
Pagi ini seperti biasa, Ella menemani Alex sarapan sebelum pergi kekantor.
"Mas jangan mukulin orang lagi ya?" kata Ella mengingatkan.
"Enggak sayang, kamu udah bilang kayak gitu hampir 50x sayang." kekeh Alex.
"Padahal baru 3x." cibir Ella membuat Alex semakin terbahak.
"Aku juga kalau nggak dia yang mulai nggak bakal mukul kayak kemarin."
"Aku takut aja mas, yang aku ceritain semalam bikin kamu marah lagi trus mukul Rey lagi ntar." kata Ella.
"Enggak mungkin sayang, dia udah dipenjara, bisa kasus ntar kalau aku mukulin dia dipenjara." kekeh Alex.
Ella sedikit lega mendengar ucapan Alex, setidaknya setelah ini tidak ada kejadian apapun lagi dirumah tangga Ella dan Alex.
Selesai sarapan, kini Ella mengantar Alex sampai depan mansion dimana sudah ada Sandi disana.
"Kalau ada apa apa kabarin aku ya sayang.' kata Alex lalu mengecup kening Ella.
"Siap pak boss." balas Ella yang membuat Alex terkekeh.
Alex segera saja memasuki mobil, dan Sandi langsung melajukan mobilnya meninggalkan mansion.
"Apa terjadi sesuatu Tuan? Anda terlihat berada disuasana hati sedikit buruk." tanya Sandi melihat raut wajah Alex tak seperti biasanya.
"Ya kau benar sekali, aku memang sedang marah saat ini karena kita kemarin kecolongan lagi." jelas Alex.
Alex memang mencoba bersikap biasa didepan Ella agar Ella tak khawatir namun sebenarnya Alex memedam amarah sejak semalam setelah Ella menceritakan semuanya.
"Apa maksud Tuan?"
"Ya kemarin Ella datang menemui Rey, dan brengseknya lagi Rey meminta Ella menjadi pelacurnya dalam satu malam jika ingin aku bebas!" jelas Alex dengan nada geram.
Sandi cukup terkejut dan Dia juga merasa sangat bersalah karena dirinya tak bisa menjaga Nona mudanya namun mau bagaimana lagi kemarin Sandi terlalu sibuk mengurusi Alex dikantor polisi.
"Maafkan saya Tuan, ini salah saya karena kemarin terlalu sibuk dikantor polisi hingga tidak bisa menjaga Non Ella." kata Sandi merasa bersalah.
"Tidak, ini bukan salahmu! memang Rey lah yang brengsek! rasanya aku ingin menghabisinya saat ini juga." kata Alex dengan mengepalkan tangan.
"Jika Tuan menginginkannya, Tuan bisa melakukannya."
"Apa maksudmu?"
"Jika Tuan ingin menghajarnya, saya bisa membawanya ke markas." kata Sandi dengan senyum licik.
"Ah benarkah itu?"
__ADS_1
"Tentu saja Tuan, nanti sore saya akan membawanya ke markas." kata Sandi membuat Alex tersenyum puas.
"Rasanya aku sudah tak sabar untuk menghabisinya dengan tanganku ini."
...
Siang ini Alex disibukan oleh berkas yang menumpuk dimeja kerjanya. karena kemarin Ia tak berangkat ke kantor alhasil pekerjaan hari ini dobel. Namun Alex ingin segera menyelesaikan pekerjaannya dan bergegas menemui Rey di markas.
Rasanya sudah tak sabar ingin menghajar Rey dengan tangannya sendiri.
Bunyi telepon dimeja Alex menganggu konsetrasi Alex.
"Ya..?"
"Maaf pak, ada wanita yang ingin bertemu dengan Anda." kata Riri sekretaris Alex.
"Siapa? jika bukan istriku aku tak menerima tamu wanita siapapun itu!"
"Tapi Pak, dia memaksa!"
"Siapa?"
"Namanya Rhea pak."
"Oh wanita itu, katakan jika aku sibuk dan tak ingin bertemu dengannya." kata Alex malas.
"Tapi dia memaksa Pak."
"Untuk apa dia kesini!" batin Alex kesal.
Sementara diluar, Riri terlihat kewalahan dengan sikap ngeyel Rhea yang masih memaksa untuk bertemu Alex.
"Maaf Nona, jika nona tak segera pergi saya akan memanggil satpam!" ancam Riri namun hanya mendapatkan senyum sinis dari Rhea.
"Panggil saja, aku tak peduli." kata Rhea yang langsung saja memasuki ruangan Alex tanpa sempat ditahan oleh Riri.
Brakk.. pintu terbuka cukup keras mengejutkan Alex, disana Rhea berdiri tepat didepan meja Alex sementara dibelakangnya ada Riri yang terlihat ketakutan karena tak berhasil menahan Rhea.
"Maafkan saja pak, tiba tiba dia memaksa masuk." kata Riri dengan kepala menunduk takut.
Alex hanya menghela nafas lelah "Ya sudah tinggalkan kami berdua." kata Alex yang langsung diangguki Riri dan Riri pun segera keluar dari ruangan Alex.
"Ada apa?" tanya Alex dingin.
"Jadikan aku istri kedua mu." kata Rhea yang langsung saja membuat Alex terbahak.
"Apa kau bercanda? kau pikir kau siapa?" kata Alex dengan nada mengejek.
__ADS_1
"Aku tak peduli lagi, aku menyesal sangat menyesal! maafkan aku karena dulu telah membantu Rey untuk menghancurkanmu." kata Rhea yang kini sudah mulai menangis.
"Aku sudah memaaafkan mu sejak dulu. dan aku juga tak pernah mengusik kehidupanmu jadi sekarang jangan pernah mengusik kehidupanku lagi. aku sudah bahagia sekarang!" jelas Alex.
Rhea menggelengkan kepalanya tak percaya "Tidak, kau pasti bohong! kau masih mencintaiku kan? bukankah kau dulu sangat mencintaiku?"
"Iti dulu sebelum kamu meninggalkannku, jadi sekarang lebih baik kau pergi!" usir Alex.
Rhea tidak menyerah begitu saja, Ia kini malah bersimpuh dikaki Alex memohon pada Alex sambil menangis.
"Aku mohon, jadikan aku istri kedua mu! aku janji tak akan pernah menyakitimu lagi."
"Sial, ada apa denganmu? apa karena Rey dipenjara hingga membuatmu seperti ini?" geram Alex "Lebih baik pergilah, aku tak ingin berbuat kasar padamu dan aku juga tak ingin melihatmu lagi kesini!"
"Tidak, aku tidak akan pergi sebelum kau menjadikanku istri kedua mu!"
"Wanita gila." Alex segera saja mengambil ganggang telepon, dan ia langsung memanggil security untuk mengusir Rhea.
"Aku mohon jadikan aku istri kedua mu, aku janji tak akan mengkhianatimu lagi! maafkan aku, aku benar benar menyesal. selama ini Rey tidak memperlakukanku dengan baik." kata Rhea masih menangis.
Alex benar benar muak sekarang, beruntung security segera datang dan menyeret Rhea keluar.
"Aku mohon Alex beri aku kesempatan!" Rhea masih berteriak meskipun dia security sudah menyeretnya keluar.
Alex mengendurkan dasinya, tiba tiba Ia merasa kan sangat gerah. kedatangan Rhea membuat moodnya semakin buruk saja.
Pukul 3 sore, Alex sudah meninggalkan kantornya. tak peduli dengan pekerjaan yang menumpuk, Ia hanya ingin melampiaskan amarahnya.
"Apa kau sudah membawanya ke markas?" tanya Alex.
"Sudah Tuan."
"Aku sudah tak sabar ingin menghajarnya." kata Alex dengan nada geram.
"Apa terjadi sesuatu dikantor Tuan? tadi saya sempat melihat istri Rey diseret oleh security."
"Ya wanita gila itu ingin aku menjadikannya istri kedua. dia pikir siapa? dia terlalu percaya diri."
"Mungkin dia masih mengira Tuan masih mencintainya, mengingat bucinnya Tuan dulu dengan wanita itu." kata Sandi terdengar mengejek di telingga Alex.
"Kau ingin ku bunuh?"
"Tentu tidak Tuan, maafkan saya." kata Sandi merutuki dirinya karena mengoda Alex disaat yang tidak tepat.
Alex hanya mendegus kesal, "Pastikan Ella tak mengetahui semua ini!"
"Baiklah Tuan."
__ADS_1
BERSAMBUNG...
JANGAN LUPA LIKE VOTE DAN KOMENN...