ISTRI KEDUA TUAN ALEX

ISTRI KEDUA TUAN ALEX
204


__ADS_3

Pagi ini, Riska sudah sibuk didapur untuk memasak. meski perutnya sudah terlihat membesar namun tak membuatnya malas untuk melakukan aktifitas harian seperti menyiapkan sarapan untuk Vano yang akan berangkat bekerja.


"Pagi honey buddy sweety." Vano yang tiba tiba datang dan memeluknya dari belakang. Vano terlihat sudah tapi menggunakan setelan untuk bekerja.


"Nggak usah ganggu deh mas." Riska mengingatkan.


"Pelit banget sih, cuma meluk doang." gerutu Vano lalu duduk di kursi meja makan tak jauh dari dapur. Sementara Ia melihat Riska terkekeh memdengar gerutuannya.


"Mas nanti aku ke rumah Ayah sama Ibu ya?" pinta Riska tiba tiba.


"Jam berapa? kok tumben?"


"Tadi Ibu telepon katanya ada yang mau di omongin gitu, tapi nggak tau masalah apa." jelas Riska membuat Vano hanya mengangguk angguk saja.


"Nggak sore aja nunggu aku pulang, biar aku anter." kata Vano.


"Nggak lah mas, nanti siang aja aku naik taksi nggak apa apa."


"Hmmm..." Vano tak membalas hanya bergumam saja yang diartikan oleh Riska jika Vano mengijinkan.


Namun siangnya, saat Riska sudah selesai bersiap Ia dikejutkan oleh suara mobil suaminya yang ada didepan rumah.


"Lho mas, kamu udah pulang?" tanya Riska kala melihat Vano memasuki rumah.


"Iya, aku mau nganterin kamu. aku siap siap dulu." ungkap Vano yang entah mengapa membuat Riska ingin tersenyum.


"Padahal nggak apa apa aku naik taksi kan? malah ganggu kerjaan kamu."


Vano menghentikan langkahnya yang sudah hampir mencapai pintu kamarnya "Kamu mau aku terlihat jadi suami yang buruk didepan keluarga kamu? masa iya istrinya pulang sendiri nggak ditemenin suaminya."


Awalnya Riska senang karena Ia pikir suaminya begitu perhatian padanya hingga pulang lebih awal hanya untuk mengantarnya namun saat mendengar ucapan yang baru saja dilontarkan Vano ia sedikit kesal karena suaminya mengantar hanya karena ingin terlihat baik didepan orangtuanya.


"Lagian kamu juga lagi hamil, aku nggak mau kamu kenapa napa jadi lebih baik aku antar." jelas Vano sebelum akhirnya memasuki kamar tanpa menunggu jawaban dari Riska.


Riska yang tadinya kesal pun kini tersenyum lebar karena suaminya memang perhatian padanya. Entahlah Riska merasa akhir akhir ini banyak yang berubah dari Vano.


Lebih banyak sikap perhatiannya dari pada sikap menyebalkannya. Namun jika menyangkut masalah otong tentu saja Vano masih memyebalkan seperti biasa.

__ADS_1


15 menit akhirnya Vano keluar dengan pakaian santai namun sopan, celana jeans panjag juga kaos polo warna merah yang entah mengapa menambahkan kadar kegantengan Vano.


"Mau mampir beli sesuatu?" tanya Vano saat keduanya memasuki mobil.


"Nggak usah aja mas, langsung aja."


"Ck, seengaknya bawa makanan kesukaan Ayah Ibu, kita ini jarang kesana masa iya kesana nggak bawa apa apa." protes Vano.


"Ayah Ibu sukanya martabak mas, jam segini belum ada yang buka." jelas Riska.


"Ada kok, kata siapa nggak ada." kata Vano sudah melajukan mobilnya hingga mobil berhenti tepat didepan sebuah kedai bertuliskan martabak selera rasa, penjual martabak yanh buka 24 jam namun terkenal dengan harganya yang mahal dan rasa nya yang enak.


"Mau beli disini mas?"


"Iyalah, aku pesen dulu. biasanya martabak apa?" tanya Vano melepaskan seatbeltnya.


"Nggak usahlah mas, mahal banget disini tuh." protes Riska. dulu saat Riska masih sekolah dan Ayahnya masih jaya memang sering membeli martabak disini namun setelah usaha Ayah nya bangkrut, Ia sama sekali belum pernah membeli martabak disini.


"Mahal juga nggak sampai buat aku bangkrut kan? kamu tuh sama orang tua perhitungan banget." kata Vano lalu keluar dari mobil.


Riska tersenyum mengingat betapa beruntungnya Ia memiliki Vano namun seketika senyumnya luntur kala melihat Vano berbincang dengan seorang wanita cantik yang ada didepan kedai.


Dengan perasaan dongkol akhirnya Riska pun keluar dari mobil dan menghampiri Vano.


"Lama banget sih mas." tanya Riska langsung merajuk pada suaminya membuat wanita yang tadi mengobrol dengan Vano menatap ke arahnya dengan tatapan heran.


"Sabar sayang, antri tuh." balas Vano sambil mengelus rambut Riska membuat Riska tak percaya Vano memperlakukan begitu lembut didepan teman wanitanya.


"Oh ya Rin kenalin Riska istri aku!" kata Vano membuat wanita yang di panggil Rin oleh Vano menatapnya dengan tatapan tak suka.


"Oh, Lo dah nikah? nggak tau gue, gue Airin temen deketnya Vano pas kuliah." kata Airin sambil mengulurkan tangan pada Riska.


Riska membalas uluran tangan Airin dan membalas, "Riska, istrinya Vano." memperjelas kata istri membuat Airin terlihat kesal.


"Ya udah gue duluan." kata Airin langsung meninggalkan Vano dan Riska membuat Riska tersenyum puas berhasil menjauhkan Vano dari Airin yang mungkin menjadi perusak rumah tangga nya suatu hari nanti.


"Nggak usah cemburu, dia cuma temen kampus biasa." jelas Vano.

__ADS_1


"Siapa yang cemburu? aku nyamperin karena bosen di mobil." ucap Riska terdengar tak suka membuat Vano hanya terkekeh.


Mobil Vano sudah sampai dipekarangan rumah Riska dan tentu saja langsung mendapatkan sambutan dari Ibu yang baru saja keluar.


"Eh, nak Vano nganterrin? memang nggak kerja?" tanya Budhe saat Vano mencium tangan Budhe.


"Sudah pulang kok Bu,"


Budhe hanya mengangguk "Ya sudah ayo masuk, Ayah sudah nunggu kalian dari tadi." ungkap Budhe yang membuat Riska semakin penasaran dengan apa yang dibicarakan orangtuanya.


"Tau aja kalay Ayah lagi pengen martabak." kata Pakde kala Vano meletakan dua bungkus martabak telor dan manis dimeja.


"Sudah sehat pak?" tanya Vano saat mencium tangan Pakde yang sedang duduk di ruang tamu.


"Alhamdulilah sudah lumayan sekarang berkat vitamin yang sering kamu kirim. makasih banyak lho ya." ungkap Pakde terlihat senang. Bagaimana tidak senang memiliki mantu Dokter yang sangat perhatian pada mertuanya.


"Sama sama pak,".


"Kamu nggak kerja ? apa udah pulang?"


"Sudah pulang kok pak."


"Mas Vano sengaja nganter kesini karena nggak mau aku kenapa napa kalau naik taksi yah." jelas Riska yang tentu saja membuat pakde dan Budhe senang mendengarnya.


Sementara Vano berdehem, merasa tersanjung sekaligus tak enak namun Ia juga menyukai Riska yang memujinya seperti itu didepan mertuanya.


"Alhamdulilah, kalau kalian selalu rukun dan saling mencintai."


"Oh ya, Ayah sama Ibu mau ngomong apa?" tanya Riska.


"Gini, kakak kamu bentar lagi mau nikah. dan rencananya nanti sore mau melamar. Ayah ingin kalian ikut." kata Ayah membuat keduanya terkejut.


"Nikah?"


"Iya Nikah sama Adiknya Alex, siapa namanya.. oh ya Bianca... Vano pasti kenal ya?" kata Pakde membuat mood Vano mendadak buruk.


"Gila, masa iya tuh cewek tomboy bakal jadi kakak ipar Gue!" batin Vano.

__ADS_1


__ADS_2