ISTRI KEDUA TUAN ALEX

ISTRI KEDUA TUAN ALEX
102


__ADS_3

"Apaa? Tidak Nona, aku tidak mau, jika Alex tau aku bisa dibunuh!" kata Vano terkejut dengan kedatangan Ella ke rumah sakit menemuinya dan terkejut dengan permintaan Ella yang memintanya untuk mengantar menemui Hanna. Memang Vano tau tempat dimana Hanna dipenjara namun Vano sedikit ragu untuk mengantar Ella kesana.


Yang membuat Vano ragu adalah Alex, jika Alex tau sudah pasti Alex akan membunuhnya karena telah membantu Ella.


"Aku mohon dokter, sekali ini saja." kata Ella dengan wajah memelas.


"Tidak Nona, tidak akan! lagipula mengapa tak mengajak Alex saja malah mengajak ku?" tanya Vano.


"Em, karena mas Alex sedikit sibuk jadi aku ti-"


"Jangan berbohong padaku Nona, bahkan kamu sama sekali tak pandai berbohong." kata Vano yang membuat Ella menunduk.


"Ya sudah jika dokter tidak mau mengantar." kata Ella menuduk sedih lalu terisak.


"Hey, apa kau menangis?" tanya Vano menilik wajah Ella karena Ia mendengar suara isakan tangis.


Ella hanya menggeleng lemah namun tetap terisak, sungguh Ella sedang sangat frustasi kali ini karena tak ada yang bisa membantunya.


"Stop, berhenti menangis." kata Vano yang membuat Ella semakin terisak.


Vano memang payah, Ia benar benar tak bisa melihat wanita menangis.


"Baiklah, baiklah, aku akan mengantarmu." kata Vano menghela nafas lelah.


Ella langsung mengangkat wajahnya menatap Vano "Benarkan? dokter tidak bohong kan?" tanya Ella memastikan.


"Tentu saja tidak, tapi sebelum itu jawab pertanyaanku dulu," kata Vano "Apa yang membuatmu tiba tiba ingin bertemu Hanna?" tanya Vano.


"Emm, itu karena aku sering mimpi buruk disiang hari, aku merasa ada yang perlu kujelaskan pada Hanna." jelas Ella.


"Jelaskan tentang apa?"


"Aku hanya ingin menjelaskan jika aku sama sekali tak pernah berniat merebut Alex darinya." kata Ella.


"Hanya itu?" tanya Vano sedikit melonggo.


Ella mengangguk "Ya, aku ingin tidur tenang dan tidak mimpi buruk lagi jadi sepertinya memang harus diluruskan." kata Ella.


"Ya ampun Nona hanya masalah seperti ini saja jika Hanna nekat nanti bisa membahayakanmu, apa kamu tidak ingat terakhir kemarin bahkan Ia berniat menusukmu?" tanya Vano sambil menggelengkan kepalanya tak percaya.


"Dia tidak akan mungkin melakukannya karena sedang berada dikantor polisi." kata Ella.

__ADS_1


"Kau ini polos sekali, hanya karena dikantor polisi bukan berarti dia tidak akan menyakitimu,"


"Ck, perkataanmu dan Alex sama saja, sudahlah dokter ini sebenarnya mau mengantar atau tidak?" tanya Ella kesal.


"Bagaimana jika Alex tau? apa kau tidak takut jika Ia marah? kau belum pernah melihat dia marah kan?" tanya Vano yang sebenarnya membuat Ella sedikit takut.


"Bisakah kita pergi tanpa mas Alex tau?" tanya Ella.


"Aku tidak yakin Nona, karena Alex bukan orang yang mudah dibohongi." kata Vano.


Ella diam, seperti sedang memikirkan sesuatu.


"Bagaimana? lebih baik lupakan saja, jangan pernah berniat menemuinya." kata Vano mencoba mengingatkan.


"Tidak, aku akan tetap menemuinya dan jika Alex sampai tau dan marah itu sudah menjadi resikoku." kata Ella mantap.


Vano terlihat menghela nafas, "Ya sudah ayo kita pergi dan segera pulang." kata Vano yang disambut senyum sumringah Ella.


"Terimakasih Dokter, terimakasih." kata Ella yang hanya diangguki malas oleh Vano.


Vano dan Ella pun segera pergi ke kantor polisi dimana Hanna ditahan disana.


Sesampainya di kantor polisi, Ella masih enggan untuk keluar.


"Haa? tidak!" sangkal Ella.


Vano terkekeh, "Tanganmu saja berkeringat, sepertinya kau takut, apa sebaikanya kita pulang saja?" goda Vano.


"Tidak, kita sudah sampai disini, bisa bisanya kau mengajak pulang!" protes Ella.


"Ya sudah, jika tidak mau pulang cepat masuklah dan temui Hanna agar kita bisa segera pulang." kata Vano.


"Apa kau tidak ikut keluar?" tanya Ella.


"Tentu saja tidak, yang ingin bertemu dengan Hanna itu kan kamu, untuk apa aku ikut masuk!" kata Vano.


"Ayolah, aku sama sekali belum pernah kesana, antar aku, ya?" pinta Ella memohon.


"Tidak, aku malas melihat wajah Hanna!"


"Ayolah, aku mohon dokter!" kata Ella dengan wajah memelas.

__ADS_1


"ck, ya sudah ayo," keluh Vano.


"Jika bukan karena kamu yang selalu membuatkan aku sarapan, aku malas membantu!" gerutu Vano yang membuat Ella terkekeh.


Dan dengan bantuan Vano akhirnya Ella sekarang sudah bisa menemui Hanna.


Ella tengah duduk diruang berkunjung narapidana.


Tak berapa lama Ella melihat Hanna keluar didampingi polisi dengan tangan terborgol, sepertinya Vano yang meminta polisi untuk memborgol Hanna karena takut jika Ia berbuat jahat pada Ella.


"Untuk apa kau menemuiku? apa kau ingin pamer jika kau sudah menang sekarang? kau merasa bisa merebut Alex dariku? dasar jalang!" kata Hanna dengan sinis.


Ella hanya tersenyum, sudah jelas jika Hanna membencinya.


"Aku tidak pernah berpikir seperti itu, justru aku ingin minta maaf karena telah merebut posisimu, tapi bukan aku yang merebut tapi Alex yang datang dengan sendirinya padaku." kata Ella tenang.


"Cih, kau berkata seolah olah kaulah yang terbaik disini!"


"Apa kau tau, sejak awal aku tak pernah mau menikah dengan Alex, namun waktu itu karena hutang aku harus menikah dengannya!" jelas Ella "Jika saja aku tau kalau Alex sudah memilikimu, aku pasti tak akan pernah mau menikah dengannya, namun aku juga tak memiliki kuasa untuk menolak karena hutang yang tak bisa kubayar." kata Ella lagi.


"Jika kau kesini hanya untuk menjelaskan itu semua lebih baik pulang saja! aku sama sekali tak butuh penjelasanmu itu." kata Hanna hendak bangkit "Dan sampai kapanpun kau akan tetap menjadi perebut dimataku." kata Hanna menatap Ella tajam.


"Bukan aku yang merebut Alex namun kamu yang tak bisa menjaganya, dan bukan Alex yang meninggalkanmu namun kamulah orang yang tak bisa membuat Alex bertahan disisimu!" kata Ella yang Hanna menghentikan langkahnya "Jadi berhenti menyalahkanku, berhenti menyalahkan keadaan karena apapun yang terjadi saat ini karena kamu yang tak bisa menjaga Alex dengan baik," kata Ella lagi sementara Hanna hanya tersenyum sinis.


"Hanya itu yang ingin ku katakan padamu, dan sekarang apapun yang kau pikirkan lagi tentangku, aku tak peduli lagi." kata Ella segera berjalan keluar.


Lega, itulah yang saat ini Ella rasakan, semoga setelah ini Ia tak dihantui mimpi buruk tentang Hanna lagi.


"Sudah?" tanya Vano saat melihat Ella keluar.


"Hmm, terimakasih telah mengantarku." kata Ella.


"Sebaiknya kita pulang sebelum Suamimu tau." kata Vano terlihat bergidik.


"Baiklah dokter."


Vano pun segera melajukan mobilnya menuju mansion Alex.


Dan betapa terkejutnya keduanya kala melihat mobil Alex sudah terparkir didepan mansion.


"Sepertinya kita akan terkena masalah Nona." kata Vano yang seketika membuat Ella ketakutan.

__ADS_1


Bersambung...


jangan lupa like vote dan komen...


__ADS_2