
Tengah malam Riska bangun, Ia merasa sangat lapar dan ingin sekali makan seblak. Melihat ke arah suaminya yang terlelap, sebenarnya Riska tak ingin menganggu tidur Vano namun mau bagaimana lagi, Ia benar benar sangat lapar dan ingin makan seblak di tengah malam begini.
Dengan sangat terpaksa Riska pun membangunkan Vano suaminya.
Riska menggoyang goyangkan tubuh Vano pelan, "Mas bangun, anak kamu kelaperan nih."
Sementara Vano yang dibangunkan masih tak bergerak sama sekali. "Mas, bangun. istri kamu kelaperan." keluh Riska lagi namun yang terdengar hanya gumaman pelan saja.
Riska mencebik kesal, Vano jika sudah tidur memang susah dibangunkan.
"Mas bangun dulu deh, otong kamu bangun tuh." kata Riska dan entah bagaimana menjelaskannya, Vano dengan cepat bangun lalu melihat ke bawah. Vano pun langsung nyengir menatap Riska.
"Eh iya yank, mau ngajak buka puasa apa yank?" tanya Vano "Hayukk deh." Vano memajukan bibirnya hendak mencium Riska namun Riska malah menghindarinya dan memukul lengan suaminya.
"Kebangetan banget sih mas, istrinya kelaperan aja dibangunin cuma ham hem aja. giliran otong langsung garcep banget!" kesal Riska.
"Ya ampun jadi kamu laper sayang?" tanya Vano sambil mengelusi pipi Riska "Hayuk abang temenin makan." ajak Vano bergegas bangun.
"Aku pengen seblak mas." keluh Riska membuat Vano menghentikan langkah kakinya dan berbalik menatap Riska.
"Seblak?" Vano menatap jam dinding sudah pukul setengah 1 malam.
"Iya, aku pengen seblak. pengen mas, pengen banget." pinta Riska manja.
Vano menggeleng kepalanya pelan, "Yank liat jam deh, set 1 mana ada yang jualan seblak?" tanya Vano mencoba memberi pengertian pada Riska.
"Jadi kamu nggak mau nuruti kemauan anak kamu? mau kamu anak kita ileran?" kesal Riska.
"Ampun deh yank, iya iya. abang cariin! bentar abang ganti baju dulu!" kata Vano.
"Nggak usah ganti baju, kelamaan gitu aja!" kata Riska yang membuat Vano melonggo.
"Yank nggak usah aneh aneh deh, masa iya aku keluar cuma pake piyama warna pink muda gini?"
Sebelum tidur memang Vano sempat protes pada Riska karena Riska memberi nya piyama pria namun warna pink. Vano yang tak menyukai warna cerah pun enggan mengenakannya namun karena permintaan istrinya yang tengah hamil akhirnya Vano pun mengenakan piyama itu dengan sangat terpaksa "Toh, cuma di dalam rumah." pikir Vano tadinya dan sekarang siapa sangka Riska menyuruhnya keluar mengenakan piyama ini.
"Trus kamu nggak mau? mau anak kamu ileran?"
"Ampun deh istri sama anak gue, bisa bisanya mereka ngerjain gue kayak gini." batin Vano menggerutu.
"Mas buruan, ngapain sih pake melamun."
"Iya iya, ini juga mau berangkat!"
Vano membuka lemari berniat mengambil jaket, "Nggak usah pake jaket!"
Vano pun kembali menutup lemari setelah mendengar ucapan istrinya. Vano segera saja keluar tak mengubris Riska yang terdengar masih mengomel.
Dengan perasaan sedikit kesal Vano memasuki mobilnya,
__ADS_1
"Ck, jam segini mana ada yang jualan seblak! bisa bisa ketemu kunti gue!" keluh Vano menyalakan mobilnya lalu melajukan mobilnya keluar dari pekarangan rumah.
"Segala pake baju warna kayak gini lagi, ampun deh anak gue belum lahir aja udah usil gini sama bapaknya gimana kalau udah lahir coba?" Vano masih menggerutu.
"Lagian Lo sih tong, kalau minta nggak kira kira! gini nih jadinya, terlalu over." kembali Vano menyalahkan otongnya.
Vano sudah melewati 3 penjual seblak yang Ia tahu namun hasilnya sama, sudah tutup.
Hingga tanpa Vano sadari mobilnya berjalan ke mansion Alex,
"Eh kok gue lewat sini ya?" batin Vano "Ini kan mansion Alex?" Vano menghentikan mobilnya tepat didepan mansion Alex.
"Gue punya ide!" Vano segera mengambil ponselnya untuk menghubungi Alex dan daebak baru saja tersambung panggilannya sudah dijawab oleh Alex.
"Ngapain sih telepon malem malem!" bentak Alex terdengar galak.
"Duh jangan galak galak napa sama adek sendiri."
"Nggak sudi punya adek kayak Lo!"
"Sebenarnya gue juga ogah punya abang kayak lo, tapi gimana ya karena memang udah takdir ya sudah lebih baik memanfaatkan keadaan yang ada saja."
"Sialan." gerutu Alex yang membuat Vano terkekeh.
"Bang, si Ella udah tidur belum?"
"Ngapain nanyain bini gue?" sewwot Alex.
"Dimana Lo sekarang?"
"Kenapa bang?"
"Mau gue hajar!"
"Ampun deh bang, nggak usah galak galak!"
Hening sejenak.
"Bang, Riska tuh ngidam minta seblak, mana ada seblak buka jam segini! makanya tolongin gue suruh Ella buatin seblak." keluh Vano dan langsung terdengar suara tawa Alex.
"Rasain! emang enak! cari sendiri sana nggak usah nyuruh nyuruh bini orang!" kata Alex lalu memutuskan panggilannya.
"Sialan! dasar abang laknat!"
Sementara Alex yang baru saja mematikan teleponnya, kembali menghampiri istrinya yang tengah beristirahat setelah percintaan panas mereka.
"Siapa mas? kok ketawa sih kamu?" tanya Ella yang sedari tadi memperhatikan suaminya.
"Tuh si Vano binggung nyari seblak, si Riska ngidam seblak tengah malam gini. mana ada yang jualan." kekeh Alex.
__ADS_1
"Ampun deh mas! kamu tuh ya kebangetan banget sih! suruh kesini biar aku bikinin." kata Ella bergegas bangun dan mengenakan piyamanya.
"Yank, nggak usah! kita baru satu ronde lo! masih mau nambah!" kata Alex.
"Bener bener deh mas kamu! coba bayangin kalau kamu yang ada diposisi Vano gimana?"
"Ya gampang aja tinggal nyuruh Sandi!" balas Alex santai.
"Mas, kamu tuh ya ih!" Ella gemas dan memukuli lengan suaminya "Buruan telepon Vano biar aku bikinin dulu." kata Ella buru buru keluar kamar.
Dengan malas, Alex meraih ponselnya dan menghubungi Vano kembali.
Vano yang hendak memutar mobilnya terkejut mendengar dering ponselnya.
Abang Lucknut, nama Alex diponsel Vano.
'"Napa?" tanya Vano dengan nada kesal.
"Sini Lo, ngrepotin aja! tuh dibikinin ama Ella." jawab Alex yang seketika membuat Vano sumringah.
"Seriusan bang? oke deh meluncur!" Vano segera mematikan mesin mobilnya dan keluar dari mobil.
Alex dibuat heran, baru satu menit Ia mematikan panggilannya, namun kenapa bel mansion nya sudah berbunyi.
"Gila, tuh bocah cepet banget nyampenya?" gerutu Alex dengan malas membuka pintu.
Alex yang tadinya kesal, melihat penampilan Vano pun malah tertawa. Ya melihat Vano mengenakan piyama pink.
"HAHAHA, lo rabun apa gimana?" ejek Alex membuat Vano berdecak kesal. sadar jika Alex menertawakan piyama yang Ia pake.
"Ck, nggak usah ngetawain gue deh bang! gue terpaksa!" kata Vano lalu nyelonong saja memasuki mansion.
Vano langsung ke bagian dapur untuk melihat Ella memasak, tak memperdulikan Alex yang masih menertawakannya.
"Bau nya harum banget La, mau dong dibikinin 2 porsi!" celetuk Vano.
Alex yang kesal pun melempar serbet ke muka Vano,
"Udah ngrepotin nggak tau malu pula, Lo pikir ini warung apa!" kata Vano sebal.
"Ck, mas jangan gitu lah, aku bikinnya juga banyak kok! mas mau?" tawar Ella membuat Vano memeletkan lidahnya mengejek Alex membuat Alex bertambah geram.
Ella berbalik, Ia terkejut melihat pakaian Vano dan reflek Ella tertawa kencang. Melihat istrinya menertawakan piyama Vano, Alex pun kembali ikut tertawa.
Sementara Vano, hanya bisa pasrah.
"Nggak apa deh diketawain yang penting gue udah dapet seblaknya, gratis lagi!"
Bersambung...
__ADS_1
Like vote komen yukk...