ISTRI KEDUA TUAN ALEX

ISTRI KEDUA TUAN ALEX
201


__ADS_3

Rangga berjalan mengikuti Sandi menuju ruangan Alex. Awalnya Bianca hendak ikut namun Sandi melarang Bianca ikut karena memang hanya Rangga lah yang dipanggil oleh Alex.


Rangga menarik nafas dalam dalam lalu mengeluarkannya sebelum memasuki ruangan Alex.


"Silahkah, sudah ditunggu didalam." kata Sandi membukakan pintu untuk Rangga.


Dengan langkah berat Sandi pun memasuki ruangan Alex, entah Ia harus bersikap bagaimana saat ini yang pasti Rangga melihat wajah Alex tidak baik baik saja.


"Enak?" tanya Alex kala Rangga sudah didepan Alex.


Rangga mengerutkan keningnya, benar benar tak paham apa maksud ucapan yang dilontarkan oleh Alex.


"Mencium anak gadis orang didepan rumah, enak?" tanya Alex yang akhirnya langsung di mengerti oleh Rangga.


"Maaf," balas Rangga sedikit menunduk.


"Ck, aku tak butuh maaf mu! hanya jelaskan saja!"


Lagi lagi ucapan Alex membuat Rangga binggung,


"Jelaskan apa hubunganmu hingga kau berani mencium Bianca? bukankah kau sudah ku kenalkan pada Dina, kau merasa tampan hingga kau berselingkuh dari Dina, apa aku salah?"


Jujur Rangga sedikit kesal dengan ucapan Alex yang mengatakan tidak sesuai fakta apalagi selingkuh dari Dina, padahal selama ini Ia tak pernah sekalipun berniat menjalin hubungan dengan siapapun, justru Alex lah yang menjebaknya lalu kenapa sekarang seolah Ia malah jadi tersangka?


Penjelasan, ya Alex memang butuh penjelasan.


"Aku sama sekali tak memiliki hubungan dengan Dina, jadi bisa dipastikan aku tidak berselingkuh dari Dina, dan Bukankah pertemuanku dan Dina adalah jebakanmu?" tanya Rangga yang langsung membuat Alex berdehem malu.


"Dan sekarang ku akui aku memang menjalin hubungan dengan Bianca, sejak dulu namun kami harus berpisah karena Bianca study diluar negeri dan sekarang kami kembali menjalin hubungan bersama." jelas Rangga karena memang tidak ada alasan Ia menutupi hubungannya dengan Bianca, toh Ia serius dengan Bianca.


"Apa aku siap menikahinya?" tanya Alex dan tentu saja membuat Rangga terkejut, namun seketika Rangga bisa mengontrol dirinya.


"Ya, aku memang berencana menikahinya kapanpun Bianca siap." balas Rangga mantap.


"Lamar dia besok!" pinta Alex yang lagi lagi membuat Rangga terkejut.


Besok? secepat itukah?


"Besok? apa tidak terlalu cepat, aku hanya takut Bianca belum siap." jelas Rangga.


"Apa harus menunggu Bianca hamil dulu baru kamu menikahinya?"


"Astaga! aku tidak sebrengsek itu, aku bahkan belum pernah menyentuhnya!" balas Rangga dengan nada kesal.


"Tapi kau sudah menciumnnya, apa itu tidak termasuk sentuhan?"

__ADS_1


"Hanya mencium pipi tidak lebih!" kesal Rangga.


"Baiklah apapun itu, lamar lah besok, biar Sandi yang menyiapkan semuanya, kau cukup ikuti saja apa yang Sandi katakan!" kata Alex santai.


"Bagaimana jika Bianca belum siap dan menolak lamaranku?" tanya Rangga.


"Bianca tidak akan menolakmu jika dia mencintaimu." balas Alex santai.


Rangga hanya menghembuskan nafas pasrah, Ia memang sudah ingin menikah dengan Bianca namun Ia masih takut jika Bianca sampai menolaknya dengan alasan belum siap, itu mungkin akan kembali menyakiti Rangga.


"Dan jangan katakan apapun pada Bianca masalah ini, aku ingin lamaran ini seperti surprise untuk Bianca, apa kau setuju?" tanya Rangga.


"Ya tentu saja, tapi biarkan aku yang menyiap-"


"Tidak! semua ini sudah ku atur dengan Sandi jadi kau hanya tinggal mengikuti intruksinya saja!" kata Alex menyela ucapan Rangga yang belum selesai.


"Ck, sebenarnya yang menikah itu siapa!" gerutu Rangga kesal.


"Hey kau berani melawan calon kakak iparmu?" kata Alex.


"Ck, bukankah aku sekarang ini malah sudah menjadi kakak iparmu!" skak matt untuk Alex.


Keduanya pun terkekeh geli,


...


"Nona duduklah." kata Sandi melihat Bianca mondar mandir didepannya.


"Ck lebih baik kau diam saja jika tak mau memberitahu apa yang direncanakan kakak ku." kata Bianca dengan wajah kesal.


Sejak Rangga memasuki ruangan Alex memang Bianca sudah memaksa Sandi untuk mengatakan apa yang Alex rencanakan namun sayang Sandi sama sekali tak mau mengatakan sedikit pun pada Bianca membuat Bianca kesal pada Sandi.


"Maafkan saya Nona, saya hanya menjalankan perintah!" balas Sandi membuat Bianca semakin kesal.


Tak berapa lama Rangga berjalan menuruni Tangga, langsung saja Bianca berlari mendekati Rangga.


"Apa terjadi sesuatu? apa kakak ku menghajarmu?" tanya Bianca sambil memeriksa wajah Rangga yang sepertinya baik baik saja.


Rangga tertawa mendengar pertanyaan lucu Bianca "Aku baik baik saja," balas Rangga menilik jam tangannya "Aku pulang dulu ya sudah malam dan sebaiknya kamu segera istirahat." kata Rangga sambil mengelus rambut Bianca.


Ekhemm... suara deheman Sandi kembali terdengar saat melihat Rangga mengelus rambut Bianca.


"Apa yang kau lakukan? dasar menyebalkan!" kata Bianca sambil menatap Sandi tajam.


"Maaf Nona saya hanya menjalankan perintah." lagi lagi kata itu keluar dari mulut Sandi, membuat Bianca gemas ingin meremas mulut Sandi.

__ADS_1


"Ya sudah aku pulang dulu, good night ca sayang." kata Rangga langsung meninggalkan Bianca tanpa menjawab satu pertanyaan pun yang dilontarkan oleh Bianca.


Karena kesal Bianca segera naik ke atas, ke ruangan Alex untuk menanyakan apa yang telah Alex lakukan pada Rangga.


Brakk... Bianca membuka pintu dengan kasar karena dia memang masih marah pada Alex.


"Kamu belum tidur? sudah malam lebih baik segera tidur." kata Alex kala Bianca mendekat.


"Apa yang kakak katakan pada Rangga?" tanya Bianca tanpa basa basi.


"Tanya apa? aku tidak menanyakan apapun!"


"Nggak usah bohong kak! pasti kakak punya rencana buat jodohin Rangga sama Dina kan!"


"Tadinya begitu tapi-"


"Kakak jahat banget tau nggak sama Bi, Rangga itu pacar Bi, bisa bisanya kakak jodohin sama Dina." kata Bianca terdengar mengebu gebu.


"Kakak itu nggak mak-"


"Udahlah kak, kalau sampai kakak jodohin Rangga sama Dina, aku nggak akan mau nganggep kak Alex sebagai kakak ku lagi!" tegas Bianca lalu keluar dan menutup pintu sekeras mungkin.


"Astaga Bi, padahal Kakak belum selesai menjelaskan kamu sudah marah aja." gumam Alex sambil menggelengkan kepala tak percaya.


Sementara Diluar Sandi dan Rangga terlihat berbicara berdua,


"Berikan nomormu, aku akan mengirimkan beberapa rencana lamaran yang sudah ku buat." kata Sandi memberikan ponselnya pada Rangga.


Rangga menerima ponsel sambil menghela nafas, "Padahal aku ingin membuat acara lamaranku sendiri tapi kalian malah memaksa akan membuatnya!"


"Kau bisa memberikan saran jika memang tak cocok!" kata Sandi.


"Benarkah?"


"Tentu saja, aku hanya akan mencarikan lokasinya, selebihnya aku serahkan padamu." kata Sandi yang langsung membuat Rangga sumringah. Karena Rangga sudah memikirkan seperti apa dekorasi lamaran besok.


"Terimakasih atas pengertiannya." kata Rangga yang langsung diangguki Sandi.


"Jika kau sudah memantapkan pilihanmu, katakan saja lamaran seperti apa yang kau inginkan, aku menunggu pesanmu." kata Sandi yang langsung diangguki Rangga.


Sandi memasuki mobil untuk pulang, diikuti Rangga menghidupkan motornya lalu melajukan keluar dari mansion.


Selama perjalanan Rangga tak berhenti memikirkan akan seperti apa lamarannya besok,


Apa Bianca akan menerimanya atau menolaknya.

__ADS_1


BERSAMBUNG....


__ADS_2