
Ella sedikit heran kala ada tamu yang datang, wanita paruh baya namun masih terlihat cantik dan sepertinya bukan orang biasa.
"Jadi kau istrinya Alex?" tanya Wina yang baru saja datang diantar mobil jemputan Alex.
"Iya Nyonya, maaf nyonya cari siapa ya?" tanya Ella sopan.
"Kenapa memanggilku Nyonya, memangnya aku majikan mu." kata Wina tertawa "Aku ini Mamanya Vano, tantenya Alex jadi panggil aku Tante jangan Nyonya lagi."
"Ah mamanya dokter Vano toh," balas Ella sambil tersenyum "Pantes Dokter Vano ganteng banget, lah Mamanya aja cantik gini." batin Ella.
"Aku kesini ingin bertemu dengan cucuku, bisa bisanya Alex tak mengabariku jika anaknya sudah lahir." kesal Wina.
"Maafkan kami tante, mungkin Mas Alex belum sempat mengabari Tante."
"Ya tak masalah toh sekarang aku juga sudah disini, jadi dimana Babymu? aku tak sabar ingin mengendong cucuku." kata Wina tampak semangat.
"Mari tante, kita langsung ke kamar atas saja." ajak Ella yang dingguki Wina.
"Wah, Alex benar benar perhatian sekali ya hingga membuatkan lift seperti ini." kata Wina kala keduanya memasuki lift untuk naik ke atas.
"Iya Tante, mas Alex memang sedikit posesif."
"Tidak apa apa, tandanya dia juga menyanyangimu, lagipula jika dibandingkan dengan istri pertamanya dulu, kau terlihat lebih baik." Ungkap Wina membuat Ella merasa tak enak. semua keluarga Alex selalu membandingkan dirinya dengan Hanna dan selalu menganggapnya baik membuat Ia merasa tak nyaman selalu mendapatkan pujian.
"Ah tidak seperti itu juga Tante." balas Ella.
Mereka keluar Lift dan langsung memasuki kamar Baby Liu.
Didalam kamar Baby Liu masih terlelap, membuat Wina gemas ingin mengendong namun kasian jika malah menganggu.
"Kok gemes gini sih, namanya siapa?" tanya Wina menoel noel pipi Baby Liu.
"Liu Cha Alexander tante."
"Ck, pasti bapaknya ini yang ngasih nama kan? tapi bagus sih," puji Tante.
"Terimakasih tante."
Sementara dikantor Riska mengeryitkan dahinya kala tiba tiba Ia dipanggil oleh Alex untuk kerungan Alex.
Ada apa? batin Riska yang sepertinya tak melakukan kesalahaan apapun.
Tok .. tok .. tokk...
"Masuk.." suara Alex terdengar dari luar membuat Riska segera masuk.
"Maaf pak, apa bapak memanggil saya?" tanya Riska yang sebenarnya masih kesal dengan Alex. Ya karena Alex semua keluarga dan Mamanya Vano mengira Riska ada sesuatu dengan Vano.
__ADS_1
"Ya, aku ingin kamu lembur malam ini! selesaikan berkas ini segera baru kamu bisa pulang." kata Alex menunjuk sebuah tumpukan berkas yang membuat Riska melonggo tak percaya.
Banyak sekali, pasti selesai malem banget batin Riska tak percaya.
"Apa bapak yakin?" tanya Riska mengingat Alex tau jika dirinya masih harus kerumah Vano, kenapa tak ada toleransi sedikit pun untuknya.
"Ya, apa kamu keberatan?" tanya Alex terdengar dingin membuat Riska mendadak takut.
"Ti-tidak pak, tentu saja tidak! saya akan mengerjakan nya." kata Riska terdengar gugup.
"Ya sudah, ambillah dan keluar sana."
"Baik pak."
"Pastikan kamu tidak pulang sebelum selesai." kata Alex kala Riska mencapai pintu.
"Baik pak."
Riska keluar dan membuat Alex tersenyum jahat, sepertinya rencana Sandi akan berhasil malam ini.
Brakkk... Terdengar Riska meletakan setumpuk berkas di meja nya dengan kasar.
Ia benar benar kesal, mengapa Alex tak pengertian padanya sedikit pun. Alex tau permasalahannya dengan Vano, tapi bisa bisanya Alex memberikan pekerjaan sebanyak ini.
"Huh menyebalkan sekali!" batin Riska.
Mendesah kasar, Riska membanting ponselnya ke meja dan dia mulai mengerjakan berkas yang baru saja diberikan Alex.
Sudah pukul 8 malam namun berkas masih tersisa banyak, padahal kantor sudah sangat sepi hanya tinggal beberapa karyawan saja, Alex pun juga sudah pulang sejak sore tadi.
"Astaga, pulang jam berapa nih gue, masih banyak banget." gerutu Riska sebal.
"Lagian Alex juga kebangetan banget dah, ngasih kerjaan segini banyak nggak sejak pagi, nggak mikirin apa habis ini mbaknya harus kerja lagi." gerutu Riska lagi kembali mengerjakan berkasnya.
Tepat pukul 9 malam, Riska baru selesai mengerjakan semua berkasnya.
Ia rentangkan tangannya ke atas, pertanda jika Ia lelah hari ini.
Riska membereskan barang barangnya lalu bergegas pergi kerumah Vano. Ia berencana untuk ijin hari ini, semoga saja Vano memberikan dia ijin agar tak perlu memasak malam ini.
Segera saja Riska melajukan motornya menuju rumah Vano. Kira kira pukul setengah 10 malam, Riska baru sampai disana. Mobil Vano sudah terparkir didepan rumah pertanda jika sang pemilik sudah pulang.
Segera Riska memasuki rumah tanpa harus mengetuk dan menunggu sang pemilik membukakan pintu. Tanpa Riska sadari ada sepasang mata yang memandang ke arahnya lalu mengangguk dan pergi.
"Kamu dari mana aja sih?" tanya Vano terdengar kesal kala Riska menghampirinya di dapur.
Vano terlihat sedang mencoba memasak dilihat dari meja dapur yang sangat berantakan.
__ADS_1
"Jangan salahin aku dong, salahin saudara kamu yang ngasih kerjaan setumpuk bikin aku pulang malem gini." protes Riska tak mau disalahkan.
"Aku udah kelaperan dari tadi, kamu malah baru pulang." kesal Vano.
Melihat Vano yang kesal dan kelaparan membuat Riska mengurungkan niatnya untuk ijin tidak memasak.
"Iya iya, aku masakin sekaarang!" balas Riska meletakan tasnya disebarang tempat lalu menghampiri Vano didapur.
"Ya ampun kamu tuh sebenarnya mau bikin apa sih, berantakan gini!" kesal Riska.
"Ya maklumin aja lah namanya juga cowok nggak pernah masak didapur." balas Vano.
"Lagian ngapain sih nggak beli aja!"
"Ya kan aku nggak tau kalau kamu pulang semalem ini, salah sendiri dihubungin nggak bisa!" balas Vano tak kalah sengit.
Ah iya Riska ingat jika ponselnya mati dan Ia lupa mencharger tadi.
"Ya udah sana, kamu tunggu aja dimeja biar aku yang selesaiin." kata Riska.
"Siap ibu negara." balas Vano membuat Riska mencebikan bibirnya, kenapa juga Vano memanggilnya seperti itu.
Vano yang baru hendak meletakan wadah berisi sayuran tiba tiba disenggol oleh Riska membuat wadah itu tumpah dan mengenai baju Vano.
"Ck, basah kan Baju aku!"
"Maaf, maaf nggak sengaja, lagian udah disuruh kesana ngapain masih di sini sih." kata Riska taka mau salah.
"Hmm, dasar betina nggak mau salah." kesal Vano melepaskan bajunya yang basah hingga Ia telanjang dada.
"Aaaa kamu gila ya!" Riska berteriak dan menutupi matanya dengan kedua tangannya.
"Ck, biasa aja kali." balas Vano santai lalu pergi meninggalkan Riska untuk menganti bajunya.
Saat hendak ke kamar, Vano mendengar pintunya diketuk dengan keras, karena kesal berani ada yang menganggunya malam malam begini akhirnya Vano membuka pintunya.
"Siapa sih!" kesal Vano masih bertelanjang dada membuka kan pintu.
Dan betapa terkejutnya Vano melihat siapa yang datang....
BERSAMBUNG...
Nah loo.. siapa kira kira yang datang😁
jangan lupa like vote dan komen yaw... dan jangan lupa follow akun ku biar bisa baca cerita aku yang lain...
thankyou...
__ADS_1