
Alex berjalan cepat menuju ruang rawat yang Bianca kirimkan lewat sms.
"29 B, bener kayaknya ini kamarnya." Alex segera membuka pintu kamar dan benar saja Ia melihat Bianca adik tirinya tengah menangis sambil memegang tangan Mama Rena yang masih memejamkan mata.
"Bi.." panggil Alex membuat Bianca menatap kearah suaranya lalu menghambur ke pelukan Alex.
"Kak Alex," Bianca sudah ada didekapan Alex "Aku takut Mama kenapa napa Kak." kata Bianca sambil menangis.
"Sudah tenang, pasti Mama baik baik saja." kata Alex menghibur Bianca.
"Aku pikir Kak Alex tak akan menjawab panggilanku dan tak akan kesini karena Hanna istri kakak itu pasti melarang." kata Bianca yang membuat Alex sadar jika Bianca belum mengetahui jika dirinya sudah tak bersama Hanna lagi.
"Sudah jangan pikirkan apapun, sekarang kamu temenin mama dulu, biar kakak ketemu sama dokter yang memeriksa Mama." kata Alex yang langsung diangguki Bianca.
"Apa? kanker hati?" Alex terkejut dengan ucapan dokter Farrel, dokter yang merawat Mama Rena.
"Iya, dan mungkin umur Mama Rena tak akan lama lagi." jelas Dokter Farrel.
Alex menatap dokter Farrel tak percaya, "Apa tak ada jalan lain untuk menyembuhkannya?"
"Sudah terlambat, saat awal dulu penyakit nya terdeteksi, Mama Rena selalu menolak segala pengobatan dan terapi yang saya tawarkan dan sekarang penyakit itu sudah menjalar menutupi seluruh hatinya jadi sangat terlambat untuk melakukan operasi." jelas Dokter Farrel.
Alex tak menyangka, untuk apa Mama Rena melakukan ini semua, membiarkan penyakit mengerogoti tubuhnya.
"Apa Bianca sudah tau penyakit Mama nya?" tanya Alex.
Dokter Farrel menggelengkan kepalanya "Belum, aku belum berani memberitahunya karena melihat Bianca cukup shock saat membawa Nyonya Rena kesini."
Dokter Farrel adalah salah satu dokter dikeluarga Alex selain Dokter Vano.
"Baiklah, aku minta tolong jangan katakan perihal penyakit Mama Rena pada Bianca dan lakukan apapun yang terbaik untuk Mama Rena." kata Alex.
"Baiklah, aku akan tetap mengusahakan yang terbaik." kata Dokter Farrel.
Alex segera keluar dari ruangan Farrel setelah selesai berbicara dengan Farrel, tak lupa Alex mampir ke kafetaria untuk membelikan makanan Bianca karena Alex tau pasti Bianca belum makan.
Alex kembali memasuki ruang inap Mama Rena dan melihat Bianca masih menangis.
"Kak, apa kata dokter Farrel?" tanya Bianca.
"Semuanya baik baik saja Bi, Mama hanya butuh istirahat." kata Alex "Makanlah dulu, pasti kamu belum makan kan?" tanya Alex sambil menyodorkan makanan yang baru saja Ia beli untuk Bianca.
"Kakak nginep kan? kakak nemenin Bi disini kan?" tanya Bianca yang langsung mendapatkan anggukan dari Alex.
Sementara Riska yang sedari tadi cemas memikirkan Vano akan membawanya kemana pun sedikit terkejut karena Vano hanya membawanya ke sebuah supermarket.
__ADS_1
"Untuk apa kita kesini?" tanya Riska heran.
"Dibelakang ada topi, kamu duduk disana trus topinya kamu taruh didepan, mukanya dimelas melasin biar banyak yang ngasih duit jadi cepet dapet uang 50 juta nya." jelas Vano yang membuat Riska mendelik ke arah Vano tak percaya.
"Kamu nyuruh aku ngemis?"
Vano hanya tertawa "Lagian kamu ini pinter banget ya, kalau aku ngajak kesini udah pasti buat belanja, cepet turun."
Riska menanggapi ucapan Vano dengan cemberutan, bisa bisanya Vano mengajaknya bercanda disaat Ia sedang serius.
Riska pun turun membuntuti langkah Vano,
"Kamu bisa masak kan?" tanya Vano.
"Bisa dong, masa anak cewek nggak bisa masak." ungkap Riska dengan bangganya.
"Ya udah sekarang kamu beli bahan buat bikin sop buntut." perintah Vano.
"Ck, itu sih gampang!" Riska segera mendorong troli lalu mengambil bahan untuk membuat sop buntut.
"Udah?" tanya Vano.
"Udah kok, kamu kan yang bayar?" tanya Riska.
"Ya iyalah, emangnya kamu punya uang?" ejek Vano membuat Riska lagi lagi cemberut.
"Trus kita kemana lagi?"
"Ke hotel." balas Vano dengan senyuman tengil membuat Riska takut lalu menutupi dadanya dengan kedua tangannya.
Vano terkekeh melihat tingkah Riska "Kamu bawel banget sih, tinggal nurut aja nggak usah banyak tanya!" kata Vano.
"Tapi kamu nggak akan ngajak ke hotel kan?" tanya Riska tak bisa membayangkan apa yang akan terjadi jika Vano membawanya ke hotel.
"Ck, ngarep banget ya diajak ke hotel?" goda Vano.
"Eng-enggak, aku nggak mau!" teriak Riska.
"Makanya diem kalau nggak mau."
Seketika Riska membungkam mulutnya, tak mengatakan apapun lagi.
Tak berapa lama mobil Vano berhenti disebuah rumah minimalis yang sangat bagus.
"Rumah siapa? rumah kamu?" tanya Riska kagum.
__ADS_1
"Hmm, turun." ajak Vano.
Riska pun turun membututi Vano, keduanya memasuki rumah Vano.
"Sekarang kamu masakin aku sop buntut dengan bahan yang kita beli tadi." perintah Vano.
"Masak?"
"Iya, katanya bisa masak jadi buruan masak." kata Vano "Semua alat masak ada di dalam situ dan kalau butuh apapun kamu bilang aja sama aku, aku nunggu didepan televisi, cepet nggak pake lama!" perintah Vano lalu pergi meninggalkan Riska yang masih melonggo dibuatnya.
"Apa apaan sih nyuruh masak! mobil sih bagus, tampan ganteng, horang kaya pula ngapain juga nggak nyari pembantu." gerutu Riska.
"Aku denger lho." kata Vano yang membuat Riska terkejut kala Vano ternyata masih disana.
"Ak-aku nggak ngomongin kamu kok." kata Riska gugup.
"Bagus deh, kalau aku tau kamu ngomongin aku, nanti aku akan naikin hutang kamu." kata Vano yang membuat Riska terkejut.
"Eng-enggaklah, mana mungkin aku ngomongin kamu." kekeh Riska namun masih terdengar gugup.
Riska pun segera memulai masak kala Vano meninggalkannya didapur.
Untung saja Riska sudah belajar memasak sejak masih sekolah jadi sudah banyak resep masakan yang Ia kuasai termasuk sop buntut yang diminta Vano saat ini.
"Hmm, pas ini mah." kata Riska kala mencicipi masakan hasil karyanya sebelum Ia suguhkan pada Vano.
Setelah dirasa matang, Riska segera menyajikan masakan di mangkuk tak lupa nasi yang juga baru saja matang.
Cukup heran, didapur sebesar ini tak pernah digunakan, dilihat dari isi kulkas yang kosong membuat Riska paham jika Vano tak pernah menggunakan dapurnya ini.
"Kenapa Vano tak mencari pembantu saja?" itulah yang sedari Riska pikirkan.
Riska meletakan masakannya di meja makan lalu berjalan mendekati Vano yang tengah memainkan ponselnya.
"Sudah matang." kata Riska.
"Ah pas sekali, aku juga sudah sangat lapar, mari kita cicipi seberapa enak masakanmu." kata Vano berjalan menuju meja makan.
Dari harumnya saja, Vano bisa menebak jika masakannya Riska pasti enak, dan benar saja kala Vano mencicipi masakan Riska Ia sangat menyukai masakan Riska karena pas di lidahnya.
"Bagaimana Rasanya?" tanya Riska tak sabar.
"Hmm, biasa saja." balas Vano yang membuat Riska sedikit kecewa,
Padahal Ia tadi Riska mencicipi dan rasanya enak, mungkin karena lidah horang kaya berbeda dengan lidahnya batin Riska.
__ADS_1
Bersambung....
jangan lupa like vote dan komenn...