
Alex keluar kamar, pemandangan yang pertama kali Ia lihat adalah Sandi yang tengah merawat istrinya yang berbaring disofa.
"Dimana Vano?" tanya Alex yang tak melihat batang hidung Vano.
Nisa segera bangkit untuk bangun karena merasa tak enak.
"Sudah berbaring saja tak apa, aku hanya ingin menanyakan keberadaan Vano." kata Alex.
"Baiklah Tuan."
"Kenapa tidak membawanya kerumah sakit saja?" tanya Alex.
"Tadi sudah diperiksa oleh Dokter Vano Tuan." jawab Sandi.
"Lalu dimana Vano?"
"Kenapa mencariku? apa kau sudah merindukanku?" Vano keluar dari arah dapur membuat Alex memutar bola matanya malas.
"Ayo kita bicara diluar saja." ajak Alex.
Vano pun mengikuti Alex keluar rumah.
"Dimana kau membawa Hanna?" tanya Alex.
"Kau sudah merindukannya, dari tadi selalu Hanna yang kau tanyakan." kekeh Vano.
"Berhenti bercanda!" geram Alex.
Emosinya sudah di ubun ubun sedangkan Vano tak bisa diajak bicara serius.
"Ck, hidupmu terlalu serius man." ejek Vano.
"Terserah apa yang kau katakan, aku hanya ingin cerita yang sebenarnya, apa yang terjadi tadi?" tanya Alex.
Vano terkekeh lalu menceritakan pada Alex.
Flashback on...
Ella tengah mencuci piring didapur lalu mendengar suara bel didepan, akhirnya Ella menghentikan aktifitasnya dan berjalan ke pintu depan untuk melihat siapa yang datang.
Dan betapa terkejutnya Ella, saat tau jika Hanna yang datang kerumahnya.
"Ada apa? Alex sedang pergi." Tanya Ella yang merasa tak ada urusan dengan Hanna.
"Wah, ternyata kau sedang hamil, pantas saja Alex mudah sekali berpaling dariku dan lebih betah pada istri mudanya." kata Hanna dengan tatapan sinis kala melihat perut buncit Ella.
"Sudahlah, aku benar benar tak ingin berdebat denganmu! jika memang tak ada urusan yang penting aku akan menutup pintunya."
Hanna terlihat geram dengan sikap cuek Ella, Ia hendak mendekati Ella namun tiba tiba Hanna terjatuh kala ada seseorang yang membiusnya dari belakang.
"Dokter Vano, apa yang kau lakukan?" tanya Ella histeris melihat Hanna yang jatuh pingsan dihadapannya.
__ADS_1
"Tenanglah Nona, seharusnya kau berterimakasih padaku karena jika aku tak datang mungkin dia akan mencelakaimu." kata Vano yang membuat Ella sadar jika ternyata Hanna membawa sebuah pisau buah.
Ella membegap mulutnya tak percaya, Hanna hendak melakukan itu padanya, memangnya apa salahnya? bukankah Hanna juga sudah menceraikan Alex batin Ella.
"Huh, benar benar merepotkan." gerutu Vano yang masih membiarkan Hanna tergeletak dilantai depan pintu rumah.
Vano mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi seseorang.
"Apa kita tak membawanya masuk saja?" tanya Ella saat Vano telah selesai menghubungi seseorang.
"Tak perlu, sebentar lagi ada orang yang akan membawanya pergi dari sini."
"Memangnya siapa?" tanya Ella.
"Salah satu anak buahnya Alex," kata Vano membuat Ella ber ohh ria.
Tak berapa lama memang datang dua orang pria berbadan kekar, mendekat kearah Vano dan Ella.
"Bawa dia ketempat biasa, dan jangan lakukan apapun sebelum bosmu datang." perintah Vano.
"Baiklah Tuan."
Salah satu pria itu mengangkat tubuh Hanna dan satunya membuka pintu mobil lalu pergi meninggalkan rumah Ella.
"Memangnya Hanna akan dibawa kemana?" tanya Ella.
"Dia dibawa ketempat yang memang sudah seharusnya." jelas Vano.
"Sudahlah Nona, lebih baik kau buatkan kopi hangat untuk tamu mu ini dan jangan memikirkan sesuatu yang tak penting." jelas Vano.
"Baiklah." Ella mengangguk pasrah lalu berjalan menuju dapur sementara Vano duduk diruang tamu rumah Ella.
Baru satu menit Vano duduk, Ia sudah dikejutkan dengan kepulangan Alex dengan raut wajah paniknya.
Flashback Off..
Alex mengepalkan tangan nya, masih tak menyangka jika Hanna bisa melakukan hal senekat itu.
"Biasanya aku sangat kesal melihatmu datang pagi pagi kerumahku, tapi kali ini aku sangat berterimakasih padamu." kata Alex
"Aku kesini untuk memeriksa pasienku yang lumpuh itu tapi siapa sangka malah sudah sembuh secepat ini, padahal aku berharap Pasienku itu tak bisa sembuh jadi aku bisa merebut istrinya yang cantik itu." kekeh Vano menginggat beberapa hari yang lalu Alex mendatanginya dan meminta bantuan Vano. Alex hanya ingin pura pura sakit saja namun Vano malah mengusulkan agar Alex pura pura lumpuh, memang benar benar saudara sialan Vano itu.
"Sialan kau! jangan berani berani mendekati istriku!".
"Ya aku akan mencobanya." balas Vano santai membuat Alex menatapnya dengan tatapan tajam.
"Lebih baik segera selesaikan urusanmu dengan Hanna, dia sudah kubawa ketempat biasa." jelas Vano.
Alex mengangguk paham, Vano sudah tau rumah yang sering dijadikan tempat penyiksaan para pengkhianat. Karena sewaktu dulu mereka masih akur, bukan hanya Alex yang suka menyiksa orang dirumah itu tapi Vano juga, bahkan Vano terbilang sangat sadis.
Jika Alex menyuruh orang lain untuk menyiksa berbeda dengan Vano yang membedah bahkan menyileti tubuh tersangkanya sendiri tanpa bantuan siapapun.
__ADS_1
Ya memang itulah mereka, dua saudara yang sama sama kejam jika sudah berhubungan dengan para pengkhianat yang bekerja dengan mereka.
"Aku akan kesana." kata Alex yang langsung diangguki oleh Vano.
Alex memasuki mobilnya dan melajukan mobilnya keluar dari pekarangan rumah.
Sementara Vano memasuki rumah Alex lagi, misinya belum selesai. Ya Vano memang sengaja kerumah Ella sepagi ini untuk meminta sarapan buatan Ella yang membuat Vano ketagihan.
Vano memang gila.
"Bawalah masuk kekamar, ada kamar kosong yang tadinya ditempati oleh Bik Sumi." kata Ella yang sudah keluar kamar dan melihat keadaan Nisa yang sangat memprihatinkan.
"Baiklah Nona." kata Sandi membantu Nisa berjalan memasuki kamar yang dimaksud.
"Dan aku belum memaafkanmu, karena kau telah bersetongkol dengan Tuanmu untuk membohongiku." kata Ella.
"Maafkan saya Nona." kata Sandi sambil tersenyum, Ia tau jika Ella hanya kesal saja tak benar benar marah padanya.
"Kau pasti juga sama kan? ikut membantu Alex untuk membohongiku?" tanya Ella kala melihat Vano memasuki rumah.
"Hey, jangan salahkan aku! aku dipaksa oleh suamimu, jika aku menolak Ia mengancam akan mencabut gelar dokterku." balas Vano dengan wajah memelas membuat Ella semakin geram.
"Astaga, benar benar kenapa dia bisa sekejam itu." gerutu Ella membuat Vano tersenyum geli.
"Aku juga takut padanya, jadi jangan salahkan aku oke?" bujuk Vano.
"Baiklah, kali ini aku tak akan marah padamu tapi jika besok kau membantunya lagi, aku tak akan mau mengenalmu lagi." tukas Ella.
"Baiklah Nona, kau benar benar membuatku takut."
Ella tersenyum geli mendengar ucapan Vano.
"Duh, perutku lapar sekali." gerutu Vano.
"Memangnya kau belum sarapan?" tanya Ella.
Vano mengelengkan kepalanya.
"Apa kau mau menunggu sebentar? aku akan membuatkan nasi goreng untukmu." kata Ella.
"Baiklah, tentu saja aku mau." balas Vano.
Memang ini yang ku inginkan batin Vano terkekeh geli.
Bersambung....
Up lagi nanti malam....
jangan lupa like vote dan komen..
yang belum mampir boleh juga mampir ke novel Sekretaris culun milik ceo tampan.
__ADS_1
Thankyou readersss 😘😘😘😘😍🤗