ISTRI KEDUA TUAN ALEX

ISTRI KEDUA TUAN ALEX
177


__ADS_3

Mobil Sandi melaju meninggalkan rumah tempat Alex menghajar Rey. Alex terlihat melonggarkan dasinya dan satu kancing terlepas satu.


"Tuan, tangan anda berdarah." kata Sandi membuat Alex sadar jika tangannya memang terluka.


"Kita ke klinik Dina sekarang!" perintah Alex.


"Baiklah Tuan."


Sandi pun membelokkan mobilnya menuju Klinik Dina, namun sesampainya disana Klinik milik Dokter Dina sudah tutup tapi bukan Alex jika tidak memaksa masuk.


Ini memang sudah pukul 8 malam, jadi wajar saja jika klinik sudah sepi dan tutup.


"Mau ngapain sih malem malem kesini?" tanya Dina saat membuka pintu rumahnya yang tepat ada disamping klinik.


Alex memperlihatkan luka di tangan nya, "Obati ini segera!"


Dina hanya terkekeh "Hello Tuan Alex yang terhormat, ini klinik obgyn bukan klinik umum!"


"Apa dokter Obgyn juga bodoh hingga tak bisa mengobati luka seperti ini?" ejek Alex yang membuat Dina menghentakan kakinya kesal.


Dina membuka pintunya pertanda mengijinkan Alex masuk,


Alex duduk disofa dan tak berapa lama Dina datang dengan membawa sebuah kotak obat.


Dina mulai membersihkan luka Alex sebelum memberikan obat.


"Kau baru saja menghajar seseorang?" tanya Dina kepo sementara Alex hanya diam saja tak menjawab.


"Apa aku berbicara pada patung?" kesal Dina.


"Ck, sudahlah obati saja lukanya! banyak tanya!" balas Alex membuat Dina kesal dan menekan kapas terlalu keras hingga membuat Alex mengaduh.


"Ups Sorry, aku pikir tidak sakit!" kekeh Dina membuat Alex hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah adik tirinya.


"Kenapa nggak minta tolong mbak Ella aja? takut yaa?" goda Dina.


"Ck, diam aja berarti memang takut." ejek Dina karena Alex tak menjawab ucapannya.


"Sudahlah, lebih baik segera selesaikan, kau ini cerewet sekali!" ketus Alex.


"Dasar pria dingin"


Alex menatapi wajah Dina lekat lekat "Ngomong ngomong apa kau memiliki kekasih?" tanya Alex.


"Jangan menanyakan itu padaku!" mendadak Dina kesal.


"Apa kau kembali diputuskan lagi?" ejek Alex.


Dina hanya merenggut kesal, Ia memang baru saja diputuskan oleh kekasihnya karena kekasihnya memilih menikah dengan wanita lain.


"Benar benar sial!" gerutu Dina.


Alex tertawa renyah "Apa kau mau ku kenalkan seseorang?"


"Tidak perlu! kau pikir aku tidak bisa mencari sendiri!"

__ADS_1


"Ck, coba saja dulu kenalan, dia memang hanya karyawan biasa tapi dia baik dan tampan." Jelas Alex yang membuat Dina hanya diam saja.


"Diam berarti setuju, baiklah aku akan mengatur jadwal pertemuan mu dengan pria itu." kata Alex yang kini tangannya sudah selesai diperban.


"Thank you." kata Alex dan berlalu pergi dari rumah Dina.


"Ck, Dasar pria arrogant, datang hanya meminta tolong saja! setidaknya ajak makan malam atau paling nggak beliin makanan gitu." gerutu Dina saat Alex sudah tak terlihat.


Sementara Alex segera memasuki mobil yang sudah ada Sandi didalamnya.


"Kita segera pulang saja! istrimu pasti sudah menunggu." kata Alex yang membuat Sandi tersenyum.


Sejak Alex mengetahui kehamilan Nisa, Alex sudah tak pernah mengajak Sandi pulang malam lagi. Dan lebih sering juga memberikan libur Sandi membuat Sandi senang karena Tuannya sangat pengertian padanya.


"Baiklah Tuan,"


Keduanya diam sejenak "Bagaimana jika Non Ella menanyakan luka di tangan Tuan?"


"Hmm, santai saja, aku sudah memikirkan ini." kata Alex.


"Padahal tadi ada Dokter Vano, kenapa tidak meminta tolong pada Dokter Vano saja?" tanya Sandi penasaran.


"Ck, males banget minta tolong sama dia, bukannya sembuh malah tambah parah." balas Alex yang membuat Sandi terkekeh.


Alex dan Vano memang sama sama menjaili satu sama lain walaupun sebenarnya mereka saling menyayanggi.


...


Sementara itu, setelah keluar dari mobilnya, Vano berjalan memasuki rumah. membuka pintu rumah dan terkejut melihat Riska sudah didepannya dengan tangan bersedekap didada.


"Kamu habis dari mana sih mas?"


"Kerja dong, kamu pikir aku habis ngamen?" balas Vano santai.


Riska pun mendekati suaminya, lalu mengendusi baju suaminya.


''Ih apa sih yank, kayak kucing aja."


"Ck, cuma mau pastiin aja ada parfum cewek yang nempel apa nggak!"


"Kamu pikir aku selingkuh?"


"Ya iyalah jam segini baru pulang!" kesal Riska "Tau gini aku kerja aja biar nggak bosen nunggin kamu."


Vano tersenyum lalu memeluk istrinya "Uluh yang lagi marah, galak bener deh."


"Ck, nggak usah meluk meluk deh mas, kamu masih bau! mandi dulu sana!"


"Siap ibu negara." Vano hendak memasuki kamar.


"Mas, kamu belum jawab habis dari mana?" teriak Riska dengan nada kesal.


"Ampun deh bawaan bayi gitu amat yak." Vano bergegas memasuki kamar mandi tak memperdulikan istrinya mengamuk diluar.


Semenjak Resign, Riska memang sedikit pemarah dan posesif. awal kehamilan mungkin Vano yang seperti itu dan sekarang semua itu berpindah ke Riska, namun Vano tetap sabar menghadapi istrinya itu.

__ADS_1


Vano keluar dari kamar mandi melihat istrinya masih cemberut. segera saja Ia mendekati istrinya dan mengelus puncak kepala istrinya.


"Suami pulang kok langsung dimarahin!" kata Vano dengan nada lembut.


"Habis kamu nyebelin sih mas, ditanya nggak dijawab. kamu pikir aku nggak tau kalau kamu pulang sejak sore tadi!" kata Riska dengan nada kesal. karena memang Riska tadi sempat menelepon salah satu perawat dan dia mengatakan jika Vano sudah pulang.


"Kamu tanya perawat aku lagi?"


"Iya kenapa? kamu takut ketahuan selingkuh?" tanya Riska dengan tatapan menyelidik.


"Ck, aku tu nggak selingkuh sayang!" balas Vano malas.


"Trus kemana?"


"Tadi buntuti Alex." balas Vano nyengir.


"Buntuti Alex? kemana?" tanya Riska mulai penasaran.


"Kepo deh kamu yank, udah ah jangan curiga lagi! aku tu udah jujur sama kamu, kalau nggak percaya tanya Alex saja sana."


Mendengar suara Vano sedikit galak, Riska pun bergegas mengambilkan baju suaminya.


"Aku siapin makan malam dulu ya sayang!" kata Riska lembut lalu keluar kamar.


Vano hanya melonggo menatapi kepergian Riska. menggelengkan kepalanya dan tersenyum geli.


Selesai memakai baju, Vano segera keluar dan melihat istrinya sudah menyiapkan makan malam.


"Mas, makan dulu." kata Riska mengambilkan nasi dipiring untuk Vano.


"Mau sayur bayem apa kangkung?" tanya Riska.


"Apa aja yank."


Riska meletakan sayur dan ikan dipiring Vano.


"Kamu nggak makan?"


"Udah tadi, habis kamu lama sih pulangnya, aku keburu laper!" balas Riska cemberut.


"Maaf ya sayang, besok nggak lagi deh!" kata Vano sambil tersenyum geli.


"Kalau besok pulang malem lagi, siap siap aja ya tidur diluar!"


"Duh galak banget sih istriku ini." kekeh Vano yang hanya dibalas gerutuan Riska.


Bersambung..


Lebih suka Vano yang somplak apa yang sweet gini nih?


Me: suka Vano yang somplak πŸ˜πŸ˜‚


Kira kira siapa nih jodohnya dokter Dina? πŸ€”


Staytune gays..

__ADS_1


jangan lupa like vote dan komen😁


__ADS_2