ISTRI KEDUA TUAN ALEX

ISTRI KEDUA TUAN ALEX
154


__ADS_3

Didalam mobil saat perjalanan pulang Ella tak henti hentinya tersenyum sambil memandangi cincin pemberian Alex.


"Ck, cincinya trus aja yang diliatin, suaminya dari tadi dicuekin." celetuk Alex sambil mengemudikan mobilnya membuat Ella terkekeh.


"Ya ampun mas, sama cincin aja kamu cemburu! padahal juga yang ngasih kamu sendiri." kini Giliran Alex yang terkekeh.


"Aku seneng kalau kamu suka sama Cincinnya."


"Apapun yang kamu kasih aku suka kok mas." balas Ella sambil tersenyum membuat Alex adem melihatnya.


Alex mengemudikan mobilnya se pelan mungkin, agar mereka sedikit lama berduaan. karena setelah kehadiran Baby Liu memang mereka jarang berduaan.


"Tadinya aku sebel pas Sandi nyuruh aku buat nemuin kamu tanpa Adek, tapi nggak nyangka aja malah di kasih surprise gini." ungkap Ella.


"Nggak jadi sebel nih?" goda Alex.


"Nggak lah mas, tapi kasian aja sama Adek harus ditinggal dimansion eh Mommy sama Daddy nya malah seneng seneng sendiri." kata Ella.


"Ya nggak apa apa dong sayang, lagian udah lama banget kan kita nggak berduaan gini."


"Mas sengaja kan, tau udah 40 hari makanya ngajak berduaan." tuduh Ella.


"Eh emang udah 40 hari ya sayang, aku malah nggak inget lho." kata Alex pura pura lupa padahal sebenarnya dia tau.


"Nggak usah pura pura lupa deh mas, orang kamu aja coretin tanggal yang ada di kamar kok."


"Duh ketauan." kekeh Alex. "Tapi aku nggak minta nanti malem kok, aku minta nya 7 hari lagi aja." kata Alex membuat Ella mengerutkan keningnya.


"Kok nunggu 7 hari, kenapa memang mas?"


"Ada deh, nggak usah kepo." jawab Alex membuat Ella mengerucutkan bibirnya.


Sesampainya dirumah Baby Liu sudah tidur, membuat Alex maupun Ella sedikit kecewa karena tak bisa menggoda putra mereka.


"Ya udah kita tidur aja sekarang." ajak Alex kala keduanya masih dikamar Baby Liu.


Ella hanya mengangguk, menganti dress dengan piyama, begitu juga dengan Alex lalu keduanya berbaring diranjang.


"Mas yakin?" tanya Ella kala Alex memeluknya dari belakang.


"Yakin apa sayang?"


"Yakin nih nggak mau minta? aku udah bersih kok." kata Ella menawarkan diri membuat Alex terkekeh.


"Nggak sayang, 7 hari aja lagi."

__ADS_1


"Tapi otong kamu udah berdiri gitu." kata Ella saat merasakan milik Alex yang menempel di pantatnya membuat Ella bisa merasakan jika sebenarnya Alex ingin.


"Nggak apa apa, biarin si otong puasa lagi 7 hari, tahan kok." kata Alex.


"Ck, ya udah terserah mas aja, aku mau bobok." balas Ella yang hanya diangguki Alex.


Sebenarnya Alex sudah tak betah berpuasa 40 hari lamanya ditambah 7 hari. namun demi melancarkan rencananya Ia mencoba bertahan lagi 7 hari untuk buka puasa.


"Sabar ya tong.." batin Alex sambil mengelus miliknya.


....


Pagi hari setelah Alex berangkat ke kantor, seorang wanita muda datang untuk mengukur tubuh Ella membuat Ella sedikit bingung. untuk apa? batin Ella.


"Maaf mbak, ini untuk apa ya?" tanya Ella.


"Maafkan saya Nona, saya hanya diminta oleh Tuan Alex dan Tuan melarang saya memberitahu Nona." jelas wanita itu.


"Ck, mau bikin surprise apa lagi sih mas Alex," batin Ella.


Ella pun menurut kala wanita itu mengukur tubuhnya, Ella berpikir mungkin Alex ingin membuat baju couple untuk keluarga kecilnya.


"Sudah Nona, terimakasih atas kerjasama nya, saya pamit permisi dulu." kata Wanita itu yang langsung diangguki Ella.


Ella segera mengambil Baby Liu dari gendongan Bik Sumi "Nggak tau Bik, katanya yang nyuruh mas Alex, minta ukuran badan."


"Mungkin mau dibikinin baju Non," tebak Bik Sumi.


"Mungkin juga Bik."


...


Sementara Pagi ini Riska sudah dibuat kesal karena barang barang kantornya hilang. mulai dari id card, seragam kantor, sepatu hingga tas nya tak ada ditempat.


Buru buru Riska membangunkan Vano yang masih terlelap.


"Mas, bangun dulu deh! rumah kita kemalingan kayaknya." kata Riska sambil mengoyang goyangkan tubuh Vano.


"Biarin aja yang penting bukan kamu yang di ambil malingnya." balas Vano masih terpejam.


Karena gemas, Riska mencubit pinggang Vano hingga membuat Vano menjerit.


"Sakit sayang..." keluh Vano yang kini sudah bangun.


"Lagian mas nyebelin, diajak ngomong serius malah bercanda." kata Riska sebal.

__ADS_1


"Iya iya, masih ngantuk juga." kata Vano "Tadi kamu ngomong apa? ada maling?" tanya Vano.


"Iya mas, masa tas aku, id card sama semua seragam kantor di lemari ilang semua, nggak ada. aku pakai apa dong ke kantor?" tanya Riska membuat Vano tersenyum pasalnya semalam Vano lah yang telah menyembuyikan semua barang barang Riska agar tak bisa berangkat ke kantor.


"Mas, malah senyum sih. jangan jangan ulah kamu nih!"


"Enggak sayang, aku mana tau sih kamu naruhnya dimana." sangkal Vano.


"Masa iya sih mas malingnya cuma ambil barangku aja!" Riska masih tak percaya.


"Mungkin malingnya memang butuh barang kamu jadi yang diambil barang kamu." jelas Vano.


"Trus aku gimana dong mas berangkat kerjanya?" tanya Riska.


"Ya udah kamu libur lagi aja, biar nanti aku telepon Alex."


"Ya nggak enak dong mas sama temen temen, apalagi semalam aku ninggalin kerjaan gitu aja."


"Trus kamu masih tetep mau berangkat? kamu emang seneng ya ke kantor biar bisa deket dekatan sama cowok yang semalem." kata Vano yang membuat Riska semakin kesal saja. Ia sudah kesal karena barang barangnya hilang dan sekarang Vano menambah kekesalanya dengan semua tuduhan Vano yang tak benar itu.


Riska kini malah semakin yakin jika Vano lah yang menyembunyikan semua barang barangnya.


Tanpa mengubris Vano, Riska pun malah pergi begitu saja, Riska berniat mencari barang barangnya yang disembunyikan oleh Vano.


"Suami kamu baru ngomong trus ditinggalin gitu aja? kamu bener bener udah berubah ya gara gara cowok yang semalem?" teriak Vano yang masih bisa didengar Riska.


"Serahlah mau ngomong apa, bikin tambah kesel aja." gerutu Riska.


Riska mencari barang barangnya ke semua ruangan namun masih belum bisa menemukan. Dan sekarang Ia kembali ke kamarnya dan melihat Vano tengah memakai baju dinasnya.


"Mass... gimana dong aku?" keluh Riska namun tak digubris oleh Vano.


"Masss.. kamu kok nyebelin sih." keluh Riska lagi namun Vano masih saja tak mengubris Ia malah meninggalkan Riska keluar kamar.


Merasa diabaikan oleh Vano, Riska pun menangis frustasi. Ia sudah terlambat kekantor, barang barangnya hilang dan sekarang Vano malah cuek padanya.


Vano menghela nafas, mendengar suara tangisan istrinya membuat Vano kembali memasuki kamar dan memeluk istrinya.


Sebenarnya Vano tak tega melihat istrinya menangis Namun Vano kesal jika harus melihat istrinya berdekatan dengan pria lain dikantor.


Sungguh pilihan yang menyebalkan.


Bersambung...


jangan lupa like vote dan komenn

__ADS_1


__ADS_2