
Ani berhenti didepan pintu mobil Alex, Ia hanya berdiri didepan pintu mobil.
"Masuk saja Nona, sudah ditunggu Tuan Alex didalam." kata Sandi melihat Ani tak segera memasuki mobil.
"Bisakah kau bukakan pintunya?" tanya Ani dengan nada angkuh.
"Ahh baiklah Nona, silahkan masuk." kata Sandi membuka kan pintu untuk Ani dengan ramah, saat Ani sudah memasuki mobil, Sandi terkekeh geli membayangkan apa yang akan terjadi pada Ani yang sombong itu.
Ani memasuki mobil dan duduk disamping Alex yang sudah menunggunya.
"Ada apa Anda mencari saya? bukankah Anda tidak membutuhkan saya bekerja ditempat Anda?" tanya Ani sinis, Ani pikir Alex memanggilnya karena berubah pikiran tentang pekerjaan namun nyatanya Ani salah.
"Aku memanggilmu bukan karena masalah pekerjaan yang kau cari itu." balas Alex terlihat santai menanggapi wanita angkuh yang ada didepannya itu.
Ani sedikit terkejut mendengar Alex mengatakan kebalikan yang Ia pikirkan, Lalu kenapa Alex memanggilnya? batin Ani.
"Lalu untuk apa Anda mencari saya?" tanya Ani.
"Aku ingin kau tidak menganggu Ella lagi!" kata Alex tegas membuat Ani terkekeh geli.
"Oh astaga, apa Ella mengadu padamu?" kekeh Ani.
"Dia bahkan tidak menceritakan apapun padaku, aku yang mencari tau sendiri!" ungkap Alex.
"Aku tidak menganggunya, aku hanya ingin dia sadar dan ingat siapa orang orang yang telah membantunya dulu, jadi berhenti menfitnahku seperti itu!" kata Ani dengan lantang.
"Membantunya? apa aku tidak salah dengar Nona, Ah iya kau yang telah membantunya agar dipecat dari pabrik kan?" tanya Alex sinis membuat Ani sangat terkejut, Bagaimana Alex tau?.
Raut wajah Ani berubah gugup, "Kenapa kau tak menjawab Nona? jadi apa benar yang baru saja kukatakan?" tanya Alex.
"Ti-tidak, tentu saja tidak! mana mungkin aku melakukan itu, bahkan aku lah yang membantunya masuk pabrik dulu bagaimana mungkin aku membuatnya dikeluarkan!" sangkal Ani masih dengan raut gugup.
"Baiklah, jika kau tidak mau mengakuinya, sebaiknya kau mendengar ini." kata Alex menunjukan sebuah rekaman lalu menyalakan rekaman itu.
"Bagaimana? kau mau membantuku?" suara pria yang ada direkaman itu sangat Alex kenali, itu suara Tuan Ken papa Alex.
"Tapi bagaimana caranya Tuan?" kali ini suara wanita yang tak lain adalah Ani, Ani sangat terkejut hingga Ia membegap mulutnya.
"Cukup jangan berikan saja surat ijin itu, sudah pasti dia akan dikeluarkan!" kata Ani yang memang tengah membawa surat ijin yang baru saja Ella berikan setelah ayah Ella meninggal.
"Hanya lakukan itu, setelahnya biarkan anak buahku yang mengurus semuanya." kata Tuan Ken lagi.
__ADS_1
"Lalu berapa bayaran saya untuk ini?"
"Tiga juta, aku akan memberikanmu tiga juta? bagaimana?"
"Baiklah, saya akan melakukannya."
Alex segera mematikan rekaman itu dan melihat wajah Ani yang sudah memucat.
"Ak-aku terpaksa melakukan itu karena waktu itu aku membutuhkan uang." jelas Ani takut.
"Untuk mendapatkan uang kau bahkan mengorbankan temanmu, lalu kenapa sekarang kau memeras Ella dengan embel embel kebaikan palsumu dulu?" tanya Alex Sinis.
"Ak-aku tidak memeras Ella!"
"Kau masih menyangkalnya lagi? apa perlu aku memberikan bukti ini pada kekasihmu itu atau pada Ella agar mereka tau sebaik apa dirimu dulu?" kata Alex penuh penekanan.
"Ja-jangan, kumohon jangan!" kata Ani dengan raut wajah ketakutan, Ani benar benar takut jika sampai Dedy tau pasti dia akan segera ditinggalkan oleh Dedy mengingat Dedy begitu menyanyanggi Ella bahkan menganggap Ella sebagai adiknya sendiri.
"Aku tidak akan menganggu Ella lagi, aku tidak akan meminta apapun pada Ella lagi, tapi kumohon jangan sampai mas Dedy tau tentang semua ini." mohon Ani membuat Alex terkekeh.
"Apakah kau setakut itu jika Dedy tau? lalu bagaimana jika sampai kekasihmu itu tau jika wanitanya ini suka bermain gila dengan pria lain!" kekeh Alex membuat Ani semakin terkejut.
"Tentu saja aku tau, orang yang membayarmu itu anak buah papahku, bagaimana bisa aku tak tau?"
Ani menggeleng tak percaya, bisa bisanya Ia seceroboh ini. seharusnya Ani menyimpan semua ini rapat rapat namun siapa sangka jika Alex mengetahui semuanya, ya mengetahui jika selama ini Ani bekerja sambilan sebagai wanita malam, bahkan sebelum Ia berpacaran dengan Dedy.
Sebenarnya awal pacaran dengan Dedy hanya untuk menutupi pekerjaan kotor ini namun semakin lama Ani jatuh cinta pada Dedy karena perhatian dan kasih sayang yang Dedy berikan, bahkan Ani sangat berharap hubunganya dengan Dedy bisa sampai menikah.
"Ak-aku memang dulu pernah melakukan pekerjaan kotor itu, tapi itu dulu sebelum aku mengenal mas Dedy, jadi kumohon jangan sampai dia tau." kata Ani terlihat panik.
"Itu semua tergantung, jika kau menuruti semua keinginanku untuk tidak menganggu Ella, aku pasti tidak akan membocorkan ini semua pada siapapun tapi jika kau masih menganggu Ella, akan kupastikann tidak hanya Dedy saja yang tau bahkan keluargamu pun juga akan tau." ancam Alex.
"Tidak, jangan! baiklah aku akan menuruti semua keinginanmu, aku janji." kata Ani.
"Oke, aku pikir sudah cukup pembicaraan kita jadi lebih baik kau keluar sekarang!"
"Ba-baik." Ani buru buru membuka pintu mobil dimana sudah ada Sandi menunggu disana.
"Sudah Nona?" tanya Sandi melihat wajah panik Ani, sedangkan Ani hanya meliirik ke arah Sandi sebentar lalu bergegas pergi dari sana.
Alex terkekeh melihat wajah takut yang Ani perlihatkan.
__ADS_1
"Jadi sekarang kita mau kemana Tuan?" tanya Sandi.
"Pulang, ah iya kita mampir ke toko bunga dulu,"
"Tuan ingin membeli bunga?" tanya Sandi heran, tidak biasanya Alex membeli bunga.
"Tidak, aku ingin membeli es krim!"
"Eh.."
"Ya tentu saja membeli bunga, ck kau ini!"
"Maafkan saya Tuan," kekeh Sandi.
Ditoko bunga, Alex memilih buket mawar putih yang sangat cantik.
"Ella pasti menyukainya." batin Alex.
"Untuk istrinya ya Tuan?" tanya pelayan ditoko itu.
"Ya, untuk istri saya." balas Alex cuek.
"Wah beruntungnya istri Tuan memiliki suami seromantis Tuan tampan ini." kata pelayan itu sedikit menggoda.
Alex hanya tersenyum, malas menanggapi pelayan yang centil seperti itu.
Selesai membayar Alex segera keluar dari toko bunga.
"Jangan lupa mampir lagi dilain waktu ya Tuan." kata Pelayan itu kala Alex melewati pintu keluar.
Alex hanya mengangguk lalu berjalan memasuki mobil yang terparkir didepan toko bunga.
"Sudah Tuan? apa kita mampir ke suatu tempat lagi?" tanya Sandi.
"Tidak, kita langsung pulang saja." kata Alex.
"Baiklah Tuan" Sandi segera melajukan mobilnya menuju mansion sementara Alex asyik menatapi bunga mawar putih yang baru saja Ia beli untuk Ella.
BERSAMBUNG....
JANGAN LUPA LIKE VOTE DAN KOMEN YAA...
__ADS_1