
Riska bisa tersenyum senang kala Vano memberikan semua barang barang kantornya kembali. Awalnya Riska memang kesal karena Vano lah yang telah menyembunyikan barang barangnya itu namun seketika kesalnya hilang karena Vano sudah mau memberikan padanya.
Berbeda dengan Vano yang terlihat sangat cemberut, sepertinya Ia benar benar tak menyukai jika Riska berangkat kantor namun Vano juga tak punya pilihan lain karena Ia juga tak tega melihat istrinya menangis.
"Lho mas kok ikut turun?" tanya Riska kala mobil sudah sampai didepan kantor Alex.
"Ada yang mau aku omongin sama Alex." balas Vano acuh.
"Bukan tentang resign yang semalam kan mas?"
"Bukan sayang, udah ah katanya udah telat." ajak Vano yang mendahului Riska memasuki kantor.
"Ck, semoga aja nggak bohong." batin Riska memasuki kantor.
"Mas mau keruangan Alex?" tanya Riska yang langsung di angguki Vano.
"Ya udah kalau gitu, aku masuk ke ruangan aku dulu ya mas." kata Riska mengambil tangan suaminya lalu menciumnya.
"Ingat, jaga mata jaga hati." Vano mengingatkan Riska membuat Riska menghela nafas lelah.
"Iya iya mas."
Riska pun memasuki ruanganya, sementara Vano berjalan memasuki ruangan Alex.
"Ngapain Lo pagi pagi kesini?" tanya Alex melihat Vano memasuki ruangannya.
"Ada yang mau gue omongin bang."
"Nggak usah manggil gue bang kalau ujung ujungnya cuma ada maunya." kata Alex membuat Vano tersenyum malu karena ketauan memang dirinya kesini karena ada maunya.
"Bang, jangan kasih partner Riska sama cowok lah, kasih partner cewek aja! semalam gue liat tuh cowok nggak bener kerjanya." adu Vano yang membuat Alex tertawa.
"Udah mulai posesif sekarang? kemarin ngatain gue posesif sekarang malah situ sendiri." ejek Alex membuat Vano malu seketika.
Benar juga kata Alex, kemarin dirinya yang suka mengejek Alex posesif sekarang malah Vano sendiri yang posesif.
"Gue bukan cemburu atau posesif bang, tapi ngeliat gelagat cowoknya kayak nggak bener." adu Vano.
"Mana mungkin karyawan gue ada yang cabul kayak Lo."
"Ck bang, seriusan ini."
"Lagian Riska memang cocok disana makanya gue pindah sana, apa Lo mau dia jadi sekretaris Gue biar gue godain kayak pas Lo godain Ella kalau pas Gue nggak dirumah?"
__ADS_1
"Masa Lo mau sih bang bekas gue?"
"Kenapa nggak? Bekas Lo tapi masih baru gini."
"Gue aduin Ella lo bang!"
"Eh jangan!" Seketika Alex berteriak. Niatnya hanya ingin menggoda Vano, kalau sampai Vano ember dan mengadu ke Ella bisa salah paham nanti.
"Makanya, pindahin Riska biar nggak partneran sama cowok." pinta Vano.
"Kenapa nggak suruh resign aja sih kalau Lo nya cemburuan gini." kata Alex dengan kesal.
"Gue maunya gitu, tapi dianya nggak mau." keluh Vano "Dia belum mau resign kalau belum hamil." jelas Vano yang membuat tawa Vano membucah.
"Jadi otong Lo belum bisa hamilin Riska?" tanya Alex dengan nada mengejek.
"Ck, nggak usah ngejek deh bang, gue juga lagi usaha." kesal Vano.
"Hahaha jangan sampai si Riska selingkuh gara gara bosen sama otong Lo yang monoton." kekeh Alex membuat Vano geram. Ia kesini ingin meminta tolong pada Alex namun Alex malah mengejek otongnya.
"Gue bisa pastiin Riska nggak bakal kayak gitu." kata Vano mantap.
"Trus ngapain Lo takut dia deket sama cowok lain kalau ngerasa yakin otong Lo udah bener."
"Gue nggak takut, gue nggak suka aja! dah ah bang males gue debat sama Lo." kata Vano menyerah. lama lama pasti Alex tak akan berhenti membully nya.
"Rese Lo bang!"
"Lagian Lo suka nyentuh cewek lain, giliran istri Lo dideketin aja ngamuk!"
"Biarin dah, suka suka gue!" celetuk Vano lalu keluar meninggalkan ruangan Alex. Vano masih bisa mendengar jika Alex masih menertawakannya.
"Sialan emang!" gerutu Vano saat keluar dari ruangan Alex.
Vano berjalan menuju ruangan istrinya, sebelum Ia berangkat kerumah sakit Vano ingin melihat istrinya lebih dulu agar semangatnya tak pudar nanti.
Vano membuka pintu dan Ia kembali dibuat kesal kala melihat istrinya dengan pria semalam berada didalam satu ruangan. meskipun mereka tak sedekat semalam karena pria itu ada didepannya namun tetap saja mereka berada didalam satu ruangan.
"Nggak usah kegenitan deh yank." kata Vano membuat Riska dan Rama yang sedang konsen bekerja menjadi terkejut.
"Lho mas, kamu masih disini? belum ke rumah sakit?" tanya Riska sedikit terkejut sementara Rama terlihat malas menatap Vano.
"Kenapa kalau masih disini? takut ganggu kamu?" tanya Vano dengan nada kesal.
__ADS_1
Rama yang merasa tak nyaman pun bangkit "Gue keluar dulu deh Ris."
"Sorry ya bang." kata Riska se pelan mungkin. Ia merasa tak enak dengan sikap Vano yang terlalu posesif.
"Santai!" kata Rama langsung berjalan keluar melewati Vano. tak lupa Rama menatap Vano dengan tatapan sinis.
"Napa mata Lo? minta dicopot?" tanya Vano tak suka dengan padangan Rama.
"Masss..."
Vano menatap Riska malas lalu menutup pintunya. Riska yang mengetahui suaminya sedang kesal pun mendekati Vano lalu memeluknya.
"Nggak bakal mempan kalau cuma dipeluk!" cibir Vano.
"Trus maunya apa dong mas? gini?" tanya Riska mengecup bibir Vano.
"Ck masih nggak mempan kalau yang dibawah sana belum-"
"Stop mas, ini kantor! masa iya kamu ngajak mesum di kantor." kesal Riska. sudah dikasih hati malah ngelunjak.
"Ck, mesum dikit nggak apa apa pintunya dikunci dulu. si otong ngambek liat kamu deket sama cowok lain."
"Otong aja terus mas yang disalahin." kata Riska kembali duduk. percuma Ia merayu Vano karena permintaanya semakin melunjak.
"Kok malah kamu yang kesel sih, ini aku masih marah lo yank.".
"Ck, udah sana mas kamu ke rumah sakit aja! nanti telat."
"Jadi kamu ngusir aku?"
"Kamu itu lagi pms apa gimana sih mas? dari kemarin marah marah mulu!" kesal Riska.
"Oke aku berangkat sekarang! memang percuma perhatian sama istri malah di omelin.'' kata Vano lalu keluar dengan menutup pintu sekeras mungkin membuat Riska melonggo.
"Perhatian katanya? perhatian dari hongkong! jelas jelas dari kemarin datang cuma marah marah terus." gerutu Riska dengan kesalnya.
Sementara Vano memasuki mobilnya dan membanting pintu mobil sekeras mungkin tanda jika Ia sedang marah saat ini tak peduli dengan orang yang melihat ke arah mobilnya.
"Gue harus cepet bikin Riska hamil, ya gue harus bikin dia hamil biar dia resign." kata Vano mantap.
"Semangat tong, mulai ntar malem kita tempur sampai pagi biar Riska cepet hamil dan Lo nggak kehilangan sarang Lo, jangan malu mauin gue." kata Vano sambil mengelusi miliknya dari luar celana.
BERSAMBUNG....
__ADS_1
Lama lama Vano semakin nggak waras pemirsaahhhh, apa mungkin ini efek cinta jadi bucin? 🤣
jangan lupa like komen dan vote