
Seperti biasa, pagi ini Ella bangun lebih awal dari Alex karena Ia harus memenuhi kewajiban sebagai seorang istri, menyiapkan sarapan untuk Alex.
Namun nyatanya pagi dimansion baru berbeda dengan pagi dirumah sederhananya.
Ella baru menuruni tangga saja sudah melihat para Maid mulai bekerja padahal ini masih pukul 5 pagi, ada yang bersih bersih, mencuci baju bahkan memasak sarapan.
Lalu apa yang harus dilakukan Ella? satu pertanyaan yang membuat Ella sangat binggung karena saat Ella memasuki dapur sudah mendapatkan protes dari maid agar Ella kembali saja kekamar dan menunggu mereka selesai bekerja.
"Nyonya lebih baik kembali ke kamar saja, jika sudah siap nanti saya akan memanggil Nona."
"Tapi aku hanya ingin membantu memasak." protes Ella.
"Tidak boleh Nyonya, jika Tuan tau bisa bisa kami semua dipecat." kata Maid itu yang langsung membuat Ella menyerah.
Mana tega Ella membiarkan Alex memecat mereka?
Karena kesal akhirnya Ella kembali lagi kekamar. Ella memasuki kamar dan Alex sudah tak ada diranjangnya.
Baru selangkah masuk, Alex sudah keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melilit dipinggangnya.
"Kenapa sayang? pagi pagi kok udah bete gitu?" tanya Alex melihat raut wajah Ella yang tak bersahabat.
"Kamu ngelarang aku masak didapur?" tanya Ella terdengar sedikit menuduh.
"Enggak kok, kenapa emangnya?"
"Para maid dibawah ngelarang aku masuk kedapur, padahal aku cuma mau bantuin bikin sarapan, mereka takut kalau kamu tau trus marah." adu Ella dengan wajah kesal.
Alex terkekeh pelan "Aku nggak pernah ngelarang mereka, mungkin mereka tau kalau nyonya Alex yang cantiknya luar dalam ini lagi hamil jadi nggak mau kalau sampai kamu kecapekan." jelas Alex dengan sedikit rayuan membuat Ella tersipu malu.
"Apaan sih, padahal aku juga nggak bakal kenapa napa."
"Hmm, dari pada marah marah gitu mendingan bantuin suami kamu yang masih telanjang ini, ambilin baju trus pakein."
Ella terkekeh mendengar Alex mengatakan itu, segera Ella menuju walk in closet lalu keluar membawa setelan kantor Alex.
"Nanti mas pulangnya malem ya?" tanya Ella setelah selesai memakaikan baju Alex.
"Iya kayaknya, harus kejar deadline yang sempet ketunda gara gara sakit kemarin." jelas Alex yang langsung mendapatkan pukulan di dadanya.
"Ck, pura pura sakit." protes Ella membuat Alex terkekeh.
"Udah lah, nggak usah di inget inget, ntar bikin yayank ku ini ngambek lagi."
Ella kembali terkekeh, akhir akhir ini Alex memang sering membuat lelucon untuknya.
Alex dan Ella pun turun menggunakan lift yang ada dimansion itu. sengaja memang Alex menyediakan lift untuk akses naik kekamar agar Ella tak kelelahan naik turun tangga. namun nyatanya Ella masih naik turun melewati tangga, bagi Ella naik turun tangga termasuk olahraga tapi tidak untuk Alex yang selalu khawatir dengan Ella.
"Duh bahagianya pengantin baru." suara Bik Sumi tampak menggoda keduanya, Alex hanya senyum menanggapi godaan Bik Sumi sementara Ella hanya tersipu malu.
"Maaf ya bik." kata Ella tiba tiba.
__ADS_1
"Maaf kenapa Non?" tak cuma Bik Sumi yang heran Alex pun juga heran mendengar Ella tiba tiba meminta maaf.
"Kemarin udah mecat Bik Sumi, kalau aja Ella tau ternyata Mas Alex bohong mungkin Ella juga tak akan mecat Bik Sumi." jelas Ella tertunduk malu.
Bik Sumi tersenyum tak menyangka "Ya ampun Non, Bibik kira kenapa! nggak apa apa Non, Bik Sumi ngerti." kata Bik Sumi.
"Makanya sayang, besok lagi jangan suka gegabah ngambil keputusan." kekeh Alex yang langsung mendapat tatapan tajam Ella.
"Ck, gara gara kamu mas kalau lupa!"
"Iya iya, mas yang salah."
"Udah Non, Bik Sumi beneran nggak apa apa! sekarang lebih baik Non Ella sama Den Alex sarapan dulu." kata Bik Sumi.
Ella mengangguk dan segera melayani Alex,
Selesai sarapan, Ella mengantar Alex sampai didepan mansion. Disana sudah ada Sandi yang menunggu Alex.
"Pagi Tuan, Nona." Sapa Sandi.
"Pagi juga, oh ya gimana kabar Nisa?" tanya Ella.
"Sudah membaik Nona."
"Syukurlah jika begitu, kapan kapan ajak Nisa main kesini." kata Ella.
"Baiklah Nona."
Alex mencium kening Ella "Mas berangkat dulu, kamu dirumah jangan capek capek, kasian baby kita."
Alex terkekeh geli mendengar panggilan baru yang Ella ucapkan.
Setelah mobil yang ditumpangi Alex melaju, Ella kembali kedalam mansion sambil memikirkan apa yang harus Ia kerjakan setelah ini.
Ella memasuki kamar dan mendengar ponselnya berdering, segera menyambar ponsel nya.
"Mas Dedy? kok tumben." gumam Ella segera menggeser tombol hijau untuk menerima panggilan.
"Halo mas?"
"Ella, kamu harus segera kerumah pakde." kata Mas Dedy didalam telepon.
"Pakde kenapa mas?" tanya Ella panik.
"Pakde sakit, kemarin jatuh dari motor."
"Ya Allah, iya mas.. Ella segera kesana." Balas Ella panik.
Setelah memutus panggilannya, Ella mengenakan pakaian seadanya lalu bergegas turun.
"Non Ella mau kemana?" tanya Bik Sumi melihat Ella terlihat panik.
__ADS_1
"Pakde kecelakaan Bik, Ella harus segera kesana!"
"Non tenang dulu, biar Bik Sumi temenin ya?"
"Nggak perlu Bik, biar dianter pak Tulus Aja." kata Ella mengingat Pak Tulus sopir Ella juga kembali bekerja disini.
"Ya udah Non, hati hati! jangan lupa kabarin Den Alex Non." teriak Bik Sumi kala Ella sudah berjalan keluar.
Ella yang berlari keluar sempat mendengar teriakan Bik Sumi, barulah Ella sadar jika Ia juga harus mengabari suaminya itu agar nanti tidak khawatir jika pulang dan tak menemukan dirinya di mansion.
"Non kita mau kemana?" tanya Pak Tulus.
"Kita ke kampung jambu ya pak, kerumah pakde Ella." jawab Ella.
"Siap Non."
Dalam perjalanan, Ella mencoba menghubungi Alex namun tak mendapat jawaban.
"Mungkin mas Alex sibuk." batin Ella kembali memasukan ponselnya didalam tas.
Sesampainya didepan rumah pakde, Ella segera menghambur masuk kedalam rumah pakde.
"Asaalamualaikum." Ella mengucapkan salam kala memasuki rumah Pakde.
"Waalaikumsalam, Ella kamu kesini nak?" tanya Budhe terlihat terkejut melihat kedatangan Ella apalagi melihat perut Ella yang sudah membuncit.
"Budhe, apa kabar?'' tanya Ella memeluk budhe.
"Budhe baik sayang, jadi ini calon cucu budhe." Budhe terlihat mengelus perut buncit Ella.
"Iya Budhe, kata mas Dedy, pakde kecelakaan?" tanya Ella.
"Iya kemarin jatuh dari motor, tapi nggak apa apa kok cuma lecet aja."
Budhe mengajak masuk Ella, tampak Pakde berbaring diatas ranjang dan Ella melihat luka lecet yang mulai mengering.
"Pakde.."
"Ella, kamu datang nak?" tanya Pakde yang berusaha bangun.
"Pakde tiduran aja nggak apa apa."
Pakde hanya mengangguk lalu melihat perut Ella yang sudah membuncit.
"Ini calon cucu kita pak." kata Budhe.
Pakde tersenyum lalu mengelus perut Ella "Coba aja ayah kamu masih ada pasti seneng banget bentar lagi punya cucu." kata Pakde yang tiba tiba membuat Ella sedih.
Sedih karena dulu Ella tak bisa menyelamatkan nyawa Ayahnya.
Jika saja Ia dulu datang membawa uang lebih cepat untuk Ayah, mungkin Ayah masih bisa disembuhkan dan masih bersamanya sampai sekarang.
__ADS_1
BERSAMBUNG...
LIKE VOTE DAN KOMEN YUKKK BIAR AUTHORNYA SEMANGAT NULIS 😁