ISTRI KEDUA TUAN ALEX

ISTRI KEDUA TUAN ALEX
191


__ADS_3

Selesai meributkan panggilan ,kini Rangga dan Bianca sudah berada didalam mobil untuk pergi ke tempat dimana proyek mereka sedang dijalankan.


"Bagaimana kabar Riska?" tanya Bianca sesaat setelah keduanya hening didalam mobil. Riska memang teman kuliah Bianca, dan karena Riska pula Bianca bisa mengenal Rangga hingga berpacaran dengan Rangga.


"Jangan mencampur adukan masalah pribadi dengan pekerjaan, jangan menanyakan masalah pribadi saat bekerja." jelas Rangga membuat Bianca seketika kesal. Ia hanya tak ingin bersikap canggung lagi, namun Rangga malah menyebalkan seperti ini.


"Baiklah pak, saya tidak akan bertanya lagi." balas Bianca dengan nada kesal.


"Tanyakan itu saat kita makan siang nanti." tambah Rangga.


"Apa artinya kita akan makan siang bersama?" tanya Bianca girang.


"Ck, Kita sedang diluar jadi terpaksa harus makan siang bersama." Bianca langsung cemberut mendengar Rangga mengatakan terpaksa.


"Terpaksa, seolah kau tak menginginkan saja!" gerutu Bianca membuat Rangga terkekeh.


"Kau tersenyum?" girang Bianca mendengar kekehan Rangga, namun segera Rangga diam menghentikan senyumannya.


"Tidak, siapa yang tersenyum." sangkal Rangga.


"Iya baru saja kau tersenyum, ck bisa bisanya tak mengakui." protes Bianca membuat Rangga tersenyum geli.


Entahlah berada didekat Bianca membuatnya kembali bersemangat.


"Kau sudah banyak berubah, sudah tidak tomboy lagi sekarang." kata Rangga tiba tiba.


"Ck, jangan menanyakan hal pribadi saat bekerja." kata Bianca membuat Rangga kembali terkekeh gemas.


"Ya kau memang benar, kita sudah sampai jadi lebih baik kita segera turun dan mulai bekerja." ajak Rangga langsung diangguki Bianca.


Mereka pun mulai bekerja, beruntung bagi Rangga karena Bianca bukan orang yang susah memahami, Bianca sangatlah pintar dan cekatan hingga pekerjaan mereka cepat selesai.


Dan selama bekerja, mereka terlihat selalu berdekatan kadang tak sengaja menyentuh tangan satu sama lain membuat mereka kembali merasakan degupan jantung kencang, entah Bianca atau Rangga sama saja namun itu lah yang membuat mereka tidak canggung lagi.


Tak jarang Rangga langsung mengelus rambut Bianca saat Bianca berhasil menebak sesuatu.


"Sudah lewat makan siang, bagaimana jika kita makan siang lebih dulu? aku lapar." rengek Bianca sambil memeganggi lengan Rangga dan entah mengapa Rangga sangat menyukai manjanya Bianca ini. membuat Rangga mengingat saat mereka masih menjalin hubungan dulu.


"Baiklah, kita makan tapi disekitar sini hanya ada penjual soto." jelas Rangga "Kau masih menyukainya kan makanan jalanan seperti itu?" tanya Rangga.


Bianca memukul lengan Rangga pelan "Tentu saja aku masih menyukainya, meskipun aku sempat diluar negeri tetap saja makanan jalanan indonesia masih menjadi favoritku." ungkap Bianca.


Inilah yang membuat Rangga jatuh cinta pada sosok Bianca, meskipun Rangga tau jika Bianca orang berada namun Bianca tak pernah memperlihatkan itu semua, karena Bianca orang yang sederhana.


"Ya sudah ayo." ajak Rangga.


Keduanya pun berjalan kaki menuju warung soto pinggir jalan dekat dengan tempat mereka bekerja.


"Buk, soto nya dua porsi." pinta Rangga memesan soto pada pemilik warung.


"Aku mau es jeruk juga." pinta Bianca.


"Es jeruknya dua ya bu.."

__ADS_1


"Siap mas." Ibu penjual soto pun langsung membuatkan pesanan mereka.


"Riska udah nikah." kata Rangga menjawab pertanyaan Bianca saat dimobil.


"Haaa? sama siapa?" tanya Bianca kaget, mengingat Riska tak pernah memiliki kekasih.


"Sama dokter, aku juga nggak terlalu kenal soalnya mereka tiba tiba minta nikah!"


"Apa jangan jangan mereka-"


"Enggaklah, orang Riska hamil juga baru baru ini." jelas Rangga.


Bianca langsung ber ohh ria "Wah jadi kamu di duluin dong?" ejek Bianca.


"Ck, mau gimana lagi! calonnya aja malah kabur keluar negeri." kata Rangga yang langsung membuat Bianca merasa bersalah.


"Maaf, waktu itu aku binggung, aku nggak tau ternyata nggak semudah itu meninggalkan semua yang udah kita lewati." jelas Bianca.


"Padahal bukan kamu yang aku maksud!" celetuk Rangga yang langsung membuat Bianca kesal dan memukul lengan Rangga.


"Dasar nyebelin." kata Bianca membuat Rangga terkekeh.


"Padahal dulu aku bilang sama kamu, kita LDR aja aku nggak masalah aku pasti nungguin kamu, tapi kamu nya malah tetep mau putus!" kesal Rangga mengingat Bianca yang memutuskan begitu saja.


"Ya maaf, aku juga nyesel banget."


"Kamu emang harus nyesel." kata Rangga kembali membuat Bianca memukul Rangga.


"Jahat banget sih!" Rangga kembali terkekeh.


"Jangan makan sambel banyak banyak ntar kamu mules." Rangga mengingatkan.


"Duh inget banget sih mas mantan." kata Bianca senang.


"Nggak sengaja inget aja!"


"Dasar gengsian!"


Rangga kembali terkekeh.


Ditengah tengah mereka makan, ponsel Rangga berdering, membuat Rangga merogoh kantong celananya dan melihat Dina yang meneleponnya.


"Angkat aja." kata Bianca melihat Rangga terlihat ragu untuk mengangkat telepon.


Rangga pun mengangkat telepon Dina dan masih ada disamping Bianca.


"Ya Na.? ada apa?" tanya Rangga.


"Kamu dimana?" suara Dina dari dalam telepon.


"Ini aku baru makan siang."


"kirimi aku alamatnya, aku mau kesana." pinta Dina.

__ADS_1


"Nggak usah nyusul, kamu pasti nggak suka tempatnya."


"Memang dimana?"


"Soto pinggir jalan."


"Oh ya udah Happy lunch ya."


"Oke." Rangga pun mematikan panggilannya, sudah bisa ditebak jika Dina pasti tidak akan mau makan ditempat seperti ini. lagipula Rangga juga tak ingin Bianca salah paham jika Dina menyusul kesini, bisa bisa hubungan mereka menjauh lagi padahal seharian ini sudah kembali dekat.


"Siapa? cewek kamu?" tanya Bianca terlihat tak suka, sedari tadi Bianca menguping pembicaraan Rangga dan entah mengapa Bianca tak suka jika Rangga dekat dengan wanita lain.


"Bukan, cuma temen." kata Rangga kembali menikmati sotonya.


"Ohh, keliatannya deket gitu!"


"Hmm, lumayanlah. kenapa cemburu?"


"Eng-enggaklah, aku kan cuma tanya." sangkal Bianca membuat Rangga terkekeh.


"Ya udah dimakan sotonya masa dari tadi cuma di aduk aja." kata Rangga membuat Bianca terkejut karena Rangga mengetahui dirinya kesal.


Bianca mengangguk dan terpaksa menghabiskan makanannya meskipun dirinya sudah tak nafsu makan lagi.


Selesai makan, Bianca masih saja lesu tidak semangat seperti saat diawal tadi.


Mengetahui itu, Rangga merangkul Bianca yang tengah berdiri "Masa kayak gini dari tadi nggak selesai sih." Bianca terkejut melihat perlakuan Rangga.


"Ayo selesain trus kita pulang, ntar keburu malem, nggak enak dong sama pak Bos hari pertama kerja udah bikin adek perawannya pulang malem." kata Rangga sambil mencubit mengelus rambut Bianca dan entah mengapa langsung membuat Bianca kembali semangat.


Sejak dulu Bianca memang selalu senang saat Rangga memeluknya, merangkul atau mengelus rambutnya, perlakuan Rangga seperti moodbooster untuknya.


Dan setelah perlakuan Rangga itu akhirnya pekerjaan Bianca cepat selesai dan mereka pulang lebih cepat.


"Aku mau kapan kapan kita naik motor kamu yang dulu aja nggak usah naik mobil." pinta Bianca.


"Motornya udah aku jual." jelas Rangga. motor butut yang menemani Rangga saat kuliah diperantauan memang sudah Ia jual karena saat Ia di phk dulu butuh uang untuk bertahan hidup diperantauan sebelum akhirnya Alex menjemputnya dan Riska.


"Haa? kenapa?" tanya Bianca terlihat kecewa.


"Kepo."


"Ck, nyebelin banget sih!"


Akhirnya mereka pun sampai didepan mansion Alex, tempat tinggal Bianca yang sekarang.


Sebelum keluar, Bianca menarik lengan Rangga hingga mendekat lalu,


Cup.. Bianca mengecup pipi Rangga dan langsung kabur keluar.


Rangga yang mulai sadar, langsung memeganggi pipi bekas ciuman Bianca.


"Cewek itu bener bener deh."

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2