ISTRI KEDUA TUAN ALEX

ISTRI KEDUA TUAN ALEX
132


__ADS_3

Pakde masih terlihat binggung dengan ucapan Alex. maksudnya apa?.


"Nggak usah didengerin Pakde, mas Alex memang gitu. suka bercanda." jelas Ella kala melihat raut wajah binggung Pakde.


"Pakde nggak nyangka, tampang serius kayak gitu bisa bercanda juga." ejek Pakde membuat Alex sedikit malu.


"Kalau dibawa serius terus nggak asik dong pakde." balas Alex yang hanya disenyumi Pakde.


Sementara di kamar mandi, Vano mengumpat kesal karena Alex yang hampir saja mengatakan jika Vano ingin jadi calon mantunya.


"Bener bener mulut ember!" umapat Vano sambil duduk di closet duduk di dalam kamar mandi.


Hingga sore pun Vano belum menampakan diri didepan orangtua Riska, bukan masalah apa apa, jika Riska menerima cintanya mungkin Ia siap saja jika harus menemui orangtua Riska namun jika Riska menolak, pastilah Vano akan malu nantinya jika bertemu kembali.


Vano sudah tak berada di kamar mandi karena Ia sekarang tengah berada dikamar yang memang disediakan untuk tamu.


Hingga sore tiba, salah satu maid ada yang mengantarkan makanan dan minuman untuknya membuat Vano bergegas menikmatinya karena memang Ia sudah kelaparan sejak tadi siang.


"Apa tamu Alex sudah pulang?" tanya Vano pada Maid yang mengantarkan makanan.


"Apa maksudnya orangtua Non Ella?"


"Ya benar sekali, mereka sudah pulang?" tanya Vano sambil mengunyah makanannnya.


"Belum, mereka sedang beristirahat di kamar sebelah."


"Astaga, betah sekali mereka disini." gerutu Vano yang merasa gagal bermain main dengan Baby Liu.


"Saya permisi Tuan." kata maid itu yang langsung diangguki Vano.


"Sialan, sampai kapan gue harus terjebak disini!" kesal Vano.


...


Sementara sepulang kerja Riska memarkirkan motornya didepan rumah Vano. melihat rumah masih gelap membuat Riska paham jika Vano belum pulang.


Segera membawa masuk bahan masakan yang baru saja ia beli disupermarket untuk dijadikan makan malam.


Setengah jam Riska berkutat didapur, Riska mendengar ada suara mobil berhenti didepan rumah Vano. Riska pikir Vano sudah pulang namun siapa sangka yang datang adalah seorang wanita paruh baya.


"Devano... anak Mommy." suara lantang wanita itu membuat Riska menhentikan aktifitasnya hingga saat Wina mama Vano memasuki dapur keduanya saling beradu pandang.


"Astaga, ini bukan mimpi kan." kata Wina menepuk nepuk pipinya sendiri.

__ADS_1


"Maksudnya apa ya?" Riska terlihat binggung menanggapi wanita yang Riska tebak adalah Mama Vano karena wajah mereka yang mirip sangat mirip.


"Alex memang benar, apa yang tadi Alex katakan ditelepon memang benar." imbuh Wina membuat Riska semakin binggung.


Wina pun mendekati Riska, hingga keduanya berhadapan, lalu Wina menempelkan kedua tangannya di pipi Riska.


"Kamu cantik sekali nak, pantas saja Vano memilhmu." kata Wina menganggumi wajah Riska yang memang cantik.


Riska hanya terbenggong, "Maksudnya apa ya tante?" tanya Riska memberanikan diri.


Wina tak mengubris pertanyaan Riska karena matanya melihat masakan yang hampir matang.


"Apa ini kamu yang buat?" tanya Wina yang langsung diangguki Riska.


Tanpa menunggu tawaran Riska, Wina segera mengambil sendok lalu mencicipi masakan Riska.


"Perfect... ini enak sekali. tak salah jika Vano memilihmu sebagai calon istrinya." kata Wina membuat Riska kaget setengah mati.


"Haa? apa? sa-saya bukkan calon istrinya tante." elak Riska yang malah membuat Wina tersenyum.


"Udah, nggak usah malu untuk mengakui. aku tidak mempermasalahkan apapun tentang calon istri anakku, yang aku inginkan dia bahagia karena memilih pendamping yang tepat dan sepertinya Vano tak salah memilihmu." jelas Wina "Kau cantik, dan pintar masak, bahkan masakanmu enak sekali! benar benar mantu idaman." imbuh Wina memuji Riska.


"Ta-tapi tante, anda salah paham. saya bukan calon istri-"


"Sekarang lebih baik, selesaikan masakanmu dan aku akan menunggu di ruang tamu, kita bisa membahas apa saja disana," kata Wina lalu meninggalkan Riska yang masih melonggo menatap Wina tak percaya.


"Astaga, kenapa jadi seperti ini lagi sih, kemarin keluargaku yang salah paham, sekarang Mamanya Vano. mana Vano belum pulang juga lagi." gerutu Riska kesal sendiri.


Setelah selesai menyelesaikan masakannya, Riska bergegas menemui Mama Vano yang sudah menunggunya di ruang tamu sambil membaca majalah fashion.


"Ekhem.. Tante." sapa Riska kala Wina sama sekali tak menyadari kedatangannya.


"Ah, anak mantu mama sudah selesai. ayo segera cari baju, tas, sama sepatu buat seserahan kamu nanti." ajak Wina.


Riska pun menurut dan duduk disamping Wina, ingin rasanya Riska menjelaskan kesalahpaham ini namun bagaimana Vano saja belum datang, Mamanya pasti tak akan percaya jika hanya mendengar penjelasan Riska saja.


"Kamu mau merk apa? Gucci, channel , ayo pilih aja yang kamu suka, semahal apapun pasti Mama belikan untuk calon mantu Mama ini." kata Wina terlihat bersemangat.


"Tapi tante, saya ini bukan calonnya Dokter Vano, tante salah paham." jelas Riska berharap Wina bisa menerima ucapannya.


"Udah deh, nggak usah bohongin mama," kata Wina "Memangnya Vano belum bilang sama kamu kalau mamanya ini punya penyakit jantung." imbuh Wina yang langsung membuat Riska takut.


"Kalau kamu bohong, mau ngeprank Mama trus kalau jantung mama kumat gimana? mau kamu mama mati?"

__ADS_1


Riska shock mendengar ucapan Wina, "Tante, kenapa tante ngomongnya gitu sih."


"Makanya kamu nurut sama Mama, jangan panggil tante, panggil mama oke, kan sebentar lagi kamu jadi anaknya mama." kata Wina.


Dengan sangat terpaksa Riska mengangguk menyetujui permintaan Wina. Riska takut jika Ia memaksa menjelaskan pada Wina akan berakhir penyakit jantung Wina kambuh dan terjadi apa apa, pasti nanti urusannya akan semakin rumit, biarkan saja Vano yang menjelaskan pada mama nya nanti.


"Eh ngomong ngomong dari mana tante eh Mama tau kalau aku ini calon istrinya Mas Vano?" tanya Riska penasaran sebenarnya siapa yang memberitahu semua ini pada Wina.


"Dari Alex, kamu kenal kan sama Alex? dia atasan kamu di kantor."


Alex? pak Alex? astaga kenapa pak Alex melakukan ini lagi.


*Wina tengah duduk santai didepan televisi hingga ponselnya berbunyi, cukup terkejut melihat siapa yang meneleponnya.


Alex keponakannya, wah sudah lama sekali tak pernah mendapatkan telepon dari Alex.


Dengan segera Wina menggeser tombol hijau.


"Tumben telepon?"


"Tante, aku mau ngasih kabar gembira buat Tante."


"Kabar apa?"


"Vano bentar lagi mau nikah,"


"Serius? kamu nggak bohong kan lex?"


"Mana mungkin aku bohongin tante dia karyawan kantor aku, kalau nggak percaya nanti malem tante kerumah Vano aja pasti ceweknya disana. tiap hari aja kesana buat masakin Vano kok."


"Astaga, perhatian banget deh, oke nanti tante kesana."


"Kalau bisa suruh cepet cepet nikah tante, biar tante cepetan punya cucu." kekeh Alex.


"Makasih lex udah ngabarin tante*."


Wina tersenyum geli mengingat percakapannya dengan Alex tadi sore, jika bukan karena Alex mana mungkin Wina tau jika Vano memiliki kekasih selama ini.


Suara mobil Vano terdengar membuat Riska sedikit lega.


"Ma- mama." Vano terkejut melihat Mamanya disana dan juga Riska yang menatapnya penuh protes.


Bersambung....

__ADS_1


Jangan lupa like vote dan komen yes


__ADS_2