
Habib mendekati Nayya. Ia membawa kursi roda untuk Nayya, sedangkan ayah Nayya menggendong putrinya menuju kursi roda tersebut. “Ayo...” Ucapnya.
Mereka melangkah meninggalkan rumah sakit. Soal biaya sudah dibereskan oleh Habib, ia juga sudah menelpon kyai Abu dan umi Ana jika Nayya dan dia akan pulang.
Kursi roda Nayya didorong oleh Ayah Nayya, sedangkan Habib membawa barang-barang Nayya yang begitu banyak, setiap hari ia harus merapalkan mantra sabar untuk mertuannya yang sama sekali tak memberi respon baik terhadap dirinya. Tapi ia merasa jika semua itu pantas ia dapatkan.
Saat sudah sampai dimobil Habib, Nayya digendong lagi dengan ayahnya memasuki mobil. Ia juga duduk disampingnya Nayya, sedangkan Habib memasuki barang-barang Nayya, setelahnya ia memasuki pintu mengemudi, bunda Nayya memilih duduk disamping Nayya juga. Sedangan Cakra membawa mobil yang memang sudah disewanya tadi kepada rental.
Pandanan Nayya kosong. Ia harus pisah dari orang tuannya. Ia enggan keadaan seperti ini. ia harus tinggal dengan orang asing. Ia bahkan tak mengenali lingkungannya nanti seperti apa?. Semua itu tertata kacau dalam pertanyaan dan difikiran Nayya. Setiap dekit tak habis istighfar dalam lidahnya, hanya kalimat itu yang membuatnya semakin tenang dan berfikir jerni. Sedangkan bunda dan ayah Nayya mengelus kepala Nayya sayang. Mereka sangat menyayangi Nayya. Rasannya mereka sama sekali tak ikhlas melepaskan Bunga syurga mereka.
Sesekali Habib melirik Nayya dari kaca mobil, ia tau apa yang dirasakan Nayya, lagi-lagi ia kagum akan pendirian Nayya. Nayya bahkan sama sekali tak menangis saat berpisah dari orang tua yang sangat ia sayangi.
Mobil putih yang dikendarai Habib memasuki gerbang pondok pesantren. Rumah Habib memang memasuki arena pesantren, hanya saja rumah itu dipisah sedikit jauh dari kelas atau asrama para santri dan lainnya.
Mobil itu berhenti tepat didepan rumah yang begaya kuno, tapi masih sangat bagus dan terawat, rumah itu masih berdesain kuno, dengan kayu jati yang diukir rumit, bunga yang bertata rapi dihalaman rumah dan semua disain itu berwarna coklat tua. Tapi jangan salah, rumah itu sangat mewah nan megah, jika dibandingkan dengan rumah mewah sekarang, maka mereka sama saja, bahkan rumah ini lebih mahal karena bahan-bahannya saja membutuhkan bahan terbaik.
Sayangnya Nayya sama sekali tak tau. Kegelapan merenggut penglihatannya, yang hanya ia bisa lihat hanya gelap, tak ada warna lain. Ia bisa merasakan Ayahnya menggendongnya lagi untuk keluar mobil. Habib dengan cepat menurunkan kursi roda dari bagasi menuju Nayya.
Seluruh keluarga Habib sudah berdiri didepan halaman rumah menyambut mereka, mulai dari kyai Abu, umi Ana, Fatih dan Aisya. 2pembantu dan 2ustadz dari pesantren. Seluruh dari mereka sudah tau jika Habib sudah menikah, tapi mereka sama sekali tak tau akan kondisi Nayya. Karena itu mereka sangat terkejut saat seseorang gadis mungil diturunkan dari mobil yang digendong seorang paru baya.
Suara riuh santri terdengar ditelingah Nayya, ia sama sekali tak tau ini dimana, ia juga tak menanyakan hal ini kepada ayah atau ibunya. Ia hanya ingin tau disaat yang memang sudah tepat.
“Nay... Kita udah sampek dirumah baru kamu.” Ucap bunda Nayya.
Nayya tersenyum tipis. Betapa sakit hatinya, ingin rasannya ia menangis dan memeluk orang tuannya. “Ini dimana bun?” Tannya Nayya. 'Rumah Baru? kenapa rasanya itu sangat menyeramkan bunda.'Teriaknya dalam hati..
“Ini dipondok pesantren. Ada banyak santri-santri disini.” Jawab bunda Nayya.
Nayya tersenyum. Ia tak bisa tidak berbohong, ia sangat ingin dulu menjadi santri, ia ingin sekali belajar agama. Tapi karena orang tuannya tak mampu, ia harus bisa ikhlas mengusir jauh-jauh angan-angannya. Tapi disisi lain ia sangat sedih karena berpisah dengan orang tuannya.
Kyai Abu dan lainnya mendekat menuju Nayya. Banyak santri-santri yang menatap Nayya dari jauh, ada juga yang dari dekat. “Assalamu’alaikum ...” Ucap Kyai Abu.
__ADS_1
“Wa’alaikum salam Bi...” Jawab Nayya dan lainnya,
‘Jadi itu istrinya Gus Habib?’
‘cantik sii. Tapi cacat...!’
‘bener tu, jauh bagusan kak Mairo’
‘Pastr cari perhatian aja dia. Kalo enggak di jebak biar bisa nikah sama gus kita’
‘secara gus Habib sangat tampann, dia juga sholeh. Suami idaman pokonya.’
Semua santri wati berbisik keras. Kalimat itu terdengar oleh Nayya. Tapi sayangnya Nayya bukanlah orang yang cengeng.
Ada kilatan benci dimata orang tua Nayya menatap Kyai serta keluarga. Ia juga menatap para santri yang menggunjing Nayya. Secepat kilat mereka pergi menjauh. “Nayy. Kami pulang ya. Kamu baik-baik disini.” Ucap ayah Nayya
Nayya tersenyum tipis, sekuat mungkin ia tak menangis. “Ayah sama bunda hati-hati ya. Kalian harus sering-sering jengukin Nayya.” Ucapnya berat.
“Bunda sama ayah juga. Jangan lupa kewajibannya dan kesehatan ya.”
Ayah Nayya memeluk Nayya lembut, begitu juga bunda Nayya. Mereka takut akan melukai dan menyakiti tangan Nayya.
“Jaga adik saya ya..” Cakra menepuk bahu Habib yang sedari tadi diam. "Liat tu bunda sama Ayah..."
“Insyaallah mas.” Jawab Habib sopan.
“Dek kami pulang ya. Kamu harus jadi istri Solehan sebagi mana yang kamu ketahui.” Ucap Cakra. Ia mengelus kepala Nayya yang terbungkus hijab.
“Insyaallah Nay bakal lakuin yang terbaik.” Jawab Nayya berat.
“Kalian nggak mau mampir dulu?” Tanya kyai Abu menatap keluarga Nayya.
__ADS_1
"Nanti saya nggk sanggup ninggalin Nay kalo harus ngineo..." Batin ayah Nayya meronta.
“Nggak pak. Nanti kemalaman lagi nyampeknya dirumah” Jawab Cakra. Ia tau jika orang tuannya nanti akan menjawab ketus. Lebih baik dia saja yang jawab.
“Kalian bisa nginap saja disini. Inikan juga menjadi rumah kalian.”
“Nggak usah pak. Kami permisi pamit ya. “ Jawab Cakra cepat. Ia tak mau orang tuannya mencari masalah. “Assalamu’alaikum..” Lanjutnya cepat. Ia mencium tangan kyai Abu sopan.
Saat ayah Nayya menyalami kyai Abu, ada air mata yang lolos. “Saya sebagai ayah Nayya. Saya minta untuk anda. Untuk bisa menggantikan saya sebagai ayahnya. Saya sangat menyayangi Nayya. Nayya hidup saya, jika saya menemukan lecet di tubuh Nayya, rasanya saya menjadi ayah yang gagal. Jadi saya mohon, jaga putri saya sebagaimana kamu menjaga putra-putrimu” Ucapnya tulus.
Kyai Abu tersenyum lembut lalu memeluk ayah Nayya. “Saya akan menjagannya seperti anak saya sendiri. Insyaallah.” Ucapnya.
Ayah Nayya menepuk nepuk pundak Kyai Abu pelan dan tersenyum. Saat ini bukan lah hal baik baginya untuk bermusuhan, sedangkan putri kesayangannya akan tinggal disini. Entahlah, menikahi Nayya dan Habib itu pilihan yang tepat atau bukan. Tapi ayahnya Nayya hanya berharap jika putrinya masih melanjutkan hidupnya dengan bahagia.
“Nay. Kami pulang dulu ya. Kamu baik-baik disini ya sayang.” Ucap bunda Nayya lembut. Ia memeluk lembut anaknya dan melepaskannya. Ia menangis tanpa isakan. Ayah Nayya memeluk istrinya erat dan membawanya pergi.
Sedangkan Nayya sama sekali tak menangis saat bunda dan ayahnya memeluknya. Saat ia sudah mendengar suara mesin mobil berbunyi dan bersahut dengan kelakson. Air matannya tak dapat ia bendung lagi. Ia memejamkan matannya.”Bunda ayah... Nay sayang kalian.” Gumamnya.
Habib menatap Nayya yang sedari tadi menjadi semakin kagum. jujur saja, ia baru pertama kali melihat gadis yang tak pernah mau melihatkan kesedihan kepada orang tuannya. Betapa besarkah cintannya terhadap orang tuanya? Jujur saja, ia bahkan iri karena ia saja belum sebesar itu cintannya kepada Umi dan abinya. Ia bahkan masih terang-terangan mengeluh dan menangis kepada orang tua, bahkan ada saat dimana ia masih mengucapkan kata yang bertentangan. Sedangkan Nayya?. Menangis saja ia tak mau dihadapan orang tuannya?. Bahkan semenjak kecelakaan itu dan Nayya sadar. Ia sama sekali belum pernah mendengar Nayya mengeluh, baik dari cacatnya, makanan, capek, sakit. Bahakan kebutaan yang ia dapatkan. Nayya gadis yang beda... Atau gadis yang mulia?
.
.
.
.
.
**Maaf yaa... Lma up, tapi bkaal lanjit kok beneran...
__ADS_1
Jangan lupa like komen and vote ya**...