
Jika Bianca dan Rangga tengah menikmati malam pertama mereka tanpa gangguan, berbeda dengan Vano yang kini harus berhadapan dengan pria berotot yang dipenuhi tato.
"Cari masalah Lu ama gua?" sentak pria itu masih menarik kerah baju Vano.
"Eng-enggak kok bang, saya salah kamar." balas Vano sudah memucat.
Tentu saja Vano pucat karena pria berotot ini jelas bukan tandingannya jika sampai mereka beradu otot.
"Nggak nyari masalah tapi dari tadi Lo mencet bel kamar gue mau ngapain? suka Lo sama cewek gue? nggak terima?" tanya Pria itu membuat Vano semakin binggung karena pria itu jelas sudah sangat salah paham.
"Enggak bang, dibilang saya salah kamar." balas Vano mulai berani.
"Alah banyak bacot Lo!"
Pria itu hendak melayangkan tinju ke wajah Vano namun terhenti karena suara seseorang.
"Ada apa ini?"
Vano dan pria itu langsung menoleh ke arah suara dan betapa terkejutnya Vano melihat orang itu adalah Alex.
"Sial, kenapa dia disini sih." batin Vano merasa khawatir. khawatir keusilan nya terbongkar oleh Alex.
"Gue nggak ada urusan sama Lo!" kata pria itu pada Alex.
"Jelas itu urusan saya karena kerah baju yang kamu tarik itu adik saya!" balas Alex tak kalah sengit.
Vano memutar bola matanya malas mendengar Alex menganggap diri nya adik, Adik yang dianggap disaat yang tidak tepat pikir Vano.
Pria berotot itu melepaskan kerah Vano dengan kasar "Oh jadi ini adik lo? bilangin sama dia buat nggak ngetuk pintu kamar gue!" sunggut pria itu tak terima.
"Nggak cuma sekali tapi hampir 4x. kalau aja gue nggak keluar juga nggak bakal tau mau berapa kali lagi!" tambah pria itu masih kesal.
"Udah dibilang gue salah kamar bang." kata Vano masih membela diri.
"Emangnya Lo mau ke kamar siapa?" kini Alex yang bertanya, membuat Vano merutuki kebodohannya, seharusnya ia tak membela dirinya saat ini. Karena jika Vano melihat, Alex tidak berminat membantu hanya ingin tau sesuatu saja.
"Kamar Lo lah, gue pikir disini ternyata salah." elak Vano tanpa menatap wajah Alex yang sudah ingin tertawa, menertawakan kesialan Vano.
"Pokoknya gue nggak mau tau, sekali lagi Lo ngetuk kamar gue! habis Lo!" ancam pria itu lalu menutup pintu kamarnya kasar membuat Vano yang masih didepan terkejut.
Sementara disampingnya Alex malah terbahak menatap wajah melas dari Vano yang jarang sekali dilihatnya.
"Seneng banget liat adik nya menderita!" gerutu Vano berniat pergi meninggalkan Alex.
"Mau kemana Lo? katanya nyari gue?" tanya Alex masih terbahak.
"Kagak jadi, udah nggak mood." balas Vano acuh membuat Alex semakin mengeraskan tawanya.
__ADS_1
Namun baru beberapa langkah, Vano berhenti dan kembali menghampiri Alex.
"Bang, gini deh ini kan cuma salah paham, jadi jangan sampai Bini gue tau ya?" pinta Vano dengan wajah memelas.
Tentu Vano khawatir jika Riska tau bisa ngamuk nanti karena meninggalkan Riska dikamar hotel sendirian dan tentunya Riska aka curiga padanya.
"Ck, salah paham gimana? gue aja nggak tau cerita detailnya. tau nya ya Lo mau dipukulin orang gara gara ngetuk ngetuk pintu kamar orang." balas Alex dengan wajah tengil.
"Yaelah bang, cuma salah paham doang."
"Oke, jadi besok gue ngomong sama Riska kalau lakinya mau digebukin gara gara salah paham!"
"Bang, jangan ngomong lah!" balas Vano dengan raut terkejut sekaligus memelas.
"Ck, gue nggak janji kalau nggak dikasih tau semuanya ya bakal ngomong nih bibir."
Vano mendesah kasar, benar benar sial hari ini, niatnya mau mengerjai Bianca malah sekarang Ia yang dikerjai. Besok Ia harus mencari receptionist yang sudah Ia kasih tips banyak karena memberikan informasi yang salah.
Siapa sangka juga sekarang malah bertemu si tengil Alex yang juga menginap di sini.
"Jadi gimana? bener nggak mau cerita? ok nggak masalah sih."
"Iya iya gue cerita!" sentak Vano dengan nada kesal "Niatnya mau usil sama Bi, eh salah kamar. apes banget." jelas Vano yang seketika membuat Alex terbahak.
"Udah kan bang, gue udah cerita jadi gue nggak mau Bi tau!" kata Vano lagi.
Vano pun terkejut, "Eng-enggak lah bang, mana berani gue!" balas Vano gugup.
"Ngaku aja!"
"Enggak bang, seriusan elah nggak percaya amat!" balas Vano membuat Alex melepaskan Vano.
"Rahasia Lo aman kalau bibir gue nggak khilaf." kata Alex lalu pergi begitu saja meninggalkan Vano yang kesal.
...
"Gimana Tuan?" tanya Sandi kala Alex menghampirinya di kamar Sandi. Disana juga ada Nisa istri Sandi yang sudah terlelap.
"Good job, kamu memang tidak pernah mengecewakan!" puji Alex.
Sandi tersenyum puas karena ide ide jailnya sangat dikagumi oleh Tuannnya.
"Bisa dipastikan dia bakal kapok setelah ini." kata Alex lagi.
Flashback on...
Paginya setelah ijab kabul Bianca dan Rangga selesai, Alex menemui Sandi yang bertugas pengurus semua keperluan disana.
__ADS_1
"Aku yakin nanti malam pasti Vano berencana mengerjai Bianca." jelas Alex yang langsung dipahami oleh Sandi mengingat kejadian Alex sewaktu diresort yang juga diketahui oleh Sandi.
"Baiklah Tuan, saya akan pastikan Non Bianca aman."
"Kupercayakan semuanya padamu."
Dan setelah itu Sandi selalu mengikuti gerak gerik Vano tanpa Vano sadari.
Hingga Vano terlihat sedang bernegoisasi dengan salah satu receptionist dan terlihat mencurigakan.
Setelah dirasa selesai dan Vano pergi, Sandi pun menghampiri receptionist itu.
"Apa yang dia katakan?" tanya Sandi tanpa basa basi.
"Anu Tuan.."
Sandi melihat Receptionits itu terlihat gugup dan takut.
"Apa kau tau? pemilik hotel ini teman baik Tuanku, jika kau menyembunyikan sesuatu dari ku bisa dipastikan kau dipecat." ancam Sandi yang langsung saja membuat Receptionist itu ketakutan.
"Dia, eh pria tadi hanya menanyakan dimana kamar yang dipesan oleh pengantin yang sedang mengadakan resepsi." jelas Receptionist itu dengan nada takut.
"Dan juga dia menberikan ku tips ini." jujurnya sambil memperlihatkan beberapa lembar uang. "Tolong Tuan, jangan adukan apapun pada bos ku!" pinta nya dengan wajah memelas.
Sandi tersenyum menyerigai "Baiklah, kau cukup baik. kupastikan pekerjaanmu aman."
"Terimakasih Tuan, terimakasih."
Awalnya Sandi memesan kamar ganti untuk Bianca dan berpikir Vano akan mengerjai kamar kosong namun saat Ia memesan berbarengan dengan seorang pria bertubuh kekar membuatnya memiliki ide lain.
"Maukah kau bertukar kamar denganku?" tanya Sandi pada pria berotot membuat pria itu heran.
"Ini kamar terbaik dihotel ini, kenapa kau menukarnya denganku?" tanya Pria itu menaruh curiga.
"Begini, Tuan ku meminta ku untuk menganti kamar dibawah dan disini tidak bisa. jadi sayang jika aku harus memesan lagi. lebih baik kita bertukar kamar saja bagaimana?"
"Apa kau yakin tidak sedang merencanakan sesuatu padaku?"
"Tidak, kita bisa membuat surat perjanjian jika kau ragu."
Pria berotot itu terlihat berpikir hingga akhirnya "Baiklah, aku percaya."
Mereka pun menukar kunci kamar.
Sandi tersenyum puas,
Selamat bersenang senang malam ini Tuan Vano.
__ADS_1
Bersambung...