ISTRI KEDUA TUAN ALEX

ISTRI KEDUA TUAN ALEX
200


__ADS_3

Riska kembali memasuki kamarnya dan posisi Vano masih sama seperti tadi saat Ia meninggalkan kamar.


Riska mendekati suami nya, duduk dipinggir ranjang namun Vano sama sekali tak bergeming, masih asyik dengan ponselnya.


"Mas ternyata Bianca itu sepupu kamu?" Tanya Riska membuat Vano menghentikan aktifitasnya.


Vano menatap ke arah Riska "Sepupu?" Vano pura pura mengingat "Ah enggak tuh aku nggak ngerasa punya sepupu kayak dia." Kata Vano Kembali fokus pada ponselnya.


Riska terkekeh "Aku jadi penasaran, rahasia apa yang dimaksud Bianca sampai kamu nggak nganggep dia sepupu kamu!" Ucapan Riska langsung saja membuat mata Vano melotot ke arah Riska.


"Dia cerita sama kamu?"


"Dia bakal cerita sama aku kalau kamu nggak mau makan siang bareng." Kata Riska membuat Vano lega "Gimana mas? Yakin nggak mau keluar buat makan siang bareng?" Tanya Riska masih tersenyum geli.


"Nggak keluar nggak apa apa kok mas, aku malah jadi tau rahasia kamu nanti." Kata Riska lagi sambil terkekeh.


"Iya iya aku ikut keluar." Kesal Vano. Dengan malas Vano bangkit dan mengikuti Riska keluar kamar.


Riska terkekeh merasa sudah berhasil mengerjai suaminya hingga kesal, padahal biasanya dirinya yang selalu dibuat kesal oleh Vano. Meskipun Riska penasaran dengan rahasia apa yang dimaksud Bianca namun Ia tak akan memaksa jika memang Vano tak menyukai jika Ia tau.


"Ehh pak doktel udah datang." kata Bianca dengan suara dibuat buat.


"Nggak salah deh kalau saudaraan, sama sama jail kalian tuh." ungkap Riska membuat Bi Hanya tersenyum.


"Habis makan suruh mereka pulang yank." celetuk Vano.


"Kamu ngusir aku?" kini suara Rangga terdengar.


"Bukan ngusir mas, cuma kan mas Rangga tau sendiri Riska lagi hamil butuh banyak istirahat dan nggak boleh stress." jelas Vano membuat Riska mengerutu.


"Alesan, bilang aja mau ngusir kita." kini Bianca menambahi.


"Ya bagus deh kalau sadar." celetuk Vano malas.


"Kamu!"


"Mas!"


Riska dan Rangga mengertak bersamaan membuat Bianca terkekeh, sementara Vano hanya menghela nafas lelah. Sungguh Ia tak berkutik jika ada Rangga kakak iparnya, membalas Bianca pun tak akan bisa.


"Ambilin nasi yank." pinta Vano tanpa merasa bersalah sedikit pun.


"Manja." cibir Bianca.


"Kayak ada yang ngomong tapi kok nggak ada wujudnya." ucap Vano sambil celinggukan kanan kiri.


"Sayang masa aku dikatain setan." manja Bianca mengadu pada Rangga.


Rangga yang baru saja ingin mengeluarkan suaranya pun terhenti kala Riska mendahului ucapannya "Udah udah, kalian ini kayak anak kecil."

__ADS_1


"Suami kamu tuh yang mulai." kata Bianca.


"Tuh yank, denger nggak? kayak ada yang ngomong tapi nggak ada suaranya ya? lama lama serem nih rumah." ucap Vano lagi masih celinggukan.


Baik Rangga maupun Riska tak mengubris dua orang spesialnya itu yang saling mengerjai satu sama lain.


Dan saat selesai makan, Bianca dan Rangga pun berpamitan membuat Vano sedikit lega karena mulut ember Bianca masih bisa dikontrol tidak mengadu pada Riska.


"Besok kalau Bianca kesini nggak usah bukain pintu yank." pinta Vano kala Riska sudah menutup pintunya.


"Ck, kamu tuh nggak boleh gitu mas sama saudara sendiri juga!" kata Riska.


"Dih, siapa juga yang mau jadi saudaranya." celetuk Vano lalu memasuki kamarnya meninggalkan Riska yang hanya menggelengkan kepalanya.


"Bener bener deh mas kamu tuh!"


Sementara selama perjalanan pulang, Bianca masih saja terkekeh melihat wajah takut sekaligus menggelikan Vano.


"Kamu tadi liat nggak sih yank wajah Vano keliatan takut gitu." ucap Bianca memanggil Rangga dengan panggilan sayang.


Memang sejak kejadian semalam mereka resmi balikan dan panggilan sayang mereka pun juga kembali.


"Emang rahasia apa sih?" tanya Rangga penasaran.


"Ada lah pokoknya." balas Bianca masih terkekeh.


Rangga dan Bianca pun menghabiskan hari libur mereka dengan berjalan jalan karena memang sudah lama tak kencan berdua.


"Kayaknya ada pasar malam tuh yank." kata Bianca saat motor yang dikendarai Rangga melewati sebuah lapangan dimana banyak orang ramai disana.


"Mau kesana?" tanya Rangga yang langsung diangguki mantap oleh Bianca.


"Mau dong, kan udah lama juga nggak ke pasar malam!"


"Tapi nanti kamu pulangnya kemaleman." Bianca langsung saja memukul punggung Rangga.


"Emangnya aku anak kecil apa!" gerutu Bianca membuat Rangga terkekeh.


Rangga pun membelokkan motorny memasuki parkiran pasar malam, setelah memarkirkan motornya, Rangga lantas mengenggam tangan Bianca dan mengajaknya memasuki pasar malam.


Sepajang mengelilingi pasar malam, Bianca tak henti hentinya mengulas senyum senang membuat Rangga pun ikut senang.


Setelah puas menaiki beberapa wahana permainan, Bianca dan Rangga pun duduk disebuah bangku panjang sambil menikmati bakso bakar yang baru saja dibeli.


"Enak?" tanya Rangga.


"Enak banget." Bianca dengan lahap menikmati bakso bakat tanpa Ia sadari sisa kecap dan saus menempel di pinggir bibir Bianca.


Dengan gerakan cepat, Rangga pun membersihkan dengan jempolnya membuat Bianca salah tingkah.

__ADS_1


"Makan kok sampai belepotan gitu!"


Bianca terkekeh, "Kalau nggak gini nanti tangan kamu nggak nyentuh nyentuh kayak barusan." sindir Bianca membuat Rangga terbahak.


Hening sesaaat...


"Kamu udah siap nikah?" tanya Rangga tiba tiba membuat degup jantung Bianca berdetak keras.


"Entahlah... kenapa?" tanya Bianca berharap Rangga mengajaknya menikah.


Rangga hanya menggeleng "Aku hanya bertanya."


Kecewa, tadinya Bianca pikir Rangga akan mengajaknya menikah namun nyatanya hanya bertanya.


"Aku pikir... ah sudahlah."


"Kenapa?" tanya Rangga mendengar Bianca tak melanjutkan ucapannya.


"Tidak ada."


"Ck, .." terdengar Rangga menggerutu.


Kembali hening, bakso bakar yang tadi terasa nikmat pun kini sudah hambar rasanya, Apa Bianca yang terlalu berharap lebih? pikir Bianca.


Seketika Bianca menyadari posisinya, Ia sudah menyakiti Rangga, mana mungkin Rangga mengajaknya menikah secepat ini, Ia sudah dekat kembali dengan Rangga pun harusnya bersyukur jangan berharap lebih Bi, batin Bianca.


"Sudah malam." gumam Bianca.


Rangga menilik jam tangannya "Ya sudah ayo pulang." ajak Rangga.


Bianca membonceng Rangga, memeluk Rangga dari belakang sementara Rangga melajukan motornya sepelan mungkin, Ia memang sengaja agar bisa lebih lama dengan Bianca, sesekali tangan Rangga mengelus tangan Bianca yang memeluk perutnya.


Sesampainya didepan mansion Bianca turun dan langsung ingin memasuki mansion namun tangannya ditarik oleh Rangga dan Cup... satu kecupan mendarat dipipi Bianca.


"Kau lupa pengantar tidurmu sayang," kata Rangga lembut membuat Bianca tersipu.


Bianca pun hendak membalas ciuman Rangga namun sayang sebuah deheman terdengar dari arah belakang mereka berdiri.


Ekhem... suara yang langsung saja mengejutkan keduanya dan saat dilihat, ah Sandi, untung saja yang memergoki Sandi bukan Alex.


"Mas Rangga, Tuan Alex ingin bertemu."


"Haaa?" Tak hanya Rangga namun Bianca ikut terkejut.


Saat melihat ke arah ruangan kerja Alex ternyata Alex tengah berdiri didepan pintu kaca ruangan kerjanya, sedang menatap ke arah Rangga dan Bianca.


Sial, ketahuan.


Bersambung...

__ADS_1


Jangan lupa like vote dan komen...


__ADS_2