ISTRI KEDUA TUAN ALEX

ISTRI KEDUA TUAN ALEX
159


__ADS_3

Riska pikir, memijat suaminya hanya beberapa menit saja namun nyatanya sudah 2 jam lebih bahkan tangan Riska sudah pegal namun suaminya masih minta pijat.


Setiap kali Riska menghentikan pijatannya langsung saja suara protes Vano mengema membuat Riska kembali memijat Vano.


Hingga Vano tertidur barulah Riska menghentikan aktifitasnya.


"Ampun deh, ada apa sih sama Mas Vano. aneh banget hari ini." gerutu Riska yang kini sudah memasuki kamar mandi untuk mandi sebelum Ia membuat makan malam.


Saat dikamar mandi, mata Riska tak sengaja menatap pembalut yang ada disamping sampo miliknya membuat Ia ingat jika bulan ini Ia belum datang bulan lagi.


Bulan lalu Ia datang bulan saat malam pengantin nya dengan Vano dan sekarang Ia belum mendapatkan tamu bulanannya lagi padahal sudah hampir telat 10 hari.


"Jangan jangan gue.." Riska membegap mulutnya. sebenarnya Ia sedikit ragu untuk mengatakan jika dirinya hamil takut salah dan mengecewakan pastinya namun tak ada salahnya jika memeriksanya lebih dulu.


Selesai mandi, Riska buru buru keluar rumah untuk pergi ke apotik membeli tespack.


Sesampainya dirumah, Riska dikejutkan oleh Vano yang duduk di ruang tamu sambil menyedekapkan tangannya, jika dilihat sepertinya Vano tengah marah.


"Darimana?" tanya Vano dingin.


Riska sedikit gugup, Ia tak ingin Vano tau jika dirinya baru saja membeli tespack. Riska ingin mengecek lebih dulu sebelum mengatakan kabar bahagia pada Vano ,ia tak ingin Vano kecewa jika hasilnya negatif.


"Eum, aku baru aja keluar habis beli eh em anu mas." Riska gugup membuat Vano penasaran dan mendekati Riska yang membawa kantong kecil.


"Beli apa? coba aku lihat?" tanya Vano hendak merebut kantong plastik yang Riska bawa namun seketika Riska menyembunyikan dibelakang tubuhnya.


"Jangan mas, cuma barang nggak penting kok!" balas Riska.


"Barang nggak penting apa? suami kamu mau lihat!" kata Vano dengan nada kesal dan akhirnya Riska pun menyerah lalu memberikan kantong plastik itu pada Vano.


"Tespack?" Vano mengeryit heran awal melihat Riska membeli beberapa tespack lalu senyum nya pun mengembang.


"Sayang kamu hamil?" tanya Vano senang.


"Aku baru mau cek dulu mas, soalnya udah telat 10 hari. apapun hasilnya jangan kecewa ya mas." pinta Riska.


"Iya sayang, iya.. ya udah sana kamu cek dulu." kata Vano memberikan tespack pada Riska.


Vano pun membuntuti Riska bahkan Hingga dirinya juga ingin ikut masuk ke dalam kamar mandi yang membuat Riska protes seketika.

__ADS_1


"Ih mas ngapain mau ikut masuk!"


"Ya aku mau lihatlah sayang."


"Nggak boleh malu dong aku, mas nunggu diluar aja nggak usah ikut masuk." kata Riska yang menimbulkan decakan kesal Vano.


"Lagian ngapain sih nggak boleh ikut, orang aku juga udah lihat semuanya." gerutu Vano yang langsung membuat Riska tersipu.


"Pokoknya mas diluar aja. kalau ikut aku nggak jadi cek nih." ancam Riska.


"Iya udah iya, aku diluar." kata Vano mengalah membuat Riska menutup pintu kamar mandinya.


Cukup lama Vano menunggu akhirnya Riska keluar juga namun yang membuat Vano heran wajah Riska terlihat kecewa, apa artinya dia masih belum hamil? batin Vano.


"Gimana sayang? garisnya ada berapa?" tanya Vano mendekati Riska dan bertanya penuh kelembutan.


"Jangan kecewa ya mas." kata Riska menunduk.


Vano akhirnya mengerti lalu Ia memeluk Riska "Ya sudah sayang, mungkin ini masih belum rejeki kita jadi ya nggak apa apa, nanti kita usaha lagi ya." kata Vano lembut sambil mengelusi rambut Riska sementara Riska malah terkekeh.


"Kok kamu ketawa?" tanya Vano heran. Riska pun segera memberikan 3 tespek pada Vano yang hasilnya semua garis dua.


Baru ingin mencium bibir Riska tiba tiba Vano kembali merasakan mual hingga dirinya harus kembali ke kemar mandi.


"Berarti mungkin ini tanda kehamilan aku mas, yang ngrasain kamu bukan aku, pantesan kamu minta nya aneh aneh." kata Riska yang kini menemani suaminya didepan wastafel.


"Aku juga heran, nggak biasanya minta aneh aneh kayak tadi apalagi ngerasa mual gini." keluh Vano.


"Kamu pinter ya nak, dikasih ke Papi biar Mami nggak ngerasain susah." kata Riska sambil mengelusi perutnya.


Vano pun tersenyum lalu ikut mengelusi perut Riska yang masih rata.


"Oh gitu ya, Papi yang disiksa nih, oke nggak apa apa yang penting kamu sehat ya nak didalam perut mama." kata Vano membuat Riska tersenyum geli.


Setelah mengetahui kehamilan Riska, Vano langsung saja mengajak Riska pergi ke supermarket untuk membeli susu kehamilan dan beberapa camilan tak lupa membeli vitamin ibu hamil.


Sepulang dari belanja, Vano mengajak Riska mendatangi klinik dokter Dina. meskipun Vano juga seorang dokter namun bukan bidangnya memeriksa orang hamil.


"Wow, hebat sekali kalian baru satu bulan menikah sudah hamill." puji Dina.

__ADS_1


"Tentu saja, jangan pernah meremehkan otongku." kata Vano vulgar yang langsung mendapatakn cubitan dari Riska. Bisa bisanya Vano berkata seperti itu didepan Dina.


"Ya ya, asal kamu jangan seposesif kakakmu saja agar aku tak pusing nantinya."


"Bukankah dia juga kakakmu!" balas Vano yang mengerti maksud dokter Dina adalah Alex.


Dokter Dina hanya terkekeh "Meskipun suami mu yang merasakan tanda kehamilan namun kau juga harus tetap menjaga tubuh dan juga mulai mengatur pola makanmu Nona." kata Dina yang langsung diangguki oleh Riska.


"Jangan bekerja terlalu berat dan jangan stres agar kandunganmu sehat dan baik baik saja." imbuh dokter Dina yang langsung membuat Vano tersenyum senang, entah apa yang Ia pikirkan.


"Baiklah dokter."


"Dan untuk kamu dokter Vano yang terhormat, mulai nanti malam kau harus berpuasa, cukup seminggu sekali sampai kandungan nya kuat." kata Dina yang langsung membuat Vano berdecak.


"Ck, aku juga tau tak perlu memperjelas seperti itu." kata Vano.


"Bagus jika seperti itu," kekeh Dina.


Kini Vano dan Riska pun sudah berada didalam mobil untuk pulang kerumah.


"Berarti sekarang saatnya buat kamu menepati janji mu." kata Vano tiba tiba.


"Janji apa?"


"Bisa bisa nya lupa!" kesal Vano "Kamu janji untuk berhenti kerja kan?"


Riska pun akhirnya ingat "Iya iya mas, kalau masalah kerja aja langsung garcep banget."


"Ya iya dong." Vano tertawa.


"Dan kamu juga harus janji mas selalu inget ucapan dokter Dina, mulai nanti malam harus puasa."


"Ck, aku kan nggak pernah janji masalah kayak gitu." balas Vano santai.


"Mas, tapi kata dokter Dina kamu harus puasa dulu." kesal Riska.


"Kamu lupa kalau suami kamu juga dokter, aku juga lebih ngerti kali sayang," balas Vano dengan senyuman nakal membuat Riska menggeleng tak percaya.


menyebalkan...

__ADS_1


__ADS_2