
Prok prok prok...
Alex bertepuk tangan saat Devan sudah mengakui semuanya.
"Kau bahkan orang yang sangat dipercayai papaku, aku tak menyangka kau lah orang yang membuat papaku tiada." Kata Alex.
"Dan kau tidak bisa menyalahkan semua padaku Alex, jika bukan karena istrimu yang menyuruhku, aku juga tak akan melakukan semua ini!" Teriak Devan tak terima.
Alex tersenyum miris, pada akhirnya Ia kembali terluka saat mengetahui betapa jahatnya wanita yang selama ini Ia cintai itu.
Hanna tega membunuh papanya hanya karena papa masih menentang hubunganya meskipun mereka sudah menikah 5 tahun lamanya.
Setelah membaca diari sang Papa memang Alex sudah mencurigai Hanna dalang dibalik kematian sang Papa namun Alex juga tak ingin menuduh tanpa bukti hingga Ia menyuruh sandi menyelidiki semuanya dan siapa sangka semuanya memang benar. Hanna pembunuh.
"Siang itu Hanna datang padaku menawarkan uang 100juta padaku dengan syarat aku harus membunuh Tuan Ken, awalnya aku menolak namun Hanna mengancam akan membunuh Gina yang saat itu masih menjadi calon istriku, aku terpaksa melakukan ini semua, maafkan aku." Devan menunduk merasa sangat bersalah.
"Bahkan maaf mu tak bisa mengembalikan semuanya yang sudah hilang." Kata Alex sinis.
"Bunuh aku, lakukan apapun yang memang pantas aku terima, tapi jangan kau sakiti istriku, aku mohon dia sedang mengandung anak ku." Pinta Devan memohon.
Deggg.... Alex mendengar kata mengandung anak, membuatnya jadi mengingat Ella yang saat ini juga tengah mengandung anaknya.
"Segera masukan dia ke penjara, pastikan dia diberikan hukuman yang setimpal dengan perbuatanya." Kata Alex yang kini sudah bangkit hendak keluar.
"Dan lepaskan wanita itu." Kata Alex pada Gina yang tengah ketakutan diatas ranjang.
"Baiklah Tuan." Sandi segera melakukan semua yang diperintahkan Alex.
Alex berjalan menuju taman belakang, Ia menyalakan rokoknya, menghisapnya kuat kuat lalu mengeluarkan asapnya yang mengepul.
Alex menertawakan dirinya yang kini sudah tak sekejam dulu.
Jika Alex dulu pasti sudah menghabisi Devan dengan pistol yang Ia bawa dan juga membiarkan Devan melihat istrinya diperkosa dengan dua pria kekar sebelum Ia membunuh Devan namun nyatanya sekarang Alex tak tega melakukan itu semua.
Entahlah, dihatinya seperti ada yang menahan kala Ia ingin melakukan sesuatu yag kejam apalagi saat Devan mengatakan jika Gina tengah mengandung, membuat Alex takut karena juga memiliki istri yang tengah mengandung.
"Tuan," Sandi terlihat mendekat kearah Alex.
"Kau sudah menyelesaikan semuanya?" Tanya Alex.
"Sudah Tuan, anda sudah banyak berubah Tuan." Kata Sandi mengingat betapa kejamnya Alex dulu, awalnya Sandi pikir akan melihat adegan kekerasan setelah sekian lama namun nyatanya sama sekali tak ada adegan kekerasan yang Alex lakukan pada pengkhianatnya.
"Hmm, bagaimana dengan Hanna?"
"Nyonya sudah menjual semua mobil Tuan, dan kini akan menjual Mansion namun saya masih menahan orang yang akan membelinya jadi sampai sekarang masih ada yang belum membeli mansion itu." Jelas Sandi yang memang selama ini berada disekitar mansion guna mengawasi setiap gerak gerik Hanna, tentu saja dengan bantuan Nisa kekasihnya yang masih berada disana menemani Hanna.
__ADS_1
"Berhentilah memanggilnya Nyonya, Ia sudah tak pantas mendapatkan gelar itu." Kata Alex terlihat kesal..."
"baiklah, maafkan saya Tuan."
"Aku harus segera pulang, kita akan menemui Hanna besok pagi, terus awasi dia, jangan sampai Ia kabur."
"Baiklah Tuan." Alex segera berjalan keluar dari rumah yang menjadi markas penyiksaan para pengkhianat.
Ia harus segera pulang sebelum Ella khawatir dan menyusulnya di kantor.
Sementara Itu Ella dirumah masih tak tenang memikirkan bagaimana keadaan Alex dikantor.
"Apa mas Alex baik baik saja, apa aku susul kesana saja ya?" Ella terlihat begitu khawatir.
Hingga Ella mendengar deru mobil memasuki pekarangan rumahnya, segera Ella berlari keluar rumah.
Ella melihat Alex keluar dibantu Sopirnya dan kini sudah duduk lagi dikursi rodanya.
"Mas, " Ella mendekati Alex dengan raut wajah khawatir.
"Ck, kan aku udah bilang kalau cuma sebentar sayang," kata Alex.
"Tapi tetep aja aku khawatir." Ungkap Ella membuat Alex tersenyum saat istrinya terlihat sangat mengkhawatirkan dirinya.
"iya Non,"
Ella segera membawa Alex masuk sementara sang sopir segera pergi.
"Aku bikinin teh anget dulu ya mas." Kata Ella yang sudah membantu Alex berbaring diranjang.
Alex hanya diam saja menatapi punggung Ella yang sudah keluar dari kamar.
Disaat bersama Ella membuat semua rasa sakitnya pada Hanna seketika hilang. Bagi Alex, Ella adalah obat dari semua rasa sakit yang Ia alami.
Bahkan semua perhatian Ella yang membuat Alex dengan cepat pindah haluan, yang dulunya sangat bucin dengan Hanna namun kini sudah memudar dan beralih pada Ella.
Meski jarak umur mereka terpaut 10 tahun, tapi nyatanya Ella malah lebih membuatnya nyaman dibandingkan Hanna.
"Mikirin apa sih mas?" Tanya Ella mengulurkan secangkir teh hangat untuk Alex.
"Mikirin kamu boleh nggak?" Tanya Alex kemudian menyesap teh hangatnya.
"Gombal banget sih mas, ehm mas capek? Mau dipijitin?" Tanya Ella melihat wajah lesu suaminya itu.
"Maunya dipeluk aja boleh?" Tanya Alex manja.
__ADS_1
"Ck, biasanya juga langsung meluk mas." cibir Ella membuat Alex terkekeh dan segera membawa Ella kedalam pelukannya.
"Mas lagi banyak masalah ya?" Tanya Ella.
"Enggak sayang."
"Tapi kok kayaknya mas nggak kayak biasanya."
"Hmm, kamu kok jadi istri peka banget sih hmm." Alex melepaskan pelukannya dan menatap wajah malu malu Ella.
"Mas apa sih." Ella merasa malu saat Alex menilik wajahnya.
"Kamu sayang nggak sama mas?" Tanya Alex tiba tiba membuat Kening Ella mengerut.
"Tumben mas nanya gitu?"
"Ya kan dulu pas awal kita nikah kayaknya kamu benci banget sama mas," jelas Alex.
"Enggak benci kok mas, aku cuma belum siap aja waktu itu, apalagi dulu mas juga sikapnya dingin banget ke aku, kan kesel, yang maksa nikah situ kok situ juga yang dingin." Ungkap Ella mengingat awal dirinya dengan Alex dulu.
Alex tertawa mendengar pengakuan Ella "Tapi kan sekarang udah berubah sayang." Kata Alex gemas dan mencium bibir Ella.
''Iya mas, kok bisa sih?"
"Nggak tau, rasanya nyaman aja deket kamu terus."
"Ck, gombal lagi." Cibir Ella yang hanya membuat Alex terkekeh.
Sementara Hanna terlihat kesal setelah menerima telepon dari seseorang.
Sudah lebih dari 10 orang membatalkan membeli mansionnya, Padahal Hanna sudah tak sabar untuk meninggalkan tempat ini.
Mendesah kesal, Hanna berjalan menuju dapur untuk mengambil minum hingga Ia mendengar suara Nisa tengah berbicara dengan seseorang.
Segera Hanna mendekat untuk mengetahui dengan siapa Nisa menelepon.
"Iya sayang, aku jamin Hanna nggak akan kabur, kamu tenang aja kalau ada apa apa aku pasti langsung kabarin kamu."
Deg... Seketika dada Hanna bergemuruh mendengar suara obrolan telepon Nisa.
Bersambung...
3bab dulu deh buat malam ini😁
Jangan lupa like vote dan komen yaaa...
__ADS_1