
Alex dijemput oleh salah satu anak buahnya yang menjemputnya kemarin karena tak ingin Ella curiga jadi Alex dijemput oleh orang yang sama.
Baru dipertengahan jalan mobil Alex berhenti karena Sandi sudah menunggunya dipinggir jalan.
"Bawa mobil itu ke markas." kata Sandi memberikan kunci mobil yang tadinya dipakai oleh Sandi pada sopir Alex.
"Baiklah," kata pria itu bergegas pergi dan Sandi memasuki mobil yang sudah ada Alex didalamnya.
"Kita langsung menuju mansion." perintah Alex pada Sandi.
"Baiklah Tuan, semalam saya sudah menghubungi Nisa dan semua sesuai rencana." kata Sandi.
"Bagus, setelah ini kita bisa lansung menjebloskan Hanna ke penjara." kata Alex mantap.
"Apa Tuan tidak apa apa?" tanya Sandi.
"Apa maksudmu?" Alex terlihat binggung.
"Ya biar bagaimanapun Hanna adalah istri Tuan."
"Mantan istri karena Dia sudah mengajukan gugatan cerai ke pengadilan dan masalah perasaan, aku baik baik saja karena aku pikir ini hukuman yang harus diterima Hanna atas semua yang Ia lakukan."
"Baiklah Tuan jika seperti itu."
"Kenapa? apa ada yang kau sembunyikan dariku?" tanya Alex melihat gelagat mencurigakan Sandi.
"Saya hanya ingin Tuan mendengarkan ini." Sandi menghentikan mobilnya sebentar lalu memberikan ponselnya pada Alex.
Sandi membuka rekaman audio sewaktu Hanna merayunya dulu. Dan sangat terlihat jelas wajah Alex begitu marah.
"Kapan ini terjadi?"
"Sekitar 3bulan yang lalu Tuan, maaf jika saya tidak bisa mengatakan sejak dulu karena saya takut Tuan tidak mempercayai saya karena saat itu Tuan masih sangat mencintai Hanna." jelas Sandi.
Alex menghela nafas panjang "Aku menyukai loyalitasmu padaku, tapi seharusnya kau mengatakan dari dulu."
"Maafkan saya Tuan, dan ada lagi satu hal yang harus saya ceritakan Tuan."
"Apa itu? ceritakan sekarang!"
"Hanna pernah berniat membakar rumah Nona Ella dua kali Tuan."
Wajah Alex terlihat sangat terkejut.
__ADS_1
"Bagaimana bisa itu terjadi?" tanya Alex geram.
"Saya sudah menyelidiki semuanya Tuan, Hanna pernah menyewa seseorang untuk membuntuti Nona Ella dan membakar rumah Nona Ella namun sayangnya bukan rumah Nona Ella yang dibakar namun rumah Bella, yang dulunya terbakar itu ternyata ulah Hanna yang salah sasaran dan sampai sekarang saya juga masih belum mengetahui kenapa bisa salah sasaran malah rumah Bella yang terbakar."
"Lalu apa lagi?" wajah Alex menampilkan kegeraman dan amarah mendengar cerita Sandi.
"Dan pernah juga Hanna membuntuti saya sewaktu akan kerumah Nona Ella, namun saya berhenti disebuah rumah kosong yang mungkin Hanna pikir itu rumah Ella, malamnya saya disana melihat apa yang akan Hanna lakukan, ternyata niatnya sama Hanna ingin membakar rumah Non Ella Tuan." jelas Sandi yang kini mulai sedikit takut melihat wajah Alex yang memerah marah.
"Sial, bisa bisanya wanita itu melakukan semua ini." geram Alex.
"Tuhan masih melindungi Nona Ella Tuan, nyatanya sampai sekarang Nona Ella masih baik baik saja." kata Sandi berusaha meredamkan amarah Alex.
"Meski begitu tetap saja dia berusaha menyakiti orangi orang yang kusayangi."
Sandi hanya diam, menghibur pun tak ada gunanya sekarang karena Alex sedang emosi akut.
"Dan sekarang kenapa kau masih diam, cepat lajukan mobil ke mansion." kata Alex sedikit membentak.
"Ba-baik Tuan." kata Sandi segera melajukan mobilnya lagi.
Sandi mengerutu dalam hati, seharusnya Ia tak mengatakan sekarang pada Alex, yang hanya akan membuat Alex emosi dan akhirnya dirinya menjadi korban bentakan.
Sesampainya dimansion, Alex segera keluar dari mobilnya dan memasuki mansion diikuti Sandi.
"Hanna! keluar sekarang! dimana kamu!" teriak Alex namun tak mendapatkan respon.
Karena curiga Sandi segera membuka semua ruangan yang ada dimansion namun tak menemukan siapapun disana, baik Hanna ataupun Nisa.
Hingga ruangan terakhir yang belum Sandi buka, Kamar Hanna.
Segera Sandi berlari keatas diikuti oleh Alex.
Dan betapa terkejutnya Sandi melihat Nisa yang duduk diranjang Hanna dengan tangan dan kaki yang terikat dan juga mulutnya disumpal dengan kain yang membuat Nisa tak bisa berteriak.
"Sayang..." Sandi terlihat panik melihat Nisa yang masih sadar dan sedang menangis. yang membuat Sandi lebih panik lagi kala melihat wajah Nisa yang lebam dan juga seluruh tubuh Nisa penuh bekas luka lebam sepertinya Nisa dipukuli oleh Hanna.
"Maafkan aku hiks, hiks." Kata Nisa sambil sesenggukan menangis.
"Sayang, apa yang terjadi?" tanya Sandi yang kini membawa Nisa kedalam pelukannya.
Sementara Alex yang berdiri dibelakang Sandi terlihat mengepalkan tangan, Alex sangat geram melihat perlakuan anarki dari Hanna.
"Dimana Hanna?" tanya Alex.
__ADS_1
Nisa terlihat sedang mengingat sesuatu lalu Ia sedikit panik.
"Ayo kita kerumah Nona Ella, dia sedang dalam bahaya, Hanna tengah menuju rumah Nona Ella." kata Nisa panik yang langsung membuat Alex dan Sandi ikut panik.
"Sialan!" Alex berlari keluar mansion diikuti oleh Sandi dan juga Nisa yang kini ada digendongan Sandi.
"Biar saya yang menyetir Tuan." kata Sandi yang diangguki Alex.
Melihat Alex yang panik membuat Sandi khawatir jika harus membuat Alex yang menyetir mobilnya sendiri.
"Cepatlah, aku takut terjadi sesuatu dengan Ella ku." kata Alex.
Sandi dan Nisa duduk didepan, sementara Alex duduk dibelakang sambil menghubungi Ella menggunakan ponselnya, Alex hanya ingin Ella tak membukakan pintu jika ada yang datang.
"Sial, ponsel Ella tak aktif." kata Alex meraup wajahnya frustasi.
"Bagimana bisa ini terjadi?" tanya Alex pada Nisa.
"Maafkan saya Tuan, semalam Hanna mendengarkan percakapan telepon saya dengan Sandi, lalu memukul saya menggunakan Vas bunga dan menyeret saya ke kamarnya." Nisa terlihat menjeda ucapanya karena Ia merasakan nyeri dikepalanya karena pukulan Hanna.
"Sudahlah, jangan dipaksakan untuk cerita." kata Alex yang kasihan melihat kondisi Nisa.
"Dikamar saya diikat, lalu Hanna menanyakan banyak hal pada saya, awalnya saya tidak menjawab namun semua pertanyaan Hanna yang tidak saya jawab membuat saya mendapatkan satu pukulan hingga saya tak tahan akhirnya saya menceritakan semuanya serta memberikan alamat rumah Nona Ella, maafkan saya Tuan." kata Nisa terlihat menyesal.
"Sudahlah, tak usah dipikirkan, aku tidak marah padamu." kata Alex.
Sebenarnya Alex merasa kesal dengan Nisa namum mau bagaimana lagi, Nisa juga disiksa tentu saja Ia pasti mengatakan semuanya pada Hanna.
Alex hanya berharap semoga Ella baik baik saja, dan semoga Ia tak terlambat menyelamatkan Ella.
"Setelah mengantarku kerumah Ella, bawa istrimu kerumah sakit." kata Alex.
"Baiklah Tuan."
Sandi dan Nisa memang sudah resmi menikah, sewaktu Alex dirumah sakit kemarin, Sandi tak terlihat bukan karena Ia kabur namun karena Ia tengah mengadakan resepsi pernikahan dikampung Nisa dan setelah resepsi memang Nisa kembali lagi ke mansion untuk membantu suaminya melancarkan aksi rencana penangkapan Hanna Ee malah Nisa yang apes wajahnya babak belur karena Hanna.
Sungguh malang sekali nasib Nisa.
BERSAMBUNG....
Halooo gays... maafin author yang nggak ngasih adegan sewaktu Nisa disiksa karena jujur Author yang nulis cerita agak ngerihh sendiri, jadilah diskip dan hanya dijelasin sajaa, nggak tega soalnya.. hehehee
Ohh ya jangan lupa like vote dan komen yess
__ADS_1