
Vano sedikit lega karena Alex tak menceritakan apapun pada Riska, hanya sindiran menyebalkan yang keluar dari mulut Alex.
Dan melihat cara berjalan Bianca bisa dipastikan malam pertama Bianca sangat lancar tanpa gangguan dari nya, benar benar menyebalkan.
"Kita pulang kan mas?" tanya Riska saat keduanya sampai dikamar mereka lagi.
"Hmm, apa kamu masih pengen disini?"
Riska menggelengkan kepalanya.
"Kita pulang aja ya?" pinta Riska.
"Oke, kita pulang sekarang."
Riska pun mulai berkemas, tak ingin ada yang ketinggalan karena lokasi hotel dan rumah mereka lumayan jauh.
Saat keduanya dilobi hotel, mereka bertemu dengan Bianca dan Rangga.
"Udah mau pulang?" tanya Rangga.
"Iya bang, jenuh di sini."
"Ya udah sana, aku sama Acaa masih 2 hari disini." jelas Rangga.
"Kamar kalian dimana sih?" tanya Vano penasaran.
"Noh dibawah sana, sebel banget sama Sandi nggak becus kerja! dibilang gue mau kamar paling atas malah dikasih kamar paling bawah!" gerutu Bianca.
"Sandi?" Vano mengeryit heran.
"Iya Sandi asisten kak Alex, kenapa? seneng kan Lo liat gue dapet kamar buluk!" ketus Bianca.
Vano hanya bergidik lalu mengajak Riska pergi, sambil berjalan Ia berpikir, apa ini rencana Alex.
Hingga sebelum Ia keluar hotel, Vano melihat receptionist yang kemarin Ia tanyakan masalah kamar Bianca.
"Sayang, tunggu sini bentar ya, aku mau ngomong sama dia!" kata Vano menunjuk pria yang tak lain adalah receptionist yang belum melihat keberadaan Vano.
"Mau ngapain sih?" tanya Riska yang tak mendapatkan jawaban dari Vano karena Vano sudah melesat menghampiri pria itu.
"Heh Lo!" sentak Vano pada receptionist yang membuat terkejut receotionist dan langsung memucat.
"Iy-iya pak."
"Lo nipu gue ya? kemarin katanya kamar pengantin nya di atas nomer 309 tapi ternyata kamar pengantinnya dibawah!" ucap Vano dengan nada kesal.
"Ma-maaf kemarin ada yang menukarkan kamar, sekali lagi maafkan saya, saya tidak ingin dipecat." jelas receptionist itu dengan berbata.
"Siapa?"
__ADS_1
"Eh, bapak yang mengurus semua pesta pernikahan."
"Sandi?"
"Saya nggak tau namanya, tapi katanya Tuan nya teman pemilik hotel ini makanya saya takut kalau sampai dipecat. sekali lagi maafkan saya." kata Receptionist itu setengah menunduk.
"Saya kembalikan uang tips nya."
"Ck, tidak perlu. ambil saja." kata Vano lalu bergegas pergi.
Sekarang Vano tau siapa yang sudah menganti kamarnya. sudah pasti Alex lah dalang dibalik semua ini.
"Benar benar menghancurkan kesenanganku saja." gerutu Vano.
"Kamu ngapain sih mas dari kemarin ngobrol sama pegawai hotel?" selidik Riska.
"Biasalah, cuma tanya tanya aja kali aja ini hotelnya bisa dibeli buat anak kita nanti." balas Vano sombong.
"Ck, nggak usah aneh aneh deh mas! lahir aja belum udah mau dibeliin hotel!" kesal Riska.
"Ya nggak apa apa dong, biar nanti anak kita kaya dari lahir." kekeh Vano membuat Riska sebal dan berjalan mendahului Vano.
"Sayang tungguin." ucap Vano manja lalu berlari mengejar istrinya.
....
Alex dan Rangga tengah duduk dipinggir kolam renang sementara Bianca, Ella dan Baby Liu tengah asyik berenang.
"Sementara mau ngontrak dulu sampai punya rumah mas." balas Rangga membuat Alex geli mendengar Rangga memanggilnya mas. yah tentu saja itu panggilan baru untuknya karena Rangga menikahi adik Alex.
"Cuma sekedar saran tapi semua terserah kamu! Bi itu punya warisan rumah sama usaha punya Mama nya dulu. kalau kamu mau bisa kamu terusin soalnya Bi nggak mau nerusin." jelas Alex.
Rangga terlihat menghembuskan nafas berat, ya seperti ini lah yang Rangga takutkan jika menikah dengan Bianca yang status sosialnya berbeda jauh dengannya.
"Mungkin saya mau usaha sendiri dulu aja mas, itu milik Bianca jadi biar Bianca saja yang mengurus." jelas Rangga.
"Ya sudah jika memang itu mau mu, aku tak akan memaksa untuk masalah ini."
Alex memang tidak akan ikut campur lagi masalah Rangga dan Bianca setelah menikah karena itu sudah menjadi tanggung jawab Rangga. Tugasnya hanya sampai di sini menemani Bianca sampai menemukan pasangan hidupnya dan sekarang selesai. cukup memantau saja dari jauh tanpa ikut campur lagi.
....
Beberapa minggu kemudian....
Riska merasakan perutnya mulas, Ia yang tengah bersantai pun segera beranjak menuju kamar mandi namun sampai dikamar mandi mulas yang Ia rasakan hilang.
Begitu yang Riska rasakan hingga hampir 4x,
"Non nggak apa apa?"
__ADS_1
Riska hanya menggeleng pelan, "Tau nih Bi, mules terus tapi nggak keluar."
"Duh jangan jangan udah mau lahiran non?"
Riska mengeryit, "Masih seminggu lagi kok Bi perkiraan lahirannnya."
"Kalau lahiran kan bisa maju bisa mundur non, biar Bibi telepon Den Vano aja ya?"
"Jangan dulu bi, takutnya kontraksi palsu kayak kemarin. udah buru buru pulang ee nggak jadi lahiran." balas Riska mengingat minggu kemarin Ia juga merasakan mulas yang sama hingga menghubungi Vano meminta segera pulang dan nyatanya hanya kontraksi palsu.
3 jam berlalu, tepat pukul 4 sore Riska kembali dilanda mulas yang sangat hebat bahkan merasakan sedikit nyeri dipinggangnya.
"Sayang kamu kenapa?" tanya Vano yang baru saja memasuki rumah.
"Nggak tau nih mas, mules trus dari tadi." keluh Riska.
"Ini udah mau lahiran mungkin, ayo kita ke tempat Dina sekarang!" ajak Vano yang masih mengenakan baju dinasnya.
"Ck, nanti kontraksi palsu lagi kayak kemarin mas!"
Vano mencoba meraba perut buncit Riska, setidaknya Ia sedikit tau tentang masalah kehamilan ya meskipun tidak semuanya hanya bagian penting saja.
"Ayo kita berangkat sekarang!" ajak Vano memapah Riska memasuki mobil.
Riska hanya menurut saja, rasa sakit yang terasa membuat nya sama sekali tak ada niat untuk protes.
"Aduh mas, kok sakit ya." keluh Riska kala keduanya sudah berada didalam mobil.
"Sabar ya sayang.. sabar!" kata Vano sudah terlihat sangat panik "Sial pake acara macet lagi." gerutu Vano tak sabar hingga membunyikan klakson nya berkali kali.
30menit barulah mereka sampai di klinik Dina.
Vano langsung saja membopong tubuh Riska dan membawanya masuk klinik.
"Din... Dinaa... tolongin istri gue mau lahiran!" teriak Vano dari depan pintu klinik membuat semua orang yang ada di klinik memandang ke arah vano yang terlihat histeris.
"Ya ampun mas, nggak usah teriak juga. malu." bisik Riska disela rasa sakitnya.
"Din ...Dina..." Vano tak mengubris pandangan mata orang orang dan juga bisikan Riska malah kembali berteriak.
"Ampun deh! Lo pikir disini rumah nenek moyang lo pake teriak teriak!" kesal Dina yang sudah keluar ruangan.
"Tolongin istri gue, udah mau lahiran ini." panik Vano.
Dina hanya menggelengkan kepalanya tak percaya melihat kepanikan Vano.
"Ya sudah bawa masuk!"
BERSAMBUNG...
__ADS_1
OTW ENDING 😁 aku bakal cerita sedikit tentang anak anak mereka sebelum ke sekuel jadi tetep pantengin trus ya gays....