
Pemakaman Mama Rena dihadiri banyak sanak saudara termasuk Dokter Vano beserta Mama nya yang juga kerabat dari Alex.
Sepulang dari makam, banyak tamu pelayat yang datang.
"Bi, kamu masuk kamar istirahat aja biar Kakak yang nemuin para pelayat." kata Alex yang tak tega melihat wajah pucat Bianca.
Bianca hanya mengangguk lalu berjalan memasuki kamarnya.
"Gimana bisa terjadi? kemarin aku sempet ketemu kayaknya baik baik aja Mama Rena." kata Vano yang kini ikut duduk disamping Alex.
"Dokter bodoh sepertimu mana paham orang yang benar benar sakit." ejek Alex.
"Sialan, setidaknya aku bukan pria posesif pemarah." ejek Vano tak terima.
"Ck, tentu saja kau bukan karena kau belum merasakan bagaimana rasanya memiliki istri yang kau cintai, dasar jomblo." kekeh Alex lalu bangkit meninggalkan Vano yang terlihat kesal.
Alex pun segera menghampiri para pelayat yang datang, dari pada mendengar ocehan tak berfaedah Vano lebih baik Ia menemui para pelayat.
"Tuan, ponsel anda sudah penuh baterainya." kata Sandi memberikan ponsel Alex yang tadinya di charger.
Alex menerima ponselnya, Ia berjalan menjauh dari kerumunan karena ingin menghubungi Ella, takut Ella khawatir.
Baru satu detik tersambung, telepon Alex sudah langsung diangkat Oleh Ella.
"Halo mas? gimana mas keadaan nya mama Rena?" tanya Ella dari dalam telepon membuat Alex tersenyum karena istrinya begitu perhatian pada keluarganya.
"Mama udah nggak ada tadi pagi,"
"Innalilahi mas, pasti Mas sama Bianca sedih banget ya?"
"Iya, jadi mungkin aku nggak akan pulang malam ini, aku harus menemani Bianca disini untuk sementara, nggak apa apa kan?" tanya Alex meminta ijin istrinya.
"Nggak apa apa mas, aku ngerti kok." balas Ella yang membuat Alex merasa lega.
"Mas, apa nggak sebaiknya aku juga ikut datang kesana?" tanya Ella.
"Hmm, nggak usah sayang, mungkin besok mas aja yang ngajak Bi untuk tinggal sama kita, kamu gimana? nggak apa apa kan kalau Bi tinggal sama kita buat sementara?" tanya Alex.
"Apa sih mas, ya nggak apa apa lah kan adik kamu adik aku juga."
"Makasih sayang."
"Beneran nih aku nggak boleh kesana?" tanya Ella sekali lagi.
"Enggak sayang, ya udah aku masih harus nemuin para pelayat dulu, jaga diri baik baik ya sayang, kabarin aku kalau ada apa apa." kata Alex,
"Ya mas," setelah mendapatkan jawaban dari Ella, Alex segera menutup panggilannya.
Hendak keluar, namun tiba tiba dikejutkan oleh Vano yang ada disampingnya.
__ADS_1
"Jadi Ella lagi di mansion sendiri ya malam ini?" tanya Vano yang seketika membuat Alex jenggah.
"Minggir, gue mau lewat." sentak Alex kala Vano menutupi jalannnya.
"Berarti nanti malem boleh dong nginep dimansion, biar gue aja deh yang nemenin Ella, kasian cantik cantik tidur sendirian." goda Vano membuat Alex menatap ke arahnya tajam.
"Macem macem ama Bini gue, habis Lo." ancam Alex geram.
"Uuuu atut, nggak cuma posesif dan pemarah ternyata galak juga." kata Vano segera melarikan diri sebelum Alex mencekalnya.
Alex benar benar geram dibuatnya sementara Vano terkekeh, tadi Alex membuatnya kesal dan sekarang Vano membalas membuat Alex kesal.
"Garang garang bucin." kekeh Vano.
Karena sudah malam, Vano memutuskan untuk pulang, Toh disana Ia juga tak melakukan apapun selain menganggu Alex.
Sesampainya didepan rumah Vano mengeryit kala melihat lampu rumah nya yang menyala.
"Astaga, wanita itu." barulah Vano ingat jika Riska masih disini.
Pagi tadi kala mendapatkan kabar dari Mamanya memang Vano bergegas menuju mansion Tuan Ken tanpa memberi kabar Riska agar tak perlu kemari.
Segera Vano memasuki rumahnya dan disana Ia bisa melihat raut kesal diwajah Riska.
"Sarapan, makan siang dan makan malam udah aku taruh dimeja dan semuanya fresh jadi sekarang aku boleh pulang kan?" tanya Riska dengan nada geram membuat Vano sedikit merasa bersalah.
Sarapan tak tersentuh ...
Makan siaang tak tersentuh..
Bahkan makan malam pun tak tersentuh karena Tuan nya baru saja pulang dengan wajah santainya.
"Aku tadinya mau menghubungi mu tapi aku lupa jika aku tak memiliki nomer mu." jelas Vano.
"Ah iya tadinya aku juga ingin menghubungimu tapi aku juga lupa kalau tak mempunyai nomermu." Riska mengikuti ucapan Vano membuat Vano mengerti jika Riska benar benar kesal padanya.
Riska kembali ke sofa lalu mengambil tas selempangnya,
"Aku pulang sekarang Tuan, silahkan habiskan semua makananmu." kata Riska hendak keluar namun tangannya ditahan oleh Vano.
"Aku akan mengantarmu pulang."
"Tidak perlu repot, aku membawa motor sendiri." ketus Riska.
"Tinggal saja motormu disini, aku akan mengantarmu, sudah malam takut banyak penjahat yang mengincarmu."
"Apa kau lupa jika semalam saja kau bahkan tak peduli jika aku pulang malam."
Skak mat untuk Vano yang memang semalam Ia membiarkan Riska pulang sendiri padahal sudah malam.
__ADS_1
"Ekhem, sudah jangan banyak protes, aku antar sekarang!" paksa Vano masih memegangi tangan Riska padahal sedari tadi Riska berusaha melepaskan.
"Tidak, aku pulang sendiri saja." balas Riska sinis.
Karena kesal, Vano menarik tangan Riska hingga Riska jatuh di dada bidang Vano, keduanya berpandangan cukup lama hingga akhirnya Riska sadar dan segera melepaskan diri dari Vano.
"Dasar dokter mesum." kesal Riska berjalan keluar.
"Terserah saja jika ingin pulang sendiri tapi jangan salahkan aku kalau nanti kau bertemu kunti dijalan dan membonceng motormu." celetuk Vano yang membuat Riska menghentikan langkahnya lalu berlari ke arah Vano dan memukuli Dada bidang Vano.
"Dasar Dokter mesum, bisa bisanya kau menakutiku." kesal Riska masih terus memukuli sementara Vano tersenyum penuh kemenangan, padahal Ia tadi hanya mengarang saja namun siapa sangka Riska ternyata penakut.
"Sana, katanya mau pulang sendiri." kata Vano pura pura acuh.
"Kau bilang mau mengantarku!"
"Tadi kau menolaknya, jadi sana pulang saja sendiri."
"Kau sudah menakutiku, jadi ayo antarkan aku." pinta Riska memelas.
"Tidak mau."
"Menyebalkan!" kata Riska sudah ingin menangis.
"Ck, dasar cenggeng, ya sudah ayo."
Riska pun membuntuti Vano memasuki mobil Vano.
Keduanya sama sama diam sebelum akhirnya Vano yang memulai,
"Tante ku meninggal." kata Vano yang membuat Riska terkejut dan menatap ke arah Vano.
"Itulah alasan aku tak dirumah hari ini, maafkan aku sudah membuatmu menunggu."
Tadinya Riska memang kesal namun setelah mendengar alasan Vano, membuat Riska mengerti.
"Aku turut berduka cita," balas Riska.
"Tapi kau harus tetap membayarnya Tuan, karena kau telah menyia nyiakan masakanku hari ini."
Vano terkekeh, "Baiklah, aku akan menghabiskannya nanti setelah pulang mengantarmu." kata Vano.
"Hmm, tak perlu nanti perutmu bisa sakit jika makan sebanyak itu." kata Riska mengingatkan.
"Apa kau mulai perhatian dengan ku sekarang?" goda Vano yang langsung membuat pipi Riska memerah.
BERSAMBUNG...
JANGAN LUPA LIKE VOTE DAN KOMEN YAAW....
__ADS_1