ISTRI KEDUA TUAN ALEX

ISTRI KEDUA TUAN ALEX
190


__ADS_3

Rangga menutup teleponnya, menghela nafas dalam dalam saat Alex memintanya ke ruangan nya. Pasti masalah perjodohan dengan Dina. lalu Rangga harus mengatakan apa jika Dia sampai sekarang belum bisa membuka hatinya untuk wanita manapun termasuk Dina.


Hati dan pikirannya masih terjebak dan hanya ada Acca disana.


Rangga memasuki ruangan Alex dan ada wanita berdiri disana namun betapa terkejutnya Rangga melihat siapa wanita itu.


Wanita yang selalu Ia rindukan, wanita yang selalu memporak poranda kan hatinya. wanita yang beberapa tahun yang lalu meninggalkannya karena harus melanjutkan pendidikannya dan wanita yang sampai saat ini masih selalu ada dihatinya.


Acca...


Rangga menatap Acca begitu juga dengan Acca yang menatapnya dengan tatapan tak percaya.


Hingga suara Alex mengejutkannya keduanya.


"Kenapa kalian saling menatap seperti itu? apa kalian sudah saling mengenal?" tanya Alex curiga melihat sikap aneh kedua orang yang ada didepannya itu.


"Ti-tidak!" keduanya menjawab bersamaan dan sedikit gugup membuat Alex paham akan situasinya.


"Ck, kenapa dia harus menjawab sama seperti ku." batin Rangga kesal.


"Ck, aku curiga, jangan jangan-"


"Sudahlah kak, lebih baik segera berikan aku pekerjaan nya." kata Bianca memotong ucapan Alex.


Alex mengangguk, "Untuk sementara kau akan menjadi asisten Rangga," kata Alex yang membuat keduanya terkejut.


"Ta-tapi kak...." Bianca hendak protes namun takut jika Alex malah curiga.


"Katamu tadi kau minta kerja dilapangan, nah Rangga ini salah satu manager yang sering bertugas dilapangan, kenapa kau masih protes saja!" kata Alex sedikit galak membuat Bianca bungkam.


"Dan untukmu Rangga, mulai sekarang setiap kau ada pekerjaan keluar kau harus menggunakan mobil kantor, harus dan tidak ada bantahan lagi." kata Alex pada Rangga. Memang sejak pertama mulai bekerja, Rangga sudah diberikan mobil dari kantor jika ada pekerjaan lapangan yang harus Ia datangi namun Rangga selalu menolak dan lebih memilih menaiki motornya sendiri.


Dan kini Rangga terpaksa menuruti keinginan bosnya itu.


"Baiklah pak." balas Rangga patuh.


"Sekarang bawa dia dan berikan pekerjaan untuknya. perlakukan seperti karyawan lainnya jangan hanya karena dia adikku lalu kau membuatnya spesial disini." jelas Alex yang membuat Rangga menjadi tau jika Bianca adalah adik Alex dan itu alasan Bianca disini.


Padahal tadi Rangga pikir Bianca disini karena mengetahui Rangga bekerja disini dan membuntutinya namun ternyata Rangga salah.

__ADS_1


"Baiklah pak," kata Rangga lalu keluar diikuti oleh Bianca.


Rangga memasuki sebuah ruangan, dimana ada dua meja dan kursi yang sedikit berjarak namun saling berhadapan.


Rangga mengambil sebuah berkas dan meletakan di meja kosong.


"Ini meja kerjamu, dan ini berkas yang harus kau pelajari sebelum kita berangkat ke lapangan nanti jam 11." kata Rangga dingin.


Namun dibalik sikap dingin Rangga, Sebenarnya sedari tadi Rangga selalu mencuri curi pandang ke arah Bianca, apalagi penampilan Bianca yang berubah serta Bianca kini yang terlihat semakin cantik membuat hari Rangga pasti akan sedikit berat, ya berat untuk move on dari Bianca.


Bianca hanya mengangguk patuh, tidak menjawab ataupun protes, Ia langsung mempelajari berkas tanpa bersuara, padahal dari dalam baik jantung maupun hatinya sedang berdisko karena pertemuannya dengan Rangga mantan kekasih yang masih belum Bianca lupakan.


"Jika ada yang tidak kau pahami, tanyakan saja." kata Rangga.


Bianca berdiri, Rangga pikir Bianca akan mendekat ke arahnya untuk bertanya, namun ternyata Rangga salah.


"Ak-aku ingin ke toilet." kata Bianca lalu keluar begitu saja tanpa menunggu jawaban Rangga.


Rangga pun hanya menghela nafas, "Apa aku terlalu keras padanya? mengapa dia malah terlihat takut, padahal aku hanya menujukan sedikit kekesalan ku karena dia mencampakanku!" gerutu Rangga.


Sementara didalam kamar mandi, Bianca terlihat merutuki dirinya sendiri. sepertinya mengikuti perintah Alex bukan lah hal yang tepat. seharusnya Ia tadi membantah saja jika bekerja satu bagian dengan Rangga. Tapi sekarang semua sudah terlanjur, bagaimana Ia bisa fokus bekerja jika jantungnya saja berdegup saat bersama Rangga.


Dulu Bianca pikir, Ia memutuskan hubungannya dengan Rangga karena tak ingin menjalani LDR. Bianca merasa bisa segera move on dari Rangga Namun nyatanya hingga sekarang pun dihatinya masih ada Rangga seorang, itu pula penyebab, Bianca menolak keras perjodohan Alex karena Bianca masih berharap bisa bersama lagi, namun dengan sikap dingin Rangga apa bisa Ia kembali pada Rangga lagi?


"Bodoh, bodoh, bodoh!" umpat Bianca sambil memukuli kepalanya.


Bianca segera berdiri, lalu keluar dari kamar mandi, Ia merasa sudah terlalu lama dikamar mandi.


Bianca memasuki ruangannya lagi dan melihat Rangga menatapnya sambil bersedekap tangan.


"Kenapa lama sekali? jangan pernah main main ditempat kerja, jangan kau kira karena adiknya yang punya perusahaan kau mendapatkan perlakuan istimewa tidak, itu tidak akan pernah terjadi!" omel Rangga.


"Baik pak, maafkan saya." kata Bianca sedikit menunduk.


"Pak? kau pikir aku setua itu sampai memanggilku pak." protes Rangga.


"Maaf mas saya pikir ini dikantor jadi-"


"Mas? kau pikir aku mas mu!" protes Rangga memotong ucapan Bianca.

__ADS_1


"Lalu aku harus memanggilmu apa? sayang?" kesal Bianca yang langsung saja membuat pipi Rangga merona, astaga Bianca tak menyangka panggilan sayang masih bisa membuat Rangga merona, apa ini tandanya Rangga masih mencintainya pikir Bianca.


"Ekhem, jangan ucapkan panggilan haram itu lagi didepanku." kata Rangga yang langsung membuat Bianca mencebik.


"Padahal tadi dia tersipu malu." gerutu Bianca.


"Apa katamu?"


"Tidak, aku tidak mengatakan apapun!"


"Ekhem, jadi mulai sekarang panggil saja aku Angga, ya Angga."


"Lalu kau juga memanggilku Acca?" goda Bianca karena Angga dan Acca adalah samaran nama sayang mereka berdua.


Rangga melotot tak percaya membuat Bianca hanya terkekeh.


"Ini dikantor dan kau atasan ku sekarang mana bisa aku memanggilmu dengan panggilan sayang kita dulu." kata Bianca tenang.


"Kau pikir siapa yang ingin dipanggil sayang lagi huh, kau terlalu percaya diri nona." kata Rangga tiba tiba kesal.


Bianca malah memutar bola matanya malas, padahal sedari tadi yang meributkan masalah panggilan Rangga kenapa sekarang Rangga pula yang sewot.


"Panggil aku pak, ya panggil aku pak karena aku atasanmu sekarang." kata Rangga.


"Baiklah Pak Angga."


"Kau mengodaku?" sewot Rangga.


"Tidak, aku hanya memanggil namamu." balas Bianca.


"Jangan memanggil Angga lagi, cukup pak saja."


"Baiklah bapak."


"Kau mengejek ku!" protes Rangga lagi membuat Bianca geleng geleng kepala tak percaya.


"Ada apa dengan pria ini, kenapa sensitif sekali padaku."


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2