
Vano membanting pintu mobilnya sekeras mungkin, Ia sedang kesal saat ini, sangat kesal sekali.
Bagaimana Tidak kesal mengingat jawaban terakhir Riska sebelum panggilan teleponnya terputus.
"*Kita kan bentar lagi mau nikah, tinggal seminggu lagi, jadi harusnya kita dipinggit nggak ketemu dulu sampai hari H, apa kamu mau kalau kita melanggar adat trus jadi batal nikah, udah banyak sih kejadian kayak gitu, kalau kamu maunya gitu ya nggak apa apa aku kesana sekarang tapi jangan salahin aku kalau nanti acara kita batal."
"Oh ya, kalau masalah kamu digodain sama cewek lain pas lagi makan kamu liatin aja cincin nikah kita yang udah kamu pake, aku yakin mereka pasti langsung kabur*."
Dan dengan sangat terpaksa Vano mengiyakan apa yang Riska katakan. Meskipun sekarang Ia jadi kesal tapi ya demi kelancaran pernikahan dengan Riska sepertinya Ia harus sedikit bersabar dan mengalah.
Lagipula Vano juga masih awam dengan pernikahan mana tau dia kalau ada tradisi pinggit seperti yang Riska katakan tadi, meskipun kesal namun Vano tetap menurut dari pada nanti Ia batal nikah.
Dan sekarang Vano menghentikan mobilnya tepat didepan sebuah mansion yang sangat besar dan mewah. mansion siapa lagi kalau bukan milik Alex.
Vano melirik ke arah jam tangannya, Jadwal prakteknya masih 3 jam lagi sepertinya datang kesini adalah waktu yang tepat karena bisa sarapan disini dan juga sekedar berbincang dengan kakak sepupunya untuk membantunya melancarkan acara pernikahan nya dan Riska atau mungkin sedikit menggoda calon adik iparnya juga bukan ide yang buruk dari pada Ia dirumahnya merasakan kesal karena tak ada Riska disana.
Dengan penuh senyuman jahat, Vano keluar dari mobilnya dan berjalan santai memasuki mansion.
"Wah sarapan nya sudah siap nih, kebetulan banget nih perut lagi laper lapernya." celetuk Vano kala melihat Bik Sumi sedang menata makanan dimeja makan.
"Eh ada Den Vano, iya nih Den duduk sini biar bibik panggilkan Non Ella sama Den Alex dulu."
"Siap deh Bik." Vano segera duduk disalah satu kursi melihat lihat menu yang ada dimeja sembari menunggu Alex dan Ella turun.
Tak berapa lama Alex dan Ella turun, sementara Baby Liu masih dikamar ditemani oleh Bik Sumi.
Seketika raut wajah malas terlihat di wajah Alex melihat sepupunya yang tak tahu malu sudah duduk disana.
"Lho ada Dokter Vano, kapan datang?" tanya Ella ramah sementara Alex hanya diam.
"Ck, jangan manggil Dokter dong, kan bentar lagi aku bakal jadi kakak ipar kamu." balas Vano cengengesan.
"Eh iya lupa, ya udah manggilnya mas aja kalau gitu." balas Ella.
"Bukan nya mas panggilan sayang kamu ke aku, masa iya kamu juga mau manggil dia gitu? apa kamu sayang juga sama dia?" tanya Alex dengan kesal.
__ADS_1
"Astaga, posesif banget dah abang gue ini, untung masih abang gue, kalau enggak udah gue cium beneran deh." goda Vano membuat Alex kesal ingin melempar sendok ke arah Vano "Ampun bang jago.." teriak Vano.
"Udah mas, kamu ini apaan deh cuma masalah panggilan aja diribetin," kata Ella namun wajah Alex masih saja kesal "Iya iya aku manggilnya kakak aja biar sama kayak kak Rangga, manggil nya mas buat suamiku ini aja." imbuh Ella lalu tersenyum ke arah Alex membuat Alex pun ikut tersenyum.
"Makasih sayang..."
"Ck malah ngeliat orang bucin kan." sindir Vano kesal.
"Lagian siapa suruh sih pagi pagi kesini?" tanya Alex dengan nada kesal.
"Minta sarapan lah, masa iya mau ngapelin calon adik ipar."
"Lah memangnya nggak di buatin sarapan sama Mbak Riska?" tanya Ella mengingat setiap hari Riska lah yang memasak disana.
"Gara gara dipinggit gue jadi nggak dimasakin sama calon istri gue." curhat Vano yang seketika membuat Alex terbahak.
"HAHAHA, jadi kalian lagi dipinggit, pantes aja muka lo nggak enak dipandang." ejek Alex.
"Ajir, emang keliatan banget ya kalau lagi bad mood." batin Vano.
"Memangnya biasanya kalau dipinggit H ke berapa sih El?" tanya Vano yang juga penasaran.
"Kalau di kampung aku biasanya H2 sih kak,"
"Kamu satu kampung sama Riska kan?" tanya Vano yang langsung diangguki Ella.
"Hahaha, berarti Lo di bohongin sama Riska dong? ck mungkin dia males liat muka Lo kayak gue yang males liat Lo." ejek Alex lagi semakin menjadi membuat Vano semakin kesal merasa dibohongi Riska dan sekarang ditambah Alex yang mengejeknya habis habisan.
Vano pun berajak dari duduknya, lebih baik Ia pergi dari pada Alex semakin menjadi mengejeknya, lagipula nafsu makan nya tiba tiba hilang.
"Jiahh, si bucin ngambekan." ejek Alex lagi yang masih bisa didengar oleh Vano.
"Mas apaan sih, jangan gitulah kasian.'" kata Ella mengingatkan.
"Biarin aja lagian siapa suruh pagi pagi udah kesini." kekeh Alex yang hanya digelengi Ella.
__ADS_1
Sementara Vano memasuki mobilnya, melajukan mobilnya dengan perasaan yang masih kesal pada Riska yang membohonginya.
"Liat aja besok seminggu lagi, gue habisin Lo sampai nggak bisa jalan." gerutu Vano mengingat seminggu lagi akan datang momen dimana hanya ada Riska dan Vano saja didalam kamar dan saat itulah saat yang paling tepat untuk membalas Riska yang telah membohongi Vano saat ini.
Mobil Vano pun berhenti di parkiran rumah sakit, Ia melirik jam tangannya dan masih merasa sangat awal untuk bekerja. Gara gara Alex membuatnya kesal Ia jadi malas berlama lama di mansion dan sekarang Ia binggung harus kemana.
"Ck, dasar plin plan tadi di mansion banyak makanan aja gaya gayaan nggak mau makan sekarang malah laper, ngajak gelut emang." gerutu Vano menyalahkan perutnya yang berdemo minta makan.
Dengan langkah malas Vano berjalan menuju kafetaria rumah sakit. pertama kalinya Vano berada di kafetaria karena selama ini jika Ia butuh sesuatu pasti akan menyuruh salah satu susternya.
Bak artis yang tengah berada di tempat umum, itulah yang Vano rasakan kala semua mata para kaum hawa memandang ke arahnya.
"Eh dokter ganteng itu kan ya?"
"Kok tumben makan disini ya."
"Kalau kayak gini gue bakal kesini tiap hari."
Bisik bisik para kaum hawa yang terdengar di telingga Vano membuat Vano merutuki dirinya karena telah datang ke tempat ini.
Namun seketika Vano mengingat saran dari Riska.
Ekhemm... Vano berdehem sekeras mungkin berjalan melewati para kaum hawa yang masih saja menatapnya lalu Ia mengangkat tangannya agar para wanita itu bisa melihat cincin yang melingkat di jari manisnya.
Dan saran Riska memang benar benar ampuh kala Vano melihat wajah para kaum hawa yang terlihat kecewa.
Vano tertawa geli tak menyangka Ia bisa melakukan hal segila ini.
BERSAMBUNG...
kalian bisa bayangin nggak sih gimana narsisnya Vano pas lagi ngangkat tangan buat pamer cincin.. aku bayangin aja sampai ngakak...
semoga kalian suka selalu sama cerita ini..
jangan lupa like vote dan komen yaaa...
__ADS_1