ISTRI KEDUA TUAN ALEX

ISTRI KEDUA TUAN ALEX
158


__ADS_3

Vano merasakan ada tangan dingin yang memegang dahinya. segera Ia membuka mata dan melihat Riska disana.


"Ck, mimpi apa sih gue." gerutu Vano kesal mengingat Riska tak akan pulang karena lebih mementingkan pekerjaannya dari pada merawat dirinya.


Dan benar saja saat Vano membuka mata tak ada Riska disana.


"Bener kan? mana mungkin dia pulang!" gerutu Vano kembali memejamkan mata.


Rasanya baru saja memejamkan mata namun Vano merasa ada yang mengoyangkan tubuhnya.


"Mas bangun, aku udah bikinin bubur, ayo makan dulu." kata Riska.


Vano pun membuka matanya, terkejut karena Riska memang pulang. "Aku pikir cuma mimpi." gumam Vano.


"Mimpi apa mas?" tanya Riska.


"Nggak apa apa, katanya nggak boleh pulang?" cibir Vano.


"Tadi pak Alez cuma godain kamu aja mas, maaf ya aku disuruh jadi nggak enak kalau nggak mau." jelas Riska.


"Ck, emang sialan tuh orang."


"Hus... nggak boleh ngomong kotor mas! sini aku suapin." kata Riska mulai mengaduk bubur ayam yang baru saja Ia beli melalui aplikasi online.


"Aku nggak mau ayam sama kacangnya." pinta Vano.


"Masa cuma bubur sama kuahnya aja mas?" tanya Riska heran padahal biasanya Vano menyukai kacang dan ayamnya.


"Iya, jangan dikasih ayam sama kacang, aku nggak mau!"


"Iya iya, ni cuma bubur sama kuahnya aja." kata Riska menyingkirkan ayam dan kacang yang terlanjur Ia aduk bersama bubur.


"Buburnya nggak enak, kenapa nggak kamu aja sih yang bikin." protes Vano kala sudah menerima satu suapan.


"Lama mas kalau aku yang bikin, lagian ini bubur langganan kita masa nggak enak sih." kata Riska yang memang sudah sering membeli bubur ini setiap Riska tak sempat membuat sarapan.


"Nggak enak, rasanya.." Vano bangkit dan berlari ke kamar mandi untuk memuntahkan makanan yang baru satu suap Ia makan.


Hoekk... hoekkk..


Riska yang mengetahui ini segera menepuk nepuk punggung suaminya.


"Padahal kamu nggak demam mas." kata Riska.


"Kepalaku pusing sama mual trus dari tadi." keluh Vano saat sudah membersihkan mulutnya.

__ADS_1


"Padahal kamu dokter ya mas, kenapa bisa sakit."


"Ck, memang kalau dokter nggak bisa sakit?" gerutu Vano.


"Ya udah sana baring dulu, aku bikinin teh hangat."


"Jangan kasih madu!" kata Vano yang membuat Riska heran.


"Kenapa mas? bukannya biasanya kamu suka madu?"


"Nggak mau, tehnya kasih gula aren aja!"


"Ck, didapur nggak ada gula aren mas."


"Ya udah air putih anget aja." pinta Vano.


"Iya, aku ambilin dulu kamu rebahan dulu sana." kata Riska meninggalkan Vano


Riska memasuki kamar sambil membawa satu gelas air putih hangat,


"Ni mas minum dulu." kata Riska memberikan gelas itu pada Vano.


"Yank, dimeja makan ada mangga muda, kupasin dong sekalian bikinin sambel yang pedes." pinta Riska.


"Mas beli mangga muda? mas lagi sakit kenapa malah mau makan mangga muda?" heran Riska.


"Nggak lah mas, nanti yang ada kamu malah mules lagi, minta yang lain aja aku bikinin." kata Riska yang langsung saja membuat wajah Vano merenggut.


"Jadi kamu nolak? nggak mau bikinin?" tanya Vano dengan nada kesal.


"Bukan nggak mau bikinin mas, tapi kamu aja lagi sakit mana bisa makan gituan." kata Riska heran dengan tingkah suaminya yang aneh.


"Ck, ya udah kalau gitu, biar aku kupas sendiri aja." kata Vano hendak bangkit namun langsung dicegah oleh Riska.


"Iya iya mas, aku bikinin! udah mas tiduran lagi aja." kata Riska menyerah sebelum Vano lebih kesal lagi.


Vano pun tersenyum lebar lalu menuruti istrinya untuk berbaring lagi.


Riska segera saja mengupas buah mangga dan membuatkan sambal tanpa protes lagi karena Riska tak ingin membuat Vano kesal lagi.


"Ini mas." kata Riska membawa nampan berisikan sepiring mangga muda kupas dan semangkok kecil sambal lotis.


Dengan lahapnya Vano menyantap Mangga muda itu membuat Riska yang melihat hanya menelan ludahnya sendiri. Bagaimana bisa Vano memakan mangga muda asam itu dengan lahap seperti ini .


"Kok nggak muntah lagi sih mas?" tanya Riska heran.

__ADS_1


"Nggak tau, mungkin karena lagi pengen makan ini jadi nggak muntah." kata Vano.


"Kamu kayak orang ngidam aja deh mas." celetuk Riska yang membuat Vano menghentikan aktifitasnya lalu menatap Riska.


"Jangan jangan kamu hamil yank?" tanya Vano penuh harap.


"Tapi aku belum ngerasain tanda tanda orang hamil mas." balas Riska yang membuat Vano sedikit kecewa.


"Udah ya mas, jangan dihabisin nanti sakit perut kamu."


"Ck, jangan ganggu deh yank! lagi enak enaknya ini." kesal Vano.


"Gitu aja sensi banget sih mas!" balas Riska namun tak begitu dipedulikan oleh Vano karena Vano lebih asyik menghabiskan mangga mudanya.


Setelah menghabiskan mangga mudanya, Riska pikir Vano akan tidur namun nyatanya Ia malah mencari kesibukan bersih bersih. sungguh membuat Riska takjub pasalnya baru pertama kali setelah mereka menikah, Riska melihat Vano membersihkan rumah.


'Udah mas, kamu istirahat aja! kamu kan lagi sakit ngapain coba malah bersih bersih rumah! orang kalau sehat aja nggak pernah bantuin ee sakit malah bantuin kerjaan aku." gerutu Riska sambil merebut sapu yang dibawa oleh Vano.


"Nggak usah ganggu deh yank, aku lagi pengen bersihin rumah, harusnya kamu seneng nggak malah ngomel gini." balas Vano cuek.


"Gimana nggak ngomel mas, kamu lagi sakit! trus ngapain coba aku disuruh pulang kalau kamu malah nggak istirahat."


"Oo jadi kamu nyesel pulang lebih awal dan nemenin aku? ya udah sana balik kerja aja kan kerjaan kamu lebih penting dari aku!" kata Vano dengan nada marah.


"Ya ampun mas, bukan gitu maksud aku! ya udahlah mas terserah kamu aja mau nyapu kek atau mau ngapain terserah! kalau perlu sana cabutin rumput didepan sekalian kuras kolam ikan nya, aku mau tidur aja." kata Riska kesal karena sedari tadi apa yang Ia katakan selalu salah dimata suaminya.


Vano tak mengubris Riska malah melanjutkan pekerjaannya menyapu lantai hingga Riska kesal dan meninggalkan Vano.


Satu jam Riska dikamar, Vano tak kunjung menyusul membuat Riska penasaran apa yang dilakukan oleh Vano diluar.


Riska pun keluar kamar dan cukup terkejut melihat seluruh ruangan yang bersih, Vano juga baru saja selesai mencabuti rumput dihalaman rumah.


"Kesambet apa sih suami gue!" batin Riska geleng kepala tak percaya.


"Aku mau mandi, siapin piyama tidurku ya yank." pinta Vano melewati Riska begitu saja lalu memasuki kamar.


Selesai mandi dan memakai piyama, Vano berbaring di ikuti Riska.


"Yank, pijitin tangan sama kaki aku dong, pegel semua ni habis bersih bersih." pinta Vano.


"Lagian siapa suruh mas orang lagi sakit malah bersih bersih rumah." gerutu Riska namun juga segera menuruti permintaan suaminya.


"Jangan ngomel, ntar nggak dapet pahala." celetuk Vano membuat Riska bungkam.


Bersambung...

__ADS_1


Like Vote dan komen yaaa 😁


__ADS_2