
Vano menatap jengah kala melihat para pasien nya yang sudah mengantri bahkan satu jam sebelum jam prakteknya.
Bukan jengah karena pekerjaanya namun jengah melihat para pasien yang kebanyakan kaum hawa dan mereka terlihat sangat sehat. tak ada raut pucat ataupun terlihat sakit.
Vano tau mereka hanya pura pura sakit agar bisa bertemu dengannnya, sudah biasa untuk Vano mengalami seperti ini setiap harinya.
"Dokter tumben datang lebih awal? jam praktek kan masih 1 jam lagi?" tanya Lela salah satu suster yang berjaga mendampingi Vano.
"Ya aku ingin memulai lebih awal karena aku juga ingin segera pulang lebih awal jadi kita mulai saja sekarang." kata Vano memasuki ruangan prakteknya.
Vano memakai jas dokternya, menatap dirinya dicermin dan memuji ketampanan dirinya sendiri.
"Ck beruntung sekali Riska dapetin gue." celetuk Vano.
Tak berapa lama satu pasien sudah masuk ke ruangan Vano. wanita muda dengan dress warna maroon ketat berjalan lenggak lenggok ke arah Vano.
"Jadi apa keluhan anda Nona?" tanya Vano sedikit menampilkan senyum membuat wanita itu semakin memuja Vano.
"Dokter bisakah memeriksa punggunh saya? sepertinya ada sesuatu di punggung saya." kata wanita itu dengan suara centil.
"Ah baiklah, silahakan duduk di ranjang sana aku akan memeriksa mu." kata Vano malas.
Dengan senyum mengembang Wanita itu menuruti Vano, Ia duduk diatas ranjang sedikit menaikan roknya ke atas.
Vano yang sudah biasa dengan kelakuan pasien nya itu hanya diam saja, dia sama sekali tak tergoda.
"Buka saja resletingnnya dokter, dan periksa punggung saya." kata Wanita itu masih dengan nada centil.
Vano menurut saja membuka separuh resleting hingga menampilkan punggung mulus milik wanita itu.
"Shitt..." umpat Vano yang berusaha menahan diri karena dirinya hanya pria normal.
"Sabar junior, besok satu minggu lagi semua yang kau tahan pasti akan terbayarkan." batin Vano.
"Coba dokter elus punggung saya." pinta wanita itu.
"Saya tidak mau,"
__ADS_1
"Kenapa? punggung saya sakit bagaimana bisa dokter menyembuhkan saya jika tak menyentuhnya?" protes wanita.
"Aku tak akan menyentuhnya karena hanya melihatnya saja aku sudah tau penyakit apa ini." jelas Vano lagi "Ini panu, dan aku tak akan menyetuhnya karena takut tertular." imbuh Vano lagi membuat wanita itu terkejut.
"Apa? pa-panu?"
"Iya, panu sudah menyebar di seluruh punggung jadi lebih baik nona mengenakan baju tertutup agar tak terlihat orang lain." jelas Vano yang langsung saja membuat wajah wanita itu memerah malu.
"Aku akan memberikan resep salep untu-"
"Tidak perlu, saya pergi saja." kata Wanita itu lalu pergi begitu saja meninggalkan ruangan periksa Vano.
Vano tertawa puas, Sepertinya menyenangkan memberi pelajaran pada pasien yang tidak sakit hanya bermain main dengannya.
Pasien selanjutnya wanita yang tak memakai baju seksi lagi namun Vano melihat tak ada raut wajah sakit disana.
Wanita itu duduk dan menatap Vano dengan senang.
"Jadi apa keluhan anda Nona?" tanya Vano.
"Saya tidak sakit." kata Wanita itu yang membuat Vano kagum akan kejujurannnya. biasanya wanita lain akan mengaku sakit jika ingin disentuh tapi wanita ini...
"Aku ingin meminta foto selfi dengan dokter, boleh ya dokter." pinta wanita itu penuh harap.
"Maaf ya Nona, aku ini dokter bukan artis jadi jika memang tidak sakit lebih baik jangan datang." kata Vano ketus.
"Tidak, aku tidak akan pergi sebelum bisa berselfi dengan dokter." kata Wanita itu kekeh.
Vano pun kembali mengeluarkan jurus andalannnya, Ia memperlihatkan jari kelingkingnya dimana melingkar cincin disana.
"Aku Sudah menikah Nona, dan aku tak ingin istriku salah paham jika melihat foto kita menyebar di sosmed." jelas Vano membuat wanita didepannya melonggo tak percaya.
"Ti-tidak, tapi kata teman temanku dokter belum menikah." wanita itu terlihat terkejut.
"Kenyataannya aku sudah menikah, jadi lebih baik pergilah atau aku akan memanggil satpam untuk mengusirmu." ancam Vano yang membuat wanita itu sedikit takut lalu berajak dari duduknya dan pergi.
Vano meraup wajahnya frustasi, ada apa dengan para wanita itu sebenarnya, bisa bisanya mereka melakukan semua ini hanya untuk mendapatkan perhatiannya.
__ADS_1
Jam praktek selesai, Vano pun bergegas pulang karena tubuhnya lelah menghadapi semua pasiennya yang hanya pura pura sakit. Dari 50 pasien hanya 4 orang yang benar benar sakit dan yang lainnya lainnya hanya pura pura saja. benar benar menyebalkan batin Vano.
Sesampainya dirumah, Vano langsung menjatuhkan dirinya di sofa empuk yang ada diruang tamu.
Vano mencium ada bau masakan yang sepertinya baru selesai dimasak, karena penasaran Vano berjalan menuju meja makan dan benar saja disana sudah ada makananan yang terlihat masih mengepul. sepertinya makanan ini baru saja matang.
"Apa Riska baru saja datang? ck bisa bisanya ia tak menungguku." gerutu Vano segera duduk untuk mengisi perutnya.
Mata Vano pun tertuuju pada selembar note kecil yang ada dimeja makan. Ia pun membaca note yang diyakini tulisan tangan Riska.
"Selamat menikmati makananmu, maaf aku tak menunggumu pulang.. kau tau kan kita masih dipinggit jadi tidak bisa bertemu."
"Bisa bisanya dia masih membohongiku masalah pinggit!" kesal Vano yang langsung mengingat ucapan Ella pagi tadi tentang pinggit.
Vano meremas note itu lalu membuang ke segala tempat, Ia lebih baik makan sekarang dari pada nanti nafsu makannya hilang lagi karena kesal.
Sementara itu Riska baru saja sampai dirumah, Ia memang tadi pergi kerumah Vano untuk memasak makan malam. Bukan tanpa sebab Riska melakukan itu, awalnya Riska memang tak mau memasak disana karena memang masih kesal dengan Vano namun karena tadi Alex yang menghubunginya dan memaksa untuk membuatkan makan malam untuk Vano akhirnya Riska menurut saja. Tidak mungkin Riska menolak dengan perintah Alex yang sudah memberikan dirinya cuti menikah satu bulan. Ya Alex memang bos terbaik menurut Riska karena memberikan cuti menikah selama itu.
Riska merebahkan dirinya diranjang, Ia mengambil ponselnya yang ada disaku. Melihat tak ada notif dari siapapun.
"Apa dia belum pulang?" batin Riska.
Menunggu hingga satu jam namun tak kunjung mendapatkan pesan ataupun telepon dari Vano.
"Apa masih belum pulang? harusnya dia meneleponku dan mengucapkan terimakasih, huh dasar." gerutu Riska kesal sendiri.
Karena tak segera mendapatkan telepon akhirnya Riska meletakan ponselnya.
Baru satu menit Riska meletakan, ponsel Riska berdering membuat Riska buru buru mengambil ponselnya.
Riska mengerutkan keningnya kala bukan Vano yang menelepon tapi nomer baru yang tak Riska kenali.
"Nomer siapa ini?" batin Riska segera saja menggeser tombol hijau untuk menerima panggilan.
"Haloo." Suara pemilik nomer yang Riska kenali.
BERSAMBUNG...
__ADS_1
JANGAN LUPA LIKE VOTE DAN KOMEN...