ISTRI KEDUA TUAN ALEX

ISTRI KEDUA TUAN ALEX
209


__ADS_3

Seminggu berlalu...


Pagi ini adalah hari yang spesial untuk Rangga dan Bianca dimana keduanya akan mengadakan ijab kabul serta resepsi pada siang harinya.


Meski acara pernikahan diadakan disebuah hotel bukan di resort seperti Vano dan Alex kemarin namun keduanya terlihat sangat bahagia.


*Saya terima nikah dan kawin nya Bianca Neswari binti Aryo Argantara dengan mas kawin tersebut dibayar tunai.


Sah


Sah


Sah..


Alhamdulilah*...


Lantunan Doa pun terucap seusai ijab dan kabul.


Bianca segera mencium punggung tangan Rangga setelah Rangga menyematkan cincin dijari manis Bianca.


Namun saat Rangga hendak mencium kening Bianca,


Ukhuk... ukhuk... Suara batuk seseorang yang teramat keras mengagalkan niat Rangga mencium kening Bianca.


Semua mata yang ada diruangan itu pun langsung memandang ke arah pria yang berada dibelakang sendiri yang baru saja batuk dan terdengar sangat keras.


"Maaf, aku akan keluar." kata pria itu tanpa merasa bersalah sedikitpun sementara wanita hamil yang ada disamping pria tadi terlihat malu melihat tingkah usil suaminya yang tak tahu waktu dan tempat.


Ya, siapa lagi jika bukan Vano.


"Dasar celana kuning, lihat saja akan ku balas nanti." geram Bianca.


"Bagaimana nih? mau lanjut nggak acara cium keningnya?" tanya penghulu menggoda Rangga.


"Nggak usah pak, nanti malam saja dikamar biar nggak ada yang ganggu." balas Rangga yang sontak membuat semua orang terkekeh tak terkecuali Bianca yang tersipu bahkan memukul lengan Rangga karena menahan malu sekaligus senang.


"Rese banget tuh orang," gerutu Alex yang juga ada disana.


"Vano mau bales dendam kali mas, dulu kan pas mau nyium kening juga diganggu sama Baby Liu sekarang gantian dia yang ganggu." jelas Ella mengingatkan membuat Alex langsung terbahak mengingat beberapa bulan yang lalu saat pernikahan Vano dan Riska.


Selesai ijab kabul, acara dilanjutkan dengan resepsi siang itu juga. Karena Rangga dan Bianca ingin segera selesai dan mereka bisa istirahat lebih awal, tentu untuk menikmati momen malam pertama.


Tamu yang datang cukup banyak, karena tak hanya keluarga dan kerabat namun juga teman teman Bianca maupun Rangga.


Disana juga ada Dina, datang karena memang Dia diundang oleh Bianca sendiri. Ya nyatanya perminta maafan Dina waktu itu di tanggapi Baik oleh Bianca yang bukan tipe wanita pendendam.


"Mau makan mas?" tanya Riska.


"Nanti aku ambil sendiri."

__ADS_1


"Ya udah aku kesana dulu ya, mau ngobrol sama adek aku." pamit Riska sambil menunjuk segerombolan gadis yang tak lain adalah saudara Riska.


Vano hanya mengangguk saja.


Karena bosan, Vano pun mengeluarkan ponselnya untuk bermain game, namun terganggu kala ada kaki yang menendangnya dibawah sana.


"Siall shhhh."


"Lemah banget, cuma ditendang aja ngeluh." ejek suara dingin yang tak lain adalah Alex.


Seketika wajah Vano sumringah, didekati oleh Alex adalah kebahagiaan untuknya.


"Eh ada abang gue juga ternyata, kirain nggak dateng." celetuk Vano membuat Alex memutar bola matanya malas, jelas jelas sejak tadi Vano melihatnya.


"Bocah banget Lo, gangguin acara sakral. mupeng lo!" ketus Alex mengingat kejadian didalam ruangan tadi.


"Ck, cuma kayak gitu mah udah biasa aja kali. tiap hari juga dapet lebih dari itu!" kata Vano dengan gaya tengilnya.


"Siap siap aja Lo, dibales sama Bianca."


Vano hanya terkekeh "Bahkan sebelum dia bales, gue yang akan maju lebih dulu."


"Nggak usah macem macem!" geram Alex.


"Ampun bos besar." ejek Vano menambakan kekesalan Alex.


Alex sudah mengira jika Vano akan mengganggu malam pertama Bianca seperti menganggu nya waktu itu saat bersama Ella. dan kali ini Alex tak akan membiarkan itu semua terjadi.


Hening keduanya hingga seorang wanita duduk disamping Alex.


"Kirain nggak datang." ucap Alex sambil mengacak rambut wanita yang tak lain adalah Dina.


"Ck, apa sih gue bukan anak kecil lagi." sentak Dina tak menyukai perlakuan Alex padanya.


Dina dan Bianca memang berbeda, meskipun Alex memperlakukan kedua adiknya sama namum sifat mereka berbanding balik.


Meskipun Bianca tomboy namun Ia menyukai jika Alex memperlakukan dirinya dengan lembut tidak untuk Dina yang notaben nya wanita hangat dan lembut namun tak pernah suka diperlakukan lembut oleh Alex.


Entahlah perbedaan itu yang kadang membuat Alex binggung namun tetap saja Alex berkewajiban menjaga kedua adiknya yang tak sedarah itu.


"Heh celana kuning." Dina memanggil Vano yang sudah memucat sejak kedatangan Dina sedari tadi.


Yap, memang inilah yang sedari tadi ditakutkan oleh Vano, jika Dina sampai mengatakan apa yang terjadi kemarin dengan Alex, bisa habis dia.


Vano masih tak mengubris, Ia malah sibuk dengan ponselnya.


"Celana kuning?" tanya Alex heran dengan ucapan Dina.


"Ke toilet dulu lah, mendadak perut gue mules." kata Vano segera berajak pergi dari sana membuat Dina terkekeh.

__ADS_1


"Kabur dia."


"Apa sih? bikin penasaran." tanya Alex.


"kepo."


"Udah jadi baikan sama Bi?" tanya Alex.


"Udah lah." balas Dina datar.


Alex tersenyum lalu kembali mengelus rambut Dina "Pinter banget nih adek abang yang satu ini."


Dina mendelik kesal "Udah dibilang jangan kayak gitu!" kesal Dina yang hanya di kekehi oleh Alex.


Flashback on..


"Datang nggak ke lamaran nya Bianca?" tanya Alex saat mendatangi klinik Dina sehari sebelum Bianca lamaran.


"Emangnya di undang?" tanya Dina.


"Datang aja, kalau mau!"


"Enggak lah, nanti Bianca nggak suka aku datang." balas Dina acuh.


"Mau sampai kapan kayak gini? kalian udah dewasa, mama kalian juga udah nggak ada. sekarang waktunya berdamai." jelas Alex membuat Dina menghembuskan nafas lelah.


"Aku nggak tau apa Bi bisa maafin kesalahan ku sama Mama dulu." keluh Dina sesaat setelah terdiam.


"Kamu cukup tau Bi bukanlah orang pendendam, jadi kalau bisa diperbaiki kenapa nggak?" kata Alex yang lagi lagi membuat Dina menghembuskan nafas berat.


Flashback off...


Dan Alex tak menyangka, nasihat nya diterima oleh Dina. melihat Dina datang ke acara nikahan Bianca dan juga saat Dina tersenyum ke arah Bianca dan juga dibalas senyuman oleh Bianca sudah cukup membuat Alex lega karena keduanya sudah berdamai.


Alex hanya ingin orang tua mereka damai di alam sana saat melihat tak ada lagi permusuhan antar saudara, yah meskipun bukan saudara sedarah namun tetap saja mereka melalui masa kanak kanak bersama.


"Ada pria tampan, mapan, dan punya perusah-"


"STOP! jangan lagi, aku nggak mau." kata Dina sebelum Alex menyelesaikan ucapannya.


Alex terkekeh "Kapok huh?"


"Enggak, mendingan nyari sendiri lebih sesuai kriteria." ejek Dina sambil menjulurkan lidahnya.


"Ck, tetep aja harus lolos seleksi dari aku dulu."


Dina menatap Alex tak percaya "Dasar Kakak nyebelin!" Kata Dina lalu pergi meninggalkan Alex yang terkekeh.


Yeah, pertama kalinya Dina memanggilnya kakak.

__ADS_1


Bersambung....


Part selanjutnya mau ngerjain Vano ahh biar kapok nggak gangguin orang malam pertama 😁😂


__ADS_2