
Selesai mandi, Vano segera mengendong Riska yang sudah memakai baju kembali berbaring di ranjangnya.
"Udah dong sayang, jangan cemberut lagi." Bujuk Vano melihat Riska masih kesal gara gara tadi Vano menertawakannya.
"Nggak usah ngrayu deh! nggak bakal dikasih lagi nanti malem!" kata Riska dengan nada kesal.
"Ya udah deh malem enggak dikasih nggak apa apa kan masih ada sekarang sama sore nanti, boleh dong nambah?" goda Vano membuat Riska semakin kesal.
Bisa bisanya Vano mengajaknya bercanda disaat Riska sedang kesal seperti ini.
"Nggak mau mas, salah sendiri tadi ngetawain." kata Riska.
"Kan udah minta maaf sayang, eh bentar biar aku obatin dulu." Vano beranjak mendekati kotak p3k dan mengambil sebuah salep disana lalu kembali mendekati Riska.
Vano segera menyibak rok yang dipakai Riska membuat Riska memberontak.
"Mas udah dibilangin nggak mau lagi." protes Riska memeganggi roknya agar Vano tak bisa membuka.
"Aku cuma mau ngasih salep ini sayang, pelit banget deh nggak di apa apain juga." kata Vano yang membuat Riska melepaskan tangannya.
Vano segera saja menyikap Rok Riska lalu melihat sarang burung milik Si otong yang terlihat sedikit bengkak.
"Hebat banget kamu tong bisa bikin sarang mu bengkak kayak gini." batin Vano lalu cekikikan sendiri.
"Kamu ngapain sih mas ketawa, nggak ada yang lucu." kesal Riska.
"Ck udah ah marah marah mulu istri aku ini! udah aku kasih salep palingan bentar lagi udah sembuh." jelas Vano.
"Eh yank..." panggil Vano yang sudah terbiasa memanggil Riska dengan panggilan sayang.
"Apa?"
"Nggak boleh galak galak kalau sama suami."
"Iya iya, apa mas Vano?" tanya Riska membuat Vano tersenyum geli karena sejak menikah Riska selalu memanggilnya mas.
"Nanti kalau sarangnya udah sembuh, si otong boleh masuk lagi kan?" tanya Vano.
"Ih enggak ah mas, masih sakit." tolak Riska.
"Sayang katanya kalau nolak permintaan suami itu dosa lo." kata Vano yang langsung membuat Riska terdiam. Memang benar jika menolak keinginan suami itu dosa, Riska cukup tau itu tetapi jika dirinya sedang sakit apa iya masih tetap dosa batin Riska.
__ADS_1
"Iya deh mas, tapi pelan pelan aja ya mas." pinta Riska.
"Iya sayang, kamu tenang aja si otong itu nggak mungkin nyakitin sarangnya, mesti pelan pelan kok." kata Vano penuh semangat.
"Ck, kemarin aja katanya pelan pelan nyatanya semalem nggak bisa pelan." cibir Riska yang membuat Vano langsung terkekeh.
"Terlalu bersemangat kok sayang jadi ya gitu, tau sendiri kan si otong habis puasa."
"Iya deh mas Iyaa... terserah kamu aja." kata Riska menyerah membuat Vano kembali tertawa.
Karena Riska sedang sakit akhirnya Vano memesan makanan delivery order karena Vano juga tak bisa memasak.
Makanan datang, Vano dengan sigap langsung menyuapi istrinya yang masih berbaring diranjang. Sebenarnya Vano merasa kasihan dengan Riska jika nanti harus melayani otongnya lagi namun mau bagaimana lagi Si otong yang memaksa meminta lagi dan lagi, bukan Vano tapi si otong.
"Aku makan sendiri aja mas." pinta Riska merasa tak nyaman kala Vano menyuapinya.
"Udah diem trus makan, nggak usah berisik." kata Vano terus saja menyuapi Riska.
"Tapi kan kamu juga harus makan mas?" kata Riska.
"Yang penting kamu makan cepet sembuh, kalau aku nanti gampang." balas Vano.
"Ck, kamu ngomong aku biar cepet sembuh soalnya biar kamu bisa nunggangi aku lagi kan." cibir Riska membuat Vano terkekeh.
Riska hanya mencebikan bibirnya. Vano memang perhatian namun jika masalah per otongan dirinya sudah tak bisa diajak negoisasi .
Seharian ini Vano begitu sibuk melayani istrinya, Ya ia membuat istrinya menjadi ratu seharian, apapun yang diinginkan sang istri pasti Ia turuti. Vano merasa ada yang berubah dari hidupnya yang tadinya datar datar saja kini lebih berwarna karena kehadiran sang istri.
Dan malam ini, Vano yang tengah asik main game harus terganggu karena melihat sang istri keluar dari kamar mandi hanya mengenakan dress satin tipis, dengan tali spagheti serta belahan dada yang terlihat membuat Riska terlihat sangat seksi.
Berjalan pelan ke arahnya Vano yang terlihat menatap istrinya tak berkedip. Sejak sore tadi memang Riska sudah bisa berjalan normal karena miliknya sudah tak bengkak lagi.
Riska mendekati suaminya yang bersandar diranjang, langsung saja duduk diatas suaminya dan tangannya ia kalungkan dilengan Vano.
Riska sebenarnya masih terlihat gugup melakukan ini, namun demi menyenangkan suaminya yang seharian sudah menjadikannya ratu sepertinya tak masalah jika Riska sedikit mencoba nakal didepan suaminya.
Riska yang tengah duduk dipangkuan Vano langsung bisa merasakan otong Vano yang langsung mengeras membuat Riska merasakan ada yang mengganjal dibawah sana.
"Bener bener deh sayang, kamu tuh.." kata Vano langsung saja tak menyia nyiakan kesempatan, mencium bibir Riska, perlahan namun semakin lama semakin panas.
Tangan Vano pun tak henti hentinya menjelajahi lekuk tubuh Riska membuat Riska merasakan gelenyar aneh, apalagi saat tangan Vano berhenti tepat di bukit kembarnya, Riska langsung saya mengeluarkan desahannya.
__ADS_1
Tak sabar merasakan bawah sana yang semakin sesak minta dikeluarkan, Akhirnya tanpa membuang waktu, Vano membaringkan Riska diranjang, melepaskan seluruh pakaian Riska dan pakaiannya hingga keduanya sama sama polos. memberikan tanda dengan bibirnya disetiap lekukan tubuh Riska membuat Riska menjerit merasakan kenikmatan yang luar biasa.
Bagi Riska rasanya berbeda seperti kemarin saat pertama kali melakukannya namun kali ini lebih nikmat karena Vano memperlakukannya dengan begitu pelan tidak seperti kemarin yang terasa terburu buru karena mungkin nafsu yang sudah mengebu.
Melihat Riska melayang dengan perlakuan bibirnya, Langsung saja Vano menyatukan milik mereka membuat Riska masih meringis namun Vano melakukan dengan pelan sambil bermain di bukit kembar Riska membuat Riska meloloskan desahannnya setelahnya barulah Vano mempercepat temponya semakin lama semakin cepat.
Decitan ranjang, desahan yang terdengar menjadi saksi panasnya percintaan mereka malam ini.
Hingga akhirnya Vano bisa lega di ronde pertama, Vano pun langsung ambruk di di bahu istrinya.
"Ck berat mas." protes Riska.
Vano terkekeh lalu berbaring disamping istrinya tak lupa Ia mengecup kening istrinya.
"Makasih sayang." kata Vano yang entah mengapa membuat Riska tersipu.
"Masih sakit?" tanya Vano.
Riska menggelengkan kepalanya "Udah nggak kok mas."
"Udah enak dong, pantesan ah eh mulu." goda Vano yang membuat Riska jadi malu.
"Kamu juga yang bikin ah eh." balas Riska membuat Vano terkekeh.
"Ya udah istirahat nanti kita lanjutin lagi." kata Vano yang membuat Riska melonggo.
"Lagi mas?"
"Iya dong, si otong minta nambah."
"Ampun deh mas jangan sampai subuh lagi." kata Riska tak bisa membayangkan jika harus berkali kali seperti semalam pasti membuat miliknya bengkak lagi.
"Nggak sampai subuh sayang paling sampai pagi."
"Massss...."
BERSAMBUNG...
Kalau masih tidak sesuai exspetasi bayangin aja ya gays gimana belah durennya mereka berdua...
Authornya nggak mau terlalu vulgar takut kena tilang wkwkw.
__ADS_1
jangan lupa like vote dan komen yaaa...