
Dina begitu menikmati makan siang bersama Alex karena Alex mengajaknya makan siang direstoran favoritnya.
Sejujurnya Dina merasa sangat bahagia memiliki seorang kakak seperti Alex yang masih begitu perhatian padanya setelah orangtua mereka meninggal, padahal mereka bukan saudara sedarah karena Ia memang bukan anak kandung Tuan Ken. Namun nyatanya tak memudarkan kasih sayang yang Alex berikan padanya.
Alex masih menjaganya, masih membiayai semua kebutuhannya dan jelas masih selalu memperhatikannya dari jauh itu sudah membuktikan jika Alex sayang menyanyangginya, meskipun dirinya tak bisa seperti Bianca yang memanggil Alex dengan sebutan Kakak, Ia justru memanggil kamu namun nyatanya Alex tak pernah mempermasalahkannya.
"Anaknya temenku ada yang lagi cari jodoh, kamu mau aku kenal-"
"Ck, nggak usah bahas masalah jodoh lagi bisa nggak sih?" kesal Dina menginggat Bianca dan Rangga.
"Dia Ceo diperusahaan tekstil yang terkenal itu, kamu yakin nggak mau?" tanya Alex.
"Ganteng nggak?"
"Hmm, lumayan!"
"Nggak usah lah, aku udah kapok dicariin jodoh." jujur Dina yang membuat Alex langsung terkekeh.
"Yakin nih nggak mau?"
Dina mengangguk mantap,
"Ya udah kalau nggak mau, tapi kamu harus janji kalau cari cowok baik baik dan bertanggung jawab, jangan kayak kemarin." jelas Alex yang hanya diangguki malas oleh Dina.
Selesai makan, keduanya pun keluar dari restoran. Dina hendak memasuki mobilnya namun terhenti kala melihat Sandi, asisten serta sopir Alex yang tengah membukakan pintu untuk Alex masuk mobil.
"Heh, kamu." panggil Dina membuat Sandi mendekati Dina.
"Non memanggil saya?" tanya Sandi yang hanya diangguki Dina.
"Besok besok kalau cari info yang bener dong! mentang mentang Lo jadi anak buah kepercayaan seenaknya sendiri nyariin jodoh gue!" kesal Dina pada Sandi yang membuat Sandi mengerutkan keningnya binggung.
"Say-saya kan hanya menjalankan tugas saja Non." Sandi terdengar membela dirinya sendiri.
"Udah deh nggak usah ngeles." Dina masih memarahi Sandi.
Sementara didalam mobil, Alex terkekeh melihat Dina memarahi Sandi yang terlihat binggung.
Tak berapa lama Sandi memasuki mobil setelah Dina puas melampiaskan amarahnya.
"Tu-tuan, kenapa non Dina marah sama saya ya?" tanya Sandi memberanikan diri.
"Yang mengantur semua ini kan ide dari kamu, jadi ya wajar lah kalau dia marahnya sama kamu." balas Alex santai.
"Ta-tapi Tuan, bukankah saya hanya menuruti permintaan Tuan?"
"Ck, tapi kan kau juga kurang teliti, bagaimana bisa kau tak tau jika Bianca dan Rangga saling mengenal." protes Alex yang langsung membuat Sandi tertunduk.
__ADS_1
"Benar juga Tuan, maafkan saya." kata Sandi yang langsung membuat Alex terbahak dengan kepasrahan Sandi. padahal jika di telisik lebih lanjut semua ini salahnya bukan salah Sandi.
Mereka pun kembali ke kantor karena pekerjaan Alex yang masih menumpuk.
...
Malam hari usai menyelesaikan semua pekerjaannya, Bianca terlihat merentangkan tangannya melepaskan penat.
"Kau pulang dengan kakak mu?" tanya Rangga yang entah sejak kapan sudah berada disampingnya.
Bianca terlihat gugup, "Ehm, aku mungkin akan memesan ojek." balas Bianca mengingat Ia sedang marah dengan Alex.
"Ohh." balas Rangga acuh "Aku duluan." kata Rangga langsung meninggalkan Bianca diruangannya.
"Nyebelin banget sih." gerutu Bianca yang memang masih mendiamkan Rangga sejak usai makan siang tadi.
Bianca pun turun ke bawah, keluar dari kantor. Ia kemudian mengambil ponselnya hendak memesan ojol melalui aplikasi online namun tiba tiba ada motor berhenti tepat didepannya.
"Ojek neng?" kata pria yang tak lain adalah Rangga. Langsung saja Bianca terbahak mendengar ucapan Rangga.
"Kamu masih disini?" tanya Bianca.
Rangga mengangguk "Aku masih nungguin kamu, ayo aku anter." ajak Rangga yang langsung saja Bianca menaiki motor.
"Pegangan dong, nanti jatuh." sindir Rangga yang langsung saja membuat Bianca memukul lengan Rangga.
Sementara tanpa mereka sadari ada dua pasang mata yang memandangi mereka berdua dari dalam mobil.
"Sepertinya mereka memang memiliki hubungan spesial Tuan." kata Sandi dari dalam mobil.
"Hmm, kau benar." Alex hanya menghela nafas "Lalu apa rencana mu sekarang?" tanya Alex.
"Saya menuggu perintah dari Tuan saja,"
"Kenapa seperti itu?" tanya Alex heran dengan jawaban Sandi.
"Saya tidak ingin disalahkan sendiri lagi seperti tadi Tuan, jadi lebih baik saya menunggu perintah Tuan saja." jawab Sandi membuat Alex melotot tak percaya ke arahnya.
"Kau mulai membangkang sekarang?" sentak Alex.
"Ti-tidak, bukan seperti itu Tuan, hanya saja saya tak ingin disalahkan sendiri seperti tadi jika terjadi sesuatu lagi." kata Sandi.
"Ck, baiklah kau menang sekarang! aku tak akan menyalahkan mu sendiri lagi." kata Alex membuat Sandi tersenyum puas.
Sementara Bianca dan Rangga tak langsung pulang, berhenti sejenak di sebuah taman sambil menikmati penjual cilok ala abang abang.
"Enak banget nih ciloknya." puji Bianca setelah menghabiskan hampir separuh cilok di plastik miliknya.
__ADS_1
"Kirain udah nggak doyan cilok, diluar negeri kan makanannya enak enak." cibir Rangga.
"Apa sih, enggaklah... makanan indonesia itu tetep yang ter the best pokoknya." kata Bianca lalu memasukan setusuk cilok ke mulutnya.
"Udah nggak marah?" tanya Rangga yang membuat Bianca hampir saja keselek, lupa jika Ia sedang marah.
"Aku nggak marah!"
"Tapi ngambek." gerutu Rangga.
Bianca diam sejenak, "Sejak kapan kamu kenal sama Dina?" tanya Bianca.
"Baru 3 bulan yang lalu, tuh abang kamu yang ngenalin!"
"Hah, kak Alex?" tanya Bianca tak percaya.
Rangga mengangguk pelan, "Iya, aku dijebak ya, disuruh nemuin klien eeh ternyata malah Dina yang disana." kata Rangga mengingat malam itu yang membuatnya kesal.
"Ck emang nyebelin banget tuh Kak Alex."
Mereka diam sejenak,
"Kamu suka sama Dina?" tanya Bianca memberanikan diri.
"Ck, mana mungkin aku suka sama cewek high class modelan Dina." kekeh Rangga dan langsung saja membuat Bianca lega mendengarnya.
"Apa aku masih punya kesempatan?" tanya Bianca terdengar serius.
"Kesempatan apa?"
"Kesempatan buat memperbaiki semuanya, apa yang udah aku lakuin dulu." kata Bianca dengan nada sedikit serak.
Rangga hanya diam, tak memberikan respon.
"Ak-aku minta maaaf udah ninggalin kamu dulu." kata Bianca mulai terisak. "aku bener bener binggung waktu itu, kamu tau kan aku pengen banget ngelajutin s2 disana dan itu kesempatan emas buat aku karena beasiswa yang nggak akan datang dua kali." jelas Bianca masih terisak.
Rangga menghembuskan nafas hingga terdengar ditelingga Bianca, Lalu ia membawa tubuh Bianca ke dalam pelukannya.
"Maafin aku juga, aku salah karena dulu sempet ngelarang kamu kesana bahkan aku meminta kamu memilih padahal aku tau posisi kamu nggak bisa buat milih waktu itu, maafin aku juga." kata Rangga memperat pelukannya.
Bianca ingat jika dulu Rangga memang melarangnya mengambil beasiswa itu dan bahkan meminta Bianca memilih antara Rangga atau beasiswa itu dan saat Bianca memilih Beasiswa itu nyatanya bukan hanya Rangga saja yang terluka namun dirinya juga terluka karena tak pernah bisa melupakan Rangga.
"Kita sama sama terluka." bisik Rangga membuat Bianca semakin tak ingin melepaskan pelukannya.
Bersambung...
Jangan lupa like vote dan komen...
__ADS_1