ISTRI KEDUA TUAN ALEX

ISTRI KEDUA TUAN ALEX
81


__ADS_3

Alex dan Sandi masih berada dimeja makan, Sandi yang tadinya ingin makan merasa sungkan dan mengurungkan niatnya karena ada Alex didepannya.


"Aku sudah menjebloskan Hanna ke penjara, segera kirimkan berkas laporan kekantor polisi." peritah Alex.


"Sekarang Tuan?" tanya Sandi.


"Enggak sekarang! tahun depan!" balas Alex kesal "Tentu saja sekarang! aku sudah menyuruh anak anak untuk membawanya tadi ." kata Alex.


"Baiklah Tuan, boleh nggak saya.-"


"Ck apa lagi? sekarang kamu ke kantor polisi dulu baru nanti antar istrimu kerumah sakit." kata Alex.


"Baiklah Tuan." balas Sandi lesu, padahal tadinya Sandi ingin makan nasi goreng buatan Ella lebih dulu namun ada saja halangannya.


Alex memang selalu seperti itu padanya.


"Apa kau ingin makan dulu?" tanya Alex kala melihat wajah murung Sandi.


"Sebenarnya iya Tuan, namun jika Tuan meminta saya berangkat sekarang saya akan makan nanti saja."


"Ya sudah kalau begitu, cepatlah berangkat!" kata Alex beranjak dari sana membuat Sandi melonggo tak percaya, Sandi pikir Alex akan menyuruhnya makan terlebih dahulu namun nyatanya tidak, Alex hanya menggodanya.


Sandi tersenyum masam melihat Alex memasuki kamarnya, Ia lantas bangkit dan pergi dari sana, melambaikan tangan pada nasi goreng yang masih hangat itu.


Selesai menyuapi Nisa bubur, Ella keluar kamar Nisa karena ingin Nisa segera istitahat. Ella keluar dan melihat sudah tak ada siapapun disana.


"Kemana mereka pergi?" batin Ella.


Ella mendekati meja makan, membereskan piring kotor yang ada disana hingga keningnya mengerut kala melihat satu piring nasi goreng masih utuh disana.


"Apa Sandi tidak memakan nya?" batin Ella.


Selesai membereskan meja makan, Ella memasuki kamarnya. Awalnya Ella berniat istirahat sebentar karena pekerjaan paginya kali ini membuatnya sangat lelah, mungkin efek kehamilan membuatnya gampang lelah.


Terkejut, kala melihat Alex sudah berbaring disana namun memunggunginya.


''Sejak kapan Alex pulang?" batin Ella.


Ella menghampiri ranjang, sebenarnya Ella masih ingin marah dengan Alex namun mengingat perkataan Vano tadi membuatnya ingin segera mengakhiri ngambeknya. Ella bisa mengerti bagaimana keadaan Alex sekarang pastilah shock dan sedih karena istri pertamanya lah penyebab sang Papa meninggal.


"Mas.."

__ADS_1


Alex yang mendengar suara lembut Ella segera berbalik dan menghambur ke pelukan Ella.


"Kamu udah nggak marah lagi kan sayang?" tanya Alex senang.


"Masihlah, ngapain sih meluk meluk!" ketus Ella.


Alex terkejut lalu melepaskan pelukan Ella "Maaf sayang, aku pikir kamu udah nggak marah lagi." kata Alex tertunduk sedih.


Ella terkekeh geli melihat gaya Alex yang menuduk sedih seperti bukan Alex saja, padahal biasanya Ia terlihat arrogant namun entah mengapa malam ini Alex terlihat sangat menggemaskan.


"Maafin nggak yaa?" suara Ella membuat Alex mendongak dan menatap Ella penuh harap.


"Jangan marah dong sayang, aku kan cuma nggak mau kamu kenapa napa." jelas Alex.


Ella hanya mencebik kesal "Apa hubungannya sih sama aku?"


"Kamu nggak tau berapa kali Hanna berencana buat celakai kamu, maka dari itu aku melakukan semua ini agar kamu baik baik aja sayang." jelas Alex penuh frustasi.


Ella paham dan mengerti sekarang, Alex memang benar mungkin jika Alex tak melakukan ini mereka tak akan tau kapan Hanna melakukan hal jahat lagi padanya seperti tadi pagi.


Ella masih tak sanggup membayangkan, jika saja tidak ada dokter Vano tadi pagi mungkin dirinya sudah dicelakai Hanna.


"Segitu bencinya ya dia sama aku sampai niat banget buat nglakuin ini semua?" gumam Ella dengan nada sedih.


"Tapi kan dia kayak gitu karena aku, karena aku yang datang ngerusak pernikahan kamu sama dia." balas Ella sedih.


"Ck, kamu nggak ngerusak sayang, justru adanya kamu itu bikin aku sadar sesadar sadarnya jika Hanna itu bukan wanita baik baik sejak awal." jelas Alex.


"Kalau dia wanita baik baik nggak mungkin dia gugurin kandungannya cuma karena pengen hidup sama aku." jelas Alex lagi.


Ella mendongak menatap Alex "Pasti rasanya sakit ya mas, sekarang udah tau semua kenyataan ini?" tanya Ella.


Alex terkekeh geli "Awalnya iya, tapi sekarang udah nggak sayang, justru sekarang bersyukur banget karena aku kehilangan dia dan dikasih kamu." kata Alex dengan nada menggoda.


"Huu, gombal!" Ella memukuli dada bidang Alex.


"Aduh duh.." Ella terlihat menjerit membuat Alex langsung panik.


"Kenapa sayang?" tanya Alex dengan raut wajah khawatir.


"Dedeknya nendang nendang!" balas Ella merasakan tendang yang cukup terasa diperutnya.

__ADS_1


Alex tersenyum lalu mengelusi perut buncit Ella "Hello baby, udah nggak sabar ya mau ketemu moomy sama Daddy," bisik Alex perut Ella.


"Sabar ya sayang, Daddy juga udah nggak sabar ketemu kamu, jangan nakal didalem sana, kasian Mommy kamu." tambah Alex membuat Ella tersenyum geli, tak menyangka Alex bisa melakukan hal sepele seperti ini.


Selesai mengurus semua berkas Hanna dikantor polisi, Sandi bergegas pulang namun sebelum itu Ia berhenti disebuah apotik untuk membeli resep obat yang tadi diberikan oleh dokter Vano.


Setelah mendapatkan semua obatnya, Sandi segera kembali kerumah Ella, tak peduli dengan ususnya yang demo sedari tadi meminta asupan makanan.


Sandi memasuki rumah Ella dan melihat Alex duduk di ruang tamu, sepertinya sedang menunggunya dan raut wajah Alex kini sudah terlihat bahagia.


"Sepertinya Nona Ella sudah tak marah lagi." batin Sandi melihat raut bahagia Alex.


"Bagaimana?" tanya Alex tak sabaran.


"Beres Tuan, hanya tinggal menunggu sidang saja." jawab Sandi.


"Bagus, setelah ini siapkan apa yang sudah kuperintah kan kemarin."


Sandi mengangguk paham "Baiklah tuan."


"Aku benar benar tak sabar ingin melihat Ella tersenyum bahagia dengan kejutan yang akan kuberikan nanti." kata Alex sudah membayangkan bagaimana raut bahagia istrinya besok.


Krucuk krucuk... Alex menatap ke arah Sandi yang menuduk malu, suara perut Sandi membuyarkan lamunan Alex.


"Ck, jika lapar kenapa tidak makan dulu tadi?" tanya Alex sebal.


Sandi kembali melonggo dibuatnya, bisa bisanya Alex mengatakan itu semua padanya padahal jelas jelas tadi Alex lah yang menyuruhnya untuk cepat berangkat, benar benar membuat Sandi kesal saja.


"Sudah sana masuk, segera makan! aku tak ingin dianggap tuan kejam yang membiarkan asistennya kelaparan." kata Alex yang hanya diangguki Sandi.


Sandi segera mengangguk lalu memasuki dapur tanpa mengatakan apapun karena jujur Sandi sangat kesal sekali dengan Alex.


Bersambung...


Up lagi meskipun kemaleman hehe....


sedikit cerita shay, tadi pagi ngeliat ada yang share difacebook cerita receh aku ini bikin aku seneng banget dan semangat tentunya....


makasih buat kak diari diari yang udah posting cerita aku di fb...


insyallah diusahakan up tiap hari lagi sekarang...

__ADS_1


jadi tetep staytune yaahh😘😘😘


jangan lupa like vote dan komen....


__ADS_2