Istri Butaku

Istri Butaku
Cerita


__ADS_3

“enggak kok. Kamu memang lucu.”Ujar habib.


“Emang.'’Jawanb acha lagi membuat gelak habib terdengar dan acha hanya menatapnya dan menggeleng. Lucu bagian mananya si? Bagi acha tidak ada yang lucu diantara percakapanya namun Habib begitu mudah tertawa seperti itu.


Sedangkan Habib tertawa karena kepercayaan diri Acha yang sangat tinggi, beda dengan gadis lain yang jika dipuji maka ia akan tersipu. Acha tidak, ia malah menambah pujian yang telah ia beri. Bahkan anak kecil saja jika dipuji akan sedikit tersipu dan juga malu malu. Entah rasanya didekat Aca membuat sedikit bebannya terlupakan. Bahkan ia bahagia.


“Udah de pak. Kalo mau ketrawa jangan disini. Aca sedang galau.”Ujar Acha yang tak suka menatap Habib masih tertawa disana. Habib mengusap air matanya yang keluar menatap Acha. Rawanya meledak dan tak bisa terhenti.


“Iya-iya. Maaf. Saya hanya kagum dengan kepercayaan dri kamu.”Ujarnya Habib jujur. Acha disana memutar boa mata malas.


”Acha memang lucu dna manis, tidak akan ada kepercayaan diri kalo tak ada kenyataan.“Ujarnya. Habib tak mau menawan lagi sebab tau jika ia akan tetap kalah nanti.


“Memangnya kamu punya masalah apa sama bunda kamu?”Tanya Habib mengalihkan pe,mbicaraan kepada Acha.” Bunda kamu sampai marah seperti itu kenapa, apa kamu nakal?”Tanyanya disana lagi kepada Achs.


Acha disana menggeleng.”Acha salah. Acha bilang kalo bunda tidak sayang Acha padahal bunda sayang Acha. Kata ayah bunda tidak akan maafin Acha kalo Acha tidak tau kesalahan acha. Aca tetap tidak tau kesalahan acha selain perkataan acha yang jahat dan nyakitin bunda.”Ujarnya lirih disana. Ia jujur dengan kata-katanya.


Habib disana pun mengangguk.” Saya tidak tau apa perkataan yang menyakitkan itu, tapi yang saya tau kamu tetap salah.”Ujarnya membuat Acha disana menghela nafas dna mengangguk tau. “yang kamu bingungkan apa? Yang dikatakan ayahmu benar, ia ibumu pasti ingin kamu introfeksi diri supaya tau kamu salahnya apa dan tidak akan mengulanginya lagi.”Ujarnya lagi.


Acha disana mengangguk lagi. "|acha tidak tau, acha pusing.”Ujarnya mengusap kepalanya yang terasa berat.”yang acha tau satu hal, jika bunda Sayang acha dan Acha sayang bunda. Acha tidak mau bunda jauh dan acha sangat menyesal.”Ujarnya polos disana.


Habib nengeleng dibuatnya. “ yang saya tau satu hal, ketilka kamu tau masalah kamu itu tandanya kamu tau apa yang harus kamu lakukan. Mungkin perkataan kamu terlalu menyakitkan sampai ibumu marah. Minta maaflah secara baik dan benar, ia pasti memaafkanmu.”Ujarnya. aha disanapun menatap Habib diam.”Kenapa tidak mau belikan saja bunga kesukaanya?”Tanyanya.


“Acha tidak tahu. Acha pusing.”Ujar acha disana meninggi menutupi matanya.” Bapak jagain yah. Acha mau bobok, kepala acha sakit.”Ujarnya menutupi matanya disana. “Caca tidak tidur semalam karena tidak bisa tidur. “Ujharnya.


Habib mengangah dibuatnya.”He jangan tidur disini. Ini tempat umum.”Ujar Habib disana. Acha tak mendengarkan, ia malah menaiki kakinya dan menyandarkan tubuhnya memilih tidur. Habib disanapun memarahinya dan menyuruhnya bangun. Acha yah tetap acha. Tak akan peduli meski badai sekalupun.


Habib disana menghela nafas dibuatnya. “Jika anakku ada disini mungkin ia seumuran denganmu.”Gumamnya disana dengan senyuman.


Acha mendengarkan itu membuka matanya.”Bapak ngomong apa?”tanyanya.


Habib disana pun mengeleng.”Tidur.”Ujarnya. acha disanpaun kembali menutupi matanya, habib menatapnya dengan tatapan aneh. Acha manusia ter aneh yang ia kenal seumur hidupnya.


Habib disana menghela nafas, namun ia melihat mata Acha sebelahnya mengintip mebuat ia gemes, kenapa tingkahnya seperti anak kecil begini? Kan ia ingin mengarunginya membuat ia harus banyak-banyak istigfar. “Is bapak nybelin.”Ujar Acha disana dengan memelas..

__ADS_1


“Loh kenapa lagi saya yang kena?”Tanya Habib tak terima.


“Yah karena bapakj enggak mau kaish tau. Kan acha jadi kjepo pak,. Acha mau denegr cerita bapak.”Ujar Acha disana malas, ia sedari tadi memang menunggu Hbaib secita lagi.


Habib disana mengigit bibit dalam untuk tidak mengusap pipi Acha dan menariknya keras-keras. Mukanya sangat lah menggemaskan dikalah merajuk, “Mau bapak kasih cerita saja buat Acha tentang masalah Acha ? “Tanyanya Habib.


Acha segera mengangguk menatap habib dengan semangat. Habib jadi tau jika Acha memang sedang merasa gunda akan masalahnya ini. “Hm.. jadi bapak lihat kamu kan pemarah dan tidak bisa berfikir panjang, sepertinya cocok untuk kamu. Jadi dengar baik-baik yah, bapak tidak akan mengulanginya lagi/.”Ujar habib diangguki lagi poleh Acha dan segera memperbaiki duduknya. Habib bahkan tak habis fikir melihatnya. Ia bagai anjing yang penurut sekali.


“Jadi suatu hari ada anak yang pemarah sekalli, ia emosian dan juga suka marah dengan tak jelas, emosinya tidak terontrol membuat ia suka marah-marah dan emosi sendiri.”Ujar Habib memulai cerita. Acha mulai menyimak secara baik.


Habib kembakli bercerita. “ Terus ada ayahnya yang melihat anaknya inipun mencari solusi, ketika ia punya solusi ia segera mengatakan kepada anakmnya. “Wahai anakku. Jika kau marah maka pakulah pagar didepan rumah kita, setiap kali kamu marah.”Ujarnya disana.


Lalu anaknya pun mengikiuti kata ayahnya, setiap dia marah, maka dia akan memukul paku pagar dan membuat pagar didepan rumahnya, dalam setiap harinya ia selalu memaku dan membuat pagar hingga ia sadar ia lelah dan ia capek, amarahnya yang biasanya meledak sekarang terimbas dengan pagar,, kadang ada pagar yang takk jadi karena ia pukul terlalu keras, ada juga yang patah dan juga ada yang harus ia perbaiki sehingga ia harus bolak balik memperbaikinya.


Amarahnyapun terganti dengan kesibukan membuat ia melupakan amarahnya, “ujar Habib. Namun matanya menatap Acha yang memejamkan matanya.”He kamu dengar tidak si saya bercerita?”Tanyanya disana.


Acha disana membuka matanya..”Denger pak., acha Cuma menyerapnya dulu. Acha tidak bisa menyerap kalo tidak konsentrasi.”Ujarnya.


Anaknya melepaskan semua paku yang ia tancapkan, menyusun lagi kayu-kayu yang rusak karena ia pukul karena amarah, kayu-kayu yang tidak jadi dan semuanya hingga selesai, ternyata lelah dan sulit. Bahkan lebih sulit dari menacapkan paku mengenakan palu.


Setelah selesai ia kembali mendatangi ayahnya dan berkata bahwa ia sudah melaksakan tugasnya. Ayahnyapun kembali tersenyum dan bangga, lalu ia berkata.” Nah anakku. Coba kau lihat kayu-kayu yang kau paku itu.”Ujar sang ayah. Sang anakpun menatapnya dan melihat ada berapa banyak bolongan, pecahan dan juga bekas yang ia palu hingga rusak.


“Dan begitulah yang akan terjadi ketika kau marah.”Ujar sang ayah. Anaknyapun diam mendengarnya. Ayahnya kembali bicara.


“Ketika kau marah sama layaknya paku yang kau tancap, akan menusuk hingga kedalam dan membekas, karr5ena amarah itu membuat luka pada hatinya, goresan pada hatinya, kau bisa melepaskan pakunya namun tak tak bisa menghapus bekas pakunya, dan kau bisa minta maaf dan memaafkan ketika kau melakukan kesalahan tapi tidak dengan bekasnya, tidak dengan rasa skait yang kau toreh ketika kau marah, ketika kata-kata kasar kau lontarkan kepada mereka.”Ujar sang ayah disana.


“Dan coba kau lihat kayu yang hancur itu karena amarah yang tak ter tahan itu.”Ujarnya menunjukan kayu yang patah dan tak layak lagi dipakai.”Itu salah satu contoh hati manusia yang rapuh ketika kau marah dan kau katakan perkataan yang tak pantas, hancurt dan benar-benar tak mampu kau perbaiki, sama layaknya manusia, tak ada kata maaf dan tak ada hal yang mampu kau lakukan selain membuangnya, dna merekapun tak akan mampu memaafkanmu dengan hati yang hancur.”Ujar sang ayah lagi.


Habib disana menatap Acha yang mulai membuka matanya menatap Habib. Habib tersneyu5m.”Sama dengan kamu Acha. Ketika kamu marah, kamu akan menorehkan luka kepada orang lain, dan luka itu tak akan lepas hingga kapanpun,”Ujarnya disana.


Acha Disana menatap Habib.”Apa Acha harus bikin pagar dan memaluhkan paku? Acha tidak bisa tapi.”Ujarnya Acha.


Habib disana menatapnya dengan sabar dan mengusap wajahnya.”Yaampun Cha, jangan nguji kesabaran saya deh. Udah dari tadi saya cerita kamu pahamnya Cuma pager dan paku?”Tanya Habib tak terima, bahkan suaranya meninggi.

__ADS_1


“Yah santai dong pakk. Sayakan nanya, soalnyakan disana ayahnya nyuruh gitu, siapa tau Acha juga sadar dan Acha bisa memperbaiki diri.”Ujar Acha disana.


“Lalu apa lagi yang kau dapatkan dicerita tadi ha?”Tanya Habib kepada Acha kesal. sudah hampir setengah jam masa hanya itu yang ia dapatkan.,


Acha menatap Habib dan tersneyumn. Ia menggeleng dengan lemah membuat Habib ingin membenamkan Acha dirawa-rawa.


'‘Eh tidak-tidak. Acha paham satu hal.”Ujar Acha membuat habib tersenyum banga dan mengembang. Acha menatap habib dan berkata.”Intinya kalo koita marah jika harus menancapkan paku dipagar yah kan?|’Tanyanya polos.


Habib menggigit bibir dalam dibuatnya. Sungguh ia tak paham akan Acha.” Dan lagi marah itu hanya membuat luka yang bisa dimaafkan tapi tak bisa dihapuskan layaknya paku. Nah begitukan?”Tanya ACha disana lagi.” Jadi kita kalo marah yah lampiasin kepaku saja supaya tidak nyakitin orang lain.”Ujarnya lagi disana semangat.


“ Bener si.”Ujar Habib pasrah membuat Acha tersenyum


”Tapi Acha dengar bapak dulu.”Ujar Habib mendekat. Acha mengangguk menatapnya.”Intinya Aacha tidak boleh marah-marah lai dan emosian, karena kadang apa yang acha lakukan dan apa yang Acha lontarkan ketika marah, itu bukan lagi acha yang mengendalikan diri Acha tapi amarah dan setan didiri Acha. “Ujar Habib disana menjelaskan. Acha diam mendengarkan.


“ Jika Acha memiliki salah sama Tuhan, maka Acha hanya perlu bertaubat dan meminta maaf karena Acha benar-benar telah menyesal, tapi beda hal dengan ketika Acha melakukan kesalahan kepada manusia. Ketika manusia itu tak mau memaafkan Acha hingga ia mati atau Acha yang mati tanpa ada kata maaf darinya karena perkataan acha atau perbuatan Acha yang salah, sebanyak apapun pahala dan ibadah acha maka semuanya tak ada gunanya dan Acha akan masuk neraka.”Ujarnya membuat Acha membulatkan matanya.


Habib mengangguk.”Iya. bayangkan orang yang Acha sakiti itu adalah ahli ibadah yang selalu dekat dengan Tuhanya, ia bersimpuh dihadapan Tuhanya disepertiga malam dan menangis, mengaduh kepada Tuhanya jika si Pulan / Acha sudah menyakiti hatinya dan mengatakan jika ia tak ridho dunia dan akhirat maka celakalah acha. Celakalah manuisa-manusia itu, tidak ada yang lebih buruk dari pada hal itu.”Ujarnya Habib membuat Acha menatapnya nanar.


“Apalagi Acha melakukan kesalagan dengan bundanya Acha, ibu yang melahirkan dan menyusui acha, bukankah ACha tau jika ditelapak kaki ibu ada syurganya Acha, lantas bagaimana bisa Acha mematahkan surga Acha sendiri? Ketika dibentak saja seorang ibu, maka sama saja Acha menghancurkan syurga acha sendiri bagaikan jika Acha sakiti hatinya. “Ujarnya habib lagi. “ Dan bagaimana dengan hati yang Acha sakiti? Acha bisa bayangkan dengan manusia lain saja Acha tak akan dimaafkan dan masuk neraka apalagi sama ibunya Acha. sudah durhaka, achapun sudah menyakiti hatinya. bukankah murkanya ibu adalah murkanya Allah? “Ujarnya.


Acha disana menatap habib nanar.” Bunda acha sholleh.”Ujar Acha lirih disana.”Terus dia baik juga. Hiks hiks. “Gumamnya disana lirih menatap habib.


“Justru karena itu.. acha harus hati-hhati kalo marah lebih baik acha diam saja jangan mau marah. Acha tidka boleh bicara kasar dan juga menyakiti hati siapapun, termasuk ibunya acha. Acha paham?”Tanyanya.


Avcha mengangguk lirih. Habibpun disana menatap acha dengan diam dan mengeluarkan buku ditas kerjanya. Ia memberikan jepada Acha dan tinta merahnya kepada Acha.”Ini nota yang belum saya gunakan diberi dari kampus, sebab saya punya sendiri.”Ujarnya. acha menatapnya tak paham. “Nah ini kamu bisa gunakan ketika kamu marah. “Ujarnya.


Acha tetap tak paham namun mengambil buku dan penahnya. Habib tersenyum dn berkata.”Nah ketika Acha marah dan emosi, acha lontarkan apa yang acha mau bicarakan, atau apa yang mau acha lakukan dibuku ini. acha hanya perlu menulis semua amarah dan isi hatinya acha disini. Kapanpun ketikaAcha marah dan tidak menyukai suatu hal.”Ujarnya disana dengan lembut.


Acha disana pun menatap habib memelas.” Terus bundq gimana? Nanti kalo bunda tidak mau memaafkan acha gimana? Acha tidak mau masuk neraka”Ujarnya lirih disana. Ia mengusap pipinya yang basah.


" Coba Acha liat tangan Acha.,”Ujar Habib. Acha segera menatap tanganya yang basah. “lihat pipi dan wajah Acha mengenakan handphone acha.”Ujar Habib membuat Acha segera melakukannya apa yang telah ia katakan.


“Basah tanganya acha. Jeleknya muka Acha karena menangis. Merahnya muka acha. Itu semua Karena penyesalahn bukan?”Tanya Habib. Acha mengangguk membuat habib disana tersenyum. “Nah sekarang tugas acha adalah membuat masa depannya acha supaya tidak lagi ada penyesalahn begini. Dan yang kedua untuk acha. Cobalah acha beri kado dari acha kebunda dan tulis surat yang acha mau sampaikan kebunda Acha. Acha cium pipinya dan peluk, beri dia apa yang ia suka. Saya yakin dia akan memaafkan acha. Dan juan lupa. memohon ampun kepada Allah, karena Allah maha membolak balikan hati setiap manusia, semoga nanti hati bunda Acha bisa dibuka dan memafkan Acha. ”Ujarnya disana.

__ADS_1


__ADS_2