ISTRI KEDUA TUAN ALEX

ISTRI KEDUA TUAN ALEX
73


__ADS_3

Ella keluar dari kamar mandi dan melihat Alex belum selesai mengenakan piyamanya.


Segera Ella mendekati Alex dan mengambil piyamanya lalu memakaikan ditubuh Alex.


"Katanya bisa sendiri? Kok nggak selesai selesai dari tadi?" Tanya Ella dengan nada mengejek.


Alex hanya mendengus sebal.


"Maaf mas, bukan maksud  aku buat ngebentak kamu tadi, abisnya sebel aja liat kamu sama Dokter Vano kisruh mulu," ungkap Ella.


"Mas marah yaa?" Tanya Ella melihat Alex hanya diam saja.


"Ck, kesel aja! Suami lagi sakit malah dibentak bentak." Kata Alex yang kini sudah berbaring diranjang setelah dibantu Ella.


"Maaf mas, nggak maksud gitu kok beneran deh." Ella memeluk tubuh Alex lalu menciumi pipi Alex.


"Ck, ngrayu nih, tapi cuma setengah doang."


"Trus mas maunya apa?"


"Jatah dong,"


Seketika pipi Ella merona mendengar ungkapan frontal suaminya itu.


"Kayaknya udah lama ya sayang kita nggak bikin dedek." Kata Alex yang kini sudah meraba raba area sensitif tubuh Ella membuat Ella menjengit geli.


"Kan udah ada dedeknya mas."


"Boleh kan nengokin dedeknya?" Tanya Alex.


Ella hanya mengangguk membuat Alex segera menerjang tubuh Ella yang sudah membuatnya menegang sedari tadi.


...


Paginya saat Ella bangun, tak mendapati Alex disampingnya, namun Ella mendengarkan suara gemericik air dikamar mandi.


Segera Ella bangkit berjalan memasuki kamar mandi, mengejutkan Alex yang tengah mandi dibawah shower  sambil duduk dikursi rodanya.


"Mas, kok nggak bangunin Ella sih?"


"Aku nggak mau gangguin kamu tidur sayang, lagian udah selesai juga." Ella segera mengambil handuk untuk mengeringkan tubuh Alex.


"Lagian masih pagi banget tumben udah mandi mas?" Tanya Ella yang kini sudah mendorong kursi roda keluar dari kamar mandi.


"Aku mau kekantor soalnya."


"lho kenapa mas? Ada masalah ya dikantor?"


"Iya sayang, jadi aku harus kesana,"

__ADS_1


"Biar aku anter ya?" Tawar Ella.


"Enggak perlu sayang, ada yang jemput kok. Kamu duduk manis dirumah saja ya?"


"Lho, aku ikutlah mas ,nemenin mas." Kata Ella memohon, jujur Ella masih sangat mengkhawatirkan keadaan Alex namun Ia juga tak bisa melarang suaminya itu.


"Nggak sayang, kamu dirumah aja ya? Aku janji bakalan segera pulang hmm."


"Tapi aku khawatir nanti mas kenapa napa." Kata Ella cemberut.


"Enggak sayang, mas janji nggak bakal kenapa napa lagi." Alex mencubit gemas pipi Ella.


"Hmm, ya udahlah," balas Ella lesu.


Segera Ella mengambilkan kemeja kantor Alex dan membantu Alex mengenakan.


"Aku bikinin sarapan dulu ya mas."


"Bikin roti bakar sama susu hangat aja, kayaknya yang jemput juga udah datang." Kata Alex.


"Iya mas."


...


Selesai sarapan, Ella mendorong keluar kursi roda, melihat sudah ada seorang pria yang menunggu disamping mobil.


"Selamat pagi Tuan, Nona." Sapa pria itu.


"Iya nona benar saya yang akan mengantar Tuan Alex."


"Tolong jaga mas Alex baik baik ya, kalau ada apa apa langsung hubungi saya." Pinta Ella.


Alex tersenyum geli mendengar permintaan Ella.


"Kau terlalu mengkhawatirkanku sayang, aku akan baik baik saja." Kata Alex yang hanya didengusi sebal oleh Ella.


"Kalau saja aku boleh ikut, pasti aku tak akan seperti ini." cibir Ella.


"Aku akan segera pulang, hmm." Kata Alex.


"Baiklah, berhati hatilah! Jika ada sesuatu segera kabari aku." Pinta Ella.


"Baiklah nona muda yang teramat sangat bawel." Kata Alex yang hanya dikekehi Ella.


Alex segera memasuki mobil dibantu oleh sopir yang menjemputnya.


Ella melambaikan tangan saat mobil yang Alex tumpangi melaju keluar meninggalkan pekarangan rumah Ella.


Mobil yang Alex tumpangi sudah sampai ditempat tujuan, bukan dikantor melainkan disebuah rumah yang jauh dari pemukiman.

__ADS_1


"Apa semua sudah ada didalam?" Tanya Alex kala sopirnya membukakan pintu untuknya.


"Sudah Tuan." Alex segera keluar dan berjalan memasuki rumah itu membuat sang sopir terkejut, karena sewaktu dirumah Alex mengenakan kursi roda dan sekarang dengan santainya Ia berjalan tanpa bantuan kursi roda.


Alex berbohong tentang kelumpuhanya? Ya memang Alex berbohong karena Ia ingin mengungkap sebuah kebenaran. Dan untuk Sandi snag asisten tidak pernah meninggalkanya, ini hanyalah bagian dari drama yang sedang Ia buat.


"Tuan." Sandi yang baru saja keluar melihat Alex datang segera mengajaknya masuk dan menujukan sebuah kamar.


"Dia sudah didalam?" Tanya Alex.


"Sudah Tuan."


Sandi membuka pintu sebuah kamar dan Alex melihat seorang pria yang duduk dikursi dengan tangan dan kaki yang terikat.


"Devan, kaukah itu?" Tanya Alex saat melihat sosok yang sangat Ia kenali itu.


"Lepaskan aku! Apa aku memiliki salah padamu hingga kau memperlakukan aku seperti ini?" Tanya pria yang bernama Devan itu.


"Aku tau kau pasti sudah mengetahui alasanku membawamu kesini?" Kata Alex yang kini sudah duduk dikursi tepat didepan Devan yang terikat.


"Sialan! Aku tidak pernah melakukan kesalahan apapun." Umpat Devan.


"Apa kau yakin? Cobalah untuk mengakui kesalahanmu selagi aku masih baik padamu."


"Cih, bahkan aku tak butuh kebaikanmu!"


"Baiklah, jika seperti itu." Alex tersenyum sinis "Bawa pistolnya kemari." Perintah Alex, segera Sandi memberikan sebuah pistol pada Alex.


Devan menatap takut ke arah Alex yang kini sudah membawa pistol ditangan nya. Devan cukup tau jika Alex tak pernah main main dengan ucapannya dan Devan merasa hidupnya akan segera berakhir.


"Aku masih memberimu kesempatan untuk mengakui kesalahanmu, karena kamu dulunya adalah salah satu orang kepercayaan Papamu, jadi akui kesalahanmu sebelum sesuatu yang buruk terjadi padamu!" Tegas Alex.


"Apa kau gila? Aku sama sekali tak melakukan kesalahan apapun!" Teriak Devan penuh emosi.


"Baiklah, kau cukup gigih ternyata." Kata Alex "Bawa dia kemari." Sandi mengangguk paham.


Sandi terlihat keluar sebentar lalu masuk membawa seorang wanita yang juga terikat, wanita itu terlihat memberontak saat kedua pria bertubuh kekar membawanya secara paksa.


"Lepaskan aku! Kalian gila, pria brengsek!" umpat wanita itu membuat Devan menatap tak percaya, Alex juga membawa istrinya kemari.


"Devan? Apa ini? Apa yang terjadi?" Tanya Gina istri Devan yang juga terkejut melihat suaminya juga terikat sama seperti dirinya.


Kedua pria kekar itu melempar Gina ke sebuah ranjang yang ada di ruangan itu membuat Gina menjerit karena kepalanya membentur pinggiran ranjang.


"Kau gila Alex? Untuk apa kau membawa istriku kemari? Aku benar benar tak melakukan kesalahan apapun." Teriak Devan penuh emosi.


Alex tersenyum santai, "apa kau harus melihat kedua pria kekar itu memperkosa istrimu lebih dulu agar kau mau mengakui kesalahanmu?" Tanya Alex membuat Gina menggeleng takut sedangkan dua pria berbadan kekar itu sudah menatap penuh minat ke arah Gina.


"Sialan! Baiklah aku mengakui jika akulah yang membunuh Papamu! Aku yang membunuh Tuan Ken!" Teriak Devan membuat Alex tersenyum puas melihat Devan mengakui semuanya.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2