
Didepan ia bertemu dengan Rian yang duduk dengan menatap ke pintu dan mata mereka saling tatap. Ia bangkit dan juga menatap Habib yang mendekatinya. Hey ia punya adapnya..! Hanya saja ada hal lain yang membuat ia tak suka Habib. Dan jikapun kalian ada diposisinya mungkin kalian akan berbuatkebih jahat....!
Habib Nampak sangat kusut disana. “Bagaimana keadaan Umi?”Tanya Rian kepada habib pelan. Ia menatap Habib yang duduk disisinya saat ini.
Habib menggeleng. “Belum tau. Hanya saja saat ini Nayya mengalami trauma.”Ujarnya lirih.
Rian diam mendenharnya menatap Habib dalam. Habib pun menatapnya miris dan memilih duduk diskusinya Rian.”Jangan menatapku begitu. Aku tahu aku yang salah dan aku yang gagal terus menjaganya. Bahkan menunggu dia sadar saja aku tak bisa kan?”Tanyanya disana melirih.
Rian menatap lain arah dan tersenyum.” Kau bagai orang gila dengan wajah begitu.”Ujarnya.
Habib menatap rian diam.”Bagaimana bisa bicara tanpa adanya orang bertanya atau menyampaikan. Aku hanya mau bilang jika kamu harus sabar dan harus kuat. umi Nayya tidak selemah itu. Masa suaminya saja kau tak tau..!! umi hanya butuh waktu menenangkan diri. Siapa yang tidak kaget kejadian begitu didepan matanya? Apalagi dulu ia juga sempat mengalami hal yang mengerikan yang sama bukan?”Tanyanya disana.
Habib diam mendengarnya.”Lagian jika kami gagal melindungi dan menjaga mereka saat nini bukan berarti kamu tidak bisa atau gagal terus. Tapi ini hanya pelajaran untuk kamu. Ini adalah pengalamnan untuk kamu supaya esoknya kamu bisa lebih berhati-jati lagi. sekarang papa mertua.”Ujarnya Rian terkekeh. Ia tak tega melhat wajah Habib yang pucat.
Habib disana mengangguk dengan senyum.”Tappi ngomong-ngomong. Kamu kurang ajar yah. Bicara sama saya pakek ‘kamu-kamu atau aku-aku’ tidak ada sopannya sama saya calon mertua kamu. Seharusnya panggil paman kek abi kek. Saya pecat jadi calom menantu saya mau?”Tanyanya disana dengan muka senyum mirisnya.
Rian disana pun menatap Habib.”Oh iya yah. Saya lupa loh. Soalnya muka kamu-eh Abi maksudnya masih muda banget jadi enggak cocok dipanggil paman atau Abi. Jadi berasa punya temen gitu.”Ujarnya Rian disana dengan muka jailnya.
Habib pun menatapp Rian dnegan tatapan delikannya namun tersenyum sombong.” Om jelas... Yasudah kalo gitu enggak apa-apa. Panggil 'aka-Kamu' aku saja. Saya memang masih mudah, bila perlu 'Gue-Elo'Biar terlihat gaul. .”Ujarnya dengan Pd.
Rian disan menggeleng dibuatnya.”Saya masih diterimakan jadi mantu?”Tanya Rian.
“Memang kamu mau menikah dengan anak saya menerim,ma kekurangan anak saya? Anak saya tidak pinter loh. Penyakitran petakilan dan juga polos nauzubillah. Beda dengan kamu yang kalem, lembut dan juga pintar nauzubillah.”Ujar habib.
“Dih ayah apaan yang hina anaknya sendiri.”Ujar Rian.
Habib melotot dibuatnya.”Lagi pula saya menikahi orangnya bukan kekuranganya, saya mencintai kekurangannya melebihi kelebihanya.”Ujar Rian dnegan menaik turunkan alisnya.”Dan saya pun menyukai semua hal dari dirinya bukan dari apa yang bisa ia beri kesaya, tapi semua hal darinya. “ lanjutnya.
Habib mendengaenya pun menepuk pundaknya.”Kamu bisa saja.”Ujarnya.
Rian tersenyum dan merangkulnya,.” Bapak mertua juga bisa aja.”Ujarnya membuat keduanya tertawa pecah. Bisa-bisanya mereka akrab begini? Sebenarnya Rian hanya mau mencairkan suasana supaya Habib tak stres lagi. lihatlah muka menyedihkan dia membuat Rian tak tega.
“Tapi ngomong-ngomong sepertinya kamu membenci saya. Saya yakin alasanya bukan karena tragedy ini saja. Bahkan sejak pertama kali kita bertemu tatapan kamu terhadap saya itu sangat berbeda.”Ujarnya Habib disana menatap Rian menuntut Tanya.
Rian disnaa mengangguk.”karena ketika saya menatap paman, saya teringat wajahnya Umi Nayya yang menangis setiap malam ketika mengandung Acha. Bahkan ketika Acha dilahirkan ia masih tetap mengingat paman dan mencintai paman hingga mencantumkan nama paman Dimana mereka meski sudah dikhianati.”Ujarnya dengan jelas nafas. Yah Rian saksi dikalah itu, yang selalu sembunyi dibalik pintu menatapnya.
Habib diam menatapnya. Rian menghela nafas.”Saya tida membenci paman, hanya saja rasanya sangat sakit ketika itu. Lagipula sikap saya memang begini. “Ujarnya tersenyum.
Habib menangguk menatapnya.”Maaf saya belum bisa melupakan wajah sedih Umi ketika mengingat paman.”Ujarnya lirih. Habib mengangguk tak enak hati lagi. Sebab tau jika disini tetap dirinya yang salah
Rian tersenyum.”Tapi saya mau kok bantu paman untuk bangkit kembali. “Ujarnya. Habib diam menatapnya.
Rian tersenyum.”Mari bangkit bersama dan lindungi yang kita sayang. Aku yakin kau bisa membuat umi bahagia dan aku membahagiakan Acha.”Ujarnya. Habib mengangguk yakin dan mulai saat itu juga Habib dan Rian mencoba berdamai dan menyayangi satu sama lain. Mereka akan berusaha untuk melindungi orang-orang yang mereka sayangi.
__ADS_1
Ingin segera Tiba menikahi Acha. namun nikah da rukun dan syaratnya bukan hanya seperti nikah ala Novel saja..!
...----------------...
Hari berganti menjadi hari berikutnya.. rian dan Habib memilih bergantian untuk menjaga Nayya dan juga Acha, kadang keluarga Habib ingin menemui Nayya namun sayangnya Habib melarang dengan dalih ia tak mau ada keributan yang baru. Ia mau keadaan membaik barulah mereka boleh bertemu.
Apalagi ada Aisya membuat ia takut juga.
Mata Nayya terasa berat untuk dibuka. Namun ia ingin membukanya, terasalemas dan kaku. Membuat ia melemah. Namun sayangnya ketika ia melemah itulah ia bisa membuka matanya, ternyata bangun dari pingsan itu membutuhkan proses melemah bukan berusaha yah. dapat ia tatap ruangan ini dengan tatapan sayu dan silau. Sungguh tubuhnya terasa remuk. Ia kembali menetralkan pandangannya yang silau dan kembali mengerakkan tanganya. Ia merasakan ada sosok yang mengeggam tangannya erat dan juga kekar. Ia diam menatap disampingnya. Sosok tubuh yang ia kenal sedang menangkup wajahnya disisinya dan menggenggam tangannya erat.
Ia terdiam sesaat.”Acha..”Gumammnya takut.
“Acha..!!” Tetiaknya gemetar ingat kejadian kejadian menyakitkan itu.
Sosok disisinya itu kaget. Dan bangkit. Nayya ingin bangkit dari duduknya,.”Acha sayang.. maafin Umi nak..”Teriaknya nanar. Ia sangat takut kehilangan anaknya.
“Hey sayang sudah bangun.. “Ujar habib kaget menatap nayya yang kembali bangun dengan mengamuk. Ia memang selalu menginap dan biasanya jam 8 baru pulang ketika Rian mengantikanya. Habib bingung sekarang mau senang atau mau sedih menatap keadaan Nayya yang bagaikan orang gila dan juga orang yang kehilangan arah, ia segera bangkut dan juga menenangkannya.
“Tenanglah sayang. Acha baik-baik saja. Ia diraawat disebelah tak jauh dari sini.”Ujar Habib kepada Nayya menenangkannya. “Jangan panic. Ada aku disini sayang,,” Ujarnya dengan berbisik lirih, berharap Nayya mendengarkannya dan baik-baik saja.
Nayya menatap Habib dengan wajh pucatnya. Matanya yang basah pun bicara.”Kau tidak berbohong kan mas? Acha masih hidupkan mas? Dia baik-baik saja?”Tanyanya bergetar. bibirnya yang pecah-pecah dna pucat itu Nampak bergetar menatap habib.
Habib mengusap tanganya menenangkan dan memeluknya sayang. Nayya membalas pelukanya tak kalah erat,.”Dia baik-baik saja. Dan kau harus tenang sayang.. jangan panic yah aku ada disini menjaga kalian. Maaf.”Ujarnya disana lirih. Ia mencium kepala Nayya nanar.
“Sttt;..” Habib menahan bibirnya dengan telunjuknya. Bibir Nayya bergetar terhenti dengan mata basah menatap habib. Habib mencium tanganya dan berkata.” Aku tidak akan meninggalkan kamu lagi. aku akan menjaga kalian dan akan selalu berusaha supaya kalian baik-baik saja.,”Ujarnya disana lirih.”Akan ku usahakan dengan nafas yang aku miliki.”Ujarnya dengan sungguh-sungguh.
Nayya disana menatap habid dengan menahan senyumnya. Habib cemberut dibuatnya.”Kenapa kau malah tersenyum hm?”Tanyanya Habib.
nayya disana mengusap ingusnya dengan lengan baju habib.”Anu. iler kamu masih ada.”Ujarnya Nayya polos.
Habib mundur dengan muka merahnya. Nayya disana mengulum senyumnya menatap Habib membersihkan pinggiran wajahnya. “Bisa-bisnaya merusak suasana saja.”Gumamnya dalam hati menggerutu dengan nanarnya.
Nayya disana diam sebentar.”Aku haus. Mau mium. Kau tidak menawarkan kepadaku?”Tanyanya disana kepada Habib dengan sinis.”Kau todak romantic sama sekali jadi suami.”Ujarnya lagi disana dnegan linglung dan memilih tidur kembali.”Tapi Acha benar-benar ada disinikan mas? Dia baik-baik saja kan? Aku mau melihatnya dulu.”Ujarnya cepat mentap Habib menuntut..
“Sisttt diam.”Ujar Habib kesal lalu memperbaiki posisi Nayya. bahkan oksigennya sudahlah kemana-mana.”Kamu itu baru bangun dari sakit kayak baru bangun dari kandang macam saja. Tidak ada kalem-kalemnya malah mengamuk. Mana bilang aku tidak romantic lagi. tadi mau minum terus sekarang minta Acha. Yang bener yang mana pusing aku.”Ujarnya Habib disana dengan pangajang lebar.
“mas enggak ikhlas?”Tanya Nayya.
habib gelagapan.”Bukan gitu. Aku Cuma pusing.” Ujar Habib
. “Udahlah aku mau mimmm.”Ujar Nayya. Habib disana pun mendelik menatapnya. Namun ia harus bersabar dan bersyukur karena Nayya sudah bangun.
Ia memberikan Nayya mimnum secara pelan-pelan. Membantu Nayya bangkit dan juga mengusap kepalanya sayang. Nayya disana pun menatap wajah Habib dengan diam. Wajah Habib sangat kacau bagai tak mandi seminggu. Jambang rabutnya tak terurus.,”Mas tidak mandi kah?”Tanya Nayya disana pelan dan juga lemah.
__ADS_1
Habib menatap nayya dengan tatapan sabar.”Iya nay. Mas disini terus jagain kamu jadi enggak sempet mandi.”Ujarnya jujur.
Nayya mentpnya ibah dibuatnya,tadinya ingin mengejek jDi yak tega. Habib mengusap kepalanya.”Yang penting kamu cepet sembuh yah Nay,.”Ujarnya.
Nayya disana menatapnya dengan tatapan mengantuk.,”Acha baik-baik aja kan mas? Mas tidak bernbohongkan?”Tanya lagi dan lagi oleh Nayya. Habib menggeleng mengusap pipi Nayya sayang. Nayya menatapnya nanar namun ia percaya saja kepada habib.
“Kamu bikin mas khawatir tau nggak. Mas rasanya enggak mau hidup lagi kalo kalian kenapa-napa. Mas selalu gagal jagain kalian. Mas jadi meraasa bersalah sama kamu sama Acha karena tidak bisa menjadi suami dan ayah yang baik.,”Ujarnya habib lirih. “Tapi mas akan berusaha untuk menangkap Aron dan juga Khumairo supaya mereka bisa mendapatkan hal yang setimpal kok.”Ujarnya.
Nayya disana mengangguk saja mendengarnya.”Mas Nay ngantuk.”Gumam Nayya.
Habib disana menatapnya lirih.” Tapi mas mau kamu bangun Nya. mas mau denegr kamu bicara. Mas—“ Ia terdiam menatap Nayya menepuk sisinya.
”Sini tidur. Nay kangen mas.”Gumammnya Nayya membuat Hbaib menatapnya binar.
Nayya bergeser memberiikan ruang buat Habib. Habib bangkit dan segera tidur disisinya Nayya secara pelan pelan. nayya memeluknya dan Habib diam mengusap kepalanya. Rasa ada banyak kupu-kuypu berterbangan diperutnya saat ini.”Mas Nay sayang mas.”Gumam Nayya,”Tapi Nay kecewa sama mas.”Gumamnya lai hingga tertidur.
Habib diam mengusap pipinya.”Nay kamu benarkan yang bicara?”Tanya Habib heran. Nayya mengangguk saja.
Habib ingat kata dokter jika Nayya memang belum sadar dna belum pulih. Habib disana pun tersenyum mengeluarkan hapenya. Ia menekan tpombol vodeo dan kembali bertanya.”Ayo bilang lagi. Kamu cinta mas kan?”Tanyanya.
"Hmm" Nayya hanya bergumam.
”Is jawab jangan hmm aja dong sayang.”Ujar habib menjahilinya dan mengulumi senyumnya. Rasa khawatirnya dua hari ini terbalaskan akan kesadaran Nayya yang tiba tiba berkata seemikian rupa.
“Yah. aku sayang mas, cinta mas. Mas jangan tinggalin kami mas.,”Gumam Nayya.
Habib disana tersenyum dengan bahagianya ingin asanya ia meloncat dari gedung tertinggi saat ini dan berkata kepada seluruh dunia jika Nayya mengatakan hal itu. “Mas juga sayang dan cinta Nay. Terimakasih nayya.”Gumam Habib mencium seliuruh wajah nayya. mulai dari pipi kening mata dan terakhir mau mencium bibir namun terdiam sebentar. “jangan dulu.”Gumamnya tersenyum.”Tapi rugi. ah sudahlah.”Gumamnya dan memeluk Nayya menahan apa yang seharusnya yak ia lakukan.
Nayya diam dan masuk kembali kedunia mimpinya. Sejujurnya ia sadar membicarakan itu, tapi karena rasa kantuk mmbuat ingatanya menghilang. Yah ia masih dibawah alam sadar namun dipaksa bangkit oleh otaknya. Lagi pula selama ia sakit ia selalu mendengar suara mengaji, suara orang sholat dan selalu bercerita sembari menangis. Ia tau itu Habib dibawah alam sadarnya dan ia sadar jika Habib benar-benar mencintainya dari sanalah.
Ia sangat ingat betapa sabarnya Habib mengusap tubuhnya ia merasa kembali kemasa dimana ketika ia buta dulu. Ketika Habib yang memaksakan diri untuk siap dan juga selalu berusaha menjadi yang terbaik untuk dirinya.
Habib menyimpan hpnya dan menatap wajah Nayya. Dengan gemas ia mencium pipi Nayya dan terkekeh.” Aku sudah punya bukti yah kalo kamu masih cinta aku. Jadi enggak ada alasan kamu buat jauh dari mas,'Gumamnya dan memeluknya sayang,
“Mas tepuk tepuk sini.”Gumam nayya mengusap kepalanya. Habib pun segera melakukanya membuat nayya kembali tertidur.
Habib menatap Nayya dengan muka gemasnya.,” Boleh minta nggak si Nay kamu gini aja terus. Kalo gini aja kan kamu tu gemoy. Pen ku kurung dikamar “Ujarnya dengan gemas dan tersenyum,
Ia tersenyum dengan bahagianya sebab Nayyanya sudah bangun dan baik-baik saja. Ia memencet bel darurat pemanggil dokter yang ada disana., ia ingin mengecek Nayya. sungguh ia tak ingin Nayya kenapa-napa lagi saat ini. dan yang pasti ia mau memastikan ini bukan halusinasi kan?
Ia tidak tahu, tapi yang jelas ia sangat senang saat ini. Ia berharap ini bukanlah halusinasi ataupun mimpi.
Jikapun ini mimpi ia harap jangan bangunkan ia, biarlah mimpi indah ini. jangan bukakan matanya..!
__ADS_1
Tapi jika begitu siapa yang menjaga Nayya nanti?