ISTRI KEDUA TUAN ALEX

ISTRI KEDUA TUAN ALEX
206


__ADS_3

Bianca yang diberikan cuti 2 minggu untuk persiapan sebelum dan sesudah menikah pun mulai bosan karena merasa tak ada yang Ia kerjakan.


Seperti siang ini, Ia bahkan binggung harus melakukan apa, sementara Ingin menemui Rangga pun tak bisa karena masih masa pinggit.


"Mau kemana dek?" tanya Ella melihat Bianca sudah rapi.


"Mau kerumah Riska mbak, bosen disini." balas Bianca "Mau ikut nggak mbak?"


"Enggaklah, Liu habis imunisasi jadi nggak dibawa kemana mana dulu." kata Ella "Suruh nganter pak Tulus aja, nggak usah naik taksi."


"Siap mbak."


Dengan senyum mengembang Bianca segera keluar mansion untuk menemui sahabat yang nanti akan menjadi adik iparnya itu.


"Mau ditungguin nggak Non?" tanya pak Tulus kala mereka sudah sampai didepan rumah Vano.


"Enggak usah pak, kayaknya bakal lama disini nanti kalau pulang aku naik taksi aja." Kata Bianca lalu keluar dari mobil.


Bianca memasuki pekarangan rumah yang terasa sepi itu, sekali dua kali Bianca memencet bel tak ada respon hingga Bianca mengetuk pintu pun tak ada respon.


"Apa pergi kali ya?" gumam Bianca mencoba membuka pintu dan terbuka, tidak dikunci.


"Ish sembrono banget sih!" gerutu Bianca.


Bianca memasuki rumah Vano sambil sesekali memanggil Riska dan betapa terkejutnya kala Bianca mendengar suara Riska yang mengaduh dari dapur.


"Ya ampun Ris, Elo nggak apa apa?" teriak Bianca melihat Riska jatuh dilantai dapur. Raut wajah Riska meringgis membuat Bianca sadar jika Riska sedang tidak baik baik saja.


Segera Bianca memapah tubuh Riska dan membaringkan di sofa ruang tamu.


"Gue telepon taksi dulu, kita periksain kandungan Lo." kata Bianca yang hanya diangguki oleh Riska.


"Gimana? masih sakit?" tanya Bianca sesusai memesankan taksi.


"Cuma nyeri dikit." wajah Riska semakin memucat.


"Lagian kebangetan banget sih laki Lo, bisa bisanya dia nyuruh Lo masak padahal udah hamil tua juga, kenapa nggak nyari asisten rumah tangga?" kesal Bianca.


"Jangan nyalahin mas Vano Ca, aku kok yang minta nggak nyari asisten." jelas Riska tak ingin Bianca salah paham.


"Tetep aja, harusnya kan-, eh taksinya udah datang." belum sempat Bianca melanjutkan ucapannya kini dengan sigap Bianca memapah kembali tubuh Riska membawanya keluar.


Keduanya pun memasuki taksi yang dipesan oleh Bianca. segera Riska mengucapkan klinik tempat Ia periksa.


"Mana ditelepon nggak di angkat lagi." gerutu Bianca.


"Kamu nelepon siapa?"


"Laki Lo lah, siapa lagi!" kesal Bianca.


"Ya ampun Ca, nggak usah. aku baik baik aja." kata Riska.


"Kok berhenti disini pak?" tanya Bianca kala taksi berhenti didepan klinik Dina.


"Aku biasa periksa di sini Bi."


Bianca hanya ber ohh ria saja lalu kembali memapah Riska setelah membayar taksinya.


Sebenarnya Bianca malas sekali bertemu atau berurusan dengan Dina namun karena terpaksa menemani Riska Ia akhirnya mengalah saja.


"Dia jatuh didapur." jelas Bianca pada Dina.

__ADS_1


Tanpa respon, Dina segera memeriksa Riska membuat Bianca kesal saja.


"Syukur tidak ada yang terluka, hanya tegang saja. apa rasanya kencang dan nyeri?" tanya Dina pada Riska.


Riska hanya mengangguk,


"Semuanya baik baik saja, istirahatlah disini, aku akan membawa makanan dan obat yang harus kau minum." jelas Dokter Dina.


"Terimakasih Dok,"


Dina segera keluar dari ruangan periksa tanpa menyapa atau mengatakan sesuatu pada Bianca yang sejak tadi berada disana.


"Dasar wanita menyebalkan!" gerutu Bianca.


"Siapa yang kau maksud?"


"Siapa lagi jika bukan wanita yang baru saja keluar." kesal Bianca lagi.


"Dokter Dina?"


Bianca tak menjawab malah mengelusi perut buncit Riska,


"Hey liltle Baby, kau kuat sekali." puji Bianca membuat Riska tersenyum.


...


Vano keluar dari mobil memasuki rumahnya dan mengeryit kala melihat kondisi rumah sepi.


"Sayang..." panggil Vano yang tak mendapatkan sahutan dari Riska.


Dikamar, kamar mandi, ruang tengah bahkan dapur Ia masih tak menemukan keberadaan Riska.


"Kemana sih!" gerutu Vano kesal.


"Ck kemana sih!"


Vano melihat ada beberapa panggilan telepon dari Bianca, Tadinya ia tak mengubris namun siapa tau saja Bianca tau dimana Riska.


Vano segera mendial nomer Bianca.


Sekali , dua kali panggilan Vano tak dijawab.


"Sialan, pasti dia balas dendam!"


Vano melempar ponselnya diranjang dan segera memasuki kamar mandi untuk mandi, siapa tau saja setelah mandi Riska sudah pulang.


Namun nyatanya hingga 2jam lamanya Riska belum pulang membuat Vano sangat khawatir.


Hingga Ia menurunkan egonya dan kembali menelepon Bianca.


Sedikit lega karena Bianca menjawab panggilannya.


"Apaa!" sentak Bianca dari dalam telepon.


"Kamu lagi sama Riska?"


"Ya..."


Vano mulai kesal "Dia sedang hamil besar bisa bisanya kau mengajak nya keluar!"


"Heh bambang! harusnya Elo berterimakasih sama Gue, enggak malah ngomel ngomel! dihubungi dari tadi kenapa nggak diangkat" Suara Bianca ikutan kesal.

__ADS_1


"Gue sibuk!"


"Gue tau elo memang sengaja nggak angkat telepon gue!" tuduh Bianca.


"Ya emang bener sih." batin Vano terkekeh geli.


"Lo juga nggak angkat telepon gue tadi!" protes Vano terdengar sengit.


"Ampun deh, dasar bocah! udah mendingan Lo kesini deh!" kesal Biaca.


"Dimana?"


"Kliniknya Dina." Vano terkejut bukan main mendengar jawaban Bianca yang bisa diartikan telah terjadi sesuatu dengan Riska.


"Riska kenapa? dia nggak apa apa kan? elo kenapa bisa bawa Riska kesana?"


Klik.. tanpa menjawab pertanyaan Vano, Bianca mematikan panggilannya.


"Sialan!" geram Vano segera menyambar kunci mobil yang ada dimeja.


Sementara Bianca kembali memasuki ruangan Riska.


"Nelpon siapa sih, kok marah marah?" tanya Riska.


"Laki lo tuh! ngeselin."


"Oh dia pasti nyariin gue ya?"


"Hmm, udah gue suruh dateng kesini!"


Riska hanya menghela nafas berat,


"Lagian Lo napa sih, di cariin asisten rumah tangga nggak mau?" tanya Bianca.


"Bukan nya nggak mau, tapi gue nggak enak aja kalau sampai pengeluaran nambah cuma buat cari pembantu. tau sendiri kan gue nganggur." jelas Riska yang tentu saja membuat Bianca melonggo tak percaya.


"Eh Lo tau nggak gajinya laki Lo itu berapa?" tanya Bianca yang hanya digelengi oleh Riska.


"Gue nggak pernah nanya soalnya."


Bianca menepuk jidatnya sendiri "Ampun deh Ris, gaji Vano buat bayar pembantu 10 aja juga nggak bakal habis! emangnya Lo dikasih berapa buat belanja?"


"20 juta, gue cuma ambil seperlunya dan sisanya gue simpen buat lahiran." balas Riska dengan polosnya membuat Bianca tak bisa menahan tawanya.


"Beruntung bener si Vano dapet bini kayak Lo!"


Selesai mengucapkan itu, keduanya pun terkejut mendengar suara pintu yang terbuka dengan kasar


"Sayang kamu nggak apa apa?"


Bianca dan Riska menatap ke arah suara yang tak lain adalah Vano menatap ke arahnya dengan tatapan khawatir.


Sontak Riska dan Bianca pun tertawa membuat Vano kesal.


Ia sudah khawatir malah ditertawakan.


"Spongebob, duh unyu banget deh calon adik ipar gue ini." kata Bianca mencubit pipi Vano lalu keluar meninggalkan ruangan.


Vano melihat ke bawah dan barulah sadar jika Ia hanya mengenakan kaos oblong dan boxer warna kuning bermotif spongebob.


Sial,

__ADS_1


Bersambung...


Sory gaes update sehari sekali soalnya lagi sibuk banget, ini aja curi curi waktu biar tetep bisa update..😁


__ADS_2