
Tanpa menunggu disuruh, Riska segera saja duduk disalah satu sofa menghadap semua orang yang tengah menatapnya dengan tatapan marah.
"Sekarang katakan dengan jujur, apa yang sudah pria itu lakukan padamu?" tanya Ayah memulai pembicaraan.
"Katakan pada kami jika semua itu tidak benar nak, kamu tak mungkin hamil kan?" kini ibunya menatap dirinya penuh harap. berharap semua itu tidak benar, berharap putrinya tidak melakukan hal hal yang diluar batas.
"Ak-aku tidak hamil ayah, ibu , kak Rangga." balas Riska dengan berbata "Aku bisa membuktikannya jika kalian tidak percaya." kata Riska lagi membuat semua orang terlihat lega.
"Lalu untuk apa kau selalu bersamanya? bahkan kau pulang larut hanya untuk menemuinya?" tanya Rangga kali ini.
"Ada satu hal yang membuat aku melakukan suatu pekerjaan dengan nya, tapi percayalah pekerjaan itu bukanlah seperti apa yang kalian lakukan?" jelas Riska dengan menunduk.
"Lalu apa? jelaskan pada kami nak pekerjaan apa itu agar kami tak berpikir macam macam." kata Ayah.
"Emh, itu. tak bisakah aku tak mengatakan pada kalian?" tanya Riska.
"Katakan saja nak, kami akan mengerti."
"Aku takut itu akan menjadi beban untuk kalian jika aku menceritakannya." kata Riska lagi.
"Ceritakan saja Ris, agar semuanya cepat selesai! aku sudah mengantuk!" Celetuk Rangga sedikit memudarkan perasaan gugup.
Riska mencebik menatap Rangga sebal "Baiklah tapi berjanjilah jika ini tak akan menjadi beban untuk kalian."
"Ya, ceritakan saja pada kami nak."
"Ak-aku memiliki hutang 50 juta padanya."
"APAAAA??" sontak semua orang yang ada disana terkejut dan teriak bersamaan.
"Bagaimana bisa itu terjadi nak?"
"Buat apa uang sebanyak itu sih Ris?" geram Rangga.
"Biar Riska jelaskan dulu." kata Riska yang membuat semua orang lantas diam mengangguk, "sewaktu pertama kali Riska naik motor, Riska tak sengaja menabrak mobil Vano hingga membuat mobil Vano rusak dan biaya perbaikan aku yang menangungnya." jelas Riska membuat semua orang lega.
"Lalu dimana kamu mendapatkan uang sebanyak itu?" kini giliran ibu yang bertanya.
"Makanya Riska selalu berangkat pagi dan pulang malem itu karena Riska harus masak dirumahnya, perjanjiannya 5 bulan Riska harus buat sarapan sama makan malam disana, ini udah jalan 2 bulan yah, kurang 3 bukan lagi malah ketauan." kata Riska.
__ADS_1
"Tapi gue nggak bisa percaya sama tuh cowok." kali ini Rangga yang protes.
"Vano itu cowok baik, nggak seperti yang kalian pikirkan, aku disana udah 2 bulan aja nyatanya aman aja, nggak pernah genit sama aku." jelas Riska.
"Biar ibu yang gantiin kamu ya nak? biar Ibu yang masak disana."
"Jangan Bu, nggak usah nanti aku malah nggak enak sama dia, lagian juga cuma masak sebentar langsung pulang kok." kata Riska.
"Alesan lo aja, palingan Lo dah naksir sama tuh cowok." kata Rangga lalu berajak pergi.
"Nggak gitu bang, ih." kesal Riska.
"Biar Ibu aja ya yang gantiin kamu, biar kamu nggak harus kerja dobel." pinta Ibu lagi.
"Ini yang bikin aku nggak mau cerita sama orang rumah, pasti aku ngrepotin kalian. nggak usah ya bu, biar Riska tanggung jawab sama kesalahan Riska."
"Ya sudah, kalau memang begitu mau mu, asal kamu bisa jaga diri aja jangan sampai membuat malu keluarga." kata Ayah mengakhiri pembicaraan
"Iya ayah terimakasih." Kata Riska merasakan lega karena masalah yang Ia pendam beberapa bulan ini akhirnya bisa ia ceritakan pada keluarganya, dan mulai sekarang Ia tak harus berbohong pada keluarganya lagi jika harus berangkat lebih awal atau pulang larut malam.
"Sudah, sekarang kita tidur istirahat. besok kamu harus kerja kan?"
Lampu pun dimatikan dan semua orang kembali ke kamar masing masing.
Sementara Vano masih belum memejamkan matanya. Bibirnya tak henti hentinya mengulum senyum bahagia, entah apa yang membuatnya seperti ini.
Ia memikirkan jika Riska tak ada pilihan lain dan harus menikah dengan nya, rasanya entah mengapa membuat Vano senang.
Tadinya Vano memang kesal dengan keputusan Alex yang terburu buru tanpa menunggu penjelasan darinya tapi sekarang Ia sepertinya sudah mendukung keputusan Alex itu.
"Aku pasti sudah gila." gumam Vano lalu memejamkan matanya.
Pagi sekali Riska sudah harus berangkat, dan kali ini Ia berpamitan dengan benar tanpa membohongi kedua orang tuanya.
Sesampainya di rumah Vano, Riska cukup terkejut kala melihat Vano sudah bangun dan duduk diruang tamu padahal biasanya jika Ia datang pasti Vano masih tidur dikamarnya.
"Tumben udah bangun?" celetuk Riska.
"Gimana sama keluarga kamu?" tanya Vano terlihat tak sabar.
__ADS_1
Riska tersenyum mengembang "Akhirnya aku udah cerita semua sama keluarga aku," balas Riska tersenyum senang.
"Cerita masalah apa?"
"Masalah hutang aku sama kamu, dan sekarang kita nggak harus nikah trus aku juga nggak perlu bohong lagi kalau mau kesini." jelas Riska dan entah mengapa membuat Vano sedikit kecewa.
"Oh gitu, ya baguslah." balas Vano dengan wajah datar lalu berdiri dan memasuki kamarnya membuat Riska heran.
"Apa dia kecewa?" batin Riska seketika menggelengkan kepalan nya "Mana mungkin." batin Riska lagi lalu berjalan menuju kamar Vano.
"Kamu mau dimasakin apa?" tanya Riska berteriak didepan pintu.
"Nasi goreng, bikinin yang pedes banget kalau perlu pedesnya bikin mati." balas Vano dari dalam membuat Riska melonggo.
"Apa dia mau bunuh diri?" batin Riska menggelengkan kepalanya ragu lalu menuruti permintaan Vano.
"Sialan sialan sialan," Vano mengumpat sambil menendangi lemari yang ada dikamarnya dan tentunya tedangannya tidak terlalu keras hanya akting saja.
"Bisa bisanya dia nolak gue!" kesal Vano lagi. "Lah emang gue udah nglamar? ah taulah pusing gue." gerutu Vano.
Pagi ini Vano benar benar tak bersemangat melakukan apapun, setelah mendengar ucapan Riska, Ia hanya berbaring di ranjang.
Padahal tadinya jika Riska tak mengatakan yang sebenarnya pada Keluarganya, Ia sudah berecana akan mengajak Riska bertemu mamanya sekaligus membeli cincin serta semua perlengkapan untuk seserahan namun kenyataannya malah Zonk.
"Sarapannnya sudah mateng, aku berangkat ya?" teriak Riska lagi didepan pintu Tapi kali ini Vano tak menjawabnya. Ia sedang marah dengan Riska, bahkan mendengar suara Riska saja Vano sudah malas.
Setelah motor Riska terdengar keluar dari rumahnya, Vano pun bergegas keluar kamar untuk sarapan. marah marah membuatnya kelaparan.
Bau nasi goreng buatan Riska sangatlah harum, rasanya juga enak hampir sama seperti buatan Ella.
Baru menyuapkan satu sendok ke mulutnya, Vano sudah mengeluarkan lagi.
"Ash sialan, pedes banget. apa dia mau bunuh gue bikin nasi goreng pedes kayak gini!" kesal Vano lalu Ia ingat jika dia yang meminta nasi goreng sepedas ini.
Dasar cewek nggak peka.
Bersambung...
Jangan lupa like vote dan komen...
__ADS_1