ISTRI KEDUA TUAN ALEX

ISTRI KEDUA TUAN ALEX
120


__ADS_3

Riska keluar dari mobil Vano dan masih mengomel "Dasar Dokter mesum menyebalkan, bisa bisanya dia mengatakan itu! terserah jika ingin menghabiskan makanan dan sakit perut, aku tak akan peduli lagi."


"Riska, kamu dari mana seharian nggak dirumah? bukannya hari ini libur?" Tanya Pakde yang ternyata menunggu putrinya pulang.


"Lho, Ayah kok belum tidur? maaf Yah Riska kemaleman soalnya habis ketemuan sama temen sampai lupa waktu." bohong Riska tak ingin Ayahnya khawatir tentang masalah yang dihadapi nya. Jika Ayahnya sampai tau bisa bisa, sang Ayah menjual rumahnya untuk ganti rugi pada Vano, Tentu saja Riska tak mau, jangan sampai keluarganya tau, biarlah hanya Riska saja yang mempertanggung jawabkan kesalahannya.


"Dari pagi sampai malem gini?" tanya Pakde curiga.


"Egh, tadi pagi reuninan dulu yah, jadi lama deh,"


"Oh ya sudah, sana masuk istirahat, besok kan kamu sudah harus masuk kerja."


Riska sedikit lega, akhirnya selesai sudah sang Ayah mengintrogasi dirinya.


"Eh tunggu," baru saja Riska tersenyum lega, Sang Ayah sudah memanggilnya lagi..


"Ada apa yah?"


"Motor kamu kemana? bukannya tadi kamu pergi bawa motor?" tanya Pakde membuat Riska binggung harus alasan apa.


"Ah iya tadi macet jadi aku tinggal di bengkel temen aku yah, lagi dibenerin juga paling besok pagi Riska ambil." balas Riska kembali bohong.


"Oh gitu, trus yang nganterin kamu pake mobil barusan paca-"


"Dia temen aku yah, cuma temen!" belum selesai sang Ayah melanjutkan ucapannya sudah dipotong oleh Riska, "Ya udah ya yah Riska masuk kamar dulu." kata Riska langsung lari tanpa menunggu jawaban dari Ayahnya.


Didalam kamar, Riska menghela nafas lega. Seharusnya Ia tadi membawa pulang motornya jadi semua tak serumit ini.


"Huh, benar benar menjengkelkan!" batin Riska lalu berbaring di ranjangnya.


Sementara Vano yang baru saja tiba di rumah setelah mengantar Riska pun segera menghampiri meja makan.


Membuka tudung saji dan Vano bisa melihat semua masakan yang Riska masakan hari ini.


Vano pun mulai melahap makanan satu persatu, walaupun sebenarnya Vano tak menyukai makanan yang sudah dingin namun demi menghargai Riska yang telah membuat kan semua ini, akhirnya Vano menghabiskan semua makanan yang ada di meja makan.


"Haduh, perut gue kekenyangan." keluh Vano "Lagian ngapain sih gue habisin, orang dibuang aja juga dia nggak bakal tau!" batin Vano heran dengan dirinya sendiri.


Pagi nya, Riska berangkat lebih awal. Bukan tanpa sebab Ia berangkat saat matahari saja belum muncul, tentu saja Ia harus segera pergi kerumah dokter mesum itu agar dirinya juga tak terlambat kekantor nantinya.


Riska keluar rumahnya, pagi ini Ia hendak memesan ojek online karena Rangga sang kakak berangkat agak siang jadi Riska tidak bisa berangkat bersama sang kakak.

__ADS_1


Riska sudah sampai di pinggir jalan depan rumahnya, hendak mengambil ponselnya untuk memesan ojek online namun matanya tertuju pada sebuah mobil yang baru saja berhenti didepannya.


Mobil mewah yang semalam mengantarnya pulang. Riska mengerutkan keningnya, Ia sedikit mengintip siapa yang ada didalam, apakah benar Dokter Vano dan benar saja memang dokter Vano.


"Ngapain sih ngintip ngintip, buruan masuk!" suara Vano yang baru membuka kaca mobilnya membuat Riska tersentak lalu menuruti Vano memasuki mobil.


"Kok pagi pagi kesini?" tanya Riska membuat Vano kesal dengan dirinya sendiri "Benar juga kata cewek ini, ngapain juga gue pagi pagi kesini." batin Vano.


"Aku kan orangnya baik hati nggak tegaan, jadi aku jemput, kan motor kamu masih dirumah aku." balas Vano cuek.


"Ck, kalau kamu baik hati harusnya kamu ikhlasin uang yang 50 juta itu."


Vano melotot tak percaya, "Ya nggak bisa dong, sekali hutang tetep hutang."


"Berarti kamu nggak jadi baik." balas Riska santai.


"Kalau nggak baik, aku pasti udah laporin kamu ke polisi kemarin." kesal Vano, niatnya sudah baik malah dibuat kesal oleh Riska.


"Iya deh iya, berarti kamu baik." balas Riska malas.


Vano tak mengubris ucapan Riska, malah fokus mengemudi.


"Eh bentar, ini kan bukan jalan ke rumah kamu?" tanya Riska.


"Trus kita mau kemana?"


"Hotel!"


"Jangan gila kamu, aku nggak mau! ayo balik." protes Riska marah.


"Aku emang gila, masa kamu baru tau." kata Vano mengedipkan matanya sebelah pada Riska membuat Riska semakin takut.


"Aku bakal teriak kalau kamu nggak turunin aku sekarang!" marah Riska.


"Teriak aja yang keras, nggak bakal ada yang denger."


"Oh oke, aku nekat turun sekarang." ancam Riska masih tak menyerah.


"Turun aja, tuh dibelakang ada truk kalau kamu buka sekarang duh nggak tau lagi deh bakal ada apa."


Riska menengok ke spion memang ada truk disamping mobil Vano yang terus melaju.

__ADS_1


"Dasar dokter gila! kalau kamu sampai melecehkan aku, aku bakal lapor polisi!" ancam Riska.


"Lapor aja, paling kita nanti di suruh nikah." balas Vano santai, Vano tak mengerti dengan dirinya mengapa Ia bisa segila ini namun Ia merasa suka mengoda Riska, rasanya sedikit menyenangkan.


Riska sudah tak bisa berkata kata lagi, Ia sudah lelah protes, bahkan mengancam Vano. Rasanya malah Vano yang semakin senang mengodanya.


Hingga mobil Vano benar benar berhenti disebuah hotel bintang 5 yang sangat mewah.


Riska tak menyangka, Vano benar benar membawanya ke hotel pagi pagi begini.


"Ayo keluar." ajak Vano melepas seatbeltnya.


"Nggak, nggak akan!"


"Oke, di sini aja nggak apa apa paling nanti ada yang nyeret kamu dan bawa kamu masuk!" kata Vano membuat Riska melotot tak percaya.


"Gila kamu! dasar dokter mesuk brengsek!"


Vano hanya terkekeh, apalagi melihat wajah takut Riska dan hampir menangis, sangat lucu bagi Vano.


"Lebih baik kau keluar baik baik dengan ku dari pada nanti harus diseret oleh pria berbadan kekar, mereka sedikit kasar bahkan tak jarang genit menyentuh tubuh wanita." kata Vano lalu keluar membuat Riska takut dan akhirnya ikut keluar.


Riska membuntuti Vano, entah salah atau benar, Riska sudah tak peduli, Ia hanya berharap dokter gila ini tak akan melakukan sesuatu yang buruk padanya.


Keduanya pun memasuki lift, Vano menekan tombol lantai paling atas.


"Kau tau, saat pagi seperti ini bercinta diatas gedung sedikit menyenangkan." kata Vano yang membuat wajah Riska memanas.


"Dokter mesum sialan, bisa bisanya Ia mengatakan bercinta dengan ku, dia pikir aku ini wanita murahan." batin Riska kesal.


Riska sudah membayangkan, jika Vano macam macam dengannya, Riska sudah bersiap akan menendang milik Vano agar tak bisa berdiri lagi. Pria mesum memang harus diberi pelajaran begitulah yang dipikirkan Riska.


Ting... Bunyi pintu lift terbuka, Vano mengajak Riska memasuki sebuah kamar.


Riska yang sudah memposisikan diri untuk menendang Vano pun terkejut kala memasuki ruangan yang ternyata bukan kamar.


Bersambung....


Hayoook ruangan apa nih kira kira😁


Makasih buat kalian yang mau komentar typo, ataupun salah nama hehe... maklum yes cerita author nggak cuma atu jadi suka salah ngetik nama..

__ADS_1


Jangan lupa like vote dan komen yaa...


__ADS_2