ISTRI KEDUA TUAN ALEX

ISTRI KEDUA TUAN ALEX
94


__ADS_3

Alex memandangi wajag istrinya yang melihatnya dengan raut wajah bersalah.


"Maaf mas, aku nggak maksud nginggetin kamu soal mbak Hanna." kata Ella lagi kala Alex tak segera menjawab ucapannya.


"Aku nggak marah sayang, apa dulu aku sekejam itu ya sama kamu?" tanya Alex dengan nada sedih.


"Udahlah mas, nggak usah bahas masa lalu kalau cuma bikin sedih aja." kata Ella.


"Tetep aja aku pernah nyakitin kamu." kata Alex.


"Tapi kan sekarang enggak lagi mas? jadi udah ya nggak usah bahas lagi mulai sekarang." tambah Ella lagi.


"Kamu nggak nyesel kan nikah sama aku?" tanya Alex membuat Ella tersenyum.


"Mana mungkin aku nyesel mas, aku udah dibikin bahagia gini kok.".


Alex segera membawa Ella kedalam pelukannya.


"Mas, apa mas nggak mas jengguk mbak Hanna ke penjara?" tanya Ella kala Alex sudah melepaskan pelukannya.


"Nggak! ngapain aku jenguk orang yang udah ngebunuh papa dan bahkan hampir membunuh anak kita!" kata Alex dengan nada kesal.


"Tapi kan aku sama anak kita nggak apa apa mas."


"Tetep aja, dia udah punya rencana buat jahatin kamu, aku bener bener nggak bisa maafin itu." kata Alex lagi dengan nada kesal.


"Ya udahlah mas, maaf nggak usah dibahas lagi kalau cuma bikin kamu kesel." kata Ella merasa bersalah.


Alex hanya diam saja karena moodnya jadi buruk gara gara Ella membahas masalah Hanna.


"Mas mau dibikinin kopi? coklat hangat?" tawar Ella agar mood suaminya kembali membaik.


"Nggaklah, aku mau tidur aja!" balas Alex yang kini sudah menarik selimutnya.


"Tadi Mommy yang ngambek, kok sekarang jadi Daddy kamu ya dek yang ngambek." goda Ella yang entah mengapa bisa membuat Alex tersenyum geli.


"Daddy nggak ngambek kayak mommy kamu kok dek." balas Alex menirukan suara anak kecil.


"Besok kita periksain dedek ya Daddy?"


"Oh iya, udah waktunya buat periksa ya?" hampir saja Alex melupakan hari penting itu.


"Ck, mas lupa ya?"


"Maaf sayang, kerjaan banyak jadi gini! besok agak maleman nggak apa apa kan?" tanya Alex.


"Mas sibuk banget ya?"

__ADS_1


"Sore nya aku ada janji, jadi kita periksa jam 7 malem aja ya?"


"Ya udah deh mas."


"Udah ah, sini peluk! aku masih marah lho." kata Alex.


"Marah kok bilang bilang!" cibir Ella membuat Alex tersenyum geli.


"Oh ya mas, anak buahnya mas Alex kan banyak, kira kira bisa nggak nyari info ke kota?" tanya Ella.


"Maksudnya?" Alex tak paham dengan maksud Ella.


"Anaknya Budhe, mbak Riska sama mas Rangga udah hampir dua bulan nggak ada kabar mas, kira kira mas bisa nyari tau nggak keadaan mereka dikota? aku khawatir soalnya." jelas Ella.


"Ohh itu sih soal gampang, besok biar aku bilang sama Sandi, kamu ada fotonya kan?" tanya Alex.


"Ada mas, aku kirim ya ke ponsel mas." Ella menyambar ponsel yang ada dinakas lalu mengirimkan foto kakak sepupunya itu.


"Jadi gara gara itu Pakde sama Budhe kamu jadi harus kerja?" tanya Alex pura pura tak tahu meskipun ia sudah tahu dari pakde tadi pagi.


"Iya mas, walaupun Pakde sama Budhe bilangnya nggak apa apa, tapi aku yakin banget mereka pasti khawatir." kata Ella.


"Hmm, iya biar besok diurus sama Sandi, kamu tunggu aja."


"Makasih mas," Ella memeluk tubuh Alex "Ternyata Enak ya punya suami kayak mas, apa apa tinggal bilang." kekeh Ella membuat Alex gemas lalu mencubit hidungnya.


"Dulu aja dinikahin nggak mau!" protes Alex mengingat awal pertemuan mereka dulu, Ella menolak mentah mentah untuk menikah dengannya, jika bukan karena hutang yang tak bisa dibayar mungkin juga Ella tak mau menikah dengan Alex, apalagi tau status Alex sudah beristri.


"Tapi sekarang kok malah kesenangan ya." sindir Alex membuat Ella tersenyum malu.


"Udah ah, Ella mau bobok." kata Ella menarik selimut yang dipakai Alex hingga tak ada selimut yang tersisa ditubuh Alex.


"Jangan curang dong Mommy, Daddy bagi selimutnya." Alex menarik selimutnya lagi hingga keduanya saling berebut selimut tak ada yang mau mengalah.


....


Pagi harinya, Alex sudah rapi dan bersiap akan kekantor.


"Mas, jangan lupa ya yang semalem!" Ella menginggatkan Alex yang sudah akan memasuki mobil.


"Siap Ibu negara." balas Alex membuat Ella terkekeh apalagi tangan Alex yang hormat pada Ella layaknya tentara dan komandannya.


Setelah Alex masuk, Mobil melaju meninggalkan mansion.


"Kau tidak lupa kan jika kita harus bertemu dengan gadis kampung itu?" tanya Alex.


"Tentu saja tidak Tuan, menurut informasi yang saya terima, Ani masih bekerja dipabrik jadi kita bisa menemuinya nanti sepulang Ia bekerja sekitar pukul 4 sore." jelas Sandi.

__ADS_1


"Baguslah, aku ingin masalah kecil ini cepat selesai sebelum menjadi masalah besar karena wanita itu terlihat sedikit licik." jelas Alex.


"Baiklah Tuan."


Alex mengeluarkan ponselnya, Ia mengirim foto yang Ella kirimkan semalam ke ponsel Sandi.


"Kirim beberapa orang untuk kekota dan minta mereka mencari informasi mengenai orang yang baru saja ku kirimkan fotonya." perintah Alex.


"Baiklah Tuan." jawab Sandi tanpa protes.


Sesampainya dikantor, Alex segera keluar dari mobil dan memasuki kantornya.


Sore hari selesai bekerja, Alex segera pergi untuk menemui Ani karena ini sudah pukul 4 jam pulang kerja Ani.


"Ayo, segera kita kesana." kata Alex yang hanya diangguki Sandi.


Sesampainya didepan pabrik, terlihat ramai sekali karena jam pulang kerja semua karyawan berhamburan keluar buru buru pulang.


"Kau masih ingat wajahnya kan?" tanya Alex memastikan.


"Tentu saja masih Tuan, saya akan keluar dulu untuk menunggunya." kata Sandi yang langsung diangguki Alex.


Sandi keluar dan matanya menatap kearah gerbang, dimana disana satu satunya pintu keluar yang digunakan para karyawan disana.


Hingga matanya melihat gerombolan wanita yang salah satunya wanita yang Ia cari.


Tanpa menunggu lama, Sandi segera berjalan mendekati 4 orang yang mengerombol sambil sesekali tertawa bersama.


"Ani..." panggil Sandi membuat Keempat wanita itu menatap Sandi bersamaan.


"Kau? bukannya kamu yang kemarin pagi didepan rumah Ella?" tanya Ani sedikit terkejut dengan kehadiran Sandi.


"Ya, aku sopirnya Tuan Alex suami Nona Ella kau masih ingat?" tanya Sandi yang seketika membuat Raut wajah Ani berubah malas kala mendengar nama Ella.


"Ada apa?" tanya Ani malas.


"Tuan ku ingin berbicara denganmu.'' kata Sandi membuat Ani melotot tak percaya.


"Apa? Tuan Alex yang kaya raya itu ingin berbicara padaku? apa dia berubah pikiran lalu memintaku untuk bekerja disana?" batin Ani senang "Ya pasti seperti itu, lagipula siapa yang akan menolak pesonanya." batin Ani tersenyum girang.


"Jadi bagaimana Nona? apaakah kau memiliki waktu untuk menemui Tuan Alex?" tanya Sandi kala tak segera mendapatkan jawaban dari Ani.


"Sebenarnya aku buru buru, tapi ya sudahlah jika memaksa." kata Ani berjalan angkuh menuju mobil Alex,


Sandi hanya menggelengkan kepalanya melihat rasa percaya diri Ani.


Tidak tahu saja alasan Alex memanggilnya batin Sandi tersenyum geli.

__ADS_1


BERSAMBUNG...


vote jangan lupa yesss๐Ÿ˜๐Ÿ˜˜


__ADS_2