
Rangga mengerutkan keningnya heran melihat wanita cantik yang ada didepannya saat ini. Rangga pikir Ia akan menemui wanita berumur yang sedikit genit namun siapa sangka malah wanita cantik yang tak asing dimatanya ini.
Rangga melihat nomernya memang benar meja nomer 34, Rangga tidak salah meja lagipula yang mengantar kesini tadi pelayan resto mana mungkin salah.
Tak hanya Rangga namun Dina juga terkejut saat ada Rangga yang Ia kenali adalah saudara Ella. Dina tau karena melihat Rangga di kliniknya saat Ella melahirkan.
Dina memang sempat menganggumi ketampanan Rangga saat itu meskipun hanya mengenakan jeans dan kaos oblong saja dan malam ini Dina terpesona dengan ketampanan Rangga yang bertambah berlipat lipat karena setelan kemeja yang Ia pakai. Cocok sekali dan serasi sekali jika dengan dress yang Ia pakai.
"Kamu bukannya bidan yang bantuin Ella lahiran ya?" tanya Rangga terlihat mengingat ingat.
"Lebih tepatnya dokter obgyn." kekeh Dina merasa lucu kala Rangga memanggilnya bidan.
"Oh sorry nggak tau," Rangga mengaruk tengkuknya yang tak gatal untuk menghilangkan rasa malu karena salah sangka.
"Nggak masalah, oh ya ngomong ngomong kamu ikut makan malam juga?" tanya Dina yang sontak membuat Rangga terkejut sekaligus heran.
"Makan malam? bukannya ini pertemuan bisnis?" kali ini Dina dibuat terkejut.
"Bisnis? bisnis apa?" tanya Dina binggung dan tiba tiba Dina mengingat ucapan Alex kemarin malam "Aku akan mencarikan jodoh untukmu!" Seketika Dina tersenyum lebar.
"Apa ini pria yang dipilihkan Alex untuk ku? benar benar tak salah pilih, tampan begini pasti membuat semua temanku iri." batin Dina girang.
Didepannya Rangga dibuat heran dengan sikap Dina yang diam diam tersenyum, membuatnya bertanya tanya "Ada apa ini?"
"Jadi bisnis apa yang akan kita bicarakan?" tanya Rangga.
"Ahh ya, bisnis ya." Dina merasa binggung bagaimana menjelaskan pada Rangga karena Dina tau Rangga sedang dijebak oleh Alex.
"Ya, ayo kita selesaikan, makan lalu pulang." kata Rangga yang sejujurnya merasa tak nyaman dengan tempat ini, dengan baju dan tentunya dengan wanita cantik yang ada didepannya yang sedari tadi tersipu malu.
"kau buru buru?" tanya Dina sedikit kecewa.
"Bu-bukan itu maksud ku ... aku hanya merasa tak nyaman dengan tempat ini." jelas Rangga tak ingin membuat Dina salah paham.
"Ahh begitu, bagaimana jika kita makan malam dulu?" tanya Dina kala pelayan resto sudah membawakan menu makan malam spesial untuk mereka.
"Baiklah jika seperti itu." kata Rangga memandangi piring nya yang berisi sepotong daging steak serta sayuranya tak lupa pisau garpu yang ada disamping piring.
"Ada apa?"
__ADS_1
"Ah tidak apa apa." balas Rangga yang sejujurnya Ia tak terbiasa makanan seperti ini, maklum selama ini hanya sebungkus nasi padang saja sudah termasuk makanan mewah untuknya.
Rangga masih belum makan, Ia melihat ke arah Dina, melihat cara Dina makan.
"Kenapa menatapku seperti itu?" tanya Dina kembali tersipu malu.
"Ah tidak, itu ada saus di bibirmu." kata Rangga segera mengambil tisu dan membersihkan bibir Dina yang sebenarnya tak ada saus disana. Rangga terpaksa berbohong agar tak malu karena ketahuan melihat cara makan Dina.
Dan lagi lagi perlakuan Rangga membuat Dina kembali tersipu karena merasa diperhatikan oleh Rangga.
"Maaf ..." ucap Rangga karena sudah lancang menyentuh Dina.
"Eh tidak masalah." balas Dina "aku justru senang." batin Dina girang.
Kini Rangga pun mulai mempraktekan cara makan Dina, namun karena tak biasa akhirnya gesekan pisau yang Ia gunakan untuk mengiris daging pun terdengar.
"Maaf aku tak biasa makan seperti ini." kata Rangga akhirnya jujur.
Dina mengerutkaan keningnya, "Bukankah dia orang kaya, bagaimana bisa tidak pernah makan steak?" batin Dina.
Dina hanya mengangguk saja "Lalu apa yang kau sukai?"
"Nasi padang." balas Rangga dengan cepat.
"Kenapa kau tertawa?"
"Tidak, aku tidak apa apa." kata Dina "Aku baru mendengar jika orang kaya suka makan nasi padang." batin Dina tak berani menceploskan pada Rangga.
Keduanya pun fokus dengan makanan masing masing meskipun sedikit berisik karena suara gesekan yang ditimbulkan Rangga namun Dina bisa memaklumi itu.
Hingga selesai makan, Rangga tak sabar ingin segera mengakhiri pertemuannya.
"Jadi bagaimana dengan kerja samanya?" tanya Rangga.
Dina terkekeh, "Tidak ada kerja sama, kau hanya ditipu oleh Alex."
Jawaban Dina tentu membuat Rangga terkejut, "Apa maksudmu?"
"Ya Alex meminta mu kesini bukan karena sebuah pekerjaan namun karena ini kencan buta." jelas Dina yang masih membuat Rangga terkejut.
__ADS_1
"Haaa, kencan buta?"
"Ya, dia ingin kita berkenalan." jelas Dina lagi membuat Rangga sedikit kesal karena ucapan Alex tadi pagi nyatanya jadi kenyataan, padahal sebenarnya Rangga tadi pagi pura pura tak mendengar untuk menolak Alex tapi sekarang Alex malah menjebaknya seperti ini.
"Ada apa? kau menyesal bertemu denganku? apa aku kurang cantik?" tanya Dina melihat raut kesal Rangga.
"Ah tidak bukan begitu, aku hanya sedikit kesal saja karena dijebak seperti ini." jujur Rangga.
"Tapi kita masih tetap bisa berteman kan?"
Rangga tersenyum ke arah Dina dan tersenyum "Tentu saja, Mari kita mulai dari awal ... aku Rangga, lalu kau?" tanya Rangga mengulurkann tangannya pada Dina.
"Aku Dina." Dina membalas uluran tangan Rangga.
Keduanya pun mengobrol banyak hal, hingga tak terasa sudah larut malam dan mereka memutuskan untuk pulang.
"Mau ku antar lebih dulu?" tanya Rangga tak melihat Dina pulang malam sendirian.
"Tak perlu, ah ya mobilmu mana?" tanya Dina melihat hanya ada mobilnya dan motor butut saja ditempat parkir.
"Oh, aku tidak membawa mobil karena aku hanya tak memilikinya, aku naik motor itu." kata Rangga menunjukan motor bututnya yang membuat Dina terkejut.
"Itu milikmu?" tanya Dina menatap ke arah Rangga tak percaya.
"Ya, kenapa? kau tidak suka ya?"
"Bu-bukan seperti itu, maaf ya aku tak bermaksud menyinggungmu." kata Dina yang sebenarnya sedikit kecewa karena Rangga tak sesuai expetasinya.
"Ganteng sih tapi kok dompetnya nggak ikut ganteng ya." batin Dina.
"Aku itu hanya karyawan biasa, tentu saja tidak mampu membeli mobil seperti milikmu." jujur Rangga.
"Ah ya, sekali lagi maaf ya. ya sudah kalau gitu aku pulang dulu ya." kata Dina langsung meninggalkan Rangga begitu saja.
Rangg hanya menghela nafas, Sepertinya tak ada yang bisa menerima Rangga apa adanya selain Acca mantan kekasihnya.
Dengan langkah berat, Rangga pun melangkah kan kaki untuk mendekati motornya dan segera meninggalkan tempat itu.
Tempat yang sepertinya tak pantas untuk Ia singgahi lagi.
__ADS_1
BERSAMBUNG...
jangan lupa like vote dan komen yaa...