
Budhe yang tengah menemani Pakde melihat televisi pun dikejutkan oleh suara mobil yang ada didepan rumah mereka.
"Ada apa Ella datang kesini malam begini?" tanya Budhe.
"Mana bapak tau, udah sana dibukain pintunya." kata Pakde yang langsung diangguki oleh Budhhe.
Budhe pun berajak keluar untuk membuka pintu, dan betapa terkejutnya Budhe melihat siapa yang datang.
"Riska, Rangga.." Budhe menatap keduanya tak percaya.
"Ibukk.." Riska langsung memeluk Ibunya manja.
"Kalian kemana aja sih, Ibu khawatir kalian nggak pernah ngabarin." kata Budhe.
"Maafin kami ya Bu, ceritanya panjang banget! oh ya Bapak gimana Bu? katanya jatuh ya?" tanya Rangga yang langsung diangguki Budhe.
"Iya, jatuh dari motor tapi nggak apa apa kok sekarang juga udah baikan." jelas Budhe.
Ketiganya pun memasuki rumah, "Siapa Bu?" tanya Pakde dari dalam kamar.
"Ayah,." Rangga dan Riska pun segera mendekati Pakde dan mencium punggung tangan Ayahnya itu.
"Syukurlah kalian baik baik saja." kata Pakde terlihat lega menatap kedua anaknya itu.
"Maafin kami ya yah, kami nggak ngasih kabar bukan karena lupa sama Ayah dan Ibu, kami cuma nggak mau bikin Ayah sama Ibu khawatir." jelas Rangga.
"Sebenarnya apa yang terjadi pada kalian?" tanya Budhe.
"Kami berdua kena phk dua bulan yang lalu, makanya kami nggak pernah ngirim uang karena Uang yang tersisa buat kami bertahan disana sampai mendapatkan pekerjaan lagi namun sayangnya masih belum mendapatkan pekerjaan lagi." jelas Riska.
"Kenapa nggak pulang sejak awal kalau memang kalian sudah di phk?" tanya Pakde.
"Niatnya mau cari kerjaan lagi Yah, tapi malah nggak dapet." jelas Rangga.
"Tapi sekarang udah dapet kok Yah, kerja ditempat suaminya Ella."
"Ditenpatnya Tuan Alex?" tanya Budhe dan Pakde secara bersamaan.
"Iya Yah, dia yang nyuruh anak buahnya buat jemput kami pulang, terus ngasih kerjaan juga biar nggak perlu jauh jauh kekota lagi." kata Rangga.
"Syukurlah, adik ipar kalian itu memang irang baik." kata Budhe.
"Beruntung banget ya Buk, Si Ella dapet suami kaya, ganteng lagi." kata Riska.
__ADS_1
Pakde dan Budhe hanya tersenyum, Ella memang beruntung namun sebelum keberuntungan datang, Ella sudah melewati berbagai rintangan yang menyakitinya dan sekarang memang sudah saatnya Ia bahagia.
Sementara Ella tengah membantu Alex mengacingkan piyama yang dipakai oleh Alex.
"Mas, aku seneng deh mas Alex mau ngasih kerjaan sama Mbak Riska dan mas Rangga." kata Ella sambil tersenyum.
"Biar mereka lebih deket sama orangtuanya dan bisa ngerawat orangtuanya kalau kerja dikantor aku kan deket sama rumah mereka." jelas Alex.
"Makasih ya mas, kamu memang suami ter the best deh, nggak cuma sayang sama aku tapi juga sayang sama keluarga aku." kata Ella.
"Udah Ah, tidur sayang, udah malem." kata Alex yang langsung diangguki Ella.
...
Kini Riska dan Rangga sudah berada dikantor Alex. Mereka bahkan sudah diberikan posisi di kantor Alex.
Rangga sebagai manajer pemasaran sementara Riska sebagai asisten Rere sekretaris Alex.
Bukan karena Alex mengistimewakan keduanya namun Alex melihat surat pengalaman kerja mereka dikantor sebelumnya yang memang menjabat dibagian itu.
"Jadi nanti kamu selesain yang ini ya, kalau sudah langsung minta tanda tangan Pak Alex, bisa kan?" tanya Rere pada Riska.
Riska mengangguk paham, apalagi dia sudah biasa mengerjakan dokumen seperti ini di kantor sebelumnya jadi Ia sudah tak membutuhkan Training lagi.
Segera Riska mengerjakan dokumen yang diberikan oleh Rere, tak membutuhkan waktu lama, Riska sudah menyelesaikan dokumen itu dengan baik. Riska bangkit dari duduknya lalu berjalan menuju ruangan Alex yang tak jauh dari meja Riska.
"Ah masuklah, dan bawa kemari." kata Alex segera Riska mendekati meja Alex lalu meletakan dokumen tepat didepan Alex.
Alex membaca dokumen itu dan tersenyum "Kerjamu lumayan juga." puji Alex.
"Terimakasih pak." kata Riska yang memandangi Alex tanpa kedip.
Dikantornya yang dulu Bos Riska sudah Tua, genit pula namun berbeda dengan bos yang sekarang, sudah tampan, baik, berwibawa lagi namun sayang suami orang.
"Sadar Ris, dia milik adikmu!" batin Riska menyadarkan dirinya agar tak jatuh hati pada pria tampan didepannya itu meskipun sedikit mustahil karena sekarang saja Riska sudah menaruh hati pada bosnya itu.
"Aku menyukai pekerjaanmu, jadi pertahankan!" puji Alex yang langsung diangguki oleh Riska.
"Kalau begitu saya permisi pak." kata Riska setelah mendapatkan tanda tangan Alex.
Setelah menutup pintu ruangan Alex, Riska menarik nafas dalam dalam, Ia segera pergi kekamar mandi untuk mencuci mukanya sekaligus menghilangkan wajah Alex yang sedari tadi menari nari didepan matanya.
"Benar benar membuat gila." batin Riska.
__ADS_1
Malam harinya, Riska yang baru saja pulang lembur terlihat sangat kesal, bagaimana tidak kesal karena Rangga, kakaknya telah meninggalkannya dan pulang lebih dulu padahal jam malam seperti ini sudah tidak ada angkutan umum.
Riska mengeluarkan ponselnya hendak memesan ojek online namun tiba tiba sebuah mobil mewah nerhenti didepan Riska berdiri.
Kaca mobil itu diturunkan dan memperlihatkan wajah seseorang yang menari nari dipikirannya sejak tadi.
Alex..
"Kamu ngapain masih disini?" tanya Alex dari dalam mobil.
"saya ditinggal sama mas Rangga, jadi mau pesen ojek online buat pulang pak." balas Riska.
"Udah pesen?" tanya Alex yang langsung membuat Riska menggelengkan kepalanya.
"Ayo masuk, biar saya antar!" ajak Alex.
"Eng-enggak perlu pak, saya naik Ojek online saja." Tolak Riska yang memang ingin menghindari Alex.
"Sudah ayo masuk saja, jam segini susah mencari ojek online." kata Alex yang akhirnya membuat Riska masuk ke mobil Alex.
"Kita antar kerumah pakde dulu." kata Alex pada Sandi yang ada didepan menyetir.
"Baiklah Tuan," balas Sandi segera melajukan mobilnya.
Sandi menaruh curiga pada Alex yang tiba tiba baik pada salah satu karyawan wanitanya, meskipun Sandi tau jika Riska adalah saudara Ella namun tetap saja, Sandi takut jika nantinya membuat Riska salah paham dengan kebaikan Alex.
"Apa Rangga meninggalkan mu?" tanya Alex saat Riska sudah berada didalam mobil, duduk disampingnya.
"Iya, dia memang saudara yang menyebalkan." keluh Riska.
Alex tertawa mendengar gerutuan Riska "Seharusnya kau menggunakan kendaraan sendiri." usul Alex.
"Dirumah cuma ada motor satu pak, itu saja milik Ayah." jelas Riska tersenyum miris.
"Jangan memanggilku pak jika kita sedang berada diluar membuatku tak nyaman panggil Alex saja."
Riska hanya mengangguk menanggapi permintaan Alex.
"Jika kau mau, kau bisa mengambil salah satu motor yang ada di mansion, aku yakin Ella tak akan keberatan." kata Alex yang membuat Riska terkejut.
Sandi yang ada didepan ikut mendengarkan pun juga terkejut.
"Apa apaan Tuannya itu." batin Sandi kesal sendiri.
__ADS_1
BERSAMBUNG...
JANGAN LUPA LIKE VOTE DAN KOMEN...