
On flashback..
Gruggrugurgg....
Mungkin lebih dan kurang kayak gitulah ya suara perut Nayya membuat Putri yang mendorong kursi roda Nayya itu tertegun. Itu cukup membuat Nayya malu dan juga terdiam tanpa kata..
“ Hmm anu mbak.. Maaf lancang., jika saya boleh tau mbak lapar atau gimana?”Tanyanya disana segan kepada Nayya.
Nayya menganguk.” Iya.. saya lapar.. karena tadi belum sempat makan, “Jawabnya sedikit malu namun Nampak biasa saja bagaikan itu bukan apa-apa. Lagian apa yang harus ia malu, itu bukan aib kan?
Nayya menghala nafas dan berkata.”Bisakah aku meminjam uangmu seidkit untuk membeli makanan? Aku lapar namun tidak memawa uang sedikitpun, nanti jika kita sudah sampai dindalem akan ku kembalikan..?” Tanyanya disana dengan santun.
Meski Nayya disini itu sebagai menantu tapi Nayya tetaplah orang asing yang tidak bisa makan dengan selancang itu. Waktu makan maish maggrib nanti sedangkan ia sudah lapar, jika menunggu waktu sampai jam 8 maka ia tak kuat, dan ketika ia meminta makan ia malu dan merasa tidak enak..
Ia tetap orang baru.
Putri disana mnenatap Nayya dengan iba dan mengangguk.” Boleh, tapi disini tidak ada jual makanan berat seperti nasi, yang ada hanya makanan ringan atau roti dikoprasi mbak Nay.. jika mbak mau boleh.. ,mungklin bisa menganjal peritnya sedikit..”Ujar Putri sopan disana karena memang dipondok pesantren tidak boleh menjual makanan berat.
Nayya mengangguk.”Tidak apa-apa. Yang penting bisa mengganjal perut.. hm makasih juga karena kamu baik banget..”Ujar Nayya disana membuat Putri mengangguk..
Namun ketika dindalem putri tidak mau uangnya dikembalikan dan mengatakan itu uang pertanda salam kenal saja membuat Nayya tak bisa berbuat banyak, Mau menahan pun tidak bisa karena kaki dan tanganya patah bukjan? Jadi ia hanya mampu berkata dan menawarkan akan mentraktir makan suatu saat nanti membuat Putri setuju akan usulan Nayya.
Of flashback..
Habib disana menatap roti yang ditawarkan Nayya pilu itu mendekat dan menolaknya.”Tidak.. makanlah. Biarkan aku menyiapkan makanan untukmu.. aku tau pasti kau belum makan dan lapar.. maafkan aku..”Ujarnya disana membuat Nayya menggeleng.
“Hmm kau pasti lelah karena sudah mengajar, lebih baik kau istirahat.. Aku sudah cukup kok makan ini sampai nanti malam.. aku tidak apa-apa.. kau lebih baik mandi dan bersiap-siap..”Ujarnya Nayya lembut..” Tanggung jawabmu bukan hanya aku bukan?” Tanyanya disana mmebuat Habib menghela nafas.
“Namun semua tanggung jawabku yang paling penting adalah kamu Nayy. Saya tidak mau kamu sakit lagi..”Ujarnya membuat Nayya terdiam disana.. Sedangkan Habib disana mulai melihat apa yang bisa ia masak.. namun dikulkas itu tidak ada bahan makanan kecuali ikan dan telur membuat ia menatap Nayya yang masih mengunyah makanan itu dengan helaan nafas..
__ADS_1
Sertinya ia tidak bisa masak membuat ia menelpon pihak keamanan menyuruh membelikan makanan untuk Nayya dan dirinya, tampa ia tau jika Nayya mendengarnya. Nay mungkin tidak bisa melihat namun pendengarannya sangat tajam membuat Nayya disana menghela nafas dan juga terus makan smapai ia merasa perutnya sudah sedikit terisi..
Habib duduk didepan Nayya menatap wajah Nayya yang sudha menjadi istrinya itu.. tanpa ia sadari ia menjatuhkan air matanya. Ingat kata Nayya jika ayahnya memberikanya uang jajan dan uang hidup.. Suami macam apa ia sampai lupa untuk memberi Nayya uang?
Setelahnya telepon sampai membuat ia segera keluar karena makan yang ia pesan sudah ada.. ia memesan ayam geprek yang cukup besar dan ayam bakar, disana juga ada sambal pedas manis kesukaannya. Ia membawanya kepada Nayya dan berkata.”Maaf nay tadi saya tidak jadi masak karena dilkulkas tidak ada bahan makanan.. kau makan ya biar aku yang menyuapimu...”Ujarnya disana dnegan cepat membuka mika makanan dan menyuapi Nayya.
Nayya disana mengangguk dan menerima saja dengan senyum, karena harus bergantung dengan orang lain dan orang yang notabene asing itu tidaklah enak.
Ia tidak mau bergabung pada orang lain. Bahkan kebanyakan orang dan keluarga akan bergantung pada dirinya. secara selama ini ia orang mandiri membuat ia menahan tangan Habib dan berkata.”Biar aku saja.. kau makan saja yang punya mas.. aku bisa..meski mengenakan tangan kiri aku bisa..”Ujarnya disana.
“Tapi—“ ucapan Habib terpotong karena Nayya yang mengambil nasi ditangannya dnegan meraba dan meletakkanya didepan wajah Nya dan memangkunya.
Ia memakan nasinya dan meraba makan yang ada disana. Ada timun, ada kol, ada bakwan, ada tahu dan tempe, perkedel.. Nayya tau itu semua.. ia bahkan bisa membedakan cabai... ia memakanya dengan tangan kiri meski harus belepotan.
Habib disana menbatapnya dengan tatapan piluhnya dan menghela nafas.. ia ikut makan makanan miliknya dan menatap Nayya yang makan disana.. sesekali meraba sekitar mencari minum. Namun Habib lupa membuat ia segera mencari minum.”Ini..”Ujarnya. ternyata Nayya memakan banyak cabai karena tak mampu melihat membuat Nayya terkekeh.
“Maaf aku tadi tidak tau banyak cabai..”Ujarnya membuat Habib tersneyum.
Selera makan Nayya turun dan mendadak kenyang disana.. ia tersenyum disana lalu mengangguk dan menghentikan makannya dan kunyahannya..
Habib disana menatap adiknya tidak percaya.”Ais? kamu kok bicara begitu. Kamu tidak lihat mbak mu makan karena lapar?” Tanyanya disana dengan lembit.
Aisya disana mengambil makanan Nayya dan mengambil ayam nya..”Ya kalo gitu enggak apakan Ais ambil ayamnya Nay ya... Ais juga lapar.. abang beli aja lagi ya.. soalnya Ais kelapar..”Ujar Aisya lalu pergi.. Aisya memang kurang ajar. Karena ada suatu alasan yang nanti akan aku jelasin ya.. tapi sekarang menjadi rahasia saja..
Habib disana menghela nafas sabar melihat adiknya begitu lalu mengambil ayam miliknya dan meletakkan dipiring Nayya.,”Maafin ya.. Ais memang begitu, kasar.. jangan dimasukin kehati.. dia memang kasar bicara tapi sejujurnya dia baik.”Ujarnya.
Namun tangan Habib tak sengaja tertepis saat Nayya meletalakkan piring yang depangukuanya itu keatas meja itu membut Habib tertegun.
Nayya disana tersenyum.”Aku sudah kenyang.. Hmm.. tidak apa-apa.. tolong antarkan aku kekamar.. aku mau mandi.”Ujar Nayya disana dnegan gugup dan tersenyum. Inilah alasan kenapa ia membeli makan diluar saja tadi, ia tidak mau diginikan...
__ADS_1
“Tapi Na---“
“Aku kenyang mas.. jika kamu tidak mau membantuku aku bisa meminta bantuan Fatih atau yang lainnya. “Tegas Nayya disana membuat Habib tertegun. Ia tau pasti Nayya sekatrang sedang menahan amarahnya.
.”Maaf.. kamu harus mak-“
"Aku Kenyang.. "Jawab Nayya tidak lagi mau dibantah.
"Kamu Marah sama Ais..? Tolong jangan didengarkan di-----"
Tampa kata lagi Nayya disana mendorong kursinya kearah lain mengenakan satu tangannya membuat Habib kaget dan segera bangkit..
Nayya Maura Nadifa
Habib Haiburrohman
Fatih Haiburrohman
Aisya Haiburrohman
.
__ADS_1
.
Rencananya si Nayya aku mau kasih foto author aja wkwk..Tapi takutnya pada enggak terima hahaha... BTW ini temanya ketimuran ya...