
Hari ini Vano pulang lebih awal, karena Ia memulai jam praktek sejak jam 7 pagi dan kini pukul 12 siang Ia sudah berada dirumah.
"Aku udah siapin makan siang mas." kata Riska memasuki kamar dimana Vano baru saja selesai mandi.
Vano memeluk istrinya tak lupa mengelus dan mencium perut Riska yang sudah terlihat membuncit.
"Udah yuk makan dulu." ajak Riska.
"Kamu udah laper?" tanya Vano.
Riska hanya menggeleng "Aku habis ngemil buah kok mas,"
"Ya udah sini dulu lah, aku kangen." bisik Vano dengan suara nakal.
"Ya ampun mas, masih siang lagian semalem juga udah nambah terus." protes Riska.
Vano tak mengubris ucapan Riska malah kini sudah membawa Riska ke ranjang dan mulai mencecapi tubuh Riska. Riska sendiri pun hanya bisa pasrah karena jika si otong sudah ready tak ada pilihan untuknya menolak keinginan suaminya yang kini sudah dirundung nafsu itu.
Baru ingin mengeluarkan si otong tiba tiba keduanya dikejutkan oleh suara bel rumah yang berbunyi berulang kali.
Ting tong... ting tong...
"Ck, siapa sih!" gerutu Vano kesal, ingin melanjutkan aksinya namun Riska menolak.
"Ada tamu mas, ya ampun kamu itu!" kesal Riska.
"Satu slup dulu nanti aku langsung keluar," pinta Vano kala ingin menyingkap rok Riska namun ditahan oleh Riska.
"Jangan gila kamu mas." sentak Riska yang langsung menghentikan gerakan Vano.
Dengan wajah kesal Vano bangkit dan memakai celena kolornya lagi.
"Dasar pelit." cibir Vano lalu keluar dari kamar membuat Riska hanya menggelengkan kepalanya tak percaya dengan tingkah kekanakan suaminya itu.
Dengan kesal Vano membuka pintu rumahnya, ingin rasanya Ia mengomel pada orang yang sudah menganggu kegiatan panasnya.
Dan betapa terkejutnya Vano kala membuka pintu, wajah pertama yang Ia lihat adalah senyuman tengil Bianca. Terkejut melihat Bianca datang kerumahnya, Awalnya Vano berniat menutup pintunya kembali namun melihat siapa yang ada disamping Bianca membuat Vano mengurungkan niatnya.
"Ada apa dengan wajah kaku mu itu?" sentak Rangga.
"Eeh ti-tidak mas, hanya terkejut tiba tiba mas Rangga datang dan dengan-"
"Dia kekasihku! kenapa? kau tak suka aku kesini?"
mendengar pengakuan Rangga jelas membuat Vano terkejut. Bianca? cewek tomboy menyebalkan itu kekasih Rangga kakak iparnya. astaga Ia tak menyangka dunia sesempit ini dan kenapa juga harus Bianca wanita menyebalkan itu.
"Kenapa? kau tidak takut kan kalau aku ini pacarnya kakak iparmu?" goda Bianca dengan suara tengil membuat Vano muak, rasanya ingin menendang Bianca agar pergi dari sini jika saja tidak ada Rangga.
__ADS_1
"Apa katamu!" kesal Vano sedikit membentak.
"Sayang, kau lihat? dia membentak ku!" Bianca merajuk pada Rangga membuat Rangga melotot ke arah Vano. Langsung saja membuat Vano hanya bisa menunduk.
Vano bukan nya takut pada Rangga, Ia hanya menghormati Rangga sebagai kakak iparnya, ingat Vano tak takut pada Rangga namun Ia hanya ingin menjalin hubungan baik dengan kakak dari istrinya itu.
"Masuklah, aku akan memanggil Riska." kata Vano memberikan jalan pada Bianca dan Rangga untuk masuk rumah.
"Aku seneng deh sekarang ada kamu, jadi Vano nggak berani gangguin aku lagi." kata Bianca pada Rangga membuat Vano melotot tak percaya.
Jika saja Bianca bukan adik kesayangan Alex atau bukan kekasih dari kakak iparnya mungkin Ia sudah membawa Bianca ke rumah eksekusi untuk Ia siksa karena mulut Bianca yang menyebalkan itu.
"Jadi dia suka menganggumu?" tanya Rangga menatap ke arah Vano.
Bianca hanya mengangguk "Jika Ia masih menganggumu, bilang saja padaku." kata Rangga masih menatap Vano tajam.
"Terimakasih sayang." ucap Bianca manja.
"Cih, dasar wanita ular." gerutu Vano saat berjalan memasuki kamarnya.
"Siapa yang datang?" tanya Riska melihat Vano memasuki kamar.
"Mas Rangga." balas Vano yang langsung membuat Riska girang "Aku mau ke kamar mandi dulu jika mereka tanya bilang saja aku sedang buang air besar." jelas Vano langsung memasuki kamar mandi.
Riska mengeryit heran, mereka? memang Mas Rangga datang dengan siapa? batin Riska segera keluar karena penasaran siapa yang datang.
Riska terkejut melihat siapa yang datang bersama abangnya itu, "Acca.."
Merasa namanya dipanggil, Bianca langsung saja melihat ke belakang dimana sudah ada Riska berdiri disana mengenakan dress rumahan dan sudah terlihat perut Riska yang membuncit.
Bianca segera bangkit dan mendekati Riska, awalnya Bianca pikir Riska akan menjauh namun siapa sangka Riska malah memeluknya.
"Kamu apa kabar?" tanya Riska "Aku kangen banget." imbuh Riska yang langsung saja membuat Bianca tersenyum.
"Aku baik baik aja, ck jahat banget sih nikah nggak ngundang undang." kata Bianca kala Riska melepaskan pelukan mereka.
Riska hanya terkekeh, "lagian kalau aku ngundang emangnya kamu bakal pulang trus dateng gitu?"
"Ya tergantung jadwal kuliah juga sih." giliran Bianca yang terkekeh.
"Kok kalian bisa berangkat bareng sih?" tanya Riska pada Rangga dan Bianca "Clbk nih ceritanya?"
Bukannya menjawab, Baik Rangga maupun Bianca hanya mengulas senyum saja.
"Duh beneran clbk ini mah! bagus deh Ca, Lo nggak tau aja abis ditinggal Abang Gue nggak pernah mau deketin cewek manapun, nggak bisa move on tuh!" kata Riska yang langsung saja mendapatkan lemparan bantal dari Rangga.
"Gue lagi hamil bang!" kesal Riska.
__ADS_1
Bianca dan Rangga hanya terkekeh,
"Vano mana sih?" tanya Bianca membuat Riska mengerutkan keningnya.
"Lo kenal ama laki gue?" heran Riska.
"Ck, kenal lah, orang dia sepupu gue!" jelas Bianca yang membuat Riska melonggo tak percaya.
"Acca tuh adik tirinya Alex suami Ella." jelas Rangga.
"Ya ampun kok bisa kebetulan gini ya." kekeh Riska, "Nikah sesama saudara." imbuh Riska.
"Lagian nggak masalah kan bukan saudara kandung." jelas Bianca yang langsung diangguki Riska.
"Bener juga sih! ya udahlah ya yang penting bisa ngumpul bareng lagi kayak gini."
"Kalau gitu gue panggil mas Vano dulu trus ntar kita makan siang bareng mumpung gue masak banyak."
"Siap deh." Bianca kembali duduk di samping Rangga.
Riska memasuki kamar, melihat Vano tengah berbaring diranjang sambil memainkan ponselnya.
"Lho mas, udah selesai Bab nya?"
"Udahlah, kok udah masuk sih, emang udah pada pulang?" tanya Vano.
"Belum lah mas, sekalian mau aku ajak makan siang bareng sama kita, yukk mas!"
Vano berdecak sebal, niatnya ingin menghindari Bianca namun tak ada dukungan dari istrinya.
"Aku nanti aja deh yank."
Riska memukul lengan Vano "Kamu tuh gimana sih mas, lagi ada tamu juga bukannya keluar malah ngumpet, kenapa sih?" tanya Riska heran.
"Perut aku mendadak sakit sayang, udah sana bilangin sama mereka pasti juga ngerti kok." kata Vano dengan wajah memelas.
"Ck, serah kamu deh mas!"
Riska keluar meninggalkan kamar dengan perasaan kesal.
"Vano mana?" tanya Bianca lagi.
"Sakit perut katanya, dah yukk makan bertiga aja.' ajak Riska.
"Ck, tuh paling alesan dia aja. Vano tuh takut kalau rahasianya aku bongkar sama kamu." Kekeh Bianca.
"Emangnya rahasia apa sih? aku jadi penasaran."
__ADS_1
BERSAMBUNG....