami sudah mati, baru kamu yang mengurus Nayya. “Jawabnya cepat.


“Maksud kamu kamu lebih berhak karena kamu suaminya? Kamu tidak lupa bukan kalo kamu menyebabkan semua ini terjadi...!” Bentak Ayah Nayya. Nayya bahkan langsung terbangun dari tidurnya.


“Yahh... Biarin aja Habib yang ngerawat Nayya, dia memang lebih berhak dari kita. Kita tidak bisa mencuri Nayya dari suaminya.” Sahut Cakra dari belakang. Menurutnya untuk apa orang tuannya menikahi Nayya jika akhirnya Nayya akan tinggal dan dirawat oleh orang tuannya. Percukma! Mendingan nggak usah dinikahin saja sekalian hukan?


“Kamu membantah Ayah dan mendukung dia...!” Bentak Ayah Nayya marah.


“Bi. Bukan begitu. Cakra sebagai pria bisa merasakan perasaan Habib. Nayya sudah menikah, dia sudah menjadi tanggung jawab orang lain, syurga nya ada pada suaminya.”


Habib menatap mereka sedih. “Pak, saya akan melindungi Nayya kok, saya akan berusaha membahagiakannya. Saya juga akan mulai merawat Nayya. Tolong kasih saya kesempatan untuk tanggung jawab.” Ucapnya.


Nayya mendengar semua itu hannya diam. perkataan Habi yang mengucapkan ‘tanggung jawab’ menaari-nari dipikirannya, bagaikan penari handal yang berlenggok kesana kemari. Hanya sebatas itu kah?.


Nayya akan bertekat nuntuk tidak memberi hatinya terlalu dalam, ia akan memberikan rasannya didalam genggaman tangannya, bukan dihatinya. Sebab jika rasa itu akan menyakitinya, setidaknya hanya menyakiti tanngannya bukan hatinya.

__ADS_1


“Bun, Ayah, Nay akan ikut mas Habib.” Sahutnya dari kejahuan. Ia akan mengikuti syurganya meskipun syurga itu berlandaskan tanggung jawab. Tetap saya ia masih menyandang gelar istri.


Ayah Nayya dan lainnya menatap Nayya terkejut. Mereka mengira jika Nayya masih tertidur. “Tapi Nay, dia orang asing. Nanti jika ia tidak merawat kamu dengan baik bagaimana?” Tannya Bunda Nayya.


“Maka Nayya akan kembali sama Bunda dan Ayah, tapi sebelumnya Ayah sama Bunda kasih kesempatan dulu buat mas Habib ya.” Jawab Nayya.


“Tapi Nay, bunda nggak mau pisah dari kamu.”


“Bunda nggak pernah berpisah sama Nayya kok. “


“Nay....”


“Bunda ayah... tolong jangan egois dong..! Nayya sudah menikah sekarang, dan kalian sudah tidak memiliki hak seperti dulu lagi.” Sahut Cakra.


Ayah dan bundannya Nayya tertegun. Semua yang dijelakan dengan putranya benar, mereka saling tatap. Mata yang awalnya bahgia menjadi sedih. “Baiklah. Tapi kami akan sering mengunjungi kalian nanti. Awas jika putri saya sampai kenapa-kenapa...!” Ucap Ayah Nayya mengancam.


Habib tersneyum manis. Setidaknya ia diberi kesempatan bukan. “ Inyaallah pak.”


“Kita harus pulang kerumah dulu untuk mengambil barang Nayya.” Ucap Bunda Nayya.


“Nggak perlu pak. Saya sudah menyiapkan semua keperluan Nayya.” Jawab Habib sopan. Bunda dan ayah Nayya hanya mengangguk paham.


Ia memang sudah menyiapkan semua kebutuhan Nayya. Mulai dari primer, skunder dan tersier. Hanya saja hatinya masih dipertanyakan.


“Semua barang sudah siap. Ayoo Nayya..” Ucap Bunda Nayya. Ia memegang pundak Nayya.


Habib mendekati Nayya. Ia membawa kursi roda untuk Nayya, sedangkan ayah Nayya menggendong putrinya menuju kursi roda tersebut. “Ayo...” Ucapnya.


.


.


.


.

__ADS_1


Maaf ya novel ini lama up.


Like komen and vote ya...


__ADS_2