ISTRI KEDUA TUAN ALEX

ISTRI KEDUA TUAN ALEX
194


__ADS_3

Bianca sampai dikantor langsung membayar ojol yang baru saja Ia naiki dan segera memasuki kantor, tanpa Ia sadari ada sepasang mata yang memandang ke arahnya yang juga baru saja datang.


Bianca memasuki ruangannya dengan perasaan kesal, karena ucapan Alex yang membuatnya kesal Ia terpaksa harus pura pura ngambek dan sekarang perutnya lapar sekali karena tadi Ia bahkan tak sempat menghabiskan sarapannya.


"Sepertinya aku harus cari sarapan dulu." gumam Bianca, meskipun sedang kesal bagi Bianca perut tetap nomer 1.


Bianca bangkit dari duduknya, hendak keluar namun terkejut karena bersamaan dengan Rangga yang baru saja akan masuk.


"Mau kemana?" tanya Rangga dingin.


"Ya ampun pria ini masih saja bersikap dingin padaku padahal semalam juga sudah kuberikan ciuman." batin Bianca bertambah kesal.


"Mau kemana?" tanya Rangga sekali lagi karena tak mendapatkan balasan dari Bianca.


"Sarapan,, " balas Bianca acuh lalu meninggalkan Rangga begitu saja.


Rangga mengerutkan keningnya heran, Ia pikir setelah kejadian tadi malam hubungan nya dengan Bianca sudah kembali namun kenapa Bianca malah terlihat mengacuhkannya.


"Apa dia sedang kesal dengan seseorang?" gumam Rangga.


Rangga sudah cukup paham dengan sifat dan kebiasaan Bianca. Jika Bianca sedang kesal dengan seseorang maka orang terdekatnya pun akan ikut kena seperti dirinya saat ini dan Rangga lebih memilih diam karena jika Ia banyak bertanya pasti semuanya akan bertambah buruk.


Rangga mengedikan bahunya lalu duduk untuk mulai bekerja.


Selesai sarapan Bianca kembali memasuki ruangan nya, perut Bianca sudah kenyang dan Ia juga sudah tak terlalu kesal seperti tadi.


Pelan pelan Bianca membuka pintu namun percuma saja karena Rangga kini menatap le arahnya yang baru saja memasuki ruangan.


Bianca tersenyum ke arah Rangga, "Maafkan aku, tadi aku belum sarapan." jelas Bianca sebelum Rangga bertanya.


Rangga menghela nafas sebelum menjawab "Lain kali jika ingin sarapan dikantin berangkatlah lebih awal."


"Baiklah tidak akan ku ulangi lagi." kata Bianca.


Mereka pun mulai bekerja, setelah percakapan yang hanya sebentar itu Bianca memang hanya diam saja membuat Rangga kesal padahal Bianca biasanya lebih cerewet jika mereka sedang bersama.


Hingga jam makan siang pun Bianca tak ada inisiatif untuk mengajak Rangga makan siang bersama.


"Kau tidak makan siang?" tanya Rangga terpaksa memulai lebih dulu.

__ADS_1


"Duluan saja, aku masih belum selesai." kata Bianca tanpa menatap Rangga yang kini berdiri disampingnya.


Karena kesal Rangga pun menutup paksa berkas yang dikerjakan Bianca membuat Bianca terkejut "Ayo makan siang dulu!"


Bianca tersenyum, memang ini yang Ia inginkan "Ya sudah ayo."


Mereka pun berjalan keluar kantor, tadinya Bianca pikir Rangga akan mengajaknya makan siang dikantin ternyata Bianca salah.


"Mau makan dimana?" tanya Bianca saat keduanya sudah memasuki mobil.


"Nanti juga tau." balas Rangga acuh membuat Bianca cemberut.


Hingga mobil yang dikendarai Rangga sampai disebuah restoran.


Bianca sedikit mengeryit heran, tidak biasanya Rangga mengajakanya makan di restoran seperti ini.


"Kamu yakin kita akan makan disini?" tanya Bianca takut jika ternyata Rangga tak sadar sudah mengajaknya kesini.


Rangga mengangguk yakin, "Ya kita akan makan disini." kata Rangga lalu turun diikuti oleh Bianca.


Mereka pun memasuki Restoran dan mulai memesan makanan. Jujur Rangga sendiri sedikit asing dengan semua makanan yang ada disini namun karena ada yang Ia rencanakan jadi Rangga mengajak Bianca makan disini.


Hingga sebuah suara mengejutkan keduanya,


"Rangga,.." sapa seseorang yang tak lain adalah Dina.


Rangga memang sengaja mengajak Bianca makan direstoran ini karena restoran ini sering didatangi Dina untuk makan siang, dan untuk memastikan saja bagaimana perasaan Bianca, apa dia cemburu atau bersikap biasa saja.


Bianca sendiri terlihat terkejut melihat kedatangan Dina yang tak lain adalah adik tirinya. meskipun mereka berdua sama bukanlah anak kandung Tuan Ken namun tetap saja Mama mereka menjadi istri Tuan Ken dan mereka bersaudara.


"Kau?" Dina heran saat melihat Bianca ada disini "Bukankah kau sedang berada diluar negeri, kenapa kau bisa disini dan bersama Rangga?" tanya Dina pada Bianca sedangkan Bianca terlihat acuh dan enggan menjawab.


"Dia asistenku." balas Rangga membuat Bianca kesal karena Bianca ingin Rangga mengacuhkan Dina namun malah menjawab pertanyaan yang sebenarnya ditunjukan pada Bianca.


"Wah, jadi Alex memperkerjakan mu disana?" tanya Dina sinis.


"Kau makan disini juga?" tanya Rangga mencoba mengalihkan pembicaraan Dina mengenai Bianca.


"Iya, bukankah kita sering kesini." balas Dina yang seketika membuat Bianca melotot ke arah Rangga.

__ADS_1


Sementara Rangga terlihat mati kutu, bukan ini yang Ia inginkan, kenapa pula Dina harus menbahas tentang kebiasaan mereka bisa bisa Bianca salah paham batin Rangga.


"Semalam aku meneleponmu berkali kali tapi kau tak menjawabnya, apa kau sibuk?" tanya Dina terdengar manja.


"Apa mereka sedekat itu? bagaimana mereka bisa saling mengenal?" batin Bianca kesal.


"Ah, semalam aku sudah tidur." jawab Rangga padahal sebenarnya Rangga memang sedang malas menjawab telepon Dina.


Makanan pesanan Bianca dan Rangga sudah datang dibawakan pelayan resto,


"Kami ingin makan, kau tidak ada niat untuk pergi?" tanya Bianca sinis membuat Rangga tersenyum senang melihat Bianca kesal yang artinya Bianca cemburu.


"Kenapa aku harus pergi? aku bisa ikut makan kalian disini." balas Dina santai.


Bianca yang geram pun akhirnya mencicipi makanannya, hanya satu sendok setelah itu Ia bangkit dari duduknya.


"Makanannya tidak enak, aku tidak suka! lebih baik kita makan di warung makan nasi padang yang dulu sering kita datangi!" kata Bianca pada Rangga "Aku tunggu dimobil." kata Bianca lalu berjalan meninggalkan meja membuat Dina melonggo tak percaya.


"Apa apan wanita itu! dasar arogan!" gerutu Dina namun Rangga hanya tersenyum seolah senang melihat Bianca kesal.


"Aku akan menyusulnya." kata Rangga langsung berdiri meninggalkan Dina.


"Tapi kita kan belum selesai maka-, sialan dia juga meninggalkanku!" kesal Dina saat Rangga meninggalkan tanpa menunggu jawaban Dina.


"Apa mereka sepasang kekasih? jika dilihat dari cara padang Rangga sepertinya begitu. ya baguslah jika begitu, mereka memang pantas bersatu. wanita arogan dan pria miskin!" kekeh Dina.


Entah Dina harus merasa kesal atau senang yang pasti Dina tak akan mendekati Rangga lagi setelah kejadian memalukan siang ini. Dina merasa dirinya seperti penganggu diantara Rangga dan Bianca.


Sementara Rangga memasuki mobil dan Bianca sudah ada disana dengan wajah masam.


"Jadi kita akan makan siang nasi padang?" tanya Rangga.


"Tidak, kita kembali ke kantor saja, mendadak nafsu makan ku hilang!" ketus Bianca.


Bianca ngambek tapi membuat Rangga senang.


Rangga tersenyum dan menuruti kemauan Bianca, meskipun perutnya lapar tapi ya sudahlah yang penting Ia sudah mengetahui perasaan Bianca.


BERSAMBUNG..

__ADS_1


JANGAN LUPA LIKE VOTE DAN KOMEN...


__ADS_2