ISTRI KEDUA TUAN ALEX

ISTRI KEDUA TUAN ALEX
210


__ADS_3

Acara pernikahan Bianca berjalan lancar dan meriah. Semua tamu yang datang sudah mulai pulang karena acara sudah usai.


Berbeda dengan Riska yang masih mengikuti Suaminya, entah apa yang di cari suaminya itu masih mondar mandir kesana kemari bahkan membisikan sesuatu pada salah satu receptionist yang sama sekali tak bisa didengar oleh Riska.


"Kamu tuh mau ngapain sih mas? capek dari tadi ngikutin kamu terus!" keluh Riska.


"Ya udah kamu duduk aja sana dulu, nanti aku samperin kalau udah selesai. oke sayang?" kata Vano sambil tersenyum.


Dengan kesal Riska mendekati sofa yang ada didekat sana sambil terus melihat Vano yabg masih saja mengobrol dengan receptionis, entah apa yang mereka bicarakan membuat Riska sangat penasaran.


15 menit akhirnya Vano menghampiri Riska dengan senyum mengembang.


"Tadaa, kita bakal honeymoon disini." celetuk Vano sambil memperlihatkan kunci kamar hotel pada Riska.


"Mas mau nginep dihotel?"


"Iya dong, sekali kali honey moon di hotel!"


"Ampun deh mas, kamu tuh ya bener bener deh! aku tu lagi hamil besar gini bisa bisanya kamu masih mikir honey moon?" ungkap Riska tak percaya.


"Ups, salah sayang. Ini Babymoon bukan Honeymoon lagi." kata Vano sambil cengengesan membuat Riska hanya menggelengkan kepalanya tak percaya.


"Yuk kita lihat kamar kita." ajak Vano.


Riska pun hanya bisa pasrah mengikuti kemauan suaminya itu.


Sesampainya dikamar, Riska dibuat takjub karena kamar yang berada dilantai paling atas dan terlihat pemandangan kota.


"Bagus banget, pasti kalau malam tambah bagus ini." ucap Riska memandang penuh kagum.


"Hmm tadi aja nggak mau, ngomel ngomel sekarang seneng kan?" kata Vano yang sudah memeluk Riska dari belakang.


"Iya deh iya, maaf." balas Riska merasa tak enak.


"Eh tapi kan kita nggak bawa baju ganti mas?"


Vano terkekeh "Tenang aja tuan Putri, sebentar lagi baju kita datang."


"Kamu pese baju?"


Vano mengangguk dan tak berapa lama ada yang memencet pintu kamar mereka.


Vano segera keluar untuk memastikan jika itu benar pesanananya.

__ADS_1


"Tadaaa, baju ganti 2 stel, buat nanti malam sama besok." kata Vano sambil memperlihatkan paper bag dengan merk terkenal.


Riska tersenyum sumringah "Ck, tumben banget sih mas, romantis gini. biasanya nyebelin."


"Buat istriku apa sih yang enggak." balas Vano dengan kedipan mata.


"Dasar gombal."


....


Tak hanya Vano nyatanya Alex pun ikut menginap disini, Dia bahkan memesan kamar yang berada disamping kiri kamar Vano.


"Rewel nggak ya mas Baby Liu ditempat baru?" tanya Ella kala keduanya memasuki kamar yang sudah dipesankan oleh Sandi.


"Enggak sayang, tenang aja. kalau diliat kayaknya Baby happy tuh." balas Alex melihat tingkah Liu yang menggerak gerakan kaki saat ada di gendongan Alex.


"Seneng ya sayang akhirnya bisa liburan juga ya meskipun cuma dihotel." celetuk Alex sambil menciumi pipi bulat Baby Liu.


Mengingat hampir satu tahun usia Baby Liu namun tak pernah sekalipun diajak liburan. hanya sesekali keluar saat ada acara itu pun jika acara keluarga seperti saat ini, jika acara penting tentang kantor biasanya Alex hanya mengajak Ella saja.


Alex sudah menidurkan Baby Liu diranjang yang cukup besar, Baby Liu yang sedari tadi bosan digendong akhirnya aktif merangkak kesana kemari sambil mengoceh membuat Ella terkekeh melihat tingkah lucu putranya itu.


Beruntung dipinggir ranjang disediakan pembatas jadi tidak khawatir jika Baby Liu jatuh.


"Eh iya lho mas, baru sadar kalau ini lantai atas."


"Ck, paling atas sayang." kata Alex kemudian memeluk istrinya gemas.


"Hmm, mahal banget pasti nih." balas Ella membuat Alex terkekeh.


"Ampun deh sayang, semahal apapun nggak akan bikin aku bangkrut."


Ella hanya tersenyum mendengar balasan Alex, yah semahal apapun tak akan membuat suaminya bangkrut hanya karena menyewa satu malam kamar hotel ini.


....


Malam harinya, Riska sedang asyik menonton acara televisi, terlihat heran dengan Vano yanh berpakaian rapi seperti hendak pergi. Diliriknya jam dinding pukul 11 malam, entah kemana suaminya akan pergi.


"Mas mau kemana?"


Vano malah tersenyum dan menghampiri Riska. "Nggak kemana mana sayang, tidur udah jam segini lho." kata Vano membuat Riska semakin curiga.


"Mas mau keluar ya? hayo mau kemana?"

__ADS_1


"Nggak kemana mana sayang, dibilang ngeyel. udah tidur."


"Ck, nggak kemana mana kok pakai pakaian rapi gini." gerutu Riska.


"Lah kan nggak ada piyama jadi tidur pakai ini aja." jelas Vano memang tadi dirinya tidak memesan piyama.


"Jadi beneran nggak kemana mana?" tanya Riska masih menatap curiga.


"Enggak sayang, ampun deh nggak percaya amat." kesal Vano membuat Riska terkekeh dan percaya begitu saja.


Setelah dirasa hening, Vano mencoba mencubit pelan pipi Riska, tak ada respon yang artinya Riska sudah terlelap.


Senyum Vano mengembang, pelan pelan Ia bangun dari Ranjang agar tak mengusik tidur Riska.


Setelah mengunci pintu dari luar, Vano berjalan 5 langkah dari kamarnya menuju kamar Bianca yang tepat berada disamping kamarnya.


"Gue kerjain, biar tau rasa." gumam Vano lalu terkekeh sendiri.


Vano sudah didepan kamar Bianca, yang tadi siang Ia tanyakan pada receptionist jika memang ini kamar Bianca. Vano memencet bel pintu kamar Bianca berkali kali lalu Ia segera berlari, bersembuyi di sekitar sana.


Vano mendengar pintu terbuka, dan suara orang mengomel lalu menutup pintu. seketika tawanya meledak karena rencana yang Ia lakukan sama persis seperti waktu Ia mengerjai Alex dulu berhasil.


Vano membayangkan, Rangga dan Bianca sedang panas panas nya lalu terganggu dengan suara Bel, pasti rasanya menjengkelkan sekali pikir Vano.


"Rasanya kurang jika hanya sekali." batin Vano kembali mendekati pintu kamar Bianca lalu memencet tombol berkali kali. Ia berlari dan masih bersembunyi ditempat yang sama lalu terkekeh kala mendengar suara orang mengomel. keusilan Vano yang dilakukan hampir 3x hingga ke 4x nya saat Vano hendak memencet bel terkejut karena pintu lebih dulu terbuka sebelum Ia memencet bel nya.


Dan yang lebih membuat Vano terkejut adalah sosok yang tadinya Ia pikir Rangga namun nyatanya bukan Rangga.


Pria bertelanjang dada, berbadan besar dan dipenuhi tatto, menatap ke arah Vano dengan tatapan murka.


Ohh poor Vano.


Sepertinya Ia salah kamar atau bisa disebut Ia kena karma atas keusilan nya sendiri.


"Jadi Lo yang dari tadi mencet bel! ngerjain gue Lo?" tanya Pria itu terlihat geram bahkan sampai menarik kerah baju Vano.


"Eh bukan mas, eh bang, anu bos." Jawab Vano gugup.


Entah ingin beralasan apa, yang pasti malam ini Vano akan mendapat masalah.


Bersambung....


Gimana kurang greget nggak gays😂😂

__ADS_1


__ADS_2