ISTRI KEDUA TUAN ALEX

ISTRI KEDUA TUAN ALEX
128


__ADS_3

"Alhamdulilah," semua orang di dalam ruangan itu mengumandangkan syukur setelah Alex selesai mengadzani putra pertama nya.


Alex mengendong Babynya lalu menghampiri istrinya, Ia memberikan baby pada Ella yang sudah menunggu sejak tadi.


Tak lupa memberikan kecupan di kening Ella "Terimakasih sayang telah melahirkan putra kita." kata Alex yang membuat semua orang yang ada didalam sana iri dengan keromantisan pasangan itu.



Sementara di pojok dekat pintu, Vano memandang ke arah Alex dengan malas, Ia masih kesal dengan tuduhan Alex. begitu juga dengan Riska yang memandang Vano meminta penjelasan untuk apa Vano kemari.


"Apa kau sudah memikirkan akan memberi nama siapa?" tanya Budhe.


"Biarkan mas Alex saja." balas Ella.


"Liu Cha Alexander, bagaimana? apa kau suka?" tanya Alex dan Ella pun mengangguk menyetujui.


Alex kembali mencium kening Ella, sementara Baby Liu sekarang sudah ada digendongan Budhe bergantian dengan Bik Sumi.


"Tampan sekali kamu nak, semoga jadi anak yang soleh." kata Budhe yang langsung di amini semua orang yang ada disana.


"Bibirnya milik Non Ella dan hidungnya milik Den Alex." celetuk Bik Sumi kala Baby Liu ada di gendongannnya.


"Bikin nya aja berdua Bik," kekeh Alex membuat Semua orang disana ikut tertawa kecuali Vano masih menatap jengah ke arah Alex.


"Kau bukannya yang tadi kesini bersama putriku?" tanya Pakde mendekati Vano.


"Iya benar pak."


"Dia kekasih Riska, tadi mengatakan padaku akan menikahi Riska pakde." kata Alex membuat semua orang terkejut.


"Apaa???" Vano dan Riska terkejut bersamaan.


"Alhamdulilah jika memang ada niat baik dari kamu, bapak akan menerimanya." kata pakde, Budhe pun terlihat senang sedangkan Riska menatap Vano meminta penjelasan.


"Tapi yah, kami ini hanya te-"


Alex segera memotong ucapan Riska "Kau tidak perlu takut untuk mengakuinya, aku tadi sudah berbicara padanya." kata Alex.


"Berbicara apa maksud mu itu?" kesal Vano.


"Kau tadi mengatakan jika akan bertanggung jawab pada Riska."


"APAAAAA?" kini giliran Pakde, Budhe dan Rangga terkejut.


Segera Rangga menghampiri Vano penuh emosi hendak memukul Vano namun dicegah oleh Riska.

__ADS_1


"Berani beraninya kau menghamili adik ku!" kata Rangga emosi.


"Ha-hamil?" Riska dan Vano kembali dibuat binggung oleh semua orang yang ada di sini.


Budhe mulai menangis, tak menyangka putrinya akan hamil di luar nikah seperti ini.


"Jika sudah seperti ini kalian harus segera menikah." kata Pakde langsung keluar diikuti Budhe yang menatap Riska kecewa.


"Aya-yah . semua nggak benar." jelas Riska yang tak didengar ayahnya.


"Awas lo, sampai lari dari tanggung jawab, gue bakal cari Lo sampai ujung dunia, brengsek!" maki Rangga ikut keluar mengikuti pakde dan budhe.


Sementara Vano dan Riska masih berdiri disana, masih menyadarkan apa yang baru saja terjadi.


"Kamu ini dateng cuma mau bikin ribut aja deh Van, udah sana keluar biar Ella nyusuin anaknya dulu!" bentak Dina yang baru saja masuk melihat ruangan Ella masih banyak orang.


Vano dengan nurutnya keluar diikuti oleh Riska.


Sementara Dina menghampiri Ella yang berbaring diranjangnya.


"Ayo susui babynya, biar aku bantu." kata Dina.


Dina membantu Ella mendekatkan baby nya agar bisa menyusui, Ella yang masih awam masih belum paham pun mengikuti intruksi Dina hingga Baby Liu akhirnya menyedot asinya dengan lahap.


"Hsssshhhh..." Ella menahan perih kala lidah kasar Baby liu menyedot asinya.


"Jangan menyakiti Mommy mu Baby," kata Alex yang masih setia menemani Ella disampingnnya.


"Ck, dasar suami posesif." gerutu Dina yang hanya dikekehi oleh Alex dan Ella.


Sementara Riska mengikuti Vano untuk meminta penjelasan.


"Sebenarnya apa yang terjadi?" tanya Riska dengan nada kesal saat keduanya berada di parkiran mobil.


"Gila, ini benar benar gila!" kesal Vano menendang nendang ban mobilnya.


Riska semakin dibuat binggung dengan tingkah Vano yang tak menjawabnya.


"Aku bertanya padamu, apa yang terjadi hingga mereka mengangap aku hamil?" tanya Riska sedikit mengebu.


"Jangan tanyakan padaku, tanyakan pada Alex sialan itu, dia yang menyebabkan ini semua terjadi." kata Vano tak kalah kesal.


"Kenapa kau bahkan tak mencegahnya, bagaimana jika keluargaku terus memaksamu untuk menikahiku?"


"Ya sudah, kita katakan semuanya pada Keluargamu, bilang saja jika kau memiliki hutang padaku." balas Vano santai.

__ADS_1


Riska melotot menatap Vano tak percaya, "Kau gila? aku tak ingin menambah beban keluargaku!" kata Riska "Aku tak ingin menambah beban mereka jika mereka tau kalau aku memiliki hutang sebanyak itu!" tambah Riska.


"Ya sudah, kita menikah saja dan semuanya selesai."


"Kau benar benar gila! kita bahkan tak saling mencintai. bagaimana bisa kau mengajak ku menikah." protes Riska lagi.


"Lalu aku harus bagaimana? mengakui ke keluargamu tidak boleh, menikah tidak mau. kau membuatku gila!" sentak Vano.


"Ada satu hal yang bisa membuat kita keluar dari masalah ini!"


"Apa?" tanya Vano mengerutkan keningnya.


"Ikhlaskan saja hutangmu padaku dan semuanya selesai." kata Riska.


Hahahaha... tawa Vano mengema membuat Riska heran.


"Enak sekali kau meminta seperti itu! aku tidak setuju tidak akan." kata Vano tegas.


"Bukankah aku juga sudah bekerja ditempatmu selama 2 bulan, hanya tersisa 3 bulan tidak bisa kah kau mengikhlaskan saja?" pinta Riska dengan wajah memelas.


Astaga imut sekali gadis ini jika wajahnya seperti ini batin Vano lalu menggelengkan kepalanya tegas.


"Tidak, hanya ada dua pilihan .. kita akui saja atau menikah denganku." kata Vano mantap.


Riska meraup wajahnya frustasi, "Sudahlah, lebih baik kita pulang saja, aku lelah."


"Ya, aku juga sangat lelah." balas Vano dingin.


Keduanya pun memasuki mobil dan Vano mulai melajukan mobilnya menuju rumah karena motor Riska juga berada dirumahnya.


Sesampainya dirumah, Riska segera keluar dari mobil dan langsung melajukan motornya keluar dari pekarangan rumah.


"Pikirkan baik baik ucapanku tadi, aku akan menerima apapun pilihanmu." kata Vano yang sama sekali tak digubris oleh Riska malah semakin melajukan dengan kencang hingga Riska tak terlihat lagi.


"Menikah? aku pasti sudah gila mengajaknya menikah." kata Vano menggelengkan kepalanya lalu memasuki rumahnya.


Sementara Riska menghentikan motornya tepat didepan rumahnya. Takut, itulah yang saat ini Riska rasakan kala akan memasuki rumahnya sendiri.


Riska tau jika didalam sana pasti keluarganya sudah bersiap akan mengintrogasinya dan jujur Riska masih binggung harus bagaimana menjelaskan pada keluarganya.


Apa dia harus menikah dengan Vano? ah tidak membayangkan saja rasanya tak mampu apalagi harus menikah dengan dokter dingin menyebalkan itu.


Ceklek... pintu rumah terbuka. Dan benar saja semua keluarganya sudah berkumpul di ruang tamu dan menatap ke arahnya dengan tatapan marah.


Bersambung..

__ADS_1


Jangan lupa like vote dan komen....


__ADS_2