
Sebenarnya Vano tak masalah jika Bianca menikah dengan Rangga namun mengingat sikap menyebalkan Bianca selama ini tentu akan menjadi masalah untuknya atau lebih tepatnya Bianca bisa lebih sering mengerjai nya nanti.
"Kamu saudara nya Alex pasti kenal ya sama Bianca?" kali ini Budhe yang bertanya.
"Iya, Bianca sepupu aku. adik tirinya Alex." jelas Vano yang langsung mendapatkan cibiran dari Riska.
"Padahal kemarin aja nggak dianggep." cibir Riska pelan namun masih bisa didengar oleh Vano.
Vano hanya berdecak kesal menanggapi ucapan Riska.
"Wah bagus ya, semua jadi saudara ipar sekarang." kekeh Pakde.
Vano memaksakan tersenyum meskipun sebenarnya Ia tak menyukai keadaan ini.
"Trus Bang Rangga kemana Yah? kerja?" Tanya Riska.
"Ya enggak dong, abang kamu pergi beli buat lamaran nanti." jelas Ayah.
"Mas Alex ngasih waktu libur buat Abang kamu, lagian nikahnya seminggu lagi." jelas Budhe menimpali.
"Apa nggak terlalu cepat apa Bu?" tanya Vano.
"Ya gimana lagi, Alex maunya gitu."
"Ck, dasar tukang maksa." gerutu Vano yang masih bisa didengar oleh Riska.
Riska pun mencubit pinggang Vano membuat Vano mengaduh.
"Ada senyum sayang." kata Riska kala Pakde dam Budhe terkejut dengan suara Vano.
"Masa sih ada semut? padahal kursi nya udah dibersihkan sama Ibu."
"Tau deh Bu, semutnya emang genit banget." celetuk Vano yang langsung saja membuat semua orang terkekeh.
Tak berapa lama Rangga pun datang membawa banyak belanjaan yang akan Ia bawa untuk acara lamaran.
"Ciee yang mau nikah." goda Riska.
"Kok kamu bisa disini dek? suami kamu juga nggak kerja emang?" tanya Rangga melihat Riska dan Vano duduk diruang tamu.
"Udah pulang kok mas." balas Vano.
"Aku kan mau ikut ngelamar Bianca bang."
"Kalau kamu capek nggak usah ikut nggak apa apa dek, lagian lagi hamil besar takut kenapa napa." kata Rangga mengingat usia kehamilan Riska memang sudah hampir 7 bulan.
__ADS_1
"Tuh, denger abang kamu bilang, kita nggak usah ikut aja." bisik Vano ditelingga Riska membuat Riska mendelik protes ke arahnya.
"Nggak apa apa Bang, aku kuat kok. lagian ini momen penting, nggak mungkin kalau nggak ikut." balas Riska yang seketika membuat Vano lemas.
"Ya udah terserah kalian aja." kata Rangga.
Sore harinya, Semua orang berangkat ke mansion Alex untuk acara lamaran Rangga Bianca.
Saudara dekat dari Pakde dan Budhe juga ikut meramaikan acara lamaran Rangga.
Semua orang terlihat sumringah dan bahagia kecuali satu orang yang berwajah datar, Vano.
"Mas, senyum dong. cemberut aja nggak enak dipandang tau." bisik Riska tak ingin didengar orang lain.
"Nggak usah dipandang kalau nggak enak." balas Vano acuh sambil terus melajukan mobilnya.
"Ck, tuh dek Papa kamu mulai nyebelin nya!" kesal Riska sambil mengelus perut buncitnya membuat Vano tak bisa menahan tawa.
Vano memang tak bisa menahan tawa dan gemas jika Riska sudah mengelus perut buncitnya dan mengadu pada calon anaknya.
Sesampainya di mansion Alex yang juga sudah siap menerima tamu dari keluarga Rangga pun memyambut kedatangan keluarga Rangga.
Alex, Ella ,Baby Liu yang mengunakan sarimbit batik dengan corak yang sama. Bianca yang mengenakan kebaya warna peach yang membuatnya terlihat sangat cantik bahkan membuat Rangga tak berkedip menatap calon istrinya itu sementara ada beberapa keluarga lain dari mendiang Mama Bianca yang juga ikut hadir menyaksikan acara lamaran itu.
Setelah lamaran selesai, kini semua orang menikmati hidangan yang disajikan disana.
Vano hanya tersenyum acuh membuat Ella heran karena tak biasanya Vano bersikap seperti itu.
"Ya ampun gemes banget sih kamu." Riska menoel noel pipi Baby Liu.
"Hpl lahiran kapan mbak?" tanya Ella.
"2.5 bulan lagi sih menurut hasil usg."
"Duh bentar lagi bakal punya temen main ya nak."
Riska dan Ella asyik berbincang sementara Vano hanya diam mendengarkan ocehan dua wanita itu.
"Eh Ris, laki Lo kenapa? kurang jatah?" tanya Alex yang baru saja datang menghampiri mereka.
Vano menatap Alex acuh lalu mengeluarkan ponselnya untuk menghindari godaan Alex.
"Iya kok nggak kayak biasanya sih om Vano, kan nggak seru." kata Ella menimpali.
"Ck, tau tuh. dari tadi juga uring uringan terus." kata Riska.
__ADS_1
Vano masih acuh, pura pura tak mendengar malah sibuk bermain dengan ponselnya.
"Pawangnya ada disini jadi dia nggak berani macem macem." kekeh Alex membuat Vano mendelik tak terima.
"Ck, gue emang lagi males aja. biasa bawaan bayi." sangkal Vano membuat Riska gemas dan memukul lengan nya.
"Apa sih mas, bayi di bawa bawa!" kesal Riska membuat Alex terbahak sementara Vano hanya acuh.
"Udah ah mas, jangan diketawain lagi." kata Ella pada Alex.
"Biarin aja sayang, kapan lagi kita bisa ngejek Vano kalau nggak pas ada pawangnya kayak gini." balas Alex membuat Vano semakin kesal saja mendengarnya.
Sebenarnya Vano bisa saja membalas ejekan Alex namun ia malas jika Bianca tau dan tak terima bisa bisa rahasianya dibongkar oleh Bianca disini. Ah wanita menyebalkan itu, kenapa pula Ia harus menjadi kakak iparnya membuat Vano tak bisa berkutik lagi dan tak bisa mengoda Alex lagi.
Selesai acara, Vano mengantar Rangga dan mertuanya pulang lebih dulu sebelum Ia pulang kerumah.
Diperjalanan, Riska melihat ada penjual Cilok dan rasanya Riska ingin makan cilok.
"Mas puter balik dulu dong, ke indomaret yang tadi." pinta Riska.
"Mau beli apa sayang?" Vano menuruti saja keinginan istrinya memutar mobilnya lagi.
"Beli cilok, kayaknya enak beli cilok pake sambel kacang." kata Riska sambil membayangkan.
"Ck, iya udah iya."
Selesai membeli cilok, Riska langsung saja menikmati Cilok yang masih hangat itu.
"Yakin mas, nggak mau?" tawar Riska yang hanya di gelengi oleh Vano.
Riska hanya menghela nafas melihat tingkah aneh suaminya yang tak seperti biasanya. Rasanya asing saja jika Vano bersikap acuh tidak menyebalkan seperti biasanya.
Bahkan sampai dirumah pun Riska menawari makan apapun Vano hanya menggelengkan kepala dan malah asyik bermain ponselnya.
Karena geram, Riska pun merebut ponsel suaminya membuat Vano terkejut dan berdecak kesal.
"Kamu tuh kenapa sih mas? kalau kamu kesel sama Bianca atau mas Rangga, nggak setuju mereka nikah kenapa malah aku juga yang kamu cuekin! nyebelin banget tau nggak!" kata Riska dengan mata memerah seperti ingin menangis.
Vano menghela nafas, Ia sadar tidak seharusnya Ia bertingkah kekanakan seperti ini hanya karena takut rahasia masa lalu nya dibongkar oleh Bianca.
"Kayaknya bener deh apa yang dibilang sama Alex." kata Vano terlihay
"Yang mana?" tanya Riska.
"Kalau aku tuh kurang jatah jadi lesu gini." balas Vano dengan wajah mesum membuat Riska memukul lengan suaminya dan tertawa.
__ADS_1
"Nah gini kan baru suami aku."
BERSAMBUNG...