ISTRI KEDUA TUAN ALEX

ISTRI KEDUA TUAN ALEX
180


__ADS_3

Vano melajukan mobilnya keluar mansion ,tak sabar ingin melihat Riska dengan lahapnya menyantap seblak yang masih hangat ini.


Vano buru buru memasuki rumah kala sudah sampai. Saat membuka pintu kamar Ia melihat istrinya sudah meringkuk, kembali terlelap.


Vano menghampiri istrinya dan membangunkan pelan,


"Sayang, bangun.. tuh dah dapet seblaknya." kata Vano yang hanya dibalas gumaman oleh Riska.


Vano menciumi pipi Riska, menganggu Riska agar Riska segera bangun.


"Mas.." keluh Riska memaksakan diri untuk bangun.


"Katanya minta seblak, udah dibeliin malah tidur!" kata Vano pura pura kesal.


"Lama." balas Riska sambil mengucek matanya.


"Lagian kamu sih minta seblak jam segini, mana ada yang jual sayang."


"Protes nih sama anak kamu, yang minta anak kita tau bukan aku." Riska tak mau disalahkan.


"Iya udah iya iya, yuk kita makan seblak nya, mumpung masih anget." ajak Vano.


Dengan langkah malas, Riska berjalan mengikuti Vano menuju meja makan.


"Baunya enak." puji Riska "Kamu beli dimana mas?"


"Ada deh, rahasia pokoknya." jawab Vano yang membuat Riska mencebik.


Selesai menuangkan seblak dimangkok, Vano menyodorkan milik Riska dan mulai mencicipi seblak buatan Ella.


"Hmm, kok rasanya nggak asing ya?" gumam Riska kala sudah mencicipi satu sendok.


Vano sedikit khawatir, jika Riska sampai tau seblak ini buatan Ella bisa habis dia. Karena Riska mungkin tak akan suka jika Vano terlalu merepotkan Ella.


"Kamu beli dimana sih mas? kayaknya rasanya nggak asing di lidah aku." tanya Riska.


"Nggak tau tempatnya, jauh kok dari sini." alasan Vano.


"Pantesan lama." cibir Riska "Lagian kok masih ada ya yang jual seblak tengah malem gini?" heran Riska.


"Kamu tuh aneh deh yank, kalau nggak ada yang jual malah repot aku ntar, harusnya kamu bersyukur dong masih ada yang jual seblaknya jadi nanti anak kita nggak ileran." kata Vano.


"Iya iya mas, galak banget sih!"


"Dah habisin trus balik tidur lagi." perintah Vano.


"Ck, galak banget sih." ungkap Riska tak suka jika Vano terdengar sedikit galak padanya.


"Padahal aku pikir kamu bakalan minta tolong sama Ella kalau nggak dapet seblaknya, syukur deh mas kamu nggak ngrepotin mereka." ungkap Riska yang langsung membuat Vano tersedak.


Uhuk .. uhuk...

__ADS_1


Dengan cepat Riska memberikan segelas air minum pada Vano.


"Pelan pelan mas, aku nggak minta kok." kekeh Riska apalagi melihat wajah Vano jadi memerah karena kepedasan.


"Kamu sih lagi makan juga bawel banget!" Vano menyalahkan Riska.


"Ck ,iya iya. galak banget deh perasaan." balas Riska acuh.


"Abis ini otong dapet jatah dong." celetuk Vano.


"Lagi makan juga mas, mesum banget sih!"


"Nggak mau tau, pokoknya habis ini otong dapet jatah!"


"Ck, kemarin kan udah mas?"


"Lagi juga nggak apa apa sayang, kamu nggak kasian sama aku dan otong? malem malem dingin gini aku keluar pake piyama tipis gini, si otong aja sampai kedinginan sayang, butuh kehangatan." jelas Riska.


"Kamu yang pengen pake alesan otong lagi!"


"La emang otong kok, coba aja otong bisa ngomong pasti udah teriak dari tadi,"


Riska menggelengkan kepalanya, Suaminya itu kadang memang sedikit tak waras.


"Lho mau kemana sayang?" tanya Vano kala Riska bangkit dan membawa mangkoknya.


"Deket kamu lama lama ketularan nggak waras aku mas, kasian anak kita masak papi mami nya nggak waras semua." kata Riska lalu meninggalkan Vano yang terkekeh.


Pagi harinya, Alex berangkat ke kantor agak siang karena Ia bangun sedikit terlambat. Gara gara kedatangan Vano semalam membuatnya tidur pukul 3 pagi dan akhirnya kesiangan.


"Langsung kekantor Tuan?" tanya Sandi kala Alex sudah memasuki mobil.


"Tentu saja, memang mau kemana lagi?"


"Baiklah Tuan."


Sandi segera melajukan mobilnya meninggalkan mansion.


"Bagaimana dengan Rey?"


"Sudah dikembalikan ke penjara Tuan."


Alex hanya mengangguk paham. "Aku harap tidak ada masalah lagi setelah ini." ungkap Alex yang hanya di angguki Sandi.


Namun nyatanya apa yang Alex harapkan tak jadi kenyataan karena sesampainya diruangannya sudah ada Rhea disana.


Alex melihat dari atas sampai bawah penampilan Rhea sangat berantakan bahkan bisa dibilang Rhea masih mengenakan pakaian yang sama seperti yang kemarin Ia kenakan.


"Sayang, kau sudah datang?" tanya Rhea menyambut kedatagan Alex dengan senyum sumringah.


"Kau gila? untuk apa kau kesini lagi?" bentak Alex.

__ADS_1


Rhea hanya terkekeh "Tentu saja aku ingin menemui calon suamiku."


"Aku tidak sudi menjadi suami mu!"


"Kenapa?" tanya Rhea dengan raut wajah sedih. "Apa karena aku sudah memiliki anak? kau juga menolak ku? bukankah.. bukankah Ella sudah merestui kita? jadi ayo kita segera menikah." ajak Rhea.


Alex diam, Ia menatap sorot mata Rhea, sorot mata yang berbeda dari Rhea yang dulu, seperti telah terjadi sesuatu pada Rhea.


"Kenapa kau hanya diam? apa karena aku punya anak jadi kau menolak ku? hahaha tenang saja anak itu sudah kubunuh. lihatlah darah ini, darah kematian putriku hahaha."


Alex terkejut, benar benar terkejut apalagi Rhea memperlihatkan tangannya yang dipenuhi darah yang sudah kering.


Tanpa menunggu lama Alex menghubungi Sandi, "Panggil security dan dokter Anjas ke ruangan ku sekarang!"


"Hahaha kenapa kau menelepon security? kau ingin aku keluar dari ruanganmu lagi? kau ingin mengusirku lagi?" tanya Rhea yang kemudian berubah menjadi tangisan.


"Kau jahat hiks hiks.. Hahaha bukan kau yang jahat tapi aku hahaha iya aku yang jahat." Rhea duduk dilantai lalu tertawa dan menangis bersamaan.


"Sialan, dia gila!" batin Alex tak menyangka.


Tak berapa lama security masuk keruangan Alex bersama Sandi.


"Kenapa kau memanggil security lagi? padahal aku tak menganggumu Hahaha."


Sandi yang baru masuk pun terkejut bukan main "Tuan, dia gila?"


"Ya, aku juga terkejut. apa kau sudah menghubungi dokter Anjas?"


"Sudah Tuan, dia baru perjalanan kesini."


Alex mengangguk paham, "Kalian berdua, bawa dia ke klinik dan jika perlu ikat dia." perintah Alex karena merasa Rhea terlalu bahaya untuk dilepaskan begitu saja.


"Jangan mendekat!" kedua security Alex berhenti kala Rhea menodongkan sebuah pisau yang berlumuran darah kering membuat semua orang yang ada disana terkejut.


"Siapa yang telah Ia bunuh?" tanya Sandi.


"Entahlah, setelah dokter datang kau pergi kerumahnya dan periksa darah siapa ini!"


"Baiklah Tuan."


Kedua security Alex pun berhasil menyingkirkan pisau yang dibawa Rhea dan kemudian membawa Rhea ke klinik yang ada dikantor Alex.


Beruntung dokter Anjas segera datang, memberikan obat bius hingga membuat Rhea tak sadarkan diri.


"Dia mengalami depresi parah, serta terjangkit baby blues, apa dia baru saja melahirkan?" tanya dokter Anjas.


"Sepertinya iya." balas Alex ragu.


"Lebih baik segera bawa dia kerumah sakit jiwa. jangan dekatkan anaknya, karena itu bisa membahayakan nyawa anaknya." jelas Anjas yang membuat Alex terkejut.


Pisau dan tangan yang berlumur darah, apa jangan jangan itu darah putrinya?

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2